
Jimy pulang ke rumah dengan hati riang. Dalam hatinya Ia bertekad akan memperbaiki hubungannya dengan Gisel, istrinya yang selama ini kurang harmonis. Selama ini Jimy sering tidak pulang. Ia sering menghabiskan waktu dengan Susy ataupun dengan model-model yang lain yang ingin diorbitkan. Dengan jabatannya dan nama perusahaannya yang sudah terkenal, Ia dengan mudah mengorbitkan model yang direkomendasikannya untuk dikontrak oleh perusahaan-perusahaan yang memerlukan model untuk meningkatkan penjualan.
Jimy sering mengabaikan istrinya dengan alasan sibuk. Entah mengapa dimatanya, istrinya terlihat membosankan. Tidak tertantang lagi untuk menaklukannya. Itu semua mungkin karena Gisel kurang berkembang sejak Jimy melarang Gisel bergaul dengan teman-temannya. Gisel lebih banyak di rumah. Dan kini Jimy menyadari hal itu.
"Sayang, sayang ...., kamu dimana?" Jimy masuk ke rumah mencari-cari istrinya.
Dilihatnya Gisel sedang menyuapi anak kecil di teras belakang rumahnya. Anak itu tampak ceria karena Gisel mengajaknya berbicara hal-hal menyenangkan.
"Sayang ....," Jimy terpaku melihat pemandangan itu.
Gisel dan Ricky menoleh.
"Kamu udah pulang, Mas?" Gisel tetap duduk. Tidak menyambut kedatangan suaminya.
"Itu anak siapa? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Jimy terlihat tidak suka, karena gara-gara anak itu, Gisel mengabaikannya.
Gisel berdiri kemudian menghampiri suaminya.
"Justru aku yang ingin bertanya padamu. Kenapa Tuan Ronald bisa menyerahkan anak ini ke sini? Ada hubungan apa kamu sama istrinya?" Gisel menatap tajam pada Jimy.
"A-ak-aku ....," Jimy tergagap.
"Oh ya, mulai besok, aku ambil alih lagi Agencyku. Kamu sudah terlalu sering meninggalkan kantor. Aku sudah memeriksa laporan keuangan perusahaan empat tahun terakhir. Ternyata kamu sangat boros. Perusahaan hampir colaps kalau begitu terus-terusan," kata Gisel.
Jimy membelalakkan matanya.
"Sayang. Jangan marah begitu. Semuanya bisa dijelaskan. Tapi ijinkan aku untuk memanjakan Nyonya Jimy yang cantik. Hari ini anniversary pernikahan kita. Happy anniversary Sayangku," Jimy mencoba mengalihkan perhatian dan merayu Gisel dengan memberinya buket bunga kesukaan Gisel. Cara ini biasanya membuat Gisel terbuai.
Jimy memberikan buket bunga itu pada Gisel. Tapi ternyata tak sesuai harapannya. Gisel bersikap dingin. Diterimanya buket bunga dari Jimy. Dipandanginya sesaat untuk kemudian dihempaskannya buket bunga itu, sebelum Jimy sempat mencium keningnya.
Jimy terkejut melihat respon istrinya. Baru kali ini Gisel bersikap demikian. Selama ini Gisel selalu bersikap manis. Walau Jimy sering pulang larut malam atau malah tidak pulang, bahkan berhari-hari tanpa kabar yang jelas, hanya dengan ucapan manis dan buket bunga yang diberikannya, Gisel biasanya sudah meleleh.
"Kali ini rayuanmu tak mempan untukku. Kenapa tidak kau berikan saja pada selingkuhanmu itu?" kata Gisel.
"Aku tidak selingkuh! Sungguh! Maafkan aku kalau selama ini terlalu sibuk!" Jimy mencoba berkelit.
"Oh ya? Lalu ini apa? Ini apa?" Gisel memperlihatkan foto-foto Jimy sedang bersama Susy ataupun model-model lainnya. Foto mereka terlihat intim dengan Jimy.
