
"Mama, Papa!"
Suara nyaring Reihan terdengar membuat Siska segera menghapus air matanya cepat. Sedangkan Haikal tersenyum tipis, dia bernafas lega karena berhasil mengukur waktu sampai Reihan pulang.
Istrinya pasti duduk akan bisa pergi ke mana-mana. Karena putranya pasti akan melarang, di tambah Reihan yang tak bisa jauh dari Siska.
"Yes, berhasil! Siska tidak akan pergi, karena Reihan pasti akan sedih."
Pria tampan itu berkata dalam hati. Sedangkan Siska hanya bisa menahan rasa sakit bercampur kesal. Sebab tak bisa pergi.
Reihan berlari kencang ke arah orang tuanya. Bocah kecil itu tersenyum senang, namun senyuman nya perlahan pudar. Digantikan dengan raut wajah kebingungan saat melihat sang ibu membawa koper besar.
"Mama mau ke mana?" Reihan bertanya heran membuat Siska menghela nafas berat.
Wanita itu memejamkan matanya sesaat guns menetralisir rasa sakit yang ia rasakan. Kemudian Siska tersenyum manis. Dia membelai puncak kepala putranya dengan lembut penuh kasih sayang.
"Mama nggak ke mana-mana, kok."
Siska menjawab dengan suara yang di buat setegar mungkin. Agar sang anak tak tahu kalau dirinya baru saja menangis.
"Terus kenapa mama bawa koper? Dan kenapa papa peluk mama erat banget. Kayak takut mama pergi!"
Reihan adalah anak cerdas dan peka terhadap sekitar. Dia melihat sang ayah memeluk erat tubuh ibunya dari belakang. Dapat ia melihat tangan Haikal memeluk pinggang ibunya. Seakan-akan tak ingin lepas.
Sontak saja mendengar pertanyaan putranya membuat Siska khawatir. Dia tak mungkin jujur, sebab akan menyakiti putranya.
"Ah tadi itu, nama rencananya mau nginap di rumah Oma. Tapi, nggak jadi! Karena papa nggak ngizinin mama pergi!"
Siska terpaksa berbohong. Namun, Reihan tak percaya begitu saja. Dia anak cerdas, kedekatan dengan sang ibu membuat hatinya dekat sekali dengan wanita yang telah melahirkan nya itu.
"Emang kenapa mama nginap di rumah, Oma? Pasti Mama dan papa berantem yah?"
Reihan bertanya seraya menatap kedua orang tuanya penuh selidik. Umur Reihan hampir tujuh tahun, tetapi dia sudah bisa berpikiran kritis. Berkat didikan orang tua, serta ajaran agama.
Haikal mendengus kesal dalam hati. Antara senang dan khawatir memiliki anak pintar seperti Reihan. Otaknya begitu mudah mencerna, hatinya sangat peka terhadap sekitar, apalagi bila menyangkut tentang ibunya.
Memang benar, anak laki-laki merupakan malaikat pelindung tak bersayap bagi ibunya.
"Iya! Papa dan mama berantem. Papa nggak sengaja buat mama kesal tadi! Tapi, papa udah minta maaf. Jadi, sudah tidak apa-apa!"
Haikal menjawab apa adanya. Percuma berbohong, karena Reihan pasti akan mendeteksi kebohongan.
__ADS_1
Reihan pun menganggukkan kepalanya polos. Dia paham sedikit banyak apa yang sebenarnya terjadi antara ayah dan ibunya.
"Jangan sedih lagi ya, Ma! Papa udah minta maaf!" Reihan memeluk perut besar ibunya. Tinggi bocah itu sudah hampir setara dengan ketiak Siska.
"Iya." Siska menjawab dengan suara pelan seraya mengelus puncak kepala putranya. Haikal pun menyingkir dari sana, membiarkan Reihan lebih leluasa memeluk istrinya.
"Papa juga jangan buat mama sedih atau menangis lagi! Nanti mama kabur bawa lari dedek baru tahu rasa!"
Reihan menatap tajam ayahnya. Dia tidak segan memarahi sang ayah bila berani menyakiti ibunya.
Sontak saja Haikal melebarkan matanya mendengar perkataan sang anak yang sangat cocok dengan keadaan sekarang.
Sedangkan Siska sekuat tenaga menahan senyumnya. Reihan memang selalu dapat di andalkan. Putranya itu juga sangat peka, hangat dan lembut.
Berbeda dengan sang suami yang dingin seperti es balok, kasar seperti kulit salak. Cuek seperti bebek.
