KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 107. HARI BAHAGIA ERIKA DAN REYHAN


__ADS_3

Hari bahagia itu datang. Ya, hari itu adalah acara akad nikah dan resepsi pernikahan Erika dan Reyhan. Semua orang berbahagia menyaksikan kedua mempelai yang tampak serasi duduk di pelaminan.


Hanya Andra saja yang bersedih melihat kedua mempelai itu bersanding menghadap Pak Penghulu. Setelah acara akad nikah itu, Andra memutuskan untuk pulang saja. Ia tak kuasa menahan kesedihannya. Erika telah jadi milik Reyhan.


"Selamat menempuh hidup baru Erika! Semoga kalian berbahagia selamanya," gumam Andra sambil menatap kedua mempelai itu. Ia segara pergi dari gedung acara resepsi itu tanpa ingin menemui Erika


Andra mengemas barang-barangnya setibanya di rumah orangtua Karin. Karin yang baru masuk ke kamar heran melihat suaminya sedang berkemas.


"Kamu mau kemana?" tanya Karin.


"Aku mau keluar dari rumah ini. Aku sudah mengontrak rumah. Terserah padamu, mau ikut atau tidak, aku akan tetap pergi dari rumah ini," jawab Andra.


Karin yang sedang hamil muda membelalakkan matanya. Ia merasa khawatir di usia kehamilannya yang masih rentan, tidak ada sosok suami yang menjaganya dan memenuhi segala keinginan ngidamnya yang kadang aneh-aneh


"Kenapa harus pergi dari sini sih, Mas? Kita terjamin disini," kata Karin merajuk. Sejak hamil, ia memang jadi manja pada Andra


"Kita harus hidup mandiri. Aku tak mau hidup dibawah kendali mertua. Aku kepala keluargaku. Aku berhak menentukan hidup keluargaku. Kalau kau keberatan, terserah padamu. Aku akan tetap pergi," kata Andra tak perduli kalau Karin masih .akan tinggal di sana.


"Jangan tinggalin Karin, Mas! Maaf kalau orangtuaku membuat Mas tidak nyaman. Aku ikut deh kemanapun Mas pergi," Karin memeluk Andra dari belakang. Entah mengapa kehamilan membuatnya tidak bisa jauh-jauh dari Andra. Karin jadi nurut pada Andra, tidak suka membantah lagi. Sepertinya Karin mulai mencintai Andra.


"Kalau begitu, ayo berkemas, istriku," Andra membalikkan badan sambil tersenyum. Ia mengecup kening Karin. Ia bahagia, Karin mau ikut dengannya. Keduanya sudah menerima takdir pernikahan mereka.


Sementara itu, acara resepsi pernikahan Erika dan Reyhan berlangsung meriah. Reyhan memakai tuxedo, sedangkan Erika memakai gaun pengantin ala Eropa. Ini adalah pakaian pengantin yang ke sekian kalinya, setelah Erika tadi pagi dan siang memakai kebaya modern.


Acara resepsi itu dihibur oleh penyanyi-penyanyi ibukota. Semua tamu undangan larut dalam alunan lagu yang dilantunkan penyanyi-penyanyi itu.


"My hubby. Tidak terasa ya, aku sudah punya menantu. Aku masih ingat, bagaimana Erika dibesarkan dulu. Penuh suka dan duka. Dan kamu menguatkan aku untuk bersama menjalani kehidupan ini. Terimakasih sudah bersama-sama merawat Erika hingga ia dewasa.," kata Mila pada Richard.


Konsep acara pernikahan pada malam itu beramah tamah dengan tamu undangan, membuat kedua mempelai berbaur dengan tamu. termasuk kedua orangtua mempelai. Suasanapun menjadi akrab dan hangat. Sudah dari siang kedua mempelai itu hanya duduk di pelaminan menerima ucapan dari para tamu undangan. Kini mereka lebih bebas untuk beramah tamah dengan para tamu.


Mempelai dan keluarga mempelai menyapa semua tamu undangan dan sesekali mengobrol dengan mereka.


"Hei, kalian mojok saja! Lihat anak-anak kita! Sepertinya kita akan menjadi besan!" Arga menghampiri Mila dan Richard yang sedang bermesraan di pojok ruangan.


Mila dan Richard pun melihat arah yang ditunjuk Arga. Tampak oleh mereka Axcel sedang berbicara dengan seorang gadis cantik anak Arga.


"Wah. Aku senang kalau kita akan berbesan. Aku sebagai orangtua hanya mendukung niat anak-anak," kata Richard, "Tapi tunggu hingga Axcel menyelesaikan pendidikannya ya. Dia juga harus meneruskan usahaku."


"Tentu saja, Tuan Richard. Anakku juga harus menyelesaikan pendidikannya dulu. Kita harus bersabar, ha ha ha...," Arga tertawa yang di sambut oleh tertawa Richard dan Mila.


"Mas, aku cari-cari ternyata kamu ada disini," Gisel menghampiri suaminya, Mila dan Richard.

__ADS_1


"Kamu lama ke toiletnya. Jadi aku ke sini menemui mereka," jawab Arga.


"Ayo kita duduk disana sambil menikmati hidangan," ajak Mila. Merekapun beranjak menuju hidangan ringan yang tersedia di meja parasmanan. Setelah mengambilnya, merekapun mengobrol sambil duduk di kursi yang tersedia.


Disudut lain, Tika dan Ronald sedang menikmati lontong sayur kare ayam


"Bang, setelah ini aku mau siomay ya Bang," kata Tika.


"Iya, sayang. Habiskan dulu makanan yang ini. Tenang saja, makanan masih banyak. Tidak akan kehabisan," kata Ronald sambil tersenyum. Ia merasa lucu, istrinya kini nafsu makannya sangat besar. Berat badan Tikapun bertambah.


"Abang jangan tertawa ya. Ini kemauan jabang bayi. Tika juga sebenarnya tidak mau kalau jadi gemuk dan kelihatan jelek," kata Tika merajuk.


"Iya, sayang. Abang maklum. Anak Abang yang di dalam sini supaya tumbuh sehat. Istriku tetap cantik kok walau sedang hamil," jawab Ronald.


"Ah, pasti Abang bohong! Tika jadi jelek kan, gendut begini?"


Cup!


Sebuah kecupan di bibir Tika membuat Tika terkejut


"Abang tetap cinta, bagaimanapun keadaan Tika. Abang justru makin sayang karena Tika sedang mengandung anak Abang,"


"Beneran Bang?" Tika seperti anak kecil yang meminta kepastian pujian dari orang lain.


Tika tersipu.


"Enggak usah, Bang! Tika malu tahu kