
Reyhan terpekur diatas pusara Ibunya. Ingatannya melayang ke masa silam. Waktu itu usianya 8 tahun. Ketika ia sedang berjalan-jalan sehabis membeli peralatan sekolah, ia melihat Ayahnya. Walau dari sejak bayi sampai ia SD tak pernah sekalipun Ayahnya menjenguknya, tapi ia ingat wajah ayahnya di foto.
Flashback Reyhan
Reyhan yang sudah sangat merindukan sosok Ayahnya, memberanikan diri memanggil Ayahnya. Ayahnya yang sedang bersama seorang wanita cantik dan seorang anak laki-laki, yang baru saja akan masuk ke sebuah restoran, menoleh ke arah suara.
Mulut Reyhan sampai dibungkam oleh ibunya, tapi Reyhan berusaha memanggil-manggil Ayahnya.
Ayahnya tersenyum menyeringai sambil menghampiri Reyhan kecil dan Ibunya.
"Hei, kamu bilang apa?! Ayah?! Ha ha ha ...! Mimpi kamu! Tanyakan pada Ibumu, siapa Ayahmu yang sesungguhnya! Ibumu Wanita tukang selingkuh! Pastinya tidak jelas siapa yang telah menghamilinya!"
"Mas! Tidak sepantasnya Mas bicara seperti itu pada anak-anak! Kalau kau benci padaku, caci maki saja aku! Jangan anakku! Sekali lagi aku tegaskan! Aku tidak pernah selingkuh! Reyhan ini anakmu!" jerit Ibunya Reyhan.
"Halah! Wanita kotor sepertimu masih saja membela diri! Saksinya banyak! Kamu tidak bisa membohongku!" kata Tuan Aji.
"Sini! Kamu harus dikasih pelajaran karena kamu sudah panggil aku Ayah! Kuhajar kamu!" Tuan Aji menyeret Reyhan yang bersembunyi dibalik Ibunya.
Plak!
Plak!
Tuan Aji menampar Reyhan kecil. Reyhan sampai menjerit kesakitan. Ibu Reyhan berteriak minta tolong. Orang-orang pun berdatangan dan menarik tubuh Tuan Aji.
"Pak! Jangan kasar sama anak-anak, Pak!" kata orang-orang.
"Bagaimana aku tidak emosi! Ibu dan anak ini sudah mencopet dompet saya! Coba saja lihat ke kantong belanjaan anak itu!" kata Tuan Aji. Ternyata Tuan Aji telah berbuat licik. Tuan Aji telah memasukkan dompetnya pada kantong belanjaan yang dibawa Reyhan.
"Tidak, bapak-bapak! Jangan percaya! Anak saya tidak mencopet! Itu fitnah!" teriak Ibu Reyhan.
Beberapa orang laki-laki memeriksa kantong belanjaan yang dipegang Reyhan.
"Wah, benar! Ada dompet! Dompetnya ada KTP Bapak ini! Hajar saja dua orang ini!" kata dua orang yang memeriksa kantong belanjaan Reyhan.
Reyhan dan Ibunya jadi korban amukan massa. Untung saja ada seorang polisi yang sedang lewat naik motor.
"Hei, kalian! Jangan main hakim sendiri!" teriak polisi itu.
Semua orang yang menghajar Reyhan dan Ibunya lari tunggang langgang. Sedangkan Tuan Aji dan keluarga barunya sudah pergi meninggalkan mereka sejak tadi.
"Mas, apa tidak keterlaluan? Kenapa Mas memfitnah mereka mencopet?" tanya Alexa, istri baru Tuan Aji.
"Biarin aja lah! Biar tahu rasa!" jawab Tuan Aji tanpa rasa iba sedikitpun.
Reyhan dan Ibunya dibawa polisi itu ke rumah sakit. Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Mereka sampai diinfus. Muka dan tubuh mereka babak belur.
