
"Jadi, gitu, Yah!" Raja menundukkan wajahnya tak berani menatap ayahnya. Terpaksa rahasia yang ia simpan, rencananya akan ia ceritakan tahun depan, harus ia ceritakan sekarang.
Pria tua itu mendengarkan cerita Raja dengan sangat baik. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana pelik nya masa lalu wanita dan cucu kembarnya. Pasti sangat menyedihkan. Segera saja pria tua itu beri Raja pelajaran.
Dia memukul kepala Raja dengan tongkatnya.
"Aduh! Sakit, Yah!" pekik Raja melindungi kepalanya dari pukulan sang ayah. Dia tidak tahan mendapatkan pukulan tongkat halilintar ayahnya. Sangat menyakitkan.
"Sakit yang kamu rasakan tidak seberapa dari yang wanita itu rasakan. Kurang ajar memang kamu ya. Aku didik kamu jadi manusia, tapi malah jadi buaya. Kalau saja aku punya kekuatan, udah ku kutuk kau jadi buaya beneran. Biar pulang ke rawa-rawa kau!" umpat sang ayah sangat kesal.
Inilah yang membuat Raja tak mau bercerita pada ayah atau keluarganya. Pasti dia akan mendapatkan pukulan menyakitkan, secara dalam keluarga cuma dia saja yang salah jalan, lainnya tidak. Lurus aja, sedangkan dia belok-belok jalan kehidupannya.
"Ampun, Yah. Sekarang aku udah jadi manusia beneran. Aku udah bertanggung jawab sama mereka!" balas Raja menahan tingkat ayahnya.
Pria tua itu menarik nafasnya dalam-dalam, dia sangat kesal pada anaknya yang satu ini. Benar-benar menyebalkan anak sulungnya ini. Dua adik Raja yang laki-laki semuanya baik. Guna. Seperti Raja yang jadi tai.
"Sekarang di mana mereka? Aku mau bertemu dengan cucuku, Ibumu pasti akan sangat senang karena dapat cucu kembar!" Pria tua itu bertanya ada Raja. Pria tampan itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Takut kalau jujur lagi dia akan mendapatkan pukulan maut. Secara rumah yang ditempati Laila dan anak-anak sangatlah kecil, tidak setara dengan kamar mandi yang ada di rumah orang tua Raja.
Benar-benar beda level. Dia merasa seperti memakan buah simalakama. Alangkah baiknya Raja tidak jujur tentang ini. Biarlah ayah ya tahu dengan sendirinya, tubuh Raja sudah terlalu sakit untuk mendapatkan pukulan ayahnya lagi.
"Di desa, Yah. Dua hari lagi aku akan ke sana, rencananya aku mau pensiun jadi CEO! Aku mau fokus jadi ayah yang baik buat anak-anakku!"
Raja berkata dengan sungguh-sungguh. Saat ini yang paling penting baginya adalah anak-anak. Tabungan nya sudah banyak, lagian dia sudah terlalu jenuh dengan pekerjaan nya. Maklum saja meski Raja anak orang kaya, dia sudah di tuntut bekerja keras dari remaja. Saat kecil harus pintar, hafal ini itu tentang bisnis. Benar-benar sangat melelahkan.
Di banding Masa kecilnya, setelah dipikir-pikir masa kecil Riska dan Risky lebih menyenangkan dan berwarna dari masa kecilnya yang monoton. Belajar, makan dan liburan.
Berbeda dengan anak-anak di desa yang siang hari bermain di parit untuk menangkap ikan kecil-kecil. Saat sore mandi dan bermain petak umpet, kemudian saat malam pergi ke suatu untuk mengaji. Sungguh masa kecil yang sangat sederhana, namun berharga di mata Raja.
Sang ayah yang mendengar niat Raja pun hanya bisa menghela nafas berat. Dia paham betul apa yang dirasakan Raja, di antara anak-anaknya. Raja lah yang paling keras bekerja. Dia merupakan anak sulung, di tuntut menjadi teladan untuk adik-adiknya. Harus sempurna.
"Terus bagaimana dengan jabatan mu yang CEO?" tanya sang ayah serius.
"Kasih aja buat Dimas. Aku benar-benar sudah jenuh dengan semua ini!"
"Kalau kamu tidak kerja, apa yang akan kamu berikan untuk anak-anak mu? Mereka bisa makan apa?"
"Tenang, Yah. Alhamdulillah ibu anak-anakku mendidik mereka dengan penuh kesederhanaan, lagian tabunganku sangat banyak. Cukup sampai mereka kuliah nantinya. Lagian, aku cuma berhenti jadi CEO. Bukan berarti berhenti kerja, karena aku mau coba jadi petani!" jelas Raja panjang lebar membuat sang ayah mengerutkan dahinya.
"Petani?"
