KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 81 HEMPASKAN BENALU


__ADS_3

Sudah satu Minggu Andra tak menelepon ataupun mengirim chat pada Erka. Erikapun sama, enggan untuk mengirim kabar ataupun menanyakan kabar Andra.


Kalau Erika, masih merasa kesal dan tak terima kalau ia diselingkuhi oleh Andra. Sedangkan Andra mulai ketat ketir karena Erika tak jua mencarinya untuk meminta maaf. Ia mulai khawatir hubungannya dengan Erika akan kandas.


Selama ini Andra memang bergantung pada Erika. Sepengetahuan Andra, jabatan Erika yang memegang peranan penting di perusahaan ditambah sepertinya keluarga Mamanya Erika adalah keluarga kaya, membuat Andra memanfaatkannya.


Cinta? Andra memang cinta pada Erika. Tapi cintanya pada harta lebih besar daripada cintanya pada Erika. Karena Andra dari kecil hidup susah. Kedua orangtuanya bukan orang berada. Sehingga ia sangat terobsesi menjadi orang kaya. Untuk menjadi orang kaya tentu tidak mudah. Dibutuhkan modal yang besar dan kerja keras dengan proses yang lama karena ia tidak punya modal dasar dari kedua orangtuanya.


Sehingga Andra memilih cara-cara instan. Ia manfaatkan wajahnya yang tampan untuk menarik wanita yang terlihat kaya. Sedangkan pada Iren, ia memang mencintainya. Iren adalah cinta pertamanya. Sekaligus gadis yang berhasil ia renggut Kesuciannya sewaktu Iren masih SMP sedangkan Ia SMA. Karena Iren dipacarinya sejak Iren kelas 6 SD.


Ting!


Sebuah notifikasi masuk pada pada ponsel Erika. Erika yang sedang melamun, tersadar dari lamunannya. Segera dibacanya pesan yang dikirim Astin.


Fakta mengejutkan! Ternyata Iren itu bukan sepupu Andra, tapi mantan pacar Andra! Cinta pertamanya Andra!


'Telat lu! Kalau itu sih aku juga udah tahu!' - balas Erika.


'Pacaran mulu sih, jadi lalai suruh cari info juga! ' - ketik Erika.


He he he. Maklum Bos! Lagi bucin! Kayak Bos belum pernah merasakan aja!


'Lebay lu! ' - balas Erika lagi.


Tapi ada fakta lagi Bos! Dia punya banyak penggemar tapi belum pernah pacaran. Makanya dia tidak punya pacar selama kuliah hingga sekarang karena dia hanya manfaatin cewek - cewek itu. Cewek-cewek itu cuma di PHP in doang. Cuma dengan Bos dia pacaran. Itu pun cuma manfaatin Bos aja. Sadar gak sih Bos? Bos bisa dapat cowok yang lebih baik lagi. HEMPASKAN COWOK BENALU ITU BOS!


Erika membaca pesan Astin lagi. Erika mengingat-ingat, selama ia pacaran dengan Andra memang Andra banyak maunya. Alasan pinjam uang lah, inilah, itulah., pokoknya berhubungan dengan butuh uang dan barang-barang yang ingin dibeli. Andra cukup memberinya setangkai mawar merah dan pelukan mesra, Erika sudah terbuai dengan perlakuan manis Andra.


"Aku harus ke kosannya sekarang! Aku mau lihat apa yang dilakukannya saat ini! Dia bukannya minta maaf udah bikin aku kesal, malah nyuekin!" gumam Erika.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Erika yang penasaran dengan sikap Andra, segera minta izin ke Papanya untuk keluar rumah.


"Mau kemana Erika? Sudah malam. Kamu baru saja pulang kantor, mau pergi lagi?" tanya Ronald.


"Erika ada urusan, Pa," jawab Erika.


"Papa temani ya?"


'Wah, bisa gawat kalau Papa ikut!' kata batin Erika. Dilihatnya Tika baru saja keluar dari pintu rumahnya.


"Enggak usah ah Pa! Kalau pergi sama Mbak Tika, boleh kan Pa?" Erika menatap Papanya.


"Boleh, kalau ada yang menemani. Yang penting jangan sendirian," jawab Papanya.


Erika tersenyum senang. Ia segera berjalan ke rumah Tika.


"Mbak mau keluar Mbak?"


"Iya. Mau ke warung Bu Salma. Ada yang mau di beli."


"Udah nanti belinya di mini market aja. Antar aku keluar yuuk!" ajak Erika.


"Kemana?"


"Pokoknya ikut aja. Nanti juga Mbak Tika tahu. Ikut ya?"


