
Pagi sudah tiba, Haikal bangun pagi dengan penuh semangat. Bahagia, karena sang istri kembali menyiapkan semua kebutuhan nya. Sudah sebelas bulan belakangan dia mengurus dirinya sendiri, tetapi sekarang. Penderitaan nya telah berakhir, sang istri dengan lincah melayani Haikal.
Perasaan pria itu seperti bunga kembang tujuh rupa. Mekar dan berwarna, dia sangat-sangat bahagia. Tampak dari senyuman di wajahnya yang terus terpasang sejak bangun tidur.
Saat ini Siska sedang memasangkan dirinya dasi. Dengan senang hati dia melebarkan kakinya, agar sang istri bisa memasang dasi dengan leluasa.
"I love you," ujar Haikal tiba-tiba tanpa rasa sungkan menyatakan cintanya.
Tiga kata yang dulunya sangat pelit dan sulit di ucapkan, kini keluar begitu saja dari lisannya. Tanpa beban dan dosa.
Siska tersenyum tipis, dia tidak membalas ucapan suaminya.
"I love you." Haikal mengulangi penyataan cintanya berharap sang istri membalas nya. Namun, Siska tetap diam dan tersenyum.
Jantung Haikal berdetak dengan kencang, dadanya terasa sangat sakit. Dia menyatakan cinta, namun sang istri tak membalasnya. Mungkinkah ini yang di rasakan oleh Siska dulunya. Mengapa sangat sakit.
Tiba-tiba pikiran buruk menghantui kepalanya, apakah sang istri sudah visa dengannya? Apakah perasaan Siska untuknya telah pudar?
"Kamu sudah tidak cinta lagi sama aku ya?" tanya Haikal tiba-tiba dengan suara serak. Matanya langsung berkaca-kaca.
Entah di mana Haikal yang dingin, cuek seperti bebek. Keras seperti triplek.
Mungkin para ibu-ibu yang sudah menikah puluhan tahun akan tahu kalau seorang suami juga bisa takut, bila sang istri tak membalas pernyataan cintanya.
Atau diam terlalu lama.
Suami akan mengira apakah istrinya sudah hambar perasaan nya? Atau kah istri sudah mulai bosan hidup bersama suami.
Begitulah yang dirasakan oleh Haikal saat ini.
Siska hanya geleng-geleng kepalanya, dia menatap aneh sang suami. Kenapa sangat mudah matanya berkaca-kaca sekarang.
"Kamu ini ada-ada saja. Jangan tanya yang tidak-tidak, lebih baik sekarang sarapan dan berangkat kerja!" balas Siska santai tak paham uram dan ujungnya.
Wanita itu menepuk dada bidang Haikal setelah memasang dasi. Lalu dia beranjak keluar dari kamar untuk melihat putri kecilnya yang biasanya sudah bangun jam segitu.
Degg.
Hati Haikal bertambah sakit melihat sang istri pergi begitu saja. Dulu Siska yang sering kali menyatakan cinta. Tidak pagi tidak malam, Haikal bahkan sampai bosan dan jenuh.
Tetapi, mengapa sekarang dia amat merindukan suara manja istrinya saat menyatakan cinta.
"Rasanya sakit sekali, dada ku sesak," gumam Haikal hampir menangis menekan dadanya yang sesak.
Segera saja dia keluar untuk menyusul istrinya. Dia melihat sang istri sedang tertawa bersama Beby. Dia mencium leher dan ketiak balita mungil itu.
__ADS_1
"Uhhh … kenapa sih anak mama yang satu ini wangi sekali? Hemm … keteknya wangi, lehernya pun wangi! Padahal belum mandi," ujar Siska seperti ibu-ibu pada umumnya.
Beby pun ikut tertawa karena merasa geli. Balita itu meraba-raba wajah cantik ibunya.
Sebuah tangan melingkar di perut Siska. Membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Eh, Mas. Kok di sini? Kenapa tidak sarapan?" tanya Siska aneh.
"Leherku wangi, ketek ku harum. Kenapa kamu nggak kamu cium? Kamu udah nggak sayang lagi sama aku ya?"
Haikal bertanya dengan suara parau. Siska mengernyitkan dahinya di saat merasakan bahunya basah.
What? Suaminya menangis?
"Kamu nangis?" Bukan menjawab, Siska malah bertanya.
