
Sidang pertama perceraiannya berjalan lancar. Gisel mengemukakan alasannya menggugat cerai suaminya. Sedangkan suaminya bersikeras tidak mau bercerai. Terpaksa Gisel harus memberikan bukti-bukti perselingkuhan Jimy nanti pada sidang ke dua. Mereka berdua walau sudah dimediasi untuk berdamai dan untuk saling memaafkan, tapi Gisel tetap pada pendiriannya untuk bercerai karena sudah tidak percaya lagi pada Jimy.
Gisel juga sedang bingung. Apa yang harus dilakukannya pada Ricky. Ricky bukan anak Jimy. Ronald juga sudah tidak mau merawat Ricky. Haruskan Gisel menuruti saran Ronald yang mengatakan bahwa jika Ricky bukan anak Jimy, dan mereka tidak mau merawatnya, Ricky diberikan saja ke panti asuhan.
Rasanya hati nuraninya memberontak. Ia merasa tak tega. Anak itu tak diinginkan oleh siapapun. Ia masih terlalu kecil untuk diperlakukan kejam. Anak itu tidak bersalah. Orangtuanyalah yang bersalah. Mereka tidak bertanggungjawab pada hasil perbuatan mereka. Mereka tidak mau menanggung konsekuensi atas perbuatan mereka. Sehingga anaklah yang menjadi korban keegoisan mereka.
Gisel sedang menyesap kopi capuccinonya ketika tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya. Gisel yang terkejut reflek menoleh. Seulas senyum dari orang yang baru dikenalnya dua hari yang lalu membuatnya membalas senyuman orang itu.
"Kalau sedang ada pikiran pasti ke sini ya sambil.minum kopi?" tanya laki-laki itu.
"Enggak. Lagi pengen ke sini aja," jawab Gisel.
"Kalau begitu, kamu kesini untuk bertemu denganku ya?"
"Ge-er! Dari dulu juga aku sering kesini. Kamu aja yang baru ke sini. Atau jangan-jangan sebaliknya. Kamu yang ingin bertemu denganku," ujar Gisel. Perkataan Gisel langsung menohok laki-laki yang bernama Arga itu.
Arga tersenyum. Kemudian menarik kursi dan duduk.
"Kamu benar! Sepertinya ada yang rindu dua hari tak bertemu," jawab Arga tanpa basa-basi.
Gisel berdecak.
"Sudah! Jangan ngegombal! Aku statusnya masih istri orang. Jangan buat suamiku beranggapan seolah-olah aku ingin cepat cerai gara-gara sudah ada calon penggantinya," kata Gisel
"Bukankah itu yang kamu ucapkan sewaktu bertemu suamimu di sini waktu itu?" Arga mengingatkan Gisel.
"Itu karena aku panik bertemu suamiku. Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya. Tapi dia tak henti-hentinya mengejarku. Ke kantor, ke rumah, kemana aku pergi, dia tahu."
"Itu karena suamimu masih cinta, dan tak mau bercerai. Kenapa sih tak memberinya kesempatan?"
"Kesempatannya sudah habis. Cukup sudah dia membohongiku. Aku cukup berharga kalau untuk dipermainkan. Dia kira, aku lemah dan akan pasrah saja diselingkuhi cukup lama."
"Hmmm .... laki-laki bodoh. Masa punya istri cantik dan baik begini, selingkuh. Apa sih yang dia cari?" gumam Arga.
Gumaman Arga dapat terdengar oleh Gisel.
"Mungkin dia merasa sudah hebat. Mau membuang yang lama dengan menggantinya yang baru," jawab Gisel merasa miris.
"Tampaknya kamu sedang bad mood. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain? Aku akan menunjukkan pemandangan yang indah padamu. Mungkin nanti mood mu akan membaik setelah melihat pemandangan segar,"
"Kemana?"
"Kamu nanti juga tahu kalau kamu mau ikut,"
"Jauh enggak?"
"Sekitar satu jam perjalanan," jawab Arga.
Gisel tampak berpikir untuk menimbang-nimbang.
"Okelah, aku ikut," jawabnya.
Arga tersenyum senang. Merekapun keluar dari cafe itu setelah Gisel membayar minumannya. Arga sudah akan membayarnya, tapi Gisel menolak.
"Kita ke Bogor, ke resort Papa angkatku. Lebih tepatnya mantan mertua," kata Arga setelah berada di dalam mobil.
"Mantan mertua?"