"Bu, Ibu bisa melaporkan perbuatan orang-orang itu pada pihak kepolisian karena mereka telah menganiaya Ibu dan anak Ibu," kata Polisi itu.
"Tidak usah, Pak. Biar saja Allah yang akan membalas mereka!" jawab Ibu Reyhan sambil terisak.
Setelah sembuh, Santi ((Ibu Reyhan) keluar dari Rumah Sakit. Gery yang ingin membalas perbuatan Tuan Aji, dilarang oleh Santi. Santi memohon pada Gery agar membiarkan saja perbuatan Tuan Aji.
"Biar saja, Allah yang akan membalas perbuatan jahatnya. Dia akan menyesali seumur hidupnya kelak," kata Santi.
__ADS_1
Flashback Reyhan Off
Dilain tempat, Tuan Aji sedang merenung. Ia sedang mengingat kekejiannya pada Reyhan dan Santi, mantan istrinya.
Flashback Tuan Aji
Waktu Tuan Aji pulang dari kantor, wajahnya sudah memerah menahan marah. Mukanya terlihat garang.
"Santi! Santi!" teriaknya memanggil istrinya.
"Mas, sudah pulang?" Santi menghampiri suaminya sambil tersenyum manis.
"Ini apa?! Kamu selingkuh sama tetangga?! Kamu jalan sama brondong!" Tuan Aji melempar foto-foto yang memperlihatkan Santi sedang berboncengan naik motor dengan Heru, seorang pemuda tetangga mereka.
"Mas! Kamu salah paham! Aku akan menghadiri acara amal di Panti Asuhan. Berhubung acaranya akan segera dimulai dan aku belum dapat taksi, jadi aku ikut Heru bonceng ke motornya."
"Bohong! Bukan hanya sekali kamu berboncengan dengan Heru, tapi beberapa kali! Saksinya banyak!" bentak Tuan Aji sambil berlalu masuk ke kamar.
"Mas! Tolong dengarkan aku! Aku minta bantuan pada Heru untuk untuk berbagai keperluan, karena kamu terlalu sibuk untuk mengantar dan mengurusi urusanku. Kalau itu salah, tolong maafkan aku! Tapi sungguh, aku tidak ada apa-apa dengan Heru!" Santi mengikuti Tuan Aji ke kamar.
"Jangan-jangan anak yang ada dalam kandunganmu juga hasil kalian berselingkuh! Dia bukan anakku!"
"Mas! Kamu jangan menuduh sembarangan! Ini anakmu! Alexa, sahabatku tahu apa yang sedang kuurus. Kalau kau tak percaya, kau tanya saja sama dia!" kata Santi.
Sayangnya, sahabatnya mengkhianatinya. Bukannya menjelaskan kejadian yang sebenarnya, Alexa malah memperkuat dugaan Tuan Aji kalau Santi selingkuh.
Maka, Tuan Aji mulai saat itu mendiamkan Santi. Ia juga tidak perduli dengan kehamilan Santi karena menganggap itu hasil perselingkuhan Santi.
Tuan Aji malah sering pulang malam. Tuan Aji terang-terangan sering jalan dengan Alexa, sekretarisnya sekaligus sahabat Santi. Berapa hancur hati Santi. Santi menjadi istri yang tak dianggap di rumah itu.
"Bawa saja wanita p*lacur itu! Aku akan menceraikannya!" teriak Tuan Aji.
Gery yang mendengarnya, jadi naik pitam. Gery memukul Tuan Aji. Mereka baku hantam. Kalau saja tidak ada orang yang melerai, mereka bisa saling bunuh.
"Camkan baik-baik! Suatu saat nanti kamu akan sangat menyesal telah memperlakukan kakakku dengan buruk! Jangan cari kakakku dan keponakanku! Aku orang yang pertama yang akan membunuhmu kalau sampai kamu mendekati kakakku dan keponakanku!" kata Gery
"Huh, tidak akan!" jawab Tuan Aji pongah.
