Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
S2 : Kami Bahagia Tanpamu [Laila dan Raja]


__ADS_3

Raja sengaja menyewa becak milik Pak Asep. Dia benar-benar sangat ingin menjemput anak-anaknya pulang sekolah, dia ingin menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah, meski terlambat.


Susah payah Raja membawa becak, saat tiba di depan gerbang sekolah. Tubuh Raja sudah basah oleh keringat. Dia mengipasi wajahnya yang terasa sangat panas. Banyak sekali orang-orang menatapnya dengan tatapan kagum, wajah Raja yang sangat tampan dan penampilannya seperti orang kota yang kaya, tapi masih merakyat.


Tidak tahu saja mereka kalau Raja setengah mati mencoba sampai tujuan dengan mengandalkan becak roda tiga.


"Gila banget! Ini anak-anak ku bisa kepanasan kalau becaknya begini." Raja bermonolog pada dirinya sendiri, ada rasa iba dalam hati kalau anak-anaknya kepanasan atau kehujanan saat naik becak.


Tak tahu saja Raja kalau anak-anak tak pernah mengeluh, mau hujan atau panas, kalau yang namanya rame-rame naik becak atau jalan kaki itu terasa sangat menyenangkan. Belum lagi saat pulang sekolah curi mangga tetangga.


Ah … rasanya sangat menyenangkan. Sayang sekali Raja anak orang kaya yang dari kecil terbiasa kemewahan. Pergi kemanapun pakai mobil.


"Pak Asep nya ke mana, Kang?" tanya Ibuk-ibuk yang menjual gorengan di depan sekolah.


Raja menoleh kiri kanan, mencari orang lain. Lalu dia menunjuk dirinya sendiri.


"Ibuk ngomong dengan saya?" tanya Raja polos membuat si Ibuk tertawa.


"Emang siapa lagi yang bawa becak Pak Asep kecuali, Akang?" tanya ibu itu membuat Raja tersenyum malu. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Pak Asep nya pergi ke sawah, Buk," balas Raja jujur karena memang setelah Raja beri uang untuk pak Asep. Pria paruh baya itu langsung pergi untuk membeli pupuk dan lanjut ke sawah.


"Owalah! Tak kirain pak Asep yang jemput seperti biasa."


Raja tersenyum sopan, karena lahan kalau orang-orang desa memang sangat ramah dan pintar basa-basi. Berbeda dengan orang kota yang orang meninggal di sebelah rumahnya saja tidak tahu.


Lima menit Raja menunggu di danaz anak-anak sudah keluar dari gerbang. Tampak Mamat cs dan si kembar menatap Raja penuh kebingungan.


"Itu becak bapak mu bukan, Mat?" tanya Farid pada di Mamat.


"Benar, tapi itu bukan bapakku!" sanggah Mamat polos membuat Farid langsung memukul lengan si Mamat.


"Kalau itu bapakmu, aku yakin kamu anak pungut! Nggak mungkin bapaknya tampan, anaknya jelek macam kamu!" ejek Farid membuat si Mamat langsung menarik telinga temannya itu.


Raja yang melihatnya pun tertawa. Ternyata anak-anak di desa lebih menyenangkan dan ekspresif daripada anak kota.


"Mamat cs, Abang, Adek! Sini … Pak Asep nya tadi pergi ke sawah. Makanya Paman yang di suruh jemput kalian!" bohong Raja padahal pria itu dengan senang hati menjemput anak-anak. Sebab ingin dekat dengan di kembar.


Anak-anak di sana pun langsung tersenyum cerah. Mereka berlarian naik becak. Raja mempersilahkan Riska duduk di belakangnya.


"Adek yang cewek duduk di belakang, Paman. Peluk paman dari belakang biar nggak jatuh!" suruh Raja membuat Risky paruh.

__ADS_1


Semua anak-anak pun bahagia. Mereka pulang sekolah dengan penuh semangat. Raja mendengar cerita hangat anak-anak tentang sekolahnya.


Kadang juga mereka tertawa bersama. Membuat dada Raja merasa hangat. Dulu dia tidak punya masa seperti ini.


"Ternyata tanpaku si kembar tumbuh kembang dengan baik, karena banyak orang baik di desa ini," batin Raja pelan.


Raja membawa becak dengan kecepatan lambat. Dia tidak terlalu berani membawa dengan kecepatan tinggi. Takut sekali kalau terjadi sesuatu yang buruk pada anak-anak nantinya.