__ADS_1
"Iya. Kenapa? Heran? Aku memang pernah menikah," kata Arga. Ia melirik Gisel yang duduk sampingnya. Ingin melihat reaksi Gisel.
"Kita akan ke sana, ke resort mantan mertua Mas Arga, nanti pastinya akan bertemu juga dengan mantan istrimu," Gisel merasa tidak enak hati.
"Kenapa? Kamu keberatan?" selidik Arga.
"Aku tidak ingin .....,"
"Istriku sudah meninggal," Arga memotong ucapan Gisel.
"Oh, maaf," hanya itu yang bisa diucapkan Gisel.
Selanjutnya hening. Masing-masing dengan pikirannya.
"Kok diam aja? Bicara lagi dong. Biar aku enggak ngantuk," pinta Arga.
"Bicara apa?"
"Bicara apa saja. Biar aku enggak ngantuk."
Setelah beberapa saat masih saling diam lagi, Giselpun bersuara.
"Mas ... aku minta pendapatmu. Aku harus bagaimana ya. Tuan Ronald, tahu kan Tuan Ronald?" tanya Gisel.
"Ya," jawab Arga.
"Dia menyerahkan seorang anak padaku. Katanya itu adalah anak suamiku dan istrinya. Suamiku dan istrinya adalah pasangan selingkuh. Dia bilang dia tidak mau merawatnya, karena ibunya anak itu saja tidak perduli pada anak itu. Terus Tuan Ronald bilang itu anak suamiku, jadi diserahkan padaku,karena suamiku di luar kota waktu itu."
"Tapi setelah aku tes DNA, ternyata anak itu bukan anak suamiku. Tuan Ronald bilang, kalau anak itu bukan anak suamiku ataupun aku tidak mau merawatnya, aku boleh menitipkannya ke panti asuhan."
"Ya, lalu?" Arga penasaran.
"Memangnya ibu anak itu seekor harimau?" seloroh Arga.
"Ihh! Mas Arga! Orang lagi bicara serius juga malah bercanda!" Gisel memukul bahu Arga.
"Aduh! Sakit tahu! Iya deh maaf, maaf!" Arga meringis. Tapi hatinya malah berbunga. Wanita di sampingnya mulai tidak bersikap kaku lagi.
"Aku ingin menyerahkan Ricky ke rumah ibunya. Tapi aku tidak tahu rumahnya," lanjut Gisel lagi.
"Aku tahu rumah kontrakannya," jawab Arga.
"Beneran tahu?" Gisel membulatkan matanya. Arga mengangguk.
"Antar aku ke sana ya nanti?" pinta Gisel.
"Siap, Nyonya!" jawab Arga tersenyum
"Ish! Jangan begitu ah! Aku jadi enggak enak."
"Terus apa? Siap, calon istri!" seru Arga.
"Tuh kan ngeledek terus!" Gisel mendorong bahu Arga hingga bahu Arga yang satunya menabrak pintu mobil. Arga malah terkekeh. Gisel wajahnya merona karena malu dengan ledekan Arga. Jantungnya jadi berdebar-debar.
Sejak mereka berjalan-jalan ke Bogor, hubungan Gisel dan Arga semakin dekat. Sidang perceraian Gisel dan Jimy semakin menemukan titik terang. Pada sidang ke tiga akhirnya Hakim mengabulkan gugatan cerai Gisel. Tidak ada pembagian harta gono gini. Karena Jimy memang tidak punya apa-apa. Hasil ia mengelola Agency pun sudah dipakainya untuk foya-foya dengan Susy dan selingkuhannya yang lain. Masih untung Gisel tidak menuntut uang perusahaan itu kembali. Tapi Jimy harus mau dan tidak mempersulit untuk bercerai.
Akhirnya mereka resmi bercerai. Jimy kelihatan frustasi. Ia tak menyangka akan berpisah dari Gisel. Tanpa Gisel, ia bukan siapa-siapa. Untuk membangun usahapun ia harus punya modal. Mobilnya adalah satu-satunya harta yang dimilikinya kini. Dengan penyesalan yang mendalam, Jimy menjalani hari-harinya mencari pekerjaan. Gisel sudah tidak perduli lagi padanya. Pintu maaf Gisel sudah tertutup. Tak ada lagi harapan bagi Jimy untuk minta rujuk. Gisel sudah menutup seluruh aksesnya untuk bertemu.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼
"Papa! Kenapa Papa melakukan ini padaku?! Mobil itu satu-satunya harta yang tersisa yang kita miliki!" teriak Susy pada Papanya.
