
Siska mendapatkan notifikasi pesan di ponsel barunya. Dia membaca pesan dari kepala kelinci putih mengancam Haikal untuk datang ke rumahnya. Siska pun langsung bersiap-siap, dia berhasil mendapatkan lokasi Haikal karena bantuan temannya yang melacak keberadaan Haikal.
"Huff … mari lihat! Seberapa cantik wanita itu sampai-sampai kamu klepek-klepek sama dia, Mas," gumam Siska pelan.
Wanita itu langsung melajukan mobilnya ke rumah kelinci putih. Dia tersenyum getir saat melihat mobil sang suami telah ada di sana. Ada rasa sesak dalam hati karena bisa-bisanya sang suami mengunjungi rumah wanita lain.
Siska turun dari mobilnya, dia tersenyum sinis melihat kontrakan si kelinci putih. Dalam hati dia tak habis pikir kenapa Haikal bisa terjebak dengan wanita yang rumahnya saja tidak mewah.
"Nggak di drama, nggak di realita. Rata-rata pelakor nya berasal dari kasta rendahan! Tidak rendah harta, tapi rendah martabat. Mau-maunya godain pria yang sudah beristri," gumam Siska pelan.
Dia menyayangkan keputusan Haikal yang selingkuh dengan wanita miskin. Sayang sekali.
"Jangan coba-coba usik rumah tanggaku lagi, Laila! Kalau sampai kamu berani. Aku tidak akan segan menghancurkan hidupmu!"
Suara Haikal terdengar lantang membuat jantung Siska berdegup kencang. Dia melihat kiri kanan dan tak ada para tetangga kepo. Sepertinya semua orang sedang beraktivitas. Tak sempat melihat pertengkaran.
"Mas Haikal," lirih Siska pelan lalu melangkah pelan mendekati pintu rumah kontrakan. Dia mengintip di celah-celah pintu, untung saja pintu tidak terkunci.
Dia melihat sang suami sedang bertengkar dengan seorang wanita. Mata Siska melebar sempurna saat melihat wajah wanita itu yang tak lain adalah guru Reihan bernama Putri.
"Dia, 'kan gurunya Reihan," gumam Siska pelan menutup mulutnya tak percaya.
Siska menyaksikan pertengkaran dia manusia itu. Dia sekarang tahu titik terang nya, Haikal tidak selingkuh dan wanita itu mencoba menjebak suaminya.
"Kenapa Mas Haikal tidak cerita sama aku? Ya Allah … gemes banget sama tuh perempuan. Rasanya pengen ku ketol kepalanya pake balok," dengus Siska menahan rasa kesalnya.
__ADS_1
"Lebih baik aku bunuh anak ini saja."
Siska melebarkan bola matanya. Dia terkejut mendengar ucapan wanita itu, saat melihat sang suami dan wanita bernama Laila masuk ke dalam kamar.
Siska memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah dan mengintip di pintu kamar Laila.
Dia menutup mulutnya agar tak menjerit melihat suaminya menepis tangan Laila. Terlebih lagi wanita itu tampak putus asa ingin mengakhiri hidup anak yang di kandungnya.
Sontak Siska mengelus perut, seolah sedang menenangkan calon bayi nya, kalau dia tidak akan jahat seperti Laila yang ingin mengakhiri anaknya.
Ada rasa kesal dan tak terima saat Haikal mendengarnya ingin menafkahi Laila. Namun, dia tidak bisa marah. Sebab tahu kalau itu uang suaminya dan memang Laila layak di bantu.
"Apaan sih kamu, Mas? Terlalu baik sama janda juga nggak baik. Sok-sok an bijak di depan janda, di depan istri sendiri bisanya kaku macam es balok," gerutu Siska dalam hati.
Rasa cemburu menjalar dalam hati. Wanita itu tersenyum kecil saat sebuah ide terlintas dalam benaknya.
Dia memejamkan matanya. Untuk kedepannya dia harus kuat dan tegar, Siska ingin sang suami benar-benar mencintai nya kembali seperti dulu. Dia juga ingin tahu apakah Haikal akan merasa kehilangan, kalau dirinya tidak ada.
Meski ia tahu kalau sang suami tidak akan mengkhianati Pernikahan mereka. Hanya saja Haikal harus merubah sikapnya, tidak boleh dingin dan mengabaikan Siska terus.
Sama hal nya seperti Siska yang tidak boleh terlalu bergantung pada Haikal. Dia harus bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
Konon katanya, kehilangan akan mengajarkan seseorang untuk menghargai keberadaan.
Siska berharap nantinya Haikal bisa belajar menghargai keberadaan nya.
__ADS_1
"Bismillah," gumam Siska pelan.
Dia langsung berdiri tegak di depan pintu kamar Laila. Menatap keduanya dengan bola mata berair.
"Tega kamu, Mas!" ujar Siska dengan suara bergetar.
Sontak saja Haikal dan Laila menoleh ke arah pintu. Dia melihat istrinya menatapnya dengan sorot mata kecewa.
"Siska … i-ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Haikal berkata dengan terbata-bata membuat Siska menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah lelah, Mas. Lelah memperjuangkan pernikahan kita agar tetap utuh seorang diri! Sedangkan kamu malah asik selingkuh, sampai dia hamil," tuduh Siska dengan suara tinggi.
Wanita itu sangat pandai berakting. Dia ingin tahu seberapa penting dirinya bagi sang suami, seberapa keras perjuangan Haikal untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
"Aku tidak selingkuh dan dia hamil bukan anak aku!" Haikal mencoba menjelaskan. Dia mendekati sang istri ingin menyentuh tangan Siska.
"Jangan sentuh aku, Mas!" Siska menarik tangan nya, menjauhi tubuh Haikal.
"Aku jijik sama kamu," tambah Siska membuat Haikal termangu.
*
*
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