__ADS_1
"Benar, tapi aku tetap jadi bos nya. Jadi, ayah tenang saja!" Raja mengerlingkan matanya genit membuat sang ayah jijik.
"Haiss … terserah kau saja lah. Yang penting Kau harus membuat anak-anakmu bahagia dan berjuang agar wanita itu memaafkan mu."
Sang ayah tidak akan mencampuri urusan Raja lagi. Biarlah pria itu memilih yang mana terbaik untuk nya. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Raja lagi. Akibat ulahnya di masa lalu membuat Raja menjadi salah jalan, saat pria itu stress karena pekerjaan dia akan lari ke pergaulan bebas dan mabuk-mabukkan.
*
*
Dua hari kemudian.
Hari Minggu telah tiba, Risky dan Riska sudah rapi dengan pakaian mereka. Keduanya tak sabar menunggu sang ayah pulang, Raja mengatakan sejalan dia akan pulang ke rumah membawa banyak oleh-oleh untuk keduanya. Tak lupa di kembar meminta Raja membelikan oleh-oleh untuk sahabat mereka.
Dengan senang hati Raja mengabulkan permintaan si kembar. Bagaimanapun dia ingin berterima kasih pada anak-anak di desa yang telah memperlakukan si kembar dengan cara yang baik.
"Abang, Adek. Makan dulu, Nak."
Laila memanggil kedua anak-anaknya. Si kembar pun langsung bangkit dari kursi kayu masuk ke area dapur.
"Bunda, nanti saja makannya, kami mau makan bareng, Ayah," balas Risky menatap Laila penuh harap. Dia takut kalau Laila tak setuju.
"Ya sudah kalau begitu, biar perut kalian nggak kosong. Makan roti tawar yah!" Laila mengambil roti tawar lalu ia oleskan selai coklat.
"Baik, Bunda."
Keduanya paruh pada perintah ibunya. Mereka segera menyantap roti selai coklat dengan penuh semangat.
Setelah selesai, bertepatan dengan suara deru mesin mobil berhenti di pelataran rumah Laila.
Sontak si kembar saling beradu pandang. Mereka tersenyum cerah. Yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Ayah!" teriak keduanya langsung berlari dari dapur keluar rumah.
*
*
Raut wajah kedua orang tua Raja, beserta Dimas dan Danu adik kandung Raja berubah masam saat tiba di rumah Laila. Bukan karena tak suka pada rumahnya, tetapi tidak suka pada Raja yang sangat menyebalkan.
__ADS_1
"Perasaan Ibu dulu memberi namamu Raja, karena berharap jadi raja yang adil dan beradab. Tahunya kau berubah menjadi raja Fir'aun yang biadab!" dengus Dimas adik Raja membuat pria itu hanya bisa salah tingkah.
"Dasar pria tak tahu diri, sudah tahu anak-anaknya tinggal di gubuk reyot, bukannya panggil tukang buat renovasi biar rumahnya megah dan mewah. Malah di diemin begini!" celetuk Dani adik bungsu Raja.
"Hais … nyesel aku bawa kalian kemari kalau tahu begini. Dari tadi ngomel kayak bapak-bapak kurang jatah!" desis Raja seraya membuka sabuk pengaman nya.
"Idih … yang kurang jatah itu kamu, Bang. Udah 5 tahun jadi duda, nggak dapat jatah dari istri! Lah kami tiap punya waktu selalu di kasih servis terbaik sama istri!" sindir Dani dengan mulut pedasnya membuat Raja mengumpat kesal.
"Mulut mu itu, Dan. Macam nggak pernah sekolah!" umpat Raja ingin menonjok adik bungsunya yang duduk di kursi belakang.
Bugh.
Tongkat halilintar sang ayah memberi Raja pukulan. Pria itu hanya bisa mengumpat kesal dalam hati.
"Kau yang paling tinggi sekolahnya, tapi, perbuatanmu macam nggak pernah sekolah. Kok bisa hamilin anak orang tanpa mau tanggung jawab! Apalagi kalau bukan IQ nya lebih rendah dari buaya!" omel sang Ayah membuat Raja mengerucutkan bibirnya.
"Dah lah … kalian berempat, macam emak rempong aja. Buruan turun, kasihan si kembar udah berdiri di depan mobil!" lerai ibu Raja membuat empat pria itu langsung mengalihkan atensi ke dua bocah menggemaskan di depan mobil mereka.
"Ayah!" seru si kembar membuat hati Raja terharu.
Dia langsung menoleh ke arah sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Bu, hatiku terenyuh di panggil ayah oleh anak-anakku sendiri!" adu Raja dengan suara parau dramatis.
"Lebay … huwekk!" Ketiga pria di dalam mobil memasang ekspresi jijik melihat Raja membuat pria itu langsung mengubah raut wajah masam.
*
*
Udah 7 bab uyyy 🤭🤭
Kopi mana kopi??
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰 🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️ 🥰
__ADS_1