Jimy tertawa terbahak-bahak. Ia bereaksi seolah-olah Gisel tengah cemburu dan salah paham.
"Kamu cemburu dengan mereka sayang? Mereka itu modelku! Wajar kan kalau kami dekat? Mereka hanya partner di bisnis kita. Tidak lebih! Hanya kamu wanita spesialku!" Jimy mencoba meraih tangan Gisel. Tapi Gisel menghempaskan tangan Jimy.
"Lalu ini apa? Kenapa Tuan Ronald marah melihat foto-foto ini? Juga video jalan-jalanmu yang mesra dengan istrinya?" Gisel memperlihatkan lagi foto-foto dan video di ponselnya.
"Katanya kamu sudah babak belur dihajar Tuan Ronald? Kamu perlu memulihkan wajahmu yang babak belur dengan tidak pulang hingga dua minggu? Atau kamu mencari kesenangan sendiri walau wajahmu sudah pulih?!" berondong Gisel tajam.
Jimy terdiam tak dapat menjawab. Dengan susah payah, Jimy mencoba mencari alasan.
"Gisel, cantikku! Ada orang yang tidak suka denganku atau ingin menjatuhkan aku dan agencyku. Mereka memfitnahku! Kamu jangan percaya begitu saja, sayang!"
Jimy masih saja berkilah.
"Lalu ini apa maksudnya?! Kata pengacaraku, kamu mencoba mengalihkan aset -asetku atas namamu? Padahal aku tak pernah menandatanganinya! Kamu mencoba memalsukan tanda tanganku, Jimy!" teriak Gisel sambil memperlihatkan berkas yang ada di meja. Gisel sudah mempersiapkannya sebelum Jimy datang. Jimy memberitahukan kedatangannya hari ini lewat chat.
Ricky menangis melihat pertengahan Gisel dan Jimy.
"Bi Inah! Bawa Ricky pergi dulu!" teriak Gisel. Seorang ARTnya berlari dengan tergopoh-gopoh. Kemudian langsung menggendong Ricky untuk di bawa ke depan rumah.
"Sayang ... aku tak bermaksud begitu," kata Jimy.
__ADS_1
"Berhentilah bilang sayang! Aku muak dengan mulutmu yang munafik! Kenapa kau lakukan ini? Kamu mau mengambil seluruh hartaku, kemudian kamu mau kabur dengan selingkuhanmu itu, hah?!" teriak Gisel geram.
"Gisel, sayangku! Aku mengaku salah! Tolong maafkan aku! Aku janji tidak akan berbuat begitu lagi! Aku khilaf! Aku sudah meninggalkan wanita itu! Aku hanya ingin bersamamu! Percayalah!" Jimy berlutut dihadapan Gisel.
"Pak Karto, Pak Rosyid! Usir orang ini keluar! Lempar kopernya keluar juga!" Gisel memerintahkan supir dan tukang kebunnya untuk menyeret Jimy.
Jimy terkesiap. Ia benar-benar tak menyangka Gisel akan Semarah itu.
"Gisel, sadarlah! Aku ini suamimu!"
"Aku akan mengurus perceraian kita besok! Mulai hari ini, kamu harus keluar dari rumahku dan agencyku! Selama ini aku bodoh, mau saja dibohongi sama kamu! Aku terlalu percaya padamu! Kamu sudah mengecewakanku! Kesempatanmu sudah habis! Kamu akan kembali ke asalmu! Pria miskin dan tak punya apa-apa!"
"Gisel! Gisel! Aku mohon! Maafkan kesalahanku! Aku janji akan menjadi suami yang lebih baik!" teriak Jimy ketika dua orang laki-laki itu menyeretnya keluar dari rumah. Tapi sebelum Jimy keluar, Pak Rosyid memotong beberapa helai rambut Jimy.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" teriak Jimy.