Santi pun tinggal di rumah Gery. Waktu itu Gery sudah menikah. Santi menjalani hari-hari merawat bayinya sambil berjualan makanan. Sebenarnya Gery melarang Santi untuk berjualan. Tapi Santi yang tidak ingin membebani adiknya, tetap bersikeras berjualan.
Reyhan kecil tumbuh menjadi anak yang pendiam. Kesedihan ibunya seperti dimengerti oleh Reyhan. Walau ia mendapat curahan kasih sayang dari ibunya, paman dan bibinya, tapi ada ruang kosong yang belum diisi dengan sosok Ayahnya. Ia merasa iri melihat teman-temanya punya Ayah.
Ia sering melihat Ayahnya. Tapi Ayahnya yang telah punya keluarga baru, tak pernah memperdulikannya. Reyhan sangat iri melihat anak lelaki yang bersama Ayahnya, yang selalu di gendong oleh Ayahnya, dimanjakan dan diajak main bersama.
Reyhan tambah merasa sakit hati, kala anak lelaki yang sering bersama Ayahnya di masukkan sekolah di sekolah Reyhan. Reyhan jadi sering melihat anak itu diantar jemput oleh Ayahnya.
Bila Ibunya kebetulan berpapasan dengan Ayahnya, Ayahnya seolah tidak perduli dengan keberadaan Reyhan dan Ibunya. Ayahnya dan istri barunya malah menampakkan kebahagiaan mereka dengan memanjakan anak lelaki istri barunya. Ya, anak itu hanyanya anak tiri Tuan Aji. Tapi ia mendapat curahan kasih sayang yang berlebih dari Tuan Aji.
Ibu Reyhan hanya bisa menghibur Reyhan. Dengan lemah lembut, Ibu Reyhan mengelus kepala Reyhan sambil memotivasi Reyhan untuk semangat belajar dan meraih cita-cita agar kelak menjadi orang yang sukses.
Ketika usia Reyhan 9 tahun, Ibunya meninggal. Gery menurunkan egonya dengan memberitahu kematian Santi, kakaknya pada Tuan Aji. Tapi Tuan Aji tak perduli. Jangankan ingin melayat, menanyakan Reyhanpun tidak. Tuan Aji benar-benar sudah membuang anaknya. Tak ingin bertemu ataupun tak ingin mengetahui kondisi Reyhan pasca Santi meninggal.
Sejak saat itu, Gery dan istrinya menganggap Reyhan sebagai anaknya seutuhnya. Karena Ayahnya Reyhan sudah tak tak perduli.
__ADS_1
Gery telah menjadi sosok Ayah yang selama ini dirindukan Reyhan. Reyhan merasa beruntung memiliki sosok Ayah dan Ibu baru yang sangat menyayanginya.
Perekonomian keluarga Gerypun membaik. Gery sudah tidak bekerja dengan Ronald lagi. Gery sudah memiliki perusahaan sendiri yang maju pesat. Hingga Reyhan SMA, tidak tahu apa yang terjadi, Tuan Aji mencari Reyhan.
Laki-laki yqng selama ini tak perduli dengan. Reyhan, tiba-tiba selalu datang ke sekolah Reyhan untuk menemui Reyhan. Tentu saja Reyhan tidak mau. Ia selalu menghindar supaya tidak bertemu Ayah kandungnya.
Hal ini di adukan Reyhan pada Ayah angkatnya, Gery. Maka, kebetulan Gery sedang mengembangkan perusahaan yang berada di Inggris, Gery memboyong keluarganya pindah ke Inggris.
Reyhanpun tinggal di Inggris bersama kedua orangtua angkatnya. Ia juga kuliah di sana. Tuan Aji yang masih berusaha mencari Reyhan membuat Gery membawa Reyhan pindah juga ke Kanada ketika urusan di Inggris telah selesai. Perusahaan di Inggris dapat berkembang dengan baik. Gerypun akan mengembangkan usaha di Kanada.