"Ahh β¦ Reihan, mama padamu, Nak!" Siska menjerit bahagia dalam hati.
"Mama tidak akan kabur! Karena papa nggak bakal ngizinin mama kamu pergi dari papa!"
Haikal berkata dengan nada tegas membuat Reihan mengedikkan bahunya acuh.
"Orang kabur mana mungkin minta izin, Pa! Seperti Mama nya Nayla yang kabur bawa Nayla juga. Sekarang papa nya Nayla uring-uringan cari Nayla dan mama nya sampai ke sekolah!"
"Mamanya kabur kenapa, Sayang?" Siska bertanya serius membuat Reihan mengetuk dagunya sendiri.
"Abang nggak tahu, Ma. Tapi, kata temen Abang, papanya Nayla main api. Reihan nggak ngerti juga, urusan orang dewasa!"
Reihan menjawab dengan polosnya. Dia memang mendengar guru matematika bergosip dengan wali kelasnya. Namun, dia tidak terlalu mengerti. Sebab banyak istilah-istilah bahasa orang dewasa.
Seperti main api, pelakor, pebinor. Dia belum pernah menemukan kata-kata itu di buku yang pernah ia baca.
Haikal hanya bisa menelan ludahnya sendiri mendengar cerita Reihan.
"Untung saja Reihan sudah pulang. Kalau tidak, sudah pasti Siska tinggalin aku."
Haikal bergumam dalam hati. Dia bersyukur karena putranya pulang telat waktu.
"Ya sudah kalau begitu, Abang mandi yah! Setelah itu kita makan siang."
Siska mengusap pipi mulus putranya. Reihan tersenyum senang, teringat sesuatu yang ingin ia perlihatkan pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Iya! Eh β¦ Abang ada sesuatu yang mau Abang kasih lihat."
Reihan segera membuka tas ransel nya. Dia memperlihatkan formulir pendaftaran perlombaan menghafal Alquran.
"Ini, Ma. Abang minta izin mau ikut lomba hafal Qur'an nasional! Tadi, ustadz Yusuf ajak Abang ikut lomba ini, Ma, Pa. Kata beliau Abang harus ikut, biar dapat pengalaman baru dan temen-temen baru! Apalagi mau menjelang puasa. Hadiah nya juga gede-gede, Ma. Juara 1 bakal dapat tiket haji, juara 2, tiket umroh + uang 5 juta. Juara 3 bakal dapat tiket umroh + uang cash 3 juta."
"Nanti kalau Abang menang, tiket haji atau umroh nya bakal Abang kasih buat mama dan papa!"
Reihan menatap ibu dan ayahnya dengan binar bahagia. Sontak saja Haikal maupun Siska merasa terharu dan malu secara bersamaan.
Bagaikan sebuah hantaman keras memukul mundur harga diri mereka. Reihan yang hampir tujuh tahun, sudah sangat Sholeh. Sedangkan, mereka berdua masih jauh dari agama.
Lebih lagi Haikal yang sholatnya masih telat.
Mereka bahagia mendengar niat putra mereka. Tetapi, rasa malu lebih mendominasi. Apalagi Haikal, hartanya banyak. Liburan sudah ke mana-mana. Tetapi, tak pernah sekalipun terbersit mau ke tanah suci untuk ibadah.
Lalu putranya yang masih kecil, uang jajan pun Haikal yang berikan. Tetapi, keinginan untuk membawa nya dan Siska ke tanah suci sangatlah besar.
"Ya Allah β¦ aku malu," bisik hati kecil Haikal merasa hina.
Sedangkan Siska tersenyum haru. Menutupi rasa malunya pada Allah.
"Emang Abang udah hafal berapa juz?" tanya Siska lembut pada putranya.
"Baru 14 juz sih, Ma. Tapi, Abang yakin kalau nggak lama lagi Abang bakal hafal 30 juz!"
Reihan sangat positif thinking. Bocah itu yakin pasti bisa menghafal Al Qur'an 30 juz.
"Hafalan anakku hampir 30 juz, sedangkan aku juz 30 aja belum mampu," batin Haikal kembali insecure.
"Aamiin Allahumma aamin, mama yakin Abang pasti bisa."
*
*
Bulan depan udah puasa. Apa author hiatus atau lanjut nulis?? Coba jawab di kolom komentar ππΆβπ«οΈ
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak π₯° π₯°
__ADS_1
.
Salem Aneuk Nanggroe Aceh β€οΈπ