
Gilang tersenyum bahagia karena Reyhan ada waktu untuk main ke rumahnya. Reyhan menjemput Gilang pada waktu jam pulang kerja Gilang. Pekerjaannya sebagai pelayan hotel di bagian restoran hotel sudah dijalaninya sejak 6 bulan yang lalu.
Rumah Gilang kecil dan sederhana. Tapi terlihat bersih dan asri. Perabotan di dalam rumah itupun minimalis. Kursi tamu di ruang tamu itu terbuat dari rotan yang di plistur bening, menampakkan warna asli rotan.
"Silahkan duduk, Kak! Maaf keadaan rumahku begini," kata Gilang.
"Tidak apa-apa. Tidak masalah," jawab Reyhan. Ia lalu duduk sambil menatap ke sekeliling ruangan.
Gilang pergi ke dapur membuat minuman untuk Reyhan. Teh manis pun disajikan Gilang untuk Reyhan.
"Silahkan diminum, Kak! Maaf, hanya ada teh manis," kata Gilang.
"Terimakasih. Kamu tak perlu repot-repot."
Merekapun kemudian berbincang-bincang tentang keluarga Gilang. Ketika mereka tengah berbincang-bincang, terdengar suara batuk seorang laki-laki dari dalam kamar yang berada di ruang tengah.
"Sebentar, Kak! Ada yang ingin bertemu dengan Kak Reyhan," kata Gilang.
Reyhan mengernyitkan dahinya. Hatinya bertanya-tanya, siapakah orang yang ingin bertemu dengannya? Apakah keluarga Gilang?
Selagi Reyhan masih memikirkan ucapan Gilang, Gilang datang ke ruang tamu sambil mendorong seseorang yang duduk di kursi roda.
Deg!
Hati Reyhan tersentak. Wajah itu masih dikenalinya. Wajah itu walau telah mengalami perubahan karena usia, tapi Reyhan masih mengenalinya.
"Reyhan, anakku! Sudah lama sekali Ayah mencarimu!" kata laki-laki itu yang ternyata adalah Ayah kandung Reyhan! Orang yang selama ini sangat dibencinya.
Reyhan berdiri. Ia ingin segera pergi dari rumah itu.
"Tunggu, Kak Reyhan!" cegah Gilang.
"Ayah sakit leukimia! Ayah memerlukan donor sumsum tulang belakangmu!" kata Gilang.
Reyhan mengurungkan niatnya untuk pergi. Reyhan malah tertawa.
"Oh, jadi ini maksud kamu baik padaku, Gilang? Jadi ini maksud kamu ingin mencariku, Pak tua?"
"Ayah ingin bertemu dengan Kak Reyhan! Ayah merindukan Kak Reyhan," jawab Gilang.
"Omong kosong! Dia mencariku, rindu padaku karena ada udang dibalik batu!" mata Reyhan berkilat-kilat.
"Tuan Aji yang terhormat! Kau pikir aku perduli? Sampai kamu matipun aku tak akan perduli! Aku akan memberikan nyawa sekalipun pada orang yang benar-benar tulus menyayangiku! Sedangkan kau! Apa dari aku lahir kau perduli padaku? ibuku meninggalpun kau tak perduli! Apakah aku bisa makan? Apakah aku bisa hidup ketika ditinggal mati ibuku? Kau tak perduli bukan?! Padahal aku masih kecil waktu itu!"
"Kau menganggap anak orang lain menjadi anakmu! Sedangkan anakmu sendiri kau jadikan orang lain. Apakah pantas, kau meminta donor sumsum tulang belakang dariku? Kenapa bukan dia saja, anak kesayanganmu, yang mendonorkan sumsum tulang belakangnya?!" Reyhan menumpahkan semua kemarahannya pada Gilang dan Ayah kandungnya. Barulah Reyhan ingat sekarang, ternyata Gilang itu adalah anak dari sekretaris Ayahnya yang dinikahi Ayahnya dulu.