"Mmm .... aku ganti baju dulu ya?"


"Udah, enggak usah. Gitu juga udah cantik kok!"


"Aah ..... Erika! Oke deh!" jawab Tika pada akhirnya.


Merekapun naik mobil yang dikendarai Erika. Sepanjang jalan mereka saling diam, dengan pikiran masing-masing sambil menatap lalu lalang jalanan ibukota.

__ADS_1


"Ini mobil baru beli ya? Baru lihat ada di halaman rumah Papamu?" tanya Tika memecah kesunyian.


"Enggak! Mobil udah lama. Mobil Mamaku. Selama ini disimpan di rumah Papa tiriku," jawab Erika.


Tika hanya mengangguk mendengar penjelasan Erika. Ketika melewati mini market, Erika menghentikan mobilnya.


"Tuh, Mbak, ada mini market. Mbak barangkali mau beli sesuatu dulu. Aku tunggu di mobil," kata Erika.


"Oke, aku turun dulu ya!" Tika pun turun untuk membeli sesuatu yang tadi ingin dibelinya. Tak berapa lama ia sudah keluar dari mini market sambil menjinjing belanjaan.


Ketika Tika masuk ke mobil, Erika tampak terdiam. Pipinya basah oleh hujan airmata.


"Erika, apa yang terjadi?!" Tika panik melihat Erika seperti orang yang tidak sadar.


Tika mengambil ponsel yang dipegang Erika. Feeling Tika mengatakan sumber masalahnya ada pada ponsel itu. Tika memeriksa ponsel Erika. Ternyata benar! Ada beberapa foto kiriman seseorang yang memperlihatkan kemesraan seorang laki-laki dan seorang gadis. Mereka sedang berci*man di sebuah taman. Ada juga foto yang memperlihatkan mereka sedang berenang bersama sambil berpelukan dengan sangat int*m. Tika pun membaca pesan yang dikirimkan orang yang bernama Astin.


Maafkan saya Bos! Bukan maksud hati membuat Bos sedih. Saya kirim foto-foto kemesraan Andra dan Iren. Mereka seperti bukan sekedar mantan. Tapi sudah jadi sepasang kekasih lagi. Saya harap Bos bijak menyikapinya. Saya sudah bayar mahal seseorang untuk mengikuti aktivitas mereka. Dan hasilnya memang memperlihatkan kalau Andra itu laki-laki br*ngsek! Telepon saya kalau Bos butuh teman bicara!


Tika mengerti sekarang. Tika meletakkan ponsel Erika di dashboard. Diraihnya tubuh Erika, lalu dipeluknya. Pecahlah tangis Erika.


"Sudahlah, Erika! Kamu beruntung, masih belum menikah sudah diperlihatkan kelakuan laki-laki itu! Kalau Mbak, Mbak pernah mengalami yang lebih buruk dari itu. Suami Mbak selingkuh dan menikah siri dengan wanita lain. Mbak dianggap mandul oleh suami Mbak, sehingga dia cari wanita lain," Tika pun ikut menangis. Menangis karena sedih melihat keadaan Erika dan juga sedih mengingat lagi kisah pilunya di masa lalu.


"Kamu keluar malam ini untuk mencari tahu, iya kan? Sudahlah, simpan airmatamu! Kamu harus kuat dan tabah," hibur Tika.


"Tadinya aku akan ke kosannya Mas Andra. Tapi lebih baik besok pagi aja," kata Erika.


Esok harinya yang kebetulan hari minggu, Erika sudah menguatkan hatinya untuk tidak menangisi lagi laki-laki itu. Laki-laki yang tidak setia dan hanya jadi benalu saja rasanya tidak pantas untuk dirinya. Erika merasa cukup berharga untuk menjadi wanita yang istimewa untuk dicintai dan disayangi oleh seorang laki-laki yang setia.


Astin, kalau kau mau lihat apa yang akan aku lakukan hari ini, datanglah ke kosannya Mas Andra.


Begitu pesan yang Erika kirim pada Astin. Ia ingin Astin menjadi saksi atas tindakan yang akan Erika lakukan pada Andra. Laki-laki itu harus diberi pelajaran.


Dengan mengajak Tika lagi, Erika melajukan mobilnya ke kosannya Andra. Setelah sampai, Erika memarkirkan mobilnya dipinggir jalan. Keduanya turun dan menghampiri pintu gerbang yang dijaga oleh seorang satpam.


"Maaf Non. Ini masih pagi. Datanglah agak siang sedikit," kata Satpam itu.


