
Mulai Bab ini alurnya akan dibuat lambat. Jangan bilang bertele-tele. Soalnya kalau balas dendamnya dituntaskan sekaligus, cepat tamat dong. Sedangkan Bab nya baru nyampe 37. Author mau tanya nih soalnya galau. Untuk cerita menjelang akhir novel ini nanti enaknya Mila tetap jadi Monica atau Mila mengganti identitas Monica menjadi Mila lagi dengan mengurus surat-surat identitas Mila lagi karena wajahnya ganti.? Tapi itu nanti lho kalau mau tamat. Masih lama. Cuma akan direncanakan dari sekarang ini supaya nyambung.
Sejak kejadian di diskotik itu, Ronald menyuruh Susy untuk pisah kamar. Susy tidak diperbolehkan masuk ke kamar Ronald. Akhirnya Susy pindah kamar di kamar lain.
Susy sudah memohon-mohon agar tidak di ceraikan, demi Ricky, katanya. Kasihan kalau Ricky harus jadi korban karena permasalahan kedua orangtuanya. Padahal Ronald tahu, selama ini Susy kurang peduli dengan Ricky. Ricky lebih banyak diasuh oleh baby sitternya. Sedangkan Susy banyak menghabiskan waktu diluar rumah dengan teman-temannya.
"Pa-pa! Pa-pa!" Ricky, anak Ronald dan Susy yang sudah berusia 2,5 tahun berjalan menghampiri Ronald. Baby sitternya membiarkan Ricky menghampiri Papanya.
Ricky! Melihat anak itu membuat Ronald harus mempertimbangkan masak-masak kalau harus bercerai dengan Susy. Kejadian yang dilakukan dua wanita dalam hidupnya ( Mama dan Susy) membuat pikiran Ronald melayang ke masa dulu saat ia mempunyai wanita yang baik-baik tapi diperlakukan kejam olehnya dan keluarganya. Mungkin ini karma untuknya.
Ronald mengangkat Ricky ke pangkuannya. Di ciuminya anak yang terlihat menggemaskan itu. Ronald teringat, sudah cukup lama ia tak menyempatkan waktu untuk bermain-main dengan Ricky.
"Ricky, besok kita ke mall ya. Kita bermain di arena bermain di mall! Ricky mau?" tanya Ronald.
"Iki mau, Iki mau!" jawab anak itu dengan lucunya.
Dan keesokan harinya, ketika Ronald dan Dicky bersiap, Susy ikut memasukkan keperluan Ricky. Susy juga memasukkan tasnya ke mobil.
"Kamu mau apa?" Ronald menghentikan Susy yang akan duduk di depan bersama Ronald.
'Lho, aku juga ikut! Aku kan Mamanya! Kita ini keluarga, jadi kita harus menghabiskan waktu untuk anak kita, supaya hatinya senang, kedua orangtuanya menyayanginya," jawab Susy.
"Oh ya? Lalu kemarin-kemarin kamu kemana? Kamu lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temanmu dibandingkan dengan Ricky?" Ronald menatap Susy tajam.
Susy menangis terisak. Sandiwaranya harus meyakinkan.
"Maaf. Aku khilaf. Aku sadar sekarang. Aku sudah punya suami dan anak. Prioritasku sekarang adalah Mas dan Ricky," jawab Susy memelas.
Ronald hanya berdecak. Ia terpaksa membiarkan Susy ikut bersamanya sekarang. Ricky oleh baby sitter di berikan pada Susy. Ricky duduk dipangkuan Susy. Anak itu terlihat gembira karena akan pergi dengan kedua orangtuanya.
"Mallnya yang di jalan AAA ya Mas. Disana permainannya lengkap," kata Susy. Ronald hanya diam saja. Tapi saran dari Susy ia turuti karena ia tidak terlalu tahu tentang arena bermain di mall yang lengkap dan bagus.
Mereka pun menghabiskan waktu di hari minggu itu di arena bermain di mall AAA. Pengunjung tampak ramai dengan sebagian besar adalah keluarga yang mempunyai anak balita. Ronald dan Susy mendampingi Ricky naik kereta-keretaan, mancing-mancingan, dan permainan - permainan lainnya.
