
Reyhan POV
Pertama kali aku melihatnya pada waktu acara pesta ulangtahun kenalanku yang bernama Jenifer. Jenifer masih SMA tapi kiprah sosialnya sudah banyak.
Kulihat gadis yang bernama Erika itu curi-curi pandang padaku. Entah apa yang dia dan temannya bicarakan. Mungkin membicarakanku.
Ketika ada sesi permainan, dia mendapat giliran untuk berjoget, ternyata dia melakukan kesalahan. Dia masih berjoget ketika musik telah berhenti. Akibatnya dia kena hukuman. Dia memutar alat yang seperti jarum jam. alat itu berhenti di angka 6. Ketika dia mengambil kartu hukuman dan membacakannya, ternyata dia dihukum untuk mencium orang yang ada di pesta itu tapi yang berbeda jenis kelamin.
Entah mengapa dia tanpa pikir panjang, langsung menarik tanganku ke tengah ruangan. Para undangan riuh menyuruh dia segera menciumku. Walau tampak grogi dan gemetar, dia akhirnya mencium pipiku sekilas. Dia langsung berlari ke sudut ruangan. Dia mungkin merasa sangat malu. Aku juga jadi salah tingkah karena banyak yang meledekku.
Satu kesalahanku yang kusesali sampai sekarang, aku sempat ikut mentertawakannya ketika seorang pelayan menabraknya dan menumpahkan semua minuman di baki pada pakaiannya. Pelayan itu berulangkali meminta maaf. Tapi Erika diam saja. Matanya berkaca-kaca ketika aku dan teman-temanku mentertawakannya. Kejadiannya cukup lucu menurut kami. Jadi kami tertawa. Tapi sikap kami yang demikian membuat gadis itu merasa direndahkan. Kami bukannya menolong, malah mentertawakannya. Itu satu kekhilafan buat saya. Saya bukan cowok yang gentle.
Akhirnya dia berlari keluar sambil menangis. Sewaktu kukejar, ternyata dia sudah naik taksi. Aku kehilangan jejak.
Sampai aku pulang, bekas bibirnya serasa masih menempel di pipiku. Tidak munafik, aku memang bukan pertama kalinya di cium atau ciuman dengan cewek. Tapi kali ini rasanya berbeda. Aku jadi selalu teringat dia. Wajah polosnya selalu terbayang-bayang di mata. Bibirnya yang merah jambu selalu terasa menempel di pipiku, tak hilang-hilang.
Hingga pada suatu hari, aku diajak oleh temanku untuk menemaninya ngedate dengan seorang cewek. Dia memaksaku untuk menemaninya. Dia masih grogi katanya untuk bertemu dan berbicara dengan gadis gebetannya. Katanya ceweknya juga akan membawa teman biar aku tidak jadi obat nyamuk.
Akupun akhirnya mau menemaninya. Ketika kami bertemu dan akan dikenalkan, ternyata ceweknya ditemani Erika. Untuk menutupi kegugupanku dan rasa bersalahku dulu, aku pura-pura baru mengenalnya. Aku juga bersikap sok akrab.
Aku menoel-noel jari telunjukku pada telapak tanganku waktu aku berjabat tangan dengan Erika. Maksudnya untuk lebih dekat dan akrab. Tapi ternyata ulahku dianggapnya salah dan kurang ajar. Dia menghempaskan tanganku dengan kasar. Dan tanpa berkata apa-apa dengan mimik yang marah, dia langsung pergi meninggalkan kami. Deby, temannya memanggil-manggilnya, tapi tak dihiraukannya. Ia sepertinya marah sekali. Aku menyesal telah melakukan kesalahan dua kali padanya. Kenapa aku sampai seceroboh itu. Bukannya aku membuatnya terpesona, malah membuatnya membenciku. Kesan pertama dia padaku, mungkin menganggapku orang yang kurang ajar.
Aku tergabung dalam komunitas motor cross. Dengan kebut-kebutan menyusuri medan motor cross yang menguji nyali, emosiku tersalurkan. Aku menyalurkan kekecewaan hatiku pada Ayah kandungku, kebencianku, dan kemarahanku dengan hobiku itu. Aku garang di medan motor cross, seperti aku akan berperang melawan ayahku.
