Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
S2 : Siapa Paman Baik? [Laila]


__ADS_3

Janda dua anak itu tiba di rumahnya. Dia melihat Riska dan Risky sedang menonton kartun Upin dan Ipin. Dahi Laila berkerut saat melihat begitu banyak cemilan dan botol susu di atas meja ruang tamu.


"Assalamualaikum." Laila menyapa kedua anaknya membuat anak kembar itu menoleh ke arahnya. Kedua adik kakak itu tersenyum cerah.


"Wa'alaikumussalam, Bunda." Mereka menjawab serempak. Senyuman cerah tersemat di wajah mereka berdua, membuat hati Laila menghangat.


Dua bocah inilah penyemangat hidup nya. Riska dan Risky bagaikan pelita di tengah kegelapan, karena mereka lah Laila berubah total, dia tak ingin menjadi contoh tidak baik untuk anak-anaknya.


"Kenapa banyak sekali susu dan cemilan, Sayang?"


Laila bertanya dengan suara lembut. Riska dan Risky pun saling bertatapan, mereka menganggukkan kepala serempak membuat Laila semakin penasaran dari mana minuman dan cemilan itu datang.


"Tadi ada paman baik kasih kami jajan, Bun. Abang dan Adek di kasih uang merah, Abang beli ini semua tapi masih ada uang kembalian nya, nih. Lihat nih, Bun. Ada warna hijau, biru dan kuning!"


Risky mengeluarkan semua uangnya. Dia memperlihatkan para sang ibu, Laila merasa sangat khawatir. Takut, kalau anak-anaknya mendapatkan uang dari orang jahat.


Segera saja Laila meletakkan tas belanjaan nya di atas meja. Dia mendekati kedua anaknya, lalu menghempaskan bokong duduk di dekat mereka.


"Wahhh … uangnya banyak sekali! Sekarang di mana pamannya, Bang?" tanya Laila lembut ingin mendengar tentang pria yang memberikan uang kepada anak-anaknya.


"Pamannya udah pergi, Bun. Tadi Abang dan Adek main bola bareng paman baik. Iya kan, Dek?"


Risky melirik sang adik, membuat Riska menganggukkan kepalanya polos. Mereka berdua pun bercerita tentang kegembiraan mereka saat bermain dengan paman baik.


"Paman baik sangat pandai main bolanya, Bun. Seperti Ronaldo, tapi Ronaldo lebih bagus!" cerita Risky semangat semakin membuat Laila penasaran dengan sosok paman baik yang bermain dengan anak-anaknya.


Pasalnya selama ini tidak ada yang berhasil akrab dengan anak-anaknya. Karena memang Riska dan Risky memiliki karakter ambivert, mereka hanya bisa akrab dengan orang yang mereka suka. Bisa juga menjadi sosok introvert di hadapan orang yang mereka tidak suka.

__ADS_1


"Jadi, paman itu bukan orang jahat? Dia tidak menyakiti kalian, kan, Nak?" Laila bertanya dengan serius. Menatap lekat kedua anak-anaknya memastikan tidak ada hal buruk yang menimpa kedua buah hatinya.


"Tidak, Bun. Paman baik tidak jahat sama kami!"


Keduanya menjawab serempak penuh keyakinan. Laila pun menghela nafas lega. Dia memeluk kedua anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Lain kali tidak boleh mengambil pemberian orang asing ya, Nak. Kita ini hidup serba berkecukupan, jadi tidak layak menerima bantuan orang lain! Kalau Riska dan Risky mau uang, boleh minta sama, Bunda."


Laila berbicara lemah lembut menghadapi anak-anaknya. Belajar dari masa lalu, bagi Laila tidak ada yang gratis di dunia ini, tak ada yang mau membantunya dengan tulus.


Dari mula mendiang orang tuanya yang sering kali meminta uang pada Laila dengan alasan mereka yang membuat Laila ada di dunia ini.


Kemudian, tinggal bersama neneknya yang menyekolahkan Laila, lalu sering meminta uang padanya, dengan alasan uangnya habis digunakan untuk Laila sekolah.


Lalu, bertemu dengan ayah si kembar yang meminta tubuhnya sebagai bayaran dari semua kemewahan yang ia dapat.


"Baik, Bunda," jawab mereka pelan merasa bersalah.


"Nah, karena sudah terlanjur dapat uang dari paman baik. Jangan lupa sisihkan untuk ditabung, dan sedekah ke mesjid!"


Sontak saja kedua anak kembar itu tersenyum cerah. Mereka mengangguk kepalanya cepat, hal yang paling Riska dan Risky sukai adalah bersedekah ke masjid.


"Siap, Bunda."


"Nanti malam, malam Jum'at! Bunda jadi pergi ke meski ikut pengajian, 'kan?" tanya Riska semangat membuat Laila menganggukkan kepalanya.


"Tentu lah … Bunda bakal ke mesjid!" balas Laila seraya mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Abang dan Adek ikut ya, Bunda!" pinta keduanya menatap Laila penuh harap.


"Masya Allah, tentu boleh, Sayang-cintanya, Bunda. Tapi, ada syaratnya! Kalau berdua mandi dulu, terus makan siang, sholat Dzuhur dan bobo siang!" pinta Laila pada anak-anaknya.


Tentu saja mereka berdua menganggukkan kepalanya semangat. Dengan senang hati mereka melaksanakan syarat yang diberikan oleh sang bunda.


"Siap, Bunda!" jawab keduanya serempak.


"Pinternya anak-anak bunda. Ahh … makin cinta deh sama kalian berdua!" Laila mencium pipi Riska dan Risky.


"Kami juga cinta sama, Bunda." Kedua anak itu pun menciumi pipi Laila.


*


*


"Bram, menurutmu apa aku mirip dengan bocah perempuan yang aku temui tadi?" tanya Raja pada anak buahnya.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2