"Gimana nggak nangis, kamu nya nggak kasih aku morning kiss pagi ini, saat aku bilang i love you, kamu cuma senyum aja. Padahal apa susahnya cuma jawab, i love you too? Sikap kamu bikin aku over thinking!"
Haikal merajuk meluapkan semua rasa sesak dalam dadanya. Siska tertawa hambar, dia tidak tahu harus berkata apapun.
Apa ini yang di sebut karma?
Waw … kalau benar karma, berarti Allah sangat hebat. Dulu Siska yang sering over thinking. Sekarang Haikal? Penyebabnya juga sama, karena tidak membalas pernyataan cinta.
Beby yang mendengar suara Haikal menangis pun ikutan menangis. Ikatan batin antara ayah dan anak sangat kuat.
"Huwaa."
Tangisan Beby pecah bersamaan dengan Haikal. Membuat Siska pusing bukan main.
"Kamu udah nggak cinta lagi sama aku?" ujar Haikal di sela-sela tangisnya.
"Ya Allah, Mas. Jangan nangis lagi! Gara-gara kamu nangis, Beby juga ikutan nangis! Kamu tahu, 'kan, kalau Beby itu masih kecil. Perasaan nya sangat sensitif," marah Siska dengan suara yang lemah lembut.
Wanita itu terus menepuk bokong putrinya. Dia ingin menjauh, namun pelukan Haikal semakin erat.
"Kamu nggak bilang i love you too tadi!" Haikal tetap kekeh.
"Okey, i love you too! I love you too … did you hear that?"
Siska menegaskan balasan cintanya membuat Haikal tersenyum dan langsung diam. Dia menjauhkan wajahnya dari leher Siska, lalu ia kecup pipi istrinya.
"I love you more, Sayang!"
"Dek Beby kenapa, Ma?"
__ADS_1
Reihan memasuki kamar sang adik. Penampilan bocah kecil itu sudah sangat tampan. Dia mengkhawatirkan adik kecilnya.
"Nggak apa-apa, Bang. Ini Adek udah diam!"
Siska menghapus jejak air mata di pipi putri kecilnya. Beby pun kembali tersenyum saat melihat Haikal tersenyum ke arahnya.
Suara tawa khas balita yang belum bisa berbicara keluar dari bibir mungil tak berdosa itu.
Dua orang dewasa dan satu bocah laki-laki itu pun ikut tersenyum bahagia. Mereka sangat gemas dengan Beby.
"Putri kita sangat cantik ya, Sayang." Haikal berkata seraya mencubit hidung mancung putri kecilnya itu.
"Papa, kata pak ustadz. Setiap memuji ciptaan Allah, baik itu manusia, tanaman dan binatang. Maka harus di sertakan dengan kalimat Masya Allah, agar terhindar dari penyakit ain. Sebab, tanpa menyebut Masya Allah, langsung ke pujian nya, setan bakal cemburu dan marah, karena kecemburuan setan lah, tanaman yang subur bisa layu dan kering, binatang yang gagah dan perkasa, bisa kurus dan mati. Begitupun dengan manusia yang cantik, tampan dan rupawan, akan sakit atau jerawatan!"
Reihan menegur sang ayah dengan ucapan polosnya. Bocah laki-laki yang Sholeh itu sangat pintar mengingat semua ajaran ustadz nya.
Reihan memang tak terlalu pandai di matematika, tetapi kalau persoalan agama. Dia nomor satu di sekolahnya.
Haikal dan Siska pun tersenyum bangga. Mereka sangat bersyukur memiliki putra Sholeh seperti Reihan.
Di mana-mana orang tua yang mengajarkan anaknya tentang agama. Berbeda dengan Haikal yang mengajarkan orang tuanya dengan gaya polosnya.
"Oh begitu, lain kali papa nggak bakal puji makhluk Allah tanpa kalimat Masya Allah. Terima kasih, karena sudah berbagi ilmu sama Papa dan Mama ya, Bang! Teruslah belajar ilmu agama, agar kamu bisa bawa kami ke surga!"
Haikal mengelus kepala putranya, Reuhan tersenyum polos layaknya senyuman Siska. Dia menganggukkan kepalanya semangat.
"Siap, Papa."
*
*
Maaf telat up, tapi author udah panjangkan bab nya 🌹🥰🙏
Boleh dong minta vote hari Senin dan kopi nya 😎🤗
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️ i
Mampir juga ke novel temen author yang nggak kalah bagusnya.
__ADS_1