
Siska memutar bola matanya kesal. Dia mengerucutkan bibirnya, sang suami sangat menyebalkan, sudah sedari tadi dia menunggu Haikal untuk bertanya tentang keberadaan anaknya.
"Baru sadar kamu kalau kita punya anak selain, Reihan?" Siska bertanya dengan nada kesal bercampur manja membuat Haikal menggaruk tengkuknya tak gatal.
Mau bagaimana lagi? Dia terlalu senang bertemu dengan Siska, sampai lupa kalau punya anak selain Reihan.
"Aku baru ingat kalau kamu hamil sebelum kabur, waktu baca Al Fatihah di rakaat pertama tadi." Haikal menjawab jujur tak enak hati membuat Siska tertawa kecil.
Memang setan jaman dulu dan jaman sekarang tidak ada bedanya. Selalu saja saat sholat, mereka membuat yang lupa menjadi ingat dan uang ingat menjadi lupa. Seperti halnya lupa sudah berapa rakaat yang mereka kerjakan.
"Coba tebak, anak kita cewek atau cowok?" tanya Siska semangat membuat Haikal berpikir keras.
"Kembar, bukan?" tebak Haikal tak kalah semangat membuat Siska langsung memukul dada bidang pria tampan itu dengan kesal.
"Aku tanya cewek apa cowok, bukan kembar!" dengus Siska membuat Haikal tertawa geli.
Dia mencubit pipi gemoy istrinya yang sangat menggemaskan itu. Hati Siska menghangat dan berbunga-bunga, sekian lama menikah baru malam ini mereka saling bermesraan. Lebih tepatnya Haikal bersikap hangat.
"Ya udah. Anak kedua kita itu cewek." Haikal menebak untuk kedua kalinya membuat Siska tersenyum senang. Akhirnya, tebakan sang suami benar.
__ADS_1
"Kamu akan tahu besok, Mas!" balas Siska tersenyum misterius membuat Haikal semakin penasaran.
"Eh, kenapa begitu, Sayang? Aku penasaran loh." Haikal tak terima membuat Siska menutup telinga nya. Lalu segera wanita itu merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami.
Mereka masih betah duduk di atas sajadah, seraya menunggu waktu subuh datang. Haikal yang tadinya masih ingin bertanya pun terdiam, dengan kaku dia mengelus kepala Siska yang tertutup oleh mukena.
"Untuk pertama kalinya kita sholat jamaah, setelah bertahun-tahun menikah."
Siska membuka suara, terdengar parau seperti orang yang menahan tangis. Mata Haikal berkaca-kaca, dia sendiri merasa sangat jahat dan gagal menjadi imam yang baik untuk anak juga istrinya.
"Maaf, aku belum bisa menjadi imam yang baik," lirih Haikal pelan.
Tanpa sadar setetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Jatuh membasahi kening Siska yang membaringkan kepalanya di pangkuan Haikal.
Siska membuka matanya, dia melihat Haikal sedang menghapus air matanya cepat. Tak ingin terlihat galau atau lemah di hadapan istrinya.
"Salah ku juga dulu, karena tidak bisa menjadi istri yang baik. Cara ku untuk memaksa mu menikah juga salah! Tetapi, aku tidak menyesali nya sama sekali," balas Siska seraya mengusap tangan Haikal yang berada di pipinya.
*
__ADS_1
*
Pagi sudah tiba, Haikal mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak sabar bertemu dengan anaknya yang berada di rumah orang tuanya.
Siska menggerutu dalam mobil, sang suami seperti punya nyawa delapan, beraninya dia membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Setinggi cita-cita anak muda.
"Mas, pelankan sedikit! Jangan kencang-kencang, aku tidak mau bertemu dengan malaikat maut, karena amal ku masih sedikit!" tegur Siska seraya memegang dadanya yang berdebar kencang.
Begitupun dengan Reihan yang duduk di belakang tak berhenti mengucapkan istighfar. Takut sekali kalau sesuatu yang buruk terjadi pada mereka.
"Papa, ini benar-benar. Bawa mobil kencang-kencang, sangat menantang masa depan!" celetuk Reihan tak mampu memendam kekesalan nya pada sang ayah.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