Ketika di depan rumah Jimy melihat anak kecil yang bersama Bu Inah, amarahnyapun meluap.
"Gara-gara kamu, aku jadi begini, b*j*ngan cilik! Ibumu yang j*l*ng bikin aku susah!" Jimy akan menampar Ricky.
Tapi untungnya Bi Inah buru-buru menggendong dan membawa Ricky masuk ke rumah.
Koper Jimy dilempar keluar. Pintupun ditutup dengan kerasnya.
"Gisel! Gisel! Buka pintunya! Sayang, aku tidur dimana? Apa kamu tidak kasihan suamimu tidur dijalanan?" Jimy memcoba membuat istrinya trenyuh.
"Aku tak perduli! Kamu bukan suamiku lagi! Semua kartumu sudah diblokir! Kau bawa saja mobilmu! Aku masih baik padamu! Itu sebagai upah hasil kerjamu! Mulai besok, kau tidak berhak lagi berada di Agency yang dibangun Papaku! Enyahlah kau dari hidupku!" teriak Gisel dari dalam rumah.
Jimy menyugar rambutnya dengan gusar. Kenapa nasibnya jadi berubah drastis begini? Dia benar-benar tak menyangka, Gisel akan Semarah ini. Dikiranya Gisel adalah wanita yang lemah, yang akan selalu menuruti semua kata-kata Jimy dengan diberi gombalan Jimy.
💮💮💮💮💮
"Bolehkah aku duduk di sini?" seorang laki-laki tampan membuyarkan lamunannya.
"Silahkan," jawab Gisel. Gisel saat itu sedang berada di sebuah cafe.
Kopi latte dan Nachos sama sekali belum disentuhnya. Nachos adalah camilan khas Meksiko, berupa keripik jagung yang menyehatkan dan kaya rasa, dengan rasa manis, asin, gurih dan pedas.Â
"Maaf. Apa yang anda pegang?" tanya lelaki itu.
"Bukan apa-apa," jawab Gisel. Ia langsung memasukkan surat itu kedalam amplopnya, kemudian memasukkannya ke dalam tas.
"Maaf, aku mengganggumu ya? Kalau begitu, aku pindah saja," kata lelaki itu merasa tak enak.
"Tidak apa-apa. Duduklah di sini. Mungkin aku sedang butuh teman ngobrol," jawab Gisel.
Tak lama pesanan lelaki itu datang. Carrot cake dan jus jambu.
"Wah ...., baru kali ini aku melihat makanan dan minuman laki-laki yang begitu menyehatkan," Gisel menahan tawanya.
"Jangan mentertawakanku. Aku sedang berhenti minum kopi dan yang asam-asam. Lambungku sedang bermasalah. Setidaknya saya masih suka yang manis-manis seperti senyum wanita cantik di depanku," kata laki-laki itu sambil senyum dikulum.
Gisel mencebik.
"Ck. Laki-laki senangnya ngegombal terus. Aku sudah kenyang digombalin. Dan sekarang aku tidak mempan digombalin," ujar Gisel.
"Oh ya? Tapi saya sedang tidak ngegombal. Saya bicara apa adanya," kata laki-laki itu.
"Kenalkan, nama saya Arga," kata laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya.
__ADS_1
Gisel membalas jabatan tangan laki-laki yang ternyata Arga itu.
"Gisel."
Gisel lalu menyesap kopinya dan memakan camilannya. Matanya melihat ke arah lain karena merasa jengah laki-laki dihadapannya terus menatapnya.
Laki-laki itupun menikmati makanan dan minumannya. Matanya tak lepas memandang wanita cantik dihadapannya.
"Apa ada yang salah dengan penampilanku?" kata Gisel ketus karena tak tahan ditatap terus
"Tidak ada yang salah. Hanya saja mataku tak mau lepas memandangmu. Seperti terkena Magnit, hingga tak bisa berpaling melihat ke arah lain," jawab Arga.