*


*


Raja berhasil membawa anak-anak pulang ke rumah masing-masing. Tak lupa dia memberi jajan uang biru untuk teman-teman si kembar, karena mereka sudah baik pada anak-anaknya.


"Wahh, terima kasih, Paman. Semoga berkah rezekinya!" Mereka semua pulang dengan senyuman manis terpasang di wajah mereka.


Giliran si kembar yang Raja beri uang warna merah. Mereka tersenyum cerah menerimanya dengan penuh kebahagiaan.


"Terima kasih ya, Paman!" ujar keduanya serempak.


"Sama-sama. Belajar yang rajin yah!" balas Raja dengan senyuman manis terpasang di wajahnya. Dia mengelus puncak kepala anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.


Si kembar langsung masuk ke dalam rumah. Raja sadar kalau Laila mengintipnya dari balik jendela hitam rumahnya. Pria itu melambaikan tangannya membuat Laila yang di saja membuang wajahnya ke arah lain.


Sering ponsel Raja berbunyi, membuat pria itu langsung menerima panggilan dari Dino.


"Assalamualaikum, No. Ada apa?" tanya Raja heran.


[Wa'alaikumussalam, Ja. Sepertinya kita harus pulang ke kota, karena ada masalah di perusahaan.]


"Masalah apa?" tanya Raja penasaran.


[Produk yang seharusnya kita luncurkan tanggal lima belas bulan depan ternyata sudah lebih dulu di luncurkan oleh perusahaan XX. Sepertinya ada pengkhianat di perusahaan kita, sehingga rencana yang sudah kita buat, di jiplak oleh saingan perusahaan kita.]


Dino menjelaskan garis intinya saja. Sontak membuat mata Raja melebar sempurna, dia sangat terkejut mendengarnya. Produk yang akan diluncurkan bulan depan memiliki budget yang sangat besar. Bila memang benar di jiplak, maka kerugian yang dialami oleh Raja sangatlah besar.


"Tapi, aku–,"


[Aku paham kalau kamu sedang memperjuangkan, Laila. Tapi, perusahaan juga penting, Ja. Kalau kamu jatuh miskin, mau beri makan apa si kembar? Sekarang coba ajak Laila pindah ke kota. Sekalian bawa si kembar agar kamu tidak stress karena pikiran mu bercabang. Setidaknya dengan adanya si kembar di kota, pikiranmu tenang!]


Raja segera mematikan panggilan tersebut. Segera dia turun dari becak, melangkah mendekati rumah Laila. Ia ketuk pintu rumah wanita itu.

__ADS_1


Tak berselang lama pintu terbuka menampakkan Laila. Wanita itu menatapnya dengan sorot mata dingin membuat dada Raja sesak. Sebab tidak ada lagi cinta yang terpancarkan di sorot wajah wanita ini.


"La, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu!" ujar Raja serius menatap dalam bola mata Laila.


"Aku juga!" balas Laila datar teringat pembicaraan nya dengan sang Ustadzah tempo tadi.


*


*


Raja dan Laila memutuskan untuk pergi ke restoran dekat alun-alun kota. Pembicara mereka cukup serius, tak ingin ada gangguan. Anak-anak Laila titipkan pada istri pak Asep.


"Kamu dulu atau aku yang bicara?" tanya Raja canggung.


"Kamu aja!" balas Laila dingin.


"Perusahaan ku sedang mengalami masalah besar," ujar Raja serius membuat Laila menaikkan alisnya sebelah. Menatap Raja dengan sorot mata tak mengerti.


"Lalu?" tanya Laila heran membuat Raja menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sangat susah berbicara dengan Laila yang tampak biasa-biasa saja fanka emosi.


"Aku ingin kamu dan anak-anak ikut ke kota," balas Raja gugup membuat Laila tertawa hambar.


"Untuk apa kami ke kota, kalau di desa saja kami bahagia." Laila mencemooh Raja membuat pria itu langsung mengusap wajahnya frustasi.


"Tapi, di desa tidak ada aku!" balas Raja cepat membuat Laila langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Raja.


"Justru karena tidak ada kamu kami bahagia!" tukas Laila penuh penekanan membuat Raja mengepalkan tangannya erat.


*


*


Kopinya jangan lupa ya Bun 🤭 bagi yang nggak ada, bisa bagi bunga atau komentar, juga like aja.


Please komentar tembus 100 dan like tembus 2000 ❤️🙏


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏

__ADS_1


Mampir juga ke novel temen author yang nggak kalah keren nya yah 🥰❤️🙏



__ADS_2