
Tiba di bandara, mereka langsung menuju ke rumah Alfred dengan menggunakan taksi. Mila sudah mengirim chat pada Mayang tentang kedatangan mereka. Mereka memang berencana menginap di rumah keluarga Alfred. Keluarga Alfred antusias menanti kedatangan mereka.
Malamnya keluarga Clark dan keluarga Keane datang ke rumah Alfred. Mereka makan malam bersama. Erika sangat senang. Ia seperti berada di tengah keluarga besarnya.
Malam itu mereka semua berdo'a bersama untuk Monica. Mereka sangat mencintai Monica. Dan mereka bersyukur masih bisa melihat wajah Monica pada diri Mila. Mereka juga bersyukur .mendapat anggota keluarga baru yaitu keluarga Mila. Mereka seperti mendapat anugrah, membuat kebahagiaan mereka semakin lengkap.
Esoknya, Mila dan Richard pamit pada Alfred untuk perjalanan bulan madu, sekaligus menitipkan. Erika pada keluarga itu. Tentu saja mereka sangat senang karena sudah lama tidak bersama Erika. Erika juga nanti akan menginap di rumah keluarga Keane, keluarga angkatnya.
"Buatkan adik untuk Erika secepatnya!" kata Mayang pada Mila dan Richard.
"Anda jangan khawatir! Kami akan giat membuat adik untuk Erika," jawab Richard yang di respon oleh Mila dengan mencubit perut Richard.
"Aw! Sakit tahu Yang," kata Richard.
Mayang dan Alfred tertawa melihat tingkah dua sejoli itu.
"Bye bye, Mama, Papa! Jangan lupa, kalau menjemput Erika, bawa adik!" kata Erika. Membuat semua orang geleng-geleng kepala sambil tertawa.
"Kamu dengar kan? Erika pikir, membuat adik itu secepat membuat kue,'" kata Richard sambil terkekeh.
Mila hanya tersenyum. Mobilpun melaju menuju ke rumah Karl dan Emma.
Tiba di rumah mereka, ternyata ada mobil ambulan yang terparkir di depan rumah sepasang kakek dan nenek itu. Dengan cemas, Mila berlari masuk ke rumah itu. Ternyata Emma kritis. Penyakit yang dideritanya semakin parah setelah berkali-kali menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Ia mengatakan pada suaminya, bahwa ia baik-baik saja.
"Karl, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Mila setelah memeluk Karl yang tampak kacau.
"Mila, Richard! Syukurlah kalian datang!" Karl membalas pelukan Mila dan Richard.
"Ini salahku! Aku menuruti keinginan Emma. Dia selalu mengatakan baik-baik saja. Padahal seharusnya ia di rawat di rumah sakit," jawab Karl.
"Sudahlah Karl. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kita berdo'a saja semoga Emma lekas sembuh," kata Mila.
Karl ikut dalam mobil ambulan itu. Sedangkan mobil Mila dan Richard mengikuti mobil ambulan itu dari belakang. Setalah tiba di ruang UGD. Mereka bertiga menunggu di luar. Emma sedang mendapat tindakan medis.
"Kalian kapan tiba di London?" tanya Karl
"Kemarin. Kami menginap semalam di rumah keluarga Alfred," jawab Richard.
"Apakah ada sesuatu yang harus di urus di sini, atau ... bulan madu?" tanya Karl lagi.
__ADS_1
Richard dan Mila saling pandang.
"Sebenarnya kami akan berbulan madu. Tapi kami ingin mengunjungi kalian dulu. Kalian sudah kami anggap sebagai keluarga kami. Jadi, mumpung kami di sini, kami berkunjung terlebih dahulu. Setelah ini, kami pun akan mengunjungi keluargaku di St Ives," jawab Richard.
"Oh maafkan kami, telah menganggu rencana kalian. Kalian teruskan saja perjalanan kalian. Semoga Emma baik-baik saja."..
"Tidak, Karl. Kami ingin kepastian dulu keadaan Emma. Baru kami melanjutkan perjalanan kami," jawab Mila.
Setelah beberapa lama, Emma pun keluar. Ia terbaring dalam brankar. Ia didorong oleh para perawat menuju ke ruang perawatan.
"Bagaimana dok kondisi istri saya?" tanya Karl.
"Istri anda sudah melewati masa kritisnya. Sekarang dipindahkan ke ruang perawatan agar nanti mendapat perawatan yang intensif. Kami nanti harus melakukan serangkaian pemeriksaan agar dapat melakukan tindakan penyembuhan secara tepat," kata dokter paruh baya itu.
"Baik dok," jawab Karl.
Setelah Emma di menempati ruang perawatan, Mila pun menyentuh tangan Emma. Emma masih belum siuman.
"Karl, sebenarnya aku mau menemanimu di sini, tapi ...," Mila tak meneruskan kalimatnya.
"Tak apa-apa, Mila. Emma sudah berada dalam pengawasan dokter. Ia kan baik-baik saja. Justru kami akan merasa bersalah jika kami membuat perjalanan kalian terganggu. Nikmatilah waktu kalian," kata Karl.
"Baiklah Karl. Semoga Emma cepat pulih. Kami akan kembali mengunjungi kalian setelah bulan madu kami selesai," kata Richard.
