
Tidak ada yang tahu garis takdir manusia. Hanya Allah yang tahu mana terbaik untuk hamba-Nya. Terkadang sesuatu yang kita kira baik, ternyata buruk untuk kita. Begitupun sebaliknya, sesuatu yang buruk bisa jadi baik bagi kita. Percayalah, ajal, rezeki, langkah dan pertemuan seorang manusia dengan orang-orang yang pernah ia temui selama hidup sudah ada di lauh Mahfudz.
Tinggal bagaimana manusia itu menjalani kehidupannya.
Laila berlari di lorong rumah sakit, mencari keberadaan Raja. Ada rasa sesak dalam hatinya yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata. Anak-anaknya belum tahu tentang hal ini, dia menyuruh tetangganya untuk menutupi nya.
"Di mana ruangannya, Dek?" Laila bertanya dengan suara serak. Air matanya sudah banjir membasahi pipinya.
"Itu, Kak!" tunjuk Rahmat pada ruangan ICU.
Laila berlari ke sana, dia berdiri di depan pintu melihat keadaan dalam ruangan melalui celah-celah pintu. Dia menutup mulutnya saat melihat wajah Raja di penuhi oleh darah.
Ada rasa sakit tak berdarah menghantam hatinya, dia merasa sangat sedih, sesak dan bersalah bercampur menjadi satu. Tiba-tiba bayangan tentang Raja yang selalu berkata akan memperjuangkan dirinya berputar seperti rekaman video.
"Tenang, La. Aku nggak bakal sakit hati karena penolakan mu. Selama aku masih bernafas, aku tetap akan memperjuangkanmu."
Raja berkata kala itu membuat hati Laila seperti di tusuk sembilu tajam. Wanita itu luruh ke lantai rumah sakit, dia bersandar di dinding. Menepuk dadanya yang terasa sakit.
"Ya Allah … hiks … ya Allah! Kenapa bisa begini? Akkk .. aduh sakit ya Allah! Dia rela pindah ke desa melepas jabatan CEO dan menjadi petani! Tapi, malah begini ya Allah!"
Laila berbicara sendiri di sela-sela tangisnya, dia mengadu pada Allah. Laila menangis, takut kalau Raja pergi meninggalkan nya. Sedangkan pria itu berjanji akan menjaganya dari jauh dan anak-anaknya sampai dewasa nanti, raja yang selalu ceria dan berusaha tetap tegar meski mendapatkan penolakan dari Laila berkali-kali, pria itu tidak pernah mengeluh akan hal itu, ia selalu yakin bahwa Laila akan mencintainya Suatu hari nanti.
Namun, setiap manusia memiliki batas waktu masing-masing, ada kalanya mereka berhenti berjuang karena lelah, adapun yang berhenti berjuang karena memang waktunya telah habis, entah Raja berhenti karena waktunya sudah habis atau karena lelah.
Orang-orang yang berada di sekitar Laila hanya mampu menatap tiba wanita itu, mereka mengelus pundak Laila berusaha menguatkan wanita yang sedang patah hati itu, siapapun mungkin akan sama keadaannya seperti Layla saat orang yang penting bagi mereka berada di posisi raja yaitu di penghujung maut.
"Yang sabar ya, La. Pasti Raja baik-baik saja, dia pria yang baik dan ayah yang bertanggung jawab! Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk Raja!"
Seorang ibu-ibu berbicara dengan lemah lembut pada Layla, membuat wanita itu menganggukkan kepalanya, dia berusaha untuk tetap tenang dan percaya pada takdir Allah bahwa segala sesuatu yang telah ditakdirkan pasti akan baik, walaupun di mata manusia itu takdir buruk pasti setelahnya ada hikmah besar.
*
*
Operasi Raja berjalan dengan lancar pihak rumah sakit harus melakukan operasi darurat karena keadaan Raja sedang berada dalam bahaya orang tua raja yang berada di kota pun memberi izin bagi pihak rumah sakit untuk menangani anaknya itu.
"Bagaimana keadaan nya, Dok?" tanya Laila dengan suara parau.
__ADS_1
"Operasinya berjalan lancar, namun terjadi kerusakan pada bagian organ dalam tubuh pasien. Namun, seiring berjalannya waktu pasti pasien akan membaik. Saat ini yang bisa kita lakukan hanya berdoa!"
Sang dokter memberitahukan keadaan raja pada Layla membuat dada wanita itu lagi-lagi merasakan sesak yang amat dalam, ia menyesal karena pernah menolak Raja sebetulnya dia sudah kembali percaya pada raja tetapi masih ada ketakutan untuk kembali bersama dengan pria itu, terlebih lagi dia sudah nyaman menjadi janda, namun di waktu ini setelah melihat raja berada di penghujung maut, membuat Laila gemetar ketakutan. wanita itu tidak akan mau melihat Raja pergi dari dunia lebih dulu barulah dia setuju untuk menikah dengan Raja. Karena semuanya akan sia-sia.
"Untuk saat ini pasien belum bisa di kunjungi, karena pasien butuh ketenangan."
Setelah mengatakan hal itu, dokter pun pergi dari sana. Meninggalkan Laila seorang diri di depan ruangan ICU.
Suara derap langkah kaki orang membuat Laila mengalikan atensi kekanan dia langsung menangis sesenggukan ketika melihat ibu dan ayah Raja datang, dia langsung berlari memeluk Ibu Raja menangis dalam pelukan wanita tua itu, mengadu bahwa dia sangat ketakutan bila suatu hal yang buruk terjadi pada raja, dia benar-benar tidak akan memaafkan dirinya.