Mungkin itulah membuat penampilanku yang terlihat urakan, membuat Erika beranggapan kalau aku itu seorang berandalan. Sepertinya aku tidak masuk kriteria cowok idamannya. Rasa sukaku padanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Sejak saat itu aku mencari-cari tahu informasi tentang dirinya lewat sosmed. Tapi rupanya ia bukan orang yang aktif bersosmed. Dia hanya sekali-kali memposting kegiatannya. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Bila dia pulang sekolah. Aku tidak berani mendekatinya lagi. Cukuplah dengan melihatnya dari jauh, rasa rinduku terobati. Aku sepertinya jatuh cinta padanya.
Dan pada waktu itu, Omku, yang merupakan ayah angkatku, akan pindah mengurus perusahaannya yang ada di Kanada. Aku harus ikut pindah. Padahal aku masih betah kuliah di Inggris. Ayahku memperlakukanku seperti anak kecil saja yang harus ikut kemanapun dia pergi. Ayahku khawatir, Ayah kandungku akan menemukanku. Hubungan Ayah kandungku dengan keluarga ibuku memang tidak baik. Aku dari kecil di rawat oleh Om Gery, adik ibuku. Sejak ayah angkatku belum menikah hingga sudah menikah, aku dirawat olehnya dan ditampung di rumahnya bersama ibuku karena Ayah kandungku sudah tidak sudi melihat kami. Ibuku diceraikannya tanpa membawa apa-apa.
Ayah angkatku dan istrinya tidak punya anak hingga bertahun-tahun pernikahan. Sehingga menganggapku sebagai anaknya. Aku harus memanggil mereka ayah dan ibu. Aku sangat diperhatikan dan mendapat curahan kasih sayang dari mereka selayaknya anak mereka. Om Gery menggantikan sosok ayah kandungku yang telah mencampakkan ibuku. Menurut ayahku (Om Gery), ibuku diusir oleh ayahku karena suatu kesalahpahaman. Sehingga ibuku diusir sewaktu sedang mengandungku. Ayah menuduh ibu berselingkuh, sehingga tidak mau mengakui anak yang sedang berada dalam kandungan ibuku. Aku anak yang tidak diharapkan oleh ayah kandungku.
Hingga ibu meninggal, Ayah kandungku tak ada keinginan untuk mengambilku. Menengok pun tidak pernah. Akhirnya aku jadi anak Om Gery sepenuhnya. Karena Ayah kandungku tidak perduli.
Dan hari ini sepertinya Tuhan mengabulkan do'aku. Tanpa disangka sebelumnya, Ayah Gery mengajakku meeting dengan CEO Edkatama Group. Kupikir CEO diperusahaan itu seorang wanita yang sudah berumur, gendut dan bertampang serius. Karena Ayah hanya memberitahuku CEO perusahaan itu seorang wanita.
Ternyata CEO perusahaan itu seorang gadis muda yang cantik, langsing, elegan, dan seseorang yang kurindukan selama ini. Kalau aku tahu aku akan bertemu dia, tentunya aku akan berdandan habis-habisan agar ia terkesan. Selama ini dia hanya tahu aku berpenampilan urakan bila berada di luar rumah. Kalau waktu di acara pesta ulangtahun itu, penampilanku memang agak rapi dan elegan.
"Nona Erika, apa anda baik-baik saja?" tanyaku karena tanganku masih menggantung untuk mengajaknya berjabat tangan. Sedangkan dia masih tertegun.
"Oh, iy-ya. Maaf," jawabnya tergagap. Sepertinya ia terkejut melihatku.
Mula-mula sekretarisnya yang mempresentasikan produk perusahannya, disusul dia. Sebelum dia berbicara, dia mencuri pandang sekilas. Tampaknya penampilanku yang formal, tidak seperti yang sering dia lihat, membuatnya sedikit penasaran. Ha ha ha ... aku tertawa senang dalam hati.