"Seandainya aku bisa, aku akan melakukannya! Tapi donor sumsum tulang belakang hanya bisa dilakukan oleh keluarganya atau kerabat dekatnya," kata Gilang.
"Jadi, lebih baik mati sajalah kau, Tuan Aji! Aku tak perduli padamu!" pungkas Reyhan sambil meninggalkan rumah itu. Hatinya merasa puas telah menumpahkan kemarahannya selama ini.
Tuan Aji yang sedari tadi diam menangis tersedu mendengar segala perkataan Reyhan yang menyakitkan hati. Ia benar-benar tak menyangka kalau Reyhan, anaknya, akan seterluka itu. Rupanya ia telah mendengar seluruh cerita masa lalu kedua orangtuanya.
__ADS_1
Gilang menenangkan Ayahnya. Didorongnya Ayahnya masuk ke kamar kembali. Ayahnya masih saja menangis hingga Gilang tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Aku memang pantas mendapat caci maki darinya! Aku memang Ayah yang buruk!" rutuk Tuan Aji.
Reyhan yang marah, melajukan mobilnya dengan kencang. Ia menahan tangis sepanjang jalan. Ia tak pulang ke rumah. Tapi pulang ke apartemennya. Setelah masuk ke apartemennya, ia menelepon Erika.
📞 "Sayang, datanglah ke apartemenku! Aku memerlukanmu!"
📞 "Mas Rey kenapa? Kenapa suaranya seperti habis menangis?"
📞 "Cepatlah kemari! Aku sedang bersedih."
📞 "Baiklah! Aku akan datang!"
Teleponpun ditutup. Erika keluar dari kantor segera ke apartemen Reyhan. Erika menyuruh supir untuk pulang duluan saja. Erika akan menyetir mobilnya sendiri.
Setibanya di apartemen Reyhan, Erika yang sudah berada di depan pintu kamar apartemen, segera memijit kode PIN digital pintu apartemen. Pintupun terbuka.
Erika masuk ke dalam apartemen secara perlahan. Disebuah kamar yang dijadikan tempat gym mini, terlihatlah Reyhan yang sedang meninju samsak tinju.
"Mas Rey ....," panggil Erika.
Reyhan menoleh. Ia segera menghentikan aktivitasnya. Dilepasnya sarung tinjunya. Reyhan segera memeluk Erika. Erika sampai merasa heran dengan sikap Reyhan.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Erika.
Reyhan segera menggenggam tangan Erika dan membawanya ke sofa di ruang tamu. Erika disuruhnya duduk. Sedangkan Reyhan membaringkan tubuhnya di sofa dengan kepala dipangkuan Erika.
"Kamu jadi manja banget sih. Ada apa?" Erika penasaran dengan sikap Reyhan yang tak seperti biasanya.
"Tidak enak kenapa?" Erika mengusap-ngusap rambut Reyhan. Reyhan jadi teringat ibunya. Dulu waktu kecil, ibu sering mengusap-ngusap rambut Reyhan bila Reyhan bercerita tentang kesedihannya melihat teman-temannya yang punya Ayah.
"Aku tadi bertemu Ayahku," lalu mengalirkan cerita tentang pertemuan Ayahnya tadi dan juga tentang Ayah dan ibunya ketika Reyhan masih kecil.
"Kamu yang sabar ya. Jangan jadi pendendam. Ayahmu sudah mendapatkan karmanya," kata Erika menasehati.
"Tapi aku merasa tidak puas kalau belum membuat dia menderita!"
"Stttt ....! Mas jangan mengotori mulut dan sikap Mas dengan hal-hal yang tidak baik. Tetaplah menjadi Mas Rey-ku yang baik, yang penyayang, yang lembut, dan penuh cinta," Erika memberanikan diri mencium bibir Reyhan.
Reyhan membalasnya dengan lembut. Hingga nafas mereka tersengal-sengal, barulah mereka melepaskan ta*utan bibir mereka.