Gery tak rela kalau sampai Tuan Aji berhasil membujuk Reyhan untuk tinggal bersama Tuan Aji. Gery tidak ingin menjalin komunikasi dengan Tuan Aji. Gery sudah sakit hati akan perlakuan laki-laki br*ngsek itu pada kakak dan keponakannya dulu.
Ternyata sikap Tuan Aji yang telah berubah, ingin mencari Reyhan dilatarbelakangi suatu kejadian yang membuatnya terpukul.
Ketika istrinya, Alexa masuk ke rumah sakit karena penyakit kanker, membuat sebuah pengakuan yang membuat Tuan Aji menyesali sikapnya selama ini pada mantan istri dan anaknya.
"Mas. Mungkin usiaku tidak akan lama lagi. Sebelum aku mati, aku tidak ingin membawa rasa berdosaku ke alam kubur. aku akan membuat pengakuan," kata Alexa yang terbaring lemah. Tuan Aji menggenggam tangannya. Gilang juga ada di samping Alexa.
"Pengakuan apa, hmmm? Bukankah selama ini kita selalu saling terbuka? Tak ada rahasia diantara kita? Aku tidak ingin seperti rumah tanggaku yang lalu, yang penuh kebohongan mantan istriku," kata Tuan Aji
"Maafkan aku telah mengecewakanmu. Tapi biarlah, walaupun setelah ini kamu akan membenciku. Yang penting aku sudah mengatakannya. Aku tidak mau dihantui rasa bersalah. Aku berharap Tuhan akan mengampuni dosaku diakhir usiaku," kata Alexa.
"Kamu mau bicara apa sih sayang? Ingat kesehatanmu." kata Tuan Aji.
"Justru itulah aku ingin mengungkapkan suatu kebenaran. Bahwa sesungguhnya, Santi tidak berselingkuh. Memang benar ia jadi sering keluar rumah dengan Heru, pemuda tetanggamu itu. Santi ingin membuat kejutan di hari ulang tahunmu. Ia mendirikan yayasan amal untuk kaum dhuafa dengan namamu. Tapi karena permasalahan yang timbul diantara kalian, Santi tidak jadi mengatakannya padamu karena kebencianmu. Santi juga telah merubah nama yayasan itu menjadi yayasan 'Kasih Ibu'. Sekarang Yayasan itu dikelola orang lain, tapi donatur tetapnya tetap Pak Gery."
Tangan Tuan Aji yang menggenggam tangan Alexa, perlahan melepaskan genggaman tangannya. Ia shock mendengar penuturan Alexa.
"Karena keegoisanku, aku memanfaatkan keadaan. Aku ingin memiliki dirimu. Aku justru menguatkan tuduhanmu tentang perselingkuhan itu. Aku berbohong. Aku mengkhianati sahabatku, Santi. Padahal aku banyak tahu tentang pendirian yayasan itu karena aku ikut membantunya. Dan Heru, dia adalah aktivis sosial. Dia banyak membantu Santi mengurus surat-surat perijinan pendirian yayasan amal itu," Alexa berlinang air mata mengenang masa silam.
"Teganya dirimu, Alexa! Teganya kau berbuat itu pada kami! Kau telah membuatku menjadi suami dan Ayah yang buruk untuk mereka! Aku tak menyangka, mulut berbisamu telah menghancurkan rumah tanggaku!" Tuan Aji tak kuasa menahan rasa sedih dan bersalahnya pada Santi dan Reyhan.
Karena takut tak dapat mengendalikan diri, Tuan Aji memilih pergi dari ruang perawatan itu. Ia merasa sakit hati dengan apa yang telah dilakukan Alexa. Alexa telah menipunya!
Santi, orang yang sangat dicintai Tuan Aji, harus menanggung derita sampai akhir hidupnya. Karena Tuan Aji tak mengakui Reyhan sebagai anaknya. Belum lagi perlakuan-perlakuan Tuan Aji yang mempertontonkan kemesraan dan kasih sayang pada keluarga barunya pada Santi dan Reyhan. Tuan Aji waktu itu sengaja ingin membuat mereka bersedih dan sakit hati. Karena ingin membalas perselingkuhan Santi.
