
Ronald Pov
Aku mendengar berita kematian Papa dari seseorang di Inggris. Orang itu disuruh Richard untuk menyampaikan berita duka. Sudah tidak aneh bagiku, Richard tidak ingin bicara padaku, jadi Ia menyuruh orang lain yang menyampaikannya.
Kalau masalah itu tak apa, aku maklumi. Tapi yang membuatku marah adalah perintahnya yang tidak boleh dibantah. Aku tidak boleh ke Inggris untuk melihat Papa yang terakhir sebelum dikuburkan. Bagaimanapun, aku juga anaknya. Jadi berhak untuk ikut mengurus kematian Papa dan mengantar Papa ke peristirahatan terakhir..
Aku dengar, Papa dimakamkan di samping Mamanya Richard. Sepertinya Papa amat mencintai Mamanya Richard. Atau mungkin merasa bersalah dulu telah menduakannya, kemudian mencampakkannya. Aku berkesimpulan begitu karena aku tidak tahu cerita yang sebenarnya. Tapi dari cara Richard memakiku dan memaki Mamaku aku tahu, Mamaku yang telah merebut Papa dari Mamanya Richard.
Aku hanya bisa menangis sedih meratapi kepergian Papaku menghadap Sang Pencipta, tanpa bisa melihat dan menyentuhnya untuk terakhir kali.
Kurasa tindakan Richard itu sungguh jahat padaku. Kebenciannya tidak berdasar. Dia boleh membenci Mamaku, tapi aku sebagai anak Papa dan Mama, rasanya tidak adil. Aku dilahirkan tidak bisa memilih siapa orangtuaku. Kalaupun mereka salah, aku tak tahu apa-apa. Jadi seharusnya Richard tidak membenciku. Aku selalu merasakan kebenciannya padaku sejak kami masih kecil. Padahal aku ingin sekali punya kakak yang menyayangiku, bermain, sekolah, dan melakukan aktivitas bersama sebagaimana layaknya sebuah keluarga. Tapi Richard membangun benteng yang tinggi sehingga jarak antara kami sangat jelas terlihat. Kami tidak bisa mendekati atau pun merengkuhnya. Yang kulihat malah Papa dan Mama selalu marah dengan kelakuan Richard dan mengakibatkan Richard dihukum oleh Papa.
Tujuh hari setelah kematian Papaku. Richard pulang. Pak Trihandoyo, pengacara keluarga kami, meminta kami untuk berkumpul di rumah Papa. Ada yang harus disampaikan terkait wasiat dan bagi waris.
"Ronald, bacalah terlebih dahulu surat dari Tuan Brian untukmu dan juga surat dari rumah sakit ini. Juga untuk Richard, ada surat untukmu juga dari Tuan Brian," Tuan Trihandoyo memberikan surat yang dikatakannya pada ku dan Richard.
Aku buka surat dari Papa terlebih dahulu. Kubaca lambat setiap katanya agar aku dapat mencerna setiap perkataannya.
Ronald anakku,
Sengaja Papa buat surat ini karena Papa tidak kuasa untuk mengatakannya padamu secara langsung. Papa menyayangimu seperti halnya menyayangi Richard. Tapi bila teringat dengan apa yang telah Mamamu lakukan pada Papa, Papa menjadi marah. Papa ingin membuat semuanya seperti tidak terjadi apa-apa, tapi tidak bisa.
Papa merasa jadi laki-laki yang sangat bodoh. Dibohongi dan dibodohi berpuluh tahun. Sama halnya dirimu yang telah dibodohi istrimu. Coba kamu rasakan, bagaimana rasanya? Sakit bukan?
'Ini maksudnya apa ya? Maksudnya Mama selingkuh?'' kata batinku. Tapi aku melanjutkan membaca.
Terlebih, Mamamu selalu menghasut Papa sehingga Papa menjadi Papa yang buruk bagi Richard. Kamu sedari kecil mendapat curahan kasih sayang dan fasilitas yang berlimpah dan mewah dari Papa. Bandingkan dengan Richard. Dia bahkan menjadi anak yang tidak patuh dan dingin pada Papa. Itu semua karena perlakuan Papa yang tidak adil.
Jadi, setelah Papa meninggal, Papa harap kamu jangan protes ataupun merasa diperlakukan tidak adil. Kakekmu juga tidak meninggalkan harta untukmu. Oleh sebab itu, Papa memberimu sedikit. Bagian kamu tidak akan sama dengan bagian Richard. Itu semua juga karena Papa masih menyimpan kasih sayang padamu yang diurus Papa sejak lahir.