Setelah lelah bermain, merekapun pergi makan ke restoran siap saji. Ketika tengah asyik menikmati makanannya, Ronald dikejutkan oleh kemunculan Monica di restoran itu. Ronald berusaha menyembunyikan wajahnya dengan pindah duduk dengah posisi membelakangi. Tapi terlambat, Monica sudah melihatnya.
Monica malah menghampirinya.
"Hallo, Mas Ronald ada di sini juga? Ini siapa, Mas?" tanya Monica alias Mila yang pura-pura tidak tahu.
"Kamu siapa?" Susy curiga.
"Saya ....,"
"Dia Monica. Temanku dari London," jawab Ronald cepat.
Monica terdiam sambil memandang Ronald.
"Oh, kenalkan, saya istri Mas Ronald, dan ini Ricky, anak kami," jawab Susy.
"Oh ini istri Mas Ronald ...," kata Monica.
Ronald tampak salah tingkah. Ia seperti kebingungan menghadapi situasi tersebut.
"Oke, selamat makan. Saya juga akan memesan makanan untuk di bawa ke butik. Ajaklah istri mas Ronald melihat-lihat butik saya. Siapa tahu ada yang cocok," kata Monica, "Ini kartu nama saya, Mbak Susy. Mungkin anda nanti mau melihat-lihat butik saya. Saya mau pesan makanan ke sana dulu ya."
Ronald tersenyum sambil mengangguk. Sedangkan Susy hanya diam saja walau menerima kartu nama Monica. Wajah Susy cemberut. Monica berlalu menuju kasir.
'*Sial! Aku lupa, kalau Monica butiknya ada di mall ini*!' gumam Ronald dalam hati.
__ADS_1
Ronald terus memandang Monica hingga Monica keluar dari restoran itu sambil menjinjing paperbag berisi makanan restoran itu.
"Cantik ya? Kamu sampai tidak berkedip ngelihat dia," kata Susy sinis.
Ronald hanya melengos.
"Noda lipstik di jas kamu waktu kau tidak pulang ke rumah, semoga bukan dari lipstik dia," kata Susy lagi.
"Kamu bicara apa sih? Mengada-ada saja!" gerutu Ronald.
"Sudah sore, cepat selesaikan makannya! Kita harus cepat pulang! Kasihan Papa, hari ini aku belum menjenguknya ke rumah sakit!" kata Ronald.
"Aku mau mampir ke butik Monica dulu. Aku ingin tahu seperti apa baju-baju di sana," pinta Susy.
"Lain kali saja! Ini sudah sore!" bentak Ronald.
'*Dia sudah berani membentakku, gara-gara wanita itu*!' kata Susy dalam hati. Karena memang selama ini Ronald tak pernah sekalipun membentaknya.
"Ya sudah! Kamu pulang duluan saja sama Ricky! Biar aku nanti pulang naik taksi!" Susy merasa jengkel.
"Kamu ini istri pembangkang! Aku salah memilihmu!" kata Ronald pelan tepat ditelinga Susy.
Susy semakin marah.
"Oh salah ya? Lalu apa istri bodohmu dulu yang lebih baik?! Kamu bahkan sudah mencampakkan dia! Itu artinya dia lebih buruk dariku!"
Orang-orang disekitar mereka mulai terganggu. Orang-orang itu melihat ke arah dua orang yang sedang berseteru.
"Jangan menguji kesabaranku! Ayo cepat pulang!" hardik Ronald tak mengindahkan kata-kata Susy. Ricky dengan cepat digendong Ronald sambil melangkahkan kaki meninggalkan Susy yang masih duduk. Ricky menangis melihat kedua orangtuanya berbicara keras.
"Hei, kamu mau kemana?" teriak Ronald ketika menoleh, ternyata Susy sudah naik eskalator menuju ke lantai 2 mall itu.
Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena Susy suka bertindak nekat, Ronald pun mengikuti Susy. Dan ternyata Susy menuju butik Monica yang ada di lantai 2.
Susy memasuki butik Monica dengan angkuh. Susy memilih-milih pakaian yang digantung di etalase.
"Selamat datang Nyonya. Silahkan memilih-milih koleksi terbaru kami," kata karyawan butik.
"Mana Monica? Aku ingin dia yang melayaniku," kata Susy dengan angkuhnya.
"Oh sebentar, saya panggil dulu," kata Karyawan itu sopan. Karyawan itupun memanggil atasannya.
Monica keluar dari ruangannya. Ia cukup terkejut melihat istri Ronald yang langsung mampir ke butiknya.
