
Mobil Siska berhasil tiba di rumah lebih dulu dari Haikal. Wanita itu menghela nafas lega, segera dia turun dari mobil lalu berjalan ke dalam rumah.
"Huff … untung aku selamat. Hampir saja tadi aku di tabrak truk!" Siska mengelus dadanya yang berdebar-debar kencang sedari tadi. Wanita itu sangat takut kalau sampai kecelakaan.
Tadi saat menghindari mobil Haikal yang hampir bersandingan dengan mobilnya. Wanita itu menambah kecepatan tinggi mobilnya, hampir saja dia di tabrak oleh truk Pertamina. Banyak sekali orang yang berteriak karena khawatir.
Syukurnya Siska dan anaknya baik-baik saja.
"Aku harus ambil beberapa baju dan ATM. Sebelum Mas Haikal sampai di rumah." Siska benar-benar menjalankan rencananya. Dia ingin pisah sementara dengan suaminya.
*
*
Seorang pria tampan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sangat takut kalau terjadi sesuatu pada istri juga calon anaknya. Tadi, dia menyaksikan sendiri bagaimana mobil istrinya hampir di tabrak oleh mobil Pertamina.
"Ya Allah, Siska. Kamu benar-benar membuat aku pusing tujuh keliling!" keluh Haikal dengan rasa takut bercampur gelisah.
Saat tiba di rumah, dia melihat mobil sang istri telah ada di sana. Pria itu bersyukur sebab sang istri pulang ke rumah.
"Syukurlah kamu tidak kabur." Haikal bergumam dalam hati.
Pria tampan itu segera masuk ke dalam rumahnya. Dia mencari keberadaan sang istri, tak akan dia biarkan istri nya pergi.
Entah mengapa hatinya terasa sakit! Bukankah selama ini Haikal tak peduli pada Siska. Lalu mengapa saat wanita itu menatapnya kecewa tadi, mampu membuat Hatinya terasa amat sakit.
__ADS_1
"Siska!"
"Siska!"
Haikal berteriak memanggil nama sang istri. Dia mencari keberadaan istrinya di dapur, ruang tamu dan taman samping. Tetapi tak ada, segera saja Haikal menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Haikal membuka pintu kamar. Mata pria itu nyaris keluar dari tempatnya ketika melihat sang istri sedang memasukkan pakaian ke dalam koper. Sontak saja Haikal panik bukan main.
"Siska! Apa yang kamu lakukan? Mau ke mana kamu, huh?!" Haikal bertanya dengan suara tinggi. Dengan cepat dia mengeluarkan semua pakaian istrinya yang ada dalam koper.
"Aku mau pergi! Jangan halangi aku, Mas!" bentak Siska marah kembali memasukkan pakaian nya ke dalam koper.
Dia menatap tajam wajah pias suaminya. Dapat di lihat kalau Haikal sedang ketakutan sekarang, tampaknya pria itu tidak mau kalau dirinya keluar dari rumah ini.
Bersamanya, Reihan dan calon anak mereka. Pria itu tidak pernah berpikir untuk berpisah.
Siska yang mendengarnya pun bersorak gembira dalam hati. Namun, dia tetap pada pendiriannya kalau akan terus berakting sampai Haikal mengakui perasaannya. Dia butuh kalimat cinta yang keluar dari lisan suaminya.
Bagaimana pun kata-kata cinta sangatlah penting bagi wanita. Berbeda dengan pria, selama wanita yang di cinta sudah berada dalam pelukannya maka tak peduli lagi dengan kalimat cinta.
"Sabar, Siska. Kamu harus tenang! Walau sebenarnya kamu mau peluk dan cium Mas Haikal sekarang. Tapi, kamu harus ingat! Saat ini kamu sedang berakting."
Hati Siska berusaha mengingatkan perempuan itu. Agar tak lepas kendali dan menghancurkan rencananya.
"Buat apa aku di rumah ini, kalau kamu sudah punya rumah lain di luar sana, Mas! Aku tidak mau serumah dengan pria yang sudah punya istri dan anak di luar sana!" jerit Siska membuat Haikal mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Dia menarik rambutnya frustasi. Entah dengan cara apalagi dia harus menjelaskan pada Siska.
"Bagaimana bisa kamu menuduhku begitu, Siska? Kamu bilang kamu cinta sama aku. Tapi, kamu tidak percaya padaku!"
Haikal menatap istrinya dengan sorot mata kecewa. Dia sangat berharap kalau Siska percaya padanya, mau mendengarkan penjelasan nya. Tetapi, wanita itu malah semakin menyudutkan nya.
"Jangan pernah ragukan cintaku untukmu, Mas. Karena aku benar-benar tulus mencintai mu! Kalau tidak cinta, sudah dari dulu aku tinggalkan suami dingin bermulut pedas seperti kamu!" tekan Siska menatap tajam mata suaminya.
Keduanya saling bersitegang. Mereka tetap kokoh pada pendirian masing-masing.
Siska ingin keluar rumah, sedangkan Haikal berusaha menahan Siska agar tetap di rumah.
"Tapi, sekarang kamu mau meninggalkan ku!" sanggah Haikal dengan suara bergetar menahan amarah.
"Dan aku ingatkan padamu kalau aku pergi karena kamu, Mas!" tegas Siska menekan dada bidang suaminya.
*
*
Komentar nya yang banyak dong. Sama like nya kalau tembus 700, author bakal up lagi. 🌹🌹❤️
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak
__ADS_1