Dia menjelaskan tentang profil perusahaannya dan bentuk kerjasama yang akan ditawarkan pada kami. Dia berbicara dengan lancar dan sangat baik. Mencerminkan seorang gadis yang cerdas dan berbakat dalam mengelola perusahaan. Aku semakin kagum saja padanya. Aku terpesona oleh performa dan kecantikannya.
Ayahku menyikutku. Aku jadi terkejut. Mata ayah menatap tajam dan memberi kode agar aku fokus. Rupanya aku tadi senyum-senyum sendiri tanpa sadar, karena membayangkan seandainya Erika mau jadi istriku.
"Kami tertarik dengan presentasi yang anda dan sekretaris anda sampaikan. Saya akan menyerahkan urusan proyek kerjasama ini pada Putraku, Reyhan. Dia yang akan bertanggungjawab segala sesuatunya urusan proyek kerjasama ini. Selanjutnya mungkin anda dan Reyhan akan sering bertemu untuk membicarakan langkah-langkah yang harus dilakukan selanjutnya," kata Ayahku sambil menoleh padaku.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Ayahku memang terbaik! Ayahku memberiku kesempatan menghandle proyek kerjasama ini. Otomatis aku dan Erika akan sering bertemu dan bersama. Yes! Rasanya kalau aku tidak malu, aku ingin melompat-lompat kegirangan. Ini kesempatan untukku PDKT padanya.
__ADS_1
"Baik, Pak. Terimakasih," jawab Erika.
Penandatanganan kerjasama pun dilakukan. Kami berjabat tangan. Sekretaris Ayah dan sekretaris Erika mengabadikan kami yang sedang berjabat tangan dengan CEO Edkatama Group dengan kamera ponsel mereka.
"Terimakasih Pak, atas kepercayaannya dan kerjasama yang akan dilalukan," kata Erika.
"Kalau pada Rey, kamu boleh memanggilnya, Mas. Dia itu masih single lho!" kata Ayahku berpromosi tiba-tiba, membuat kami semua tertawa mendengarnya. Erika hanya tersenyum malu. Ayahku ada-ada saja! Tahu saja isi hatiku kalau aku tertarik pada CEO cantik itu.
"Tepat diusia Reyhan ke 28 tahun nanti, Saya akan menyerahkan perusahaan padanya. Saya ingin menikmati hari tua dengan tenang," kata Ayah sambil berjalan. Kami keluar ruangan meeting bersama-sama.
"Undang kami ya Pak, kalau pelantikan Pak Reyhan," Astin tersenyum meledek pada Erika. Erika tampak mendelik pada Astin. Astin terkekeh diam-diam. Aku juga jadi ikut tertawa tanpa suara.
"Pasti. Kami juga akan mengundang Papamu. Oh ya nak Erika, salam ya buat Papamu. Besok malam aku mengundang kalian makan malam di rumahku, bagaimana, bisa?" tanya Ayah.
"Insya Allah, Pak. Nanti akan saya tanyakan dulu pada Papa takutnya Papa ada acara lain," jawab Erika.
"Oke. Nanti kalau bisa, kamu kirim pesan saja pada Reyhan ya. Kamu sudah punya nomornya belum?" Ayah, Ayah .... bisa saja modusnya.
"Belum, Pak," jawab Erika.
"Rey, kasih tahu nomormu!" kata Ayah. Aku dan Erika pun bertukar nomor. Akhirnya, berkat Ayahku, aku punya nomor ponsel Erika!
Semakin terbukalah jalanku untuk dekat dengan gadis yang selama ini kurindukan. Aku berharap, semoga dia belum punya kekasih. Semoga kami berjodoh.
Reyhan POV Off
__ADS_1
TO BE CONTINUED
Hai readers! Sebentar lagi lebaran, semoga puasanya masih lancar ya. Selalu ikuti cerita novelku sambil ngabuburit ya! Udah baca karyaku yang lain belum? Klik foto profil saya. Pilih judul novelnya. Ada 2 karyaku yang udah tamat. Ceritanya juga enggak panjang. Kurang dari 100 episode/bab. Selamat membaca! Semoga selalu happy!