Deg!
Aku merasa tidak enak hati, mengapa Papa mengatakan begitu. Ada apa sebenarnya?
KAMU BUKAN ANAK KANDUNG PAPA! Kamu anak laki-laki lain kekasih lama Mamamu. Papa juga baru tahu setelah Kakekmu meninggal. Kakek sudah lama mengetahuinya. Oleh sebab itu Kakek tidak memberimu warisan. Rupanya Kakek tidak ingin membuat penyakit jantung Papa kambuh dengan merahasiakan ini semua sampai beliau wafat. Dan kini terbukti. Setelah Papa tahu kebenarannya, Papa jadi sering sakit.
Papa harap kamu memaklumi dan memaafkan Papa. Bukan maksud Papa untuk menyakiti hatimu. Kalau kamu tak percaya, baca saja hasil tes DNA yang sudah dilakukan Kakek sejak dulu. Dan juga tanyakan pada Mamamu tentang siapa Papa kandungmu sebenarnya.
Papa harap, kamu bisa menerima keputusan Papa. Dan kamu bisa mengelola harta yang diberikan Papa, walau sedikit. Papa percaya kamu bisa membuatnya menjadi banyak dengan kemampuan dan kerja kerasmu, seperti yang kau lakukan selama ini.
__ADS_1
Sekian dari Papa
BRIAN
Aku tiba-tiba merasa pening. Aku terhuyung setelah menerima kebenaran yang selama ini disembunyikan. Dengan tangan gemetar, aku membaca surat yang satunya lagi. Surat hasil tes DNA.
Aku terjatuh lemas setelah membacanya.
"Tuan Ronald, apa anda baik-baik saja?!" Tuan Trihandoyo membangunkanku. Kemudian memapahku duduk di sofa. Sedangkan Richard mengambil surat hasil tes DNA itu yang jatuh tergeletak di lantai.
Ia membacanya. Seulas senyum sinis tersungging di bibirnya.
"Sudah kuduga sebelumnya!" katanya.
"Jadi bagaimana Tuan pengacara, bisa kita mulai penandatanganannya? Aku tak mau lama-lama berurusan lagi dengan dia! Dia sama sekali bukan keturunan Papaku. Apalagi menyandang nama besar Kakek Edwin. Dia bukan siapa-siapa, selain orang yang menumpang hidup di keluargaku!" hina Richard.
"Diam kataku!" aku merasa tersulut emosi. Berita ini saja masih membuatku shock, malah ditambah hinaannya.yang membuat hatiku marah.
"Selama ini kamu selalu menyombongkan diri sebagai keturunan Kakek Edwin. Tapi ternyata ...?! Bagaimana ya reaksi orang-orang kalau tahu, kamu itu bukan keturunan Papaku? Ditambah kamu itu akan jatuh miskin, tidak seperti dulu, ck ck ck .....!" Richard tambah memanasiku.
"Kau! Selama ini, aku yang membangun dan membesarkan perusahaan! Kau kemana saja?! Aku yang bersusah payah!" bentakku sambil menyerang Richard.
"Richard, sudahlah! Jangan memperkeruh suasana! Sekarang kalian mau tidak mendengarkan surat wasiat dari Tuan Edwin dan juga dari Tuan Brian? Kalau kalian masih ribut, kita tunda saja!" bentak Tuan Trihandoyo.
"Baiklah. Maaf," kata Richard.
Kamipun mendengarkan.
Setelah mendengarkan wasiat dari Kakek dan Papa, aku berteriak tidak terima.
"Itu tidak adil! Itu tidak adil!"
"Hei, anak pelakor! Tidak adil dari mana? Selama ini kamu dan Si Pelakor menikmati kekayaan Papaku dan Kakek! Mamaku disingkirkan. Aku sering mendapat perlakuan kasar Papaku! Kamu dan Si Pelakor menikmati fasilitas keluarga kami berapa puluh tahun sesuai usiamu? Coba berapa banyak uang yang kalian hamburkan? Kamu harusnya memintanya dari Papa kandungmu yang tidak bertanggungjawab! Kembalikan uang kami br*ngs*k!" maki Richard.
Aku yang tak terima langsung memukul Richard. Baku hantam pun terjadi. Tuan Trihandoyo kewalahan. Ia memanggil security untuk membantunya memisahkan aku dan Richard.
