Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
S2 : Anak Kita? [Laila dan Raja]


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, Laila yang tadinya sakit, kini telah pulih. Wanita cantik itu segera bangkit dari ranjang, lalu berniat membersihkan dirinya. Saat dia keluar kamar hal pertama yang ia lihat adalah kedua anaknya sedang tertidur di depan televisi, bersama mainan yang berserakan di lantai. Tampak keranjang mainan berada di dekat Risky, sepertinya anak laki-laki itu berniat membereskan mainan, tetapi malah lebih dulu mengantuk dan tidur.


Segera Laila memasukkan mainan ke dalam keranjang. Risky yang notabenenya cepat bangun kalau mendengar suara langsung membuka matanya. Dia melihat sang ibunda sedang merapikan mainan mereka.


"Bunda," lirih Risky pelan dengan suara parau membuat Laila menghentikan pergerakan nya. Dia tersenyum manis seraya membelai kening putra kesayangannya itu.


"Iya, Sayang. Bangun yuk! Udah sore, mandi," suruh Laila dengan lemah lembut membuat Risky segera bangun. Dia langsung memeluk erat Laila, duduk di pangkuan ibunya.


Seperti anak kecil notabenenya, saat bangun tidur akan memeluk ibunya terlebih dahulu. Mengumpulkan semua nyawanya.


"Bunda udah sembuh?" tanya Risky parau dengan mata yang masih terpejam. Percayalah, berada dalam pelukan ibu adalah tempat ternyaman.


Hanya saja ketika anak beranjak dewasa, mereka malu untuk sekedar meminta sebuah pelukan sang ibu. Banyak sekali perbedaan masa kecil dan dewasa, ketika kecil anak-anak akan mudah mengekspresikan perasaan nya.


Sedih ya menangis, bahagia ya tersenyum.


Tetapi, ketika dewasa nanti. Semuanya terbalik, tersenyum untuk menutupi kesedihan, agar orang yang dicinta tak ikut sedih.


"Alhamdulillah, Nak. Berkat doa Abang dan Adek, Bunda sembuh!" Laila berbicara dengan nada ceria seraya menepuk bokong putranya yang berlapis celana dan Pampers. Meski usia mereka hampir berusia enam tahun, tetap saja mereka berdua masih sering ngompol dalam celana.


Risky yang mendengarnya pun tersenyum malu, dia senang pada ibunya yang selalu mengapresiasi apa yang mereka lakukan.


"Huwaa!"


Keduanya terkejut saat mendengar suara Riska menangis melengking tinggi. Membuat Laila khawatir dan melepas pelukan Risky.


"Bunda!" panggil Risky dengannya yang terpejam. Sontak saja Laila segera menggendong putri kecilnya. Dia bangkit berdiri seraya mengayunkan Riska dalam gendongannya.


"Sutt! Ada bunda di sini! Kenapa hemm?" tanya Laila dengan suara lembut. Riska perlahan menghentikan tangisnya, suaranya masih parau. Dia mengeratkan pelukannya tak ingin melepas sang ibunda tercinta.


"Kenapa, Dek? Adek di gigit nyamuk ya?" tanya Risky polos mendongak menatap adiknya yang berada dalam gendongan ibunya.


Dia yang masih kecil hanya sebatas pinggang Laila, mengelus kaki mulus sang adik, agar bisa menenangkan adiknya.


"Adek mimpi hantu! Hiks … takut, Adek takut … huhu!"


Riska kembali menangis setelah menceritakan mimpi mengerikannya. Anak sekecil itu sangat mudah menangis, apalagi bila mimpi hantu.


Laila yang mendengar nya pun menghela nafas berat. Putri kecilnya ini memang penakut bila menyangkut hantu.


"Pasti tadi adek nonton film hantu ya! Makanya mimpi hantu?" tebak Laila membuat Riska menganggukkan kepalanya.


Risky hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Bukan film hantu, Bun. Tapi, tadi ada iklan film hantu yang di bioskop itu loh, Bun!" sanggah Risky membuat Laila mengerti.


Pasti yang di maksud oleh Risky adalah iklan trailer film hantu. Wanita dewasa itu menepuk punggung anaknya dengan penuh kasih sayang. Saat di rasa Riska sudah tenang, barulah Laila menjauhkan tubuh Riska.

__ADS_1


Dia menghapus jejak air mata putrinya. Lalu mencium kening sang putri tercinta, agar Riska tenang.


"Sayang anak bunda! Hantu itu cuma ada di televisi, kalau di dunia nyata hantu lah yang takut sama kita. Karena apa? Hantu itu dilaknati Allah, kita manusia dirahmati Allah."