"Justru pagi-pagi bagus untuk kunjungan. Bapak sekalian memeriksa penghuni di kosan ini, apakah sudah mentaati peraturan atau belum. Jangan sampai kosan ini jadi tempat kumpul kebo atau tempat mesum. Ini akan merusak reputasi kosan ini yang sudah bagus," kata Erika membuat Satpam terpengaruh.


Satpam itupun mengizinkan Erika dan Tika masuk. Pak Satpam mengikutinya di belakang. Semalam memang ia tidak bertugas. Temannyalah yang bertugas. Ia tidak tahu apakah temanya sudah menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak. Dan memang dirinya sudah lama tidak melakukan pemeriksaan pada kamar-kamar penghuni kosan. Akhir-akhir ini aturan di kosan ini agak sedikit longgar akibat kurangnya pengawasan dari pemilik kosan. Pergantian pemilik kosan membuat aturan yang dulunya ketat, menjadi sedikit longgar karena dikelola oleh anak pemilik kosan yang meneruskan usaha orangtuanya. Orangtua pemilik kosan itu baru saja meninggal. Sehingga kosan itu menjadi aset yang diperebutkan anak-anaknya, sehingga berakibat tidak terurusnya kosan itu karena konflik keluarga itu.


Tok


Tok


Tok


Erika mengetuk pintu kamar kosan Andra. Cukup lama Etika menunggu pintu dibuka. Dengan sabar, Erika mengetuk pintu lagi. Kali ini pintu kamarpun terbuka.


Terlihatlah wajah bantal Andra yang baru bangun tidur. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dengan bertelanjang dada dan wajahnya masih mengantuk, Andra membukakan pintu sambil masih menguap.


"Selamat pagi! Lama tak bertemu," kata Erika dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


Andra terbelalak kaget. Ia seperti panik. Ia senang Erika mencarinya tapi bukan saat ini. Saat ini waktunya tidak tepat.


"E-Erika! Kenapa tidak kasih kabar dulu kalau mau kesini?" kata Andra tergagap.


"Aku mau kasih kejutan! Aku tidak dipersilahkan masuk?" Erika langsung menerobos masuk ke kamar tanpa permisi. Membuat Andra yang sedang melongo jadi kalang kabut mengejar Erika. Tika pun ikut masuk.


"Hmmm .... sepertinya semalam ada pesta kecil-kecilan," kata Erika sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tamu. Tampak bekas makanan dan minuman berserakan di meja tamu dan lantai.


"A-Ku belum sempat membersihkan. Du-duduklah. Aku mau pakai baju dulu ke kamar," kata Andra masih bersikap aneh


"Kak! Ada siapa? Siapa yang bertamu pagi-pagi?!" terdengar dari dalam kamar suara seorang wanita. Hal itu membuat Erika membulatkan matanya. Wajah Andra tampak semakin pucat karena tegang.

__ADS_1


"Oh, ada yang menginap rupanya?" Erika melangkah menuju kamar Andra.


Andra menghadang Erika yang akan masuk ke kamar. Tapi ternyata wanita yang berada di kamar bangun dan membuka pintu, karena ingin melihat siapa yang bertamu pagi-pagi.


Ketika pintu dibuka, masing-masing merasa terkejut. Erika terkejut melihat Iren yang hanya memakai tank top dan celana pendek berada di kamar Andra, Iren terkejut karena Erika datang pagi-pagi ke kosan Andra.


"Kak Erika?!" Iren terkesiap.


"Iren?! Kamu menginap di sini?" Erika mendorong paksa pintu kamar Andra yang terbuka sedikit.. Erika langsung memeriksa kamar itu. Terlihatlah sebuah k*nd*m habis pakai yang tergeletak di lantai. Keadaan ranjang pun berantakan menandakan aktivitas panas yang telah terjadi semalam yang dilakukan penghuni kamar itu.


"Aku, aku bisa jelaskan! Ini tidak seperti yang kau kira!" Andra ikut masuk ke kamar. Ia buru-buru merapikan barang yang yang berserakan dan berantakan di kasurnya.


"Oh ya? Apa yang akan kamu jelaskan? Mengapa benda ini bisa ada di sini? Dalam keadaaan yang habis dipakai pula?" tunjuk Erika pada k*nd*m yang tergeletak di lantai.


"Erika ....," belum sempat Andra meneruskan perkataannya, sebuah tamparan mendarat di pipi Andra.


"Jadi ini yang kamu lakukan dengan sepupumu? jangan dikira aku bodoh! Selingkuhanmu itu kau ajak juga menginap? Masih tidak cukup apa yang kalian lakukan dibelakangku?!" Erika berteriak.