"Oh Mbak Susy. Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kurasa koleksi di sini jelek-jelek! Aku pernah ke London. Pakaian di sana bagus-bagus. Kenapa di sini jelek-jelek?!" sinis Susy.
"Susy! Sopanlah sedikit!" hardik Ronald yang baru tiba di depan butik. Suara Susy yang cukup keras, terdengar olehnya.
"Tidak apa-apa Mas Ronald," kata Monica.
"Ayo, cepat pulang!" Ronald menarik tangan Susy dengan kasar.
"Aku mau di sini dulu! Mau lihat-lihat lagi!"
"Maaf Mbak Susy. Hari ini butik saya mau tutup lebih awal," kata Monica.
__ADS_1
Susy mendengus kesal. Kemudian Susy keluar butik mendahului Ronald.
"Monica. Maafkan ....," Ronald berbicara pada Monica.
"Sttt ...., sudahlah, Mas. Tak apa-apa," Monica balik badan, berlalu dari hadapan Ronald.
"Nanti kutelepon!" kata Ronald.
Ricky yang digendong Ronald rewel. Ronald berusaha menenangkannya. Tapi Susy sudah tak terlihat. Ronald berdecak kesal.
"Ck. Dia ibu yang tidak bertanggungjawab! Aku heran, bagaimana aku dulu bisa tergila-gila padanya. Dia egois sekali!"
Ronald membujuk Ricky dengan membelikan mainan. Ricky pun kembali tenang. Ketika tiba di tempat parkir, ternyata Susy sudah menunggu di dekat mobil.
"Lama sekali! Capek nunggu!" keluh Susy.
"Kamu seenaknya saja pergi! Ricky rewel! Aku harus membuatnya tenang dulu!" sungut Ronald sambil memberikan Ricky pada Susy.
Ketika Ronald baru saja duduk dibelakang kemudi, ia melihat Monica sedang berbicara dengan seseorang. Tampaknya mobil Monica sedang bermasalah.
Ronaldpun turun dan menghampiri Monica.
"Mobil kamu kenapa?" tanya Ronald.
"Enggak tahu nih, mobilku tiba-tiba tidak bisa di starter. Sudah di coba dicek oleh bapak ini, tetap tidak bisa," jawab Monica.
Ronaldpun memeriksa bagian mesin depan mobil Monica. Kemudian menstarter mobil itu. Ternyata memang tidak bisa nyala.
"Ya, sudah, ikut mobilku saja," kata Ronald.
"Enggak ah. Mau naik taksi saja!"
"Ayolah! Ini sudah menjelang malam! Ayo ikut!" Ronald menarik tangan Monica. Monica terpaksa mengikuti Ronald setelah mengucapkan terimakasih pada seorang laki-laki paruh baya yang mencoba membantunya.
Ronald membukakan pintu mobil di bagian tengah.
"Monica ikut mobil kita! Mobilnya mogok!" kata Ronald pada Susy.
"Kok bisa?" Susy menampakkan ketidaksukaannya.
Monica masuk ke mobil dengan dipaksa Ronald. Monica tersenyum pada Susy.
"Maaf, telah merepotkan kalian," kata Monica merasa tidak enak.
"Memang!" jawab Susy.
"Dia ikut mobilku karena aku yang memintanya!" Ronald menatap tajam pada Susy. Susy cuma mendengus kesal.
Mobilpun dinyalakan dan melaju ke jalanan. Hujan pun tiba-tiba turun dengan derasnya.
"Lho, Mas? Kok ini bukan jalan ke rumahku?" Monica merasa heran.
"Hujannya sangat deras. Hari juga sudah gelap. Aku juga tidak jadi ke rumah sakit. Besok pagi saja. Lebih baik kamu menginap di rumahku saja, Monica!" kata Ronald.
"Apa????!!!" Susy terkejut. Monica juga terkejut.
TO BE CONTINUED
Maaf ya Readersku! Emak-emak kalau hari libur bukannya enjoy menikmati libur. Malah pekerjaan rumah tangga tambah banyak! So seharian berjibaku dengan pekerjaan rumah tangga, jadi hanya bisa ngetik sedikit-sedikit, dan baru bisa up tengah malam. Maaf ya!
Tetap berikan vote, like, komen dan hadiahmu ya! Klik Favorit juga ya! Love you all! Terimakasih!
__ADS_1