"Karl, kamu juga harus jaga kesehatan ya! Kalau kamu juga sakit, nanti siapa yang merawat Emma? Kamu harus tetap optimis dan semangat! Emma pasti sembuh!" kata Mila
Mila dan Richardpun kemudian pamit pada Karl. Karl melepas kepergian Richard dan Mila dengan perasaan tenang. Kata - kata Mila yang memotivasinya membuat Karl semangat.
Richard dan Mila kemudian bertolak menuju ke St Ives. Ini adalah kunjungan pertama Mila ke keluarga Mamanya Richard. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya, Richard memeluk dan mencium pipi Mila. Richard merasa senang dapat membawa Mila ke kota kelahiran Mamanya.
Setibanya di sana, Richard mengetuk pintu. Richad telah mengabarkan rencana kedatangannya pada Paman Justin sebelumnya. Paman Justin pun membuka pintu. Ia langsung memeluk Richard.
"Ana! Alvin! Lihat siapa yang datang?!" seru Paman Justin.
Tak lama, Bibi Ana, istri Paman Justin dan Alvin, cucunya keluar.
"Richard! Surprise! Why didn't you tell me you wanted to come?" tanya Bibi Ana.
"Actually Richard already told me, ha ha ha ....!" jawab Paman Justin.
__ADS_1
"Ck. Pamanmu selalu begitu! Bikin kejutan! Aku kan jadi tidak masak yang spesial dan belum menyiapkan kamar untuk kalian!" kata Bibi Ana sambil mencium pipi kanan kiri Richard.
"Tidak usah repot-repot, Bi! Kami akan menginap di hotel," kata Richard.
"Dasar pengantin baru! Kalian bisa menginap di paviliun belakang rumah! Dijamin kalian tidak akan terganggu!" bisik Bibi Ana pada Richard dan Mila. Richard mengacungkan jempolnya sambil mengedipkan matanya pada Bibi Ana, membuat Bibi Ana geleng-geleng kepala. Sedangkan Mila memukul manja pada bahu suaminya.
"Richard, I miss you!" sapa Alvin sambil bergelayut pada lengan Richard.
"I miss you too, boy!" jawab Richard sambil mengusap kepala bocah laki-laki keponakannya itu.
"Ayo Mila, masuk!" Ana dan Paman Justin mencium pipi kanan kiri Mila.
Mereka diajak ke ruang makan. Richard dan Mila disuguhi jus strowberi dan kue muffin. Mereka pun berbincang tentang segala hal dengan paman Justin. Sedangkan Bibi Ana dan Alvin menyiapkan paviliun untuk Richard dan Mila menginap.
Udara yang dingin dan berkabut di St. Ives sangat mendukung untuk pasangan pengantin baru yang sedang memadu kasih. Selepas makan malam, Richard dan Mila menempati paviliun yang disiapkan Bibi Ana.
Suasana paviliun yang mirip hotel, menambah syahdu pasangan itu. Kamar tidur dibiarkan temaram dengan pencahayaan hanya dari lampu tidur.
Richard merebahkan tubuhnya di ranjang sambil.menatap Mila yang sedang menggunakan skincare ke wajahnya. Tak lupa, Mila meminum obat-obatan imunosupresif. Kadang Mila merasa bosan harus meminum obat itu seumur hidupnya. Tapi apa mau dikata, itu semua demi menjaga agar transplantasi wajahnya tidak bermasalah.
Richard bangkit dari rebahannya. Ia mengerti kegundahan Mila.
"Sabarlah, sayang. Tak apa. Anggap saja obat itu seperti makanan bagi tubuhmu. Tubuh memerlukan makanan untuk keberlangsungan hidup. Begitu juga wajahmu. Wajahmu perlu obat itu agar wajahmu selalu sehat dan tidak mengganggu ke jaringan yang lain di tubuhmu," hibur Richard sambil memeluk Mila.
"Terimakasih My hubby, sudah mau menjadi teman hidupku. Teman berbagi suka dan duka. Mau menerima segala kekurangan dan kelebihanku," kata Mila sambil menyandarkan punggungnya pada dada bidang Richard.
Richard menghirup aroma khas shampo pada rambut Mila. Ia mulai memc*umi leher Mila.
"Sama-sama sayang. Aku juga mengucapkan terimakasih, kamu mau menjadi istriku. Istri seorang laki-laki yang aneh menurut orang. Karena aku itu seorang yang pendiam dan penyendiri. Hidupku penuh trauma masa kecil," kata Richard.
"Pendiam? Tidak juga! Kamu tidak mau diam kalau sedang bersamaku!" Mila mencebik.
"Tentu saja! Karena kamu itu menggemaskan! Aku mau menerkam kamu sekarang!" kata Richard sambil tersenyum smirk. Richard langsung menggendong Mila ala gendong karung beras 😁😁😁 ( tubuh Mila diletakkan telungkup pada bahu Richard). Kemudian Richard menghempaskan Mila dengan pelan ke ranjang.
"Bersiaplah kita begadang sampai pagi, sayang!" kata Richard.
"No! Kita kan besok mau jalan-jalan ke pantai!" protes Mila. Tapi percuma. Richard tidak mau dengar. Mila hanya pasrah menuruti kemauan suaminya yang sedang giat mencoba berbagai gaya.
Baru permulaan saja Mila sudah ngeri-ngeri sedap. Bagaimana perjalanan bukan madu mereka nanti ya?
__ADS_1
TO BE CONTINUED
Maaf ya readers, baru bisa up. Jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian ya!