Laila berbicara dengan nada lembut. Sontak saja Ruska menganggukkan kepalanya.


"Tapi, tadi hantunya punya wajah jelek, Bun." Riska bercerita tentang hantu yang ia lihat dalam mimpi.


"Iya, makanya lain kali sebelum tidur baca doa ya sayang! Sekarang mandi dulu, biar kantuknya hilang dan Adek segar!" pinta Laila dengan nada lembut membuat anak kecil itu mengangguk kepalanya.


Laila segera membawa anak-anaknya ke dalam kamar mandi. Dia memandikan Riska dengan telaten, sedangkan Risky sudah terbiasa mandi sendiri. Setelah selesai, barulah Laila memberikan pakaian santai untuk kedua anaknya.


Risky memakai baju yang ada gambar Naruto. Sedangkan, Riska memakai baju yang ada gambar Hinata.


Keduanya telah cantik dan tampan. Kemudian, Laila membuka pintu rumahnya. Sudah sore, waktunya anak-anaknya bergabung dengan anak yang lain.


Laila bersyukur karena anak-anak tetangga sangat baik. Mereka tak pernah mengejek Riska dan Risky yang tak punya ayah. Ternyata benar, kalau ingin pindah ke suatu tempat, maka lihatlah seperti apa tetangga nya dulu.


Memiliki tetangga baik dan beragama adalah salah satu anugerah Allah.


"Risky! Riska!" panggil Mamat anak pak Asep bersama tujuh anak-anak lainnya.


"Ayo main ke rumah, Fatimah. Dia baru pulang dari luar kota. Kata Paman Sholihun dia bawa pulang banyak oleh-oleh buat kita!" ajak Rara teman baik Riska membuat senyuman manis terbit di wajah kedua anak kembar itu.


"Ayokk! Bunda, adek dan Abang pergi ke rumah Fatimah ya!"


"Iya. Hati-hati ya! Jangan berantem-berantem ya. Main yang baik-baik!" ujar Laila pada si kembar dan yang lainnya.


"Baik, Bunda."


Laila tersenyum manis, melihat Risky mengayuh sepeda, membonceng Riska di belakang.


Wanita itu berbalik lalu segera mengunci pintu rumahnya dari dalam. Dia segera membersihkan dirinya. Hari ini Laila tidak punya mood untuk membersihkan rumah atau memasak, maklum saja hari ini merupakan hari pertamanya datang bulan.


Setelah selesai bersih-bersih, Laila memilih memakai daster biasa. Wanita itu menyanyikan lagu "Bertaut" seraya memakai skincare nya.


Bun, aku masih tak mengerti banyak hal.


Semuanya berenang di kepala.


Dan kau rasa semua yang kau tahu tentangnya.


Menjadi jawaban saat ku bertanya.


Sedikit ku jelaskan tentang ku dan kamu.


Agar seisi dunia tahu.

__ADS_1


Keras kepala ku sama denganmu.


Caraku marah caraku tersenyum.


Seperti detak jantung yang bertaut.


Nyawaku nyala karena dekat denganmu.


"Siapa bertamu sore-sore begini? Atau jangan-jangan si kembar nggak jadi pergi ke rumah Fatimah?"


Laila bermonolog pada dirinya sendiri. Segera wanita itu mengambil kerudung instan panjang menutupi dada hingga perut.


Laila membuka pintu rumahnya. Wanita itu melihat dari bawah, terdapat kamu jenjang seseorang. Lalu, pandangan Laila perlahan naik ke atas.


Degg.


Laila beradu pandang dengan pria masa lalunya. Sontak saja tubuh wanita itu membeku, terkejut dan takut bercampur menjadi satu.


Buru-buru Laila menarik pintu ingin menutupnya kembali, tetapi lelaki itu menahannya dengan kakinya.


"Aku ingin berbicara serius denganmu!" tegas Raja menatap Laila tajam.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Hubungan kita sudah berakhir enam tahun yang lalu!" balas Laila tak kalah tegas.


"Banyak hal yang harus kita bicarakan! Ini menyangkut tentang masa depan anak kita!" tukas Raja dengan nada sarkas membuat sorot mata Laila langsung menatapnya dengan berani dan penuh kebencian.


Laila menghentikan aksinya itu.


"Coba kamu ulangi sekali lagi? Aku ingin mendengarnya? Anak kita? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Laila seraya tertawa remeh.


*


*


Udah 2 bab, nih. Gimana mau lagi?


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️


Mampir juga ke novel temen author yang nggak kalah bagusnya. Pastinya seru dan bikin candu, mampir aja sambil nunggu author up 🥰



__ADS_1


__ADS_2