"Dasar kakek-kakek peot! Pergi saja dari rumah ini! Kamu sudah tidak ada gunanya lagi di sini!" teriak Mama Susy.
"Kamu itu kalau ngomong seenaknya ya! Hartaku habis juga karena kamu! Kamu terlalu boros! Setelah aku tak punya apa-apa, kamu mau membuangku begitu saja heh?!" Papa Susy menjambak rambut istrinya.
"Aw, sakiiiit!" rintih wanita paruh baya itu.
"Pah! Lepaskan Mama!" teriak Susy membantu Mamanya agar dilepaskan oleh Papanya.
"Kamu juga anak yang tidak bersyukur! Kamu dan Mamamu membuat Papa bangkrut! Lalu kamu menikah dengan laki-laki kaya, tapi otakmu tak dipakai! Kamu itu bodoh, malah membuat Ronald murka! Dasar ibu dan anak sama-sama j*lang! Maniak s*x! Kalian lebih baik mel*c*r saja sana! Mobil yang Papa jual juga tidak cukup untuk menutupi hutang Papa!" teriak Papa Susy.
Lalu dari dalam rumah itu terdengar suara barang-barang jatuh dan barang-barang yang dilempar hingga pecah diiringi teriakan-teriakan.
Gisel yang sudah berada di depan pintu rumah kontrakan Susy, mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Keributan di dalam rumah itu cukup membuat Gisel menyimpulkan, bahwa keluarga itu bukan keluarga baik untuk Ricky tinggal. Gisel menggendong Ricky agar cepat-cepat meninggalkan rumah itu. Kedua matanya basah dengan air mata. Ricky hanya menatapnya bingung.
"Tante ..., Tante kenapa menangis?"
Gisel gak menjawab. Ia tak sanggup untuk menjawab.
Gisel membuka pintu mobil. Ia masuk kemudian duduk dan memangku Ricky.
Arga bingung melihat Gisel menangis dan masih Mambawa Ricky.
"Ada apa? Kenapa!?" Arga menyentuh bahu Gisel.
"Aku tidak tega menyerahkan Ricky pada keluarga kacau seperti mereka! Mau jadi apa Ricky kalau sampai Ricky tinggal di sana bersama mereka?!" Gisel mencium puncak kepala Ricky.
"Aku sayang Ricky walau bukan darah dagingku. Dia malaikat kecil yang dikirim Tuhan untukku. Aku bertekad akan merawat Ricky seperti anakku sendiri," kata Gisel.
"Ricky. Ricky mau kan jadi anak Tante?" tanya Gisel.
"Mau, Tante," jawab bocah berusia empat tahun lebih itu.
"Ricky sayang kan sama Tante?"
"Iki sayang sama Tante. Iki mau tinggal sama Tante."
"Ricky mulai hari ini panggil Tante, Mama ya sayang?"
"Mama? Tante jadi Mama Iki? Mama ....," Ricky memeluk Gisel sambil tersedu. Ricky merasa terharu ada seseorang yang menyayanginya. Selama ini ia haus kasih sayang. Ia hanya mendapat kasih sayang dari baby sitter di rumah Ronald.
Arga terharu melihat interaksi Gisel dan bocah laki-laki itu. Arga merasa bersimpati dengan kebaikan hati Gisel. Hati wanita itu begitu lembut dan keibuan, menyayangi Ricky dengan tulus, walau bukan darah dagingnya.
'Dia seorang calon istri idaman,' gumam Arga dalam hati. Entah mengapa tidak memerlukan waktu lama, Arga sudah menjatuhkan pilihannya untuk mempersunting Gisel untuk dijadikan istri.
"Dan apakah Ricky mau kalau Om jadi Papa Ricky? Supaya Ricky punya Mama dan Papa?" Arga menatap Ricky dan Gisel bergantian.
"Iki mau! Iki mau!" jawab Ricky antusias.
Gisel menjadi malu. Gisel menunduk, tidak berani menatap Arga.
"Ricky sudah setuju. Bagaimana denganmu?" tanya Arga pada Gisel. Gisel hanya diam. Tak juga menjawab.
"Aku tahu. Kamu perlu waktu. Kamu baru saja bercerai. Aku tunggu masa Iddah kamu."
__ADS_1
Perkataan Arga membuat Gisel berani mendongkak. Dilihatnya Arga menatapnya dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Gisel tersenyum. Walau Gisel tak menjawab, dari pancaran sinar mata Gisel, Arga tahu kalau Gisel setuju. Arga menggenggam tangan Gisel.
TO BE CONTINUED