"Ibu … Mas Raja, Bu. Hiks … dia …"
Laila menunjukkan arah ruang ICU membuat Ibu Raja mengerti wanita tua itu mengeratkan pelukannya dia juga merasa hancur hatinya ketika tahu anak sulungnya mengalami kecelakaan parah, Dia hanya bisa bersabar dan pasrah akan takdir Tuhan, wanita tua itu menepuk punggung Laila dengan sabar berusaha untuk saling menguatkan agar keduanya tetap berada dalam kewarasan.
"Sabar, Nak. Bismillah … Allah pasti akan memberikan yang terbuka bagi Raja. Pasti setelah ini, ada hikmah besar! Bukankah kata Allah dalam Al-Qur'an, setiap kesulitan pasti ada kemudahan di baliknya!"
Wanita tua itu mengingatkan Laila akan firman Allah dalam Alquran, meski dalam keadaan sedih dia tetap mengingat firman Allah yakin betul bahwa ujian yang diberikan oleh Allah saat ini pasti berbuah baik.
Laila menganggukkan kepalanya, dia pasrah pada ketentuan Allah namun dalam hati kecilnya dia berjanji kalau Raja sadar nanti dia akan menerima pinangan pria itu, tak sanggup dia melihat raja terluka rasa bersalah juga rasa yang ada untuk Raja semakin meledak-ledak dalam dirinya. Memaksa Laila untuk mengakui perasaannya pada Raja.
*
*
Laila senantiasa menunggu Radja di dalam ruangan, orang tua raja berusaha untuk berada di sisi cucunya karena takut kalau Riska dan Rizki tiba-tiba curiga. Saat si kembar bertanya tentang keberadaan Raja maupun Laila, mereka selalu menjawab kalau Laila dan raja pergi untuk liburan bersama, awalnya mereka tidak percaya dan bingung dengan maksud dari liburan bersama karena biasanya Laila maupun Raja selalu mengajak mereka untuk liburan, kemudian dengan susah payah Ibu Radja menjelaskan kalau Laila dan Raja sedang tidak bisa di ganggu.
Karena terlalu pusing untuk memahami perkataan nenek dan kakeknya, si kembar pun memilih untuk tak bertanya lagi tentang Laila dan raja yang jelas mereka bisa mendengar suara ibu mereka setiap harinya sudah membuat keduanya senang meski mereka bingung gimana raja dan Kenapa pria itu tidak ikut berbicara dengan mereka.
"Mas, bangunlah! Maafkan aku karena sudah membuatmu menunggu lama. Hiks … aku nggak bisa lihat kamu terluka seperti ini. Aku rindu kamu yang cerewet dan suka mengomel!"
Laila menumpahkan segala rasa sesak yang ia tahan. Seperti hari-hari sebelumnya, Laila selalu menceritakan betapa rindunya dia pada Raja.
Dokter mengatakan kalau Laila harus sering-sering berbicara dengan raja agar bisa merangsang indra pendengaran raja dan memancing kesadaran pria itu.
"Aku janji, kalau kamu sadar! Aku mau menikah denganmu, Mas. Aku janji! Hiks …"
Laila menangis lirih seraya merebahkan kepalanya di lengan Raja wanita itu menumpahkan tangisnya di sana. Berharap Raja sadar dan mengelus pipinya guna menenangkan hatinya yang terasa sesak itu.
__ADS_1
"Benar, kamu mau menikah denganku?"
Laila membuka matanya lebar ketika mendengar suara serak seseorang wanita itu segera menegakkan tubuhnya lalu menetap raja yang kini berusaha untuk membuka matanya namun pria itu berhasil mengeluarkan suara.
"Mas, kamu sudah sadar? Alhamdulillah ya Allah!" pekik Laila bahagia menangis terharu.
Segera wanita itu menikah tombol nurse, Raja kembali mengulangi pertanyaan nya.
"Ka-kamu tidak bohong, kan? Kamu mau menikah denganku?"
Suara Raja terdengar serak-serak para membuat wanita itu menangis haru dan menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak bohong, Mas. Kamu jangan banyak gerak dulu! Biar dokter datang dan periksa kamu!" Lela memberi nasehat pada raja membuat pria itu patuh karena memang Raja belum bisa bergerak seperti biasa sepenuhnya.
Dokter masuk ke dalam ruangan dan memeriksa keadaan Raja.
"Alhamdulillah, pasien sudah sadar dan keadaannya sangat membaik. Namun, pasien tetap harus di rawat inap sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Sebab, meski telah sadar, pasien belum bisa bergerak normal seperti biasa. Kami perlu memantau perkembangan pasien dengan teliti!"
"Baik, Dok. Terima kasih!"
Setelah menjelaskan itu, doctor pun keluar dari ruangan meninggalkan raja dan Laila, wanita itu pembantu Raja minum menggunakan sedotan dengan susah payah Raja meminum air.
"Kamu janji kan mau nikah sama aku?" tanya Raja lagi dengan suara serak. Kali ini dia sudah bisa membuka matanya menatap Laila dengan sorot mata lemah.
"Aku janji, Mas. Makanya kamu harus sembuh dulu!" ujar Laila tersenyum lembut membuat Raja meneteskan air matanya bahagia.
"Akhirnya perjuangan ku tidak sia-sia, meski harus kecelakaan dulu, gara-gara babi liar yang tidak punya tata Krama itu. Main kejar-kejaran di tengah jalan! Kagak tahu orang lagi buru-buru!" Omel Raja membuat Laila tertawa cekikikan.
"Sepertinya kamu sudah sembuh, Mas!" ujar Laila membuat Raja tersenyum tipis.
*
*
TAMAT.
Tenang aja, akan ada ekstra part nya. Maaf kalau banyak typo karena author udah ngantuk hehe 🤭🤭
__ADS_1
Ambil yang baik nya, buang yang buruk. Semoga pembaca bisa mengambil pesan moral dalam cerita ini ❤️❤️🌹
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️