"Kini aku mengerti. Mengapa Alexa selalu keguguran sampai tiga kali bila hamil anakku. Mungkin itu adalah hukuman dari Tuhan untuk kami, karena Alexa telah menyembunyikan kebenaran dan juga aku yang telah memperlakukan Santi dan Reyhan dengan sangat keterlaluan! Aku tidak menyelidikinya terlebih dahulu. Aku langsung percaya perkataan Alexa," Tuan Aji termenung di taman rumah sakit. Airmatanya mengalir deras membasahi pipinya.
Bunyi dering ponsel berbunyi berkali-kali. Tapi Tuan Aji tidak perduli. Tuan Aji tahu, itu pasti telepon dari Gilang. Tuan Aji sudah tidak perduli dengan keadaan Alexa. Hatinya terlalu sakit untuk melihat wajah orang yang dipercayainya ternyata seorang penipu.
Sejak Alexa menguatkan tuduhan perselingkuhan Santi, Tuan Aji jadi dekat dengan Alexa. Alexa yang sedang hamil anak suaminya, terpikat pada Tuan Aji dan ingin bercerai dengan suaminya. Setelah bercerai, suami Alexa pergi jauh dengan membawa rasa sakit hati karena perselingkuhan Alexa. Tuan Aji setelah menikahi Alexa, membesarkan anak Alexa dengan kasih sayang. Ia mencurahkan kasih sayangnya pada Alexa dan Gilang. Ia ingin membuat Santi terluka. Mereka yang masih tinggal satu kota, membuat Tuan Aji dapat dengan mudah mengetahui keberadaan Santi dan Reyhan. Dengan sengaja, Tuan Aji memasukkan Gilang pada sekolah yang sama dengan Reyhan ketika Gilang cukup usia untuk masuk SD. Bertambah seringlah Tuan Aji bertemu Santi dan Reyhan. Tuan Aji ingin membuat mental mereka down dan terpuruk.
"Ayah ...., Ibu telah tiada ....," sebuah suara telah menyadarkan Tuan Aji dari lamunannya. Ternyata Gilang menyusul ke taman. Panggilan telepon yang tak digubris Tuan Aji, membuat Gilang harus mencari keberadaan Tuan Aji. Ia mendapati laki-laki itu sedang duduk termenung di bangku taman.
Dengan wajah datar dan tak berkata apa-apa, Tuan Aji bangkit dan bergegas pergi ke ruang perawatan dimana Alexa telah terbujur kaku.
Tuan Aji hanya menatap jasad Alexa tanpa menangis ataupun meratapi kepergian istrinya. Hatinya masih belum bisa memaafkan Alexa. Tuan Aji tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Ingin rasanya memaki, menghujat, memukul dan sebagainya pada Alexa atas pengakuan yang telah dibuatnya yang telah membuat Tuan Aji terpukul. Tapi keadaan Alexa yang telah tak bernyawa, membuatnya hanya bungkam seribu bahasa. Hanya hatinya yang bergejolak menahan segala rasa.
Sejak itu sikap Tuan Aji sangat dingin pada Gilang. Gilang mengerti. Dengan bijak, ia membiarkan sikap Tuan Aji yang demikian.
"Tak apa Ayah melampiaskan rasa marah Ayah padaku atas kebohongan Ibu. Tapi, ijinkan aku menebus segala kesalahan ibu dengan tindakanku. Aku akan menyatukan Ayah dengan Reyhan, anak Ayah. Aku akan berusaha agar Reyhan memaafkan dan menerima Ayah sebagai Ayahnya. Aku janji. Aku tidak akan hidup tenang sebelum janjiku terwujud," janji Gilang pada Tuan Aji.
Flashback Tuan Aji Off
__ADS_1
TO BE CONTINUED