"Kalau kalian masih begini, terpaksa penandatanganan menerima hak waris terpaksa ditunda! Dan anda Tuan Ronald, silahkan cari pengacara kalau tidak menerima isi surat wasiat! Ajukan ke pengadilan! Tapi saran saya, jangan lakukan hal bodoh itu. Karena itu hanya akan mempermalukan dirimu dan menghabiskan harta yang kamu terima!" kata Tuan Trihandoyo sambil mendorong Ronald keluar dari rumah Tuan Brian.
Aku terpaksa pergi dari rumah itu dengan perasaan marah dan terhina. Sepanjang perjalanan, aku memaki Richard dan Papa.
__ADS_1
"Papa sungguh kejam padaku! Papa tega padaku! Aku dihempaskan ke jurang yang amat dalam setelah aku diperlakukan bak pangeran! Aku benci Papa! Aku benci Papa!" teriakku, "Richard si*l*n! Kamu sombong sekali! Mentang-mentang anak kandung Papa Brian!"
Aku kembali ke kantor dalam keadaan kacau. Ketika aku duduk, mataku tertumbuk pada sebuah amplop yang dikirim dari rumah sakit. Ternyata hasil tes DNA Ricky sudah keluar. Segera kubaca isinya. Dan ternyata ..... Ricky BUKAN ANAKKU!
Aku bertambah marah. Ku banting semua yang ada di dalam ruanganku.
"Terkutuk kau Susy! J*l*ng s*al*n! Iblis betina! Awas kau! Kubuat kamu tidak bisa bernafas lagi!" sumpah serapahku.
Aku ke luar ruanganku lagi. Sekretrisku terlihat ketakutan. Begitu juga Asistenku. Tanpa berkata apa-apa, aku kembali lagi ke mobilku. Kulajukan mobilku menuju apartemenku
Mama sejak dua hari yang lalu sudah pulang dari rumah sakit jiwa. Mamaku yang stroke sudah tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya berbaring. Kadang-kadang didudukkan di kursi roda oleh ART.
Aku masuk ke apartemenku dengan tergesa. Setelah masuk ke dalam, Mama sedang duduk di kursi roda sambil menatap padaku. Kusuruh ART ku berbelanja kebutuhan sehari-hari di mini market. Setelah Ia pergi, aku menjatuhkan kepalaku pada pangkuan Mama.
'Ma, mengapa hidupku jadi begini?! Ricky ternyata bukan anakku! Dan aku juga bukan anak Papa Brian! Jadi aku anak siapa, Ma?! Aku malu! Malu dihina Richard! Papa Brian bahkan tidak memberiku harta yang layak! Aku hanya dihargai hasil kerjaku saja! Memangnya aku pegawainya!" aduku pada Mama. Walau Mama tidak bisa bicara, aku yakin Mama mengerti ucapanku.
"Jadi benar, waktu Papa marah-marah waktu itu? Mama selingkuh?Apa benar, Mama menjebak Papa untuk menikahi Mama? Mama seorang pelakor?!" tanya Ronald tersedu.
Nyonya Jeny terlihat seperti menangis, walau tak bersuara.
"Apa benar, orang yang di apartemen itu Papa biologisku?"
Mama dengan gemetar dan seperti menangis, mengangguk.
Aku terperangah.
"Mama tahu, perbuatan Mama membuatku terkena karmanya. Aku juga dibohongi Susy bertahun-tahun! Dia berselingkuh dengan banyak lelaki. Dia juga mengandung anak orang lain, tapi aku yang kena getahnya! Aku jadi orang bodoh, karena terlalu percaya dan terlalu cinta. Aku telah membuang berlian dan memungut batu dari comberan!"
Aku dan Mama saling bertangisan. Mama juga tidak mendapat warisan sepeserpun dari Papa Brian. Karena Papaku sudah menceraikannya sebelum Papa meninggal. Sewaktu Papa di rumah sakit. Pengacaranya telah mengurus perceraian Papa dengan Mamaku setelah kejadian di apartemen itu.
Aku bingung dengan masa depanku. Aku hanya diberi sebuah perusahaan kecil, dan itupun di daerah pinggiran Jakarta. Juga sebidang tanah dan yang lainnya yang tidak seberapa dibandingkan Richard.
Aku terpuruk. Aku kini banyak menghabiskan waktu dengan minum-minum sampai mabuk di bar. Orang suruhanku juga belum menemukan Mila.
Mila .... dimanakah kamu?
Ronald POV off.
🌿🌿🌿🌿🌿
__ADS_1
Hai Readers! Maaf Up ku tidak tentu ya. Kadang pagi, kadang siang, kadang malam, kadang tengah malam , kadang dini hari., tergantung waktu senggangku. Ikuti terus dan tinggalkan jejakmu ya!