Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
Aku Menyerah, Mas!


__ADS_3

Siska menarik kopernya berjalan cepat ingin segera meninggalkan rumah. Derap langkah terdengar dari belakang, tampak Haikal sedang mengejar istrinya agar tak keluar rumah. Dia tidak mau di tinggalkan oleh Siska.


"Jangan pergi!" Haikal mencekal tangan istrinya menatap penuh harap wajah cantik istrinya yang semakin berisi seiring bertambah usia kehamilan.


Jantung Siska berdebar kencang, baru kali ini dia melihat sorot mata lain dari seorang Haikal, biasanya pria itu hanya menatapnya dengan sorot mata dingin, benci dan jijik.


Tetapi, sekarang Haikal menatapnya dengan sorot mata penuh harap, ketakutan, dan cinta di dalamnya. Namun, Siska tidak bisa langsung jatuh ke dalam pelukan Haikal lagi.


"Beri aku satu alasan kenapa aku harus tetap tinggal di rumah ini, Mas!"


Siska menatap dalam bola mata indah yang biasanya ia tatap penuh cinta. Dia melihat wajah tampan sang suami tampak kusut dan muram, namun tak membuat ketampanan Haikal luntur.


"Kamu istriku dan mama nya anak-anak ku! Jadi, kamu tidak boleh meninggalkan rumah ini!"


Haikal berkata dengan nada tegas. Dia menatap istrinya dengan sorot mata penuh harap. Dia ingin sekali memeluk Siska saat ini, namun tak bisa. Sedari tadi dia mencoba menyentuh Siska, wanita itu langsung mendorong nya.


"Aku istri kamu! Benar memang … tapi, aku bukan wanita yang kamu cintai. Aku hanya istri yang tidak pernah kamu harapkan. Aku adalah istri yang selalu kamu abaikan!"


Siska menggelengkan kepalanya lemah. Dia menatap kecewa suaminya, Haikal semakin takut dan kalut sekarang. Dia adalah pria dingin dan kamu, tak pandai membujuk wanita.


"Maaf, Mas. Biarkan aku pergi sementara waktu untuk menenangkan diri. Saat aku sudah merasa tenang, aku pasti akan kembali. Meski nantinya sikapku berubah padamu!"


Siska menepis tangan suaminya. Dia kembali menarik koper, berjalan dengan langkah tegap. Air matanya tanpa sadar luruh begitu saja.


Siska sedang berakting, tetapi hatinya benar-benar sakit. Air matanya suci, bukan palsu.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu tetap di sini?"


Haikal bertanya dengan suara keras. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Pikirannya sudah buntu. Saat ini dirinya hanya bisa menahan kepergian istrinya sampai waktu Reihan pulang sekolah..


Sebab dia yakin kalau istrinya tidak akan mungkin pergi bila Reihan sudah ada.

__ADS_1


Siska menghentikan langkahnya.


"Katakan kalau kamu cinta sama aku, Mas!" pinta Siska membuat tubuh Haikal langsung membeku. Pria tampan itu menatap punggung istrinya dengan sorot mata sendu.


Haikal tak bisa menjawab. Hatinya berteriak cinta, namun logika dan rasa gengsi membelenggu hatinya.


"Katakan, Mas. Kalau kamu cinta sama aku!" Siska membalikkan badannya menatap sang suami dengan sorot mata penuh harap.


Wanita itu sangat ingin sang suami berkata demikian. Dia ingin suaminya menyatakan cinta.


Satu menit.


Dua menit.


Tiga menit.


Empat menit.


Siska tersenyum getir. Sudah lima menit lamanya dia berdiri, menunggu sang suami menyatakan cinta. Namun, tak ada. Dia hanya tersenyum manis menutupi luka dalam hatinya.


Tes.


Tes.


Butiran kristal keluar dari pelupuk mata Siska. Tak sanggup ia menahan rasa sesak dalam hati. Pada akhirnya rasa kecewa itu kembali datang memeluk hati Siska.


Ternyata mencintai seseorang yang tidak mencintai kita sangatlah menyakitkan. Pantas saja, orang bijak berkata kalau salah satu ciri-ciri kebodohan adalah mencintai orang yang tidak mencintai kita.


Rasanya benar-benar menyakitkan.


"A-aku …"

__ADS_1


"Tidak perlu kamu jawab, Mas. A-aku sudah tahu jawabannya!"


Siska lebih dulu menyela. Wanita itu tertawa miris, sangat lucu, bukan? Bibir tertawa, mata menangis.


Seperti lagu Aruma yang berjudul "Muak".


"Tahukah sakit yang tak terobati? Belum juga sembuh tertekan lagi! Muak … aku muak!"


Begitulah yang di rasakan oleh Siska saat ini. Cintanya sangat besar untuk Haikal, nun rasa cinta itu tidak membuatnya mampu merebut hati suaminya.


"Dua tahun kita pacaran, dan hampir delapan tahun usia pernikahan kita, Mas. Tapi, aku tidak berhasil membuat kamu cinta sama aku!"


Siska memutuskan untuk mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada dalam hatinya. Dia tidak sanggup menahan rasa sakit itu sendirian.


Sudah saatnya Siska mengeluarkan semua rasa sakit dalam hatinya.


Sedangkan Haikal hanya terdiam saja. Pria tampan itu tak mampu untuk berbicara lagi. Lidahnya terasa kelu.


"Aku lelah …"


"Lelah berjuang sendirian …"


*


*


Komentar nya yang banyak dong. Sama like nya kalau tembus 700, author bakal up lagi. 🌹🌹❤️


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak

__ADS_1


__ADS_2