"Kak, aku semalam ketiduran. Aku sakit. Kakak jangan salah paham ya? Kami tidur terpisah. Tidak seperti yang Kakak sangka. Aku tidur di kamar, Kak Andra di sofa ruang tamu," Iren berusaha membela diri.


"Lalu ini apa? Setan yang udah pakai, hah?!" Erika menendang benda laknat yang tergeletak di lantai itu.


Iren dan Andra tidak dapat menjawab.


"Erika maafkan aku! Aku khilaf!" kata Andra pada akhirnya karena sudah tidak dapat membela diri lagi. Ia berlutut dihadapan Erika.


"Kemasi barang-barangmu, Mas!"bentak Erika. Hatinya terasa tercabik melihat ini semua.


"Erika! Aku mohon, maafkan aku! Aku tidak ada niatan untuk mengkhianatimu! Semua ini terjadi karena kau tidak cepat menemuiku. Aku kesepian!" Andra memohon di bawah kaki Erika.


"Dasar laki-laki tukang selingkuh! Kamu masih mau membodohi aku heh?! Lihat ini! Sudah banyak bukti sejak kedatangan Iren ke kota ini, kamu masih mau mengelak?!" Erika melemparkan foto-foto kemesraan Andra dan Iren pada wajah Andra. Andra memungutnya sambil melihat foto-foto itu.


"Erika, tolong maafkan aku! Maafkan aku! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi!" kata Andra. Ia lalu berdiri, kemudian ia mendorong Iren


"Cepat kamu pergi dari sini! Gara-gara kamu hubunganku dengan Erika berantakan! Sana pergi!" usir Andra pada Iren. Iren terisak mendapat perlakuan kasar dari Andra.


"Sudah, jangan bersandiwara! Di belakangku nanti juga kalian bersama lagi!" sinis Erika.


"Cepat kemasi barang-barangmu! Pergilah dari kosanku! Aku pemilik kamar ini! Kamu hanya menumpang!" hardik Erika.


"Erika, kamu jangan kejam padaku! Aku harus tinggal dimana kalau kamu usir aku dari sini? Maafkanlah kesalahanku sayang!" Andra mencoba memeluk Erika. Erika menepis tangan Andra.


"Jadi, kosan ini juga punya Kak Erika?!" Iren menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sangat tak menyangka, ternyata Andra tidak punya apa-apa. Selama ini semua yang dibangga-banggakan padanya itu hanya milik Erika.


"Oh jadi kalian pasangan mesum? Pergilah kalian dari sini! Kalian merusak reputasi kosan ini saja!" Pak Satpam berkacak pinggang memarahi Andra dan Iren.


Andra terpaksa mengemasi barang-barangnya. Iren juga mengemasi barang-barangnya yang semalam ia bawa untuk menginap.


Astin dan Ricky menerobos masuk ke kamar. Mereka merasa terkejut melihat Andra dan Iren sedang sibuk berkemas-kemas.


Astin menghampiri Erika dan memeluknya. Mencoba memberikan kekuatan untuk Bosnya agar kuat menghadapi kejadian ini.


Andra hanya terus menunduk sambil mengemasi barang-barangnya. Ia sangat malu ada orang lain disana yang menyaksikan kejadian memalukan itu, dimana ia diusir oleh Erika. Penghuni kamar kosan lainpun yang mendengar kegaduhan di kamar itu berkerumun di dekat kamar yang ditempati Andra.


"Peringatan buat kalian ya! Jangan sampai kalian berbuat seperti penghuni kamar ini! Kalau kalian berbuat mesum atau kumpul kebo di kosan ini, kalian akan langsung diusir! Kami akan melakukan sidak sewaktu-waktu!" kata Pak Satpam dengan keras pada penghuni kosan yang berkerumun di luar.


Sebelum pergi, Andra menatap sendu pada Erika. Mencoba untuk meminta belah kasihan dari Erika. Erika memalingkan muka, tak ingin luluh lagi pada laki-laki br*ngs*k itu.


"Setelah ini, jangan coba-coba menghubungiku atau menemuiku lagi! Kita putus!" ucap Erika tegas. Tidak ada lagi airmata yang jatuh. Hatinya sudah membeku untuk laki-laki itu.


Tika dan Astin merengkuh tubuh Erika sambil menyaksikan kepergian Andra dan Iren. Ricky hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Andra. Para penghuni kosan kamar lain melihat Andra dan Iren dengan tatapan jijik dan sinis.


Andra dan Iren tertatih membawa koper dan tas besar itu. Pak Satpam yang kasihan melihat mereka kerepotan, ikut membantu membawakan tape deck milik Andra sampai pintu gerbang.

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2