Terdengarlah bunyi perut Reyhan. Membuat keduanya tertawa.
"Lapar ya yang habis emosi?" ledek Erika.
"Lapar banget!" jawab Reyhan sambil mencubit pipi Erika.
"Kita makan yuuk di luar!" ajak Erika.
"Mau makan dimana, sayang?" tanya Reyhan.
__ADS_1
"Rumah makan Sunda, gimana?" Erika minta persetujuan Reyhan.
"Pasti yang masakan ala rumahan itu ya?" tebak Reyhan.
"Mirip sih. Aku suka banyak lalapannya sama sambalnya," kata Erika.
"Seleramu tidak terpengaruh walau telah hidup di London lama," Reyhan tergelak.
"Boleh dong kalau aku kepincut makanan lokal? Seperti diriku yang kepincut pria lokal!" Erika mengedipkan satu matanya sambil beranjak pergi.
"Hei, tunggu!" Reyhan mengejar Erika. Setelah menutup pintu apartemen, Reyhan berjalan sambil memeluk bahu Erika.
"Aku penasaran! Apa kamu pernah pacaran sama pria bule?"
"Mau tahu, apa mau tahu banget?" goda Erika.
"Mau tahu banget!" jawab Reyhan.
"Pernah! Dulu waktu Elementary School di London! Cinta monyet!" jawab Erika.
"Apaaa?!" Reyhan terbelalak.
Erika terbahak. Reyhanpun kemudian terbahak. Mereka berdua sambil naik mobil terlibat pembicaraan tentang masa kecil Erika di London.
Cerita Erika membuat hati Reyhan terhibur. Pembawaan Erika yang riang membuat Reyhan terbawa riang. Reyhan jadi melupakan kekesalan dan kesedihan hatinya.
Setelah mereka makan malam di rumah makan Sunda, dan menunaikan shalat Maghrib di mushala yang ada di sana, Reyhan mengantar Erika pulang.
"Terimakasih ya atas waktunya. Kehadiranmu menemaniku, membuat moodku membaik lagi," kata Reyhan.
"Sama-sama. Itulah gunanya pasangan. Untuk saling menguatkan disaat keadaan terburuk sekalipun," jawab Erika.
"Kamu memang calon istri idaman. Jadi tak sabar jadi suamimu," kata Reyhan sambil wajahnya semakin mendekat ke wajah Erika.
"Sttt .... tadi di apartemen udah," Erika menahan bibir Reyhan.
"Mau lagi. Please ....," kata Reyhan memohon.
"Nih, disini saja," Erika menunjuk pipinya.
Reyhanpun langsung mencium pipi Erika kanan dan kiri.
"Besok, mobilmu akan diantarkan oleh supirku ke rumahmu," kata Reyhan.
Erika mengangguk. Walau Reyhan masih kangen dan masih ingin menghabiskan waktu bersama, tapi Reyhan terpaksa membiarkan Erika turun dari mobilnya. Ia masih belum punya hak untuk menahan Erika lebih lama lagi bersamanya malam ini. Karena pasti Papa Erika tidak akan mengijinkan mereka untuk terus berduaan malam-malam begini.
"Selamat malam. Semoga mimpiin aku. I love you," kata Reyhan.
"I love you too," jawab Erika.
Erikapun berjalan ke rumahnya. Reyhan masih menatapnya dari dalam mobil. Sebelum Erika membuka pintu rumah, Erika melambaikan tangannya terlebih dahulu. Reyhan membalas lambaian tangan Erika. Setelah Erika masuk kedalam rumah, barulah Reyhan meninggalkan rumah Erika.
__ADS_1
Ronald yang mengintip Erika dan Reyhan dari dalam rumah kontrakan Tika, segera menutup tirai rumah kontrakan Eka ketika melihat Erika sudah masuk ke rumah.
TO BE CONTINUED