"Berhentilah bersikap menyebalkan. Aku sudah bersuami. Matamu bisa di congkel oleh suamiku."
Tak disangka, Jimy muncul di cafe itu. Jimy seperti mencari seseorang. Ketika pandangannya bertemu dengan Gisel, laki-laki itu tersenyum dan berjalan menghampiri Gisel.
"Mas Arga. Kurasa kita harus segera pergi ke tempat lain. Lebih baik kita kencan di cafe lain," kata Gisel sambil meraih tangan Arga. Arga membulatkan matanya.
Jimy yang melihat Gisel memegang tangan laki-laki lain dihadapannya menjadi cemburu dan marah.
"Gisel! Apa yang kau lakukan?! Kita harus bicara!"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Semuanya sudah selesai! Perlu kamu tahu, aku sudah mendapatkan penggantimu! Jadi berhentilah berharap! Kita akan bertemu di pengadilan, lusa!"
"Ayo, Mas Arga. Kita pergi saja dari sini," Gisel menarik tangan Arga untuk berdiri. Arga mulai mengerti. Setelah memberi kode pada pelayan cafe, Arga meletakkan uang pembayaran makanan dan minumannya dan Gisel di meja. Arga mengikuti permainan Gisel.
"Hei, dia istriku! Kami masih suami istri! Kau jangan coba-coba merebutnya dariku!" teriak Jimy pada Arga.
"Tapi kalian akan berpisah kan? Jadi wajar saja aku mengajaknya berkencan. Kami pacaran." jawab Arga.
Sebenarnya Gisel merasa terkejut mendengar perkataan Arga. Tapi demi aktingnya supaya tidak terbongkar oleh Jimy, Gisel biarkan saja. Gisel malah menggandeng lengan Arga.
Jimy naik pitam mendengarnya. Ia mencoba memukul Arga. Tapi Arga berhasil menepisnya. Dengan cepat, Arga mengajak Gisel untuk segera pergi dari cafe itu sebelum keributan itu mengganggu pengunjung cafe yang lain.
"Hei, tunggu! Aku akan buat perhitungan dengan kalian!" teriak Jimy.
Arga buru-buru menyuruh masuk Gisel ke mobilnya. Setelah itu Arga pun masuk dan duduk dibalik kemudi. Arga melajukan mobilnya segera.
"Sebenarnya aku bawa mobil. Tapi daripada dia nanti mengejarku terus, Aku ikut saja," kata Gisel.
"Kita kan pacaran. Wajar kan seorang lelaki mengajak pacarnya ikut mobilnya?" Arga tersenyum samar.
"Ah! Maaf, telah membuatmu bingung tadi. Maaf. Sudah mengaku-ngaku. Kuharap, istrimu tak akan marah. Aku cuma akting supaya Jimy berhenti mengejarku."
"Beneran juga gak apa-apa. Aku tidak punya istri. Aku juga sedang tidak punya pacar. Jadi aku menerima lowongan yang mau jadi calon istri," jawab Arga enteng.
Seketika wajah Gisel merona. Arga semakin tersenyum lebar melihat Gisel salah tingkah.
"Aku cuma pura-pura. Tolong jangan diambil hati ya. Maaf," kata Gisel lagi.
"Tidak bisa diralat! Aku sudah menanggapinya dengan serius perkataanmu tadi. Jadi, kita pacaran, oke?!" Arga semakin senang menggoda Gisel.
Gisel menjambak rambutnya frustasi. Lelaki yang baru dikenalnya tidak bisa dibujuk.
'Terserahlah!" kata Gisel menyerah.
"Yess!" Arga bersorak kegirangan. Gisel hanya menarik nafas malas menanggapi lelaki aneh di sampingnya.
TO BE CONTINUED
__ADS_1
Berikan vote, like, komen dan hadiahmu ya!