
Haikal masuk ke dalam kamarnya. Pria itu tak tahu harus bahagia atau sedih, istrinya telah kembali. Namun, bukan sebagai istrinya melainkan guru sang anak.
Rasa rindu di dalam dadanya sangat besar. Ingin sekali dia mendatangi istrinya dan memeluk erat Siska. Namun, dia tidak berani melakukan nya. Dia takut sang istri akan marah.
Berbagai tanda tanya hadir dalam benaknya. Ketahuilah, saat seorang istri berubah total, akan membuat seorang suami berpikir hal-hal yang tidak-tidak.
Apakah istrinya sudah merasa bosan dengannya? Apakah dirinya sudah tak menarik lagi?
Sampai-sampai Siska tak mau menyapanya sebagai seorang istri. Haikal memilih berdiam diri di dalam kamar, dia takut bila keluar akan lepas kendali terhadap Siska.
"Dia kembali … dia sudah kembali." Bibir Haikal bergetar menahan tangis. Pria tampan itu amat sangat merindukan istrinya.
"Apa dia masih mencintai ku? Atau jangan-jangan dia mau meninggalkan ku, pergi dengan pebinor itu!" Haikal resah dan gelisah.
Pria itu merasa lelah berpikir. Dia memilih menyendiri di dalam kamar tanpa berani keluar kamar.
*
*
Selepas sholat isya barulah pria itu keluar kamar. Seharian tidak makan membuatnya lapar tak tertahan kan lagi.
Haikal berjalan ke arah dapur. Pria itu mencari apa saja yang bisa dijadikan makanan dalam kulkas.
"Huff … syukurlah sosis dan nugget masih ada," gumam Haikal pelan.
"Sedang apa, Pak?"
Siska yang memang tidak bisa tidur sebab khawatir dengan keadaan suaminya yang semenjak kedatangan nya tak keluar kamar. Tadinya, dia merasa sangat haus. Tak menyangka malah bertemu dengan suaminya.
"Sedang berak." Haikal menjawab ketus membuat Siska mengerucutkan bibirnya.
"Ih si Bapak," lirih Siska pelan membuat Haikal tersenyum dalam hati.
Senang sekali membuat istrinya kesal. Dia merindukan istri nya yang cerewet. Ingin rasanya Haikal menerkam Siska saat ini juga, tetapi ia tahan.
"Sudah tahu saya lagi di depan kulkas cari makanan, kamu tanya lagi saya sedang apa? Saya tidak suka basa-basi."
__ADS_1
Haikal menjawab dengan nada dingin. Sontak saja Siska termangu mendengarnya, dia teringat kembali masa-masa Haikal bersikap dingin dulu.
Wanita itu menggeleng kepalanya cepat. Tak ingin berpikiran yang tidak-tidak, kata mertuanya Haikal telah benar-benar berubah.
Wajar saja pria itu dingin karena saat ini Siska sedang menyamar.
"Bapak mau nasi goreng? Biar saya masakin?"
Siska menawarkan membuat Haikal senang. Pria itu menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis, lalu mengangguk kepalanya.
"Boleh."
Siska pun segera memasak nasi goreng spesial untuk Haikal. Dia tidak sadar kalau suaminya menatapnya sedari tadi.
"Sepertinya aku tidak sanggup lagi pura-pura, Sayang," guman Haikal dalam hati.
Dia sudah menyerah di hari pertama istrinya menyamar. Tidak sanggup lagi menunggu beberapa hari ke depan, diam-diam Haikal menyusun sebuah rencana.
"Sudah siap, Pak!" Siska meletakkan piring nasi goreng di hadapan Haikal.
Pria tampan itu tersenyum senang tanpa sadar, membuat Siska terpana. Sudah lama dia tidak melihat senyuman manis ini di wajah suaminya.
"Ya Allah, Mas. Andai dari dulu kamu senyum begini, mungkin aku nggak bakalan kabur," gumam Siska dalam hati.
"Terima kasih."
Haikal segera menyantap hidangan yang telah di siapkan oleh istrinya. Mata pria itu melebar sempurna, tidak menyangka kalau istrinya bisa memasak seenak ini.
"Entah apa yang kamu lalui selama sebelas bulan ini, Sayang. Sampai-sampai nasi goreng buatan mu lebih enak dari punya ku," gumam Haikal dalam hati memuji keterampilan memasak istrinya.
Siska tidak beranjak dari sana. Dia menemani suaminya yang sedang makan.
"Kamu mau temenin saya belanja, tidak?" tanya Haikal pada Siska membuat wanita itu mengernyitkan dahinya bingung.
"Bukannya tadi siang bapak udah belanja yah?" Siska teringat suami nya tadi siang pamit untuk belanja kebutuhan bulanan nya.
"Tadi saya lupa bawa dompet, jadi terpaksa harus pulang lagi ke rumah. Dan saya tiba-tiba pusing, makanya saya istirahat di kamar seharian. Belanja pun tidak jadi."
__ADS_1
Haikal berbohong pada sang istri. Wanita itu merasa khawatir mendengarnya.
"Terus bapak sudah sembuh sekarang? Pusing nya udah hilang kah? Mau saya pijitin?"
Siska melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu tanpa sadar dengan penyamaran nya. Naluri seorang istri masih kental dalam dirinya, membuat Haikal sekuat tenaga menahan senyum dan air matanya.
Mata pria itu berkaca-kaca, bahagia mendengar istrinya mengkhawatirkan keadaan nya. Telah lama tidak ada yang melakukan itu semua.
"Emang boleh kamu pijitin saya? Bukannya kita berdua bukan muhrim?"
Haikal menaik turunkan alisnya membuat pipi Siska merona di balik cadar. Wanita itu mengutuk keras dirinya yang lupa dengan perannya saat ini.
"Ekhm … maaf, saya lupa," cicit Siska pelan membuat Haikal tersenyum penuh arti.
"Saya sudah selesai makan, ayo temani saya belanja," ajak Haikal cepat menatap Siska dengan sorot mata penuh arti.
"Aku sudah tidak sanggup lagi menahan nya," batin Haikal tersenyum kejam.
Sepertinya sesuatu yang buruk akan menghancurkan rencana Siska.
Wanita itu tidak sadar, kalau yang berhadapan dengan nya tak lain adalah Bapak nya kadal, jadi tak bisa di kadalin.
*
*
Wkwkwkwk Siska nggak tahu dia sedang berhadapan dengan siapa 🤣🤣
.Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salam Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
*
Rekomendasi novel author yang nggak kalah keren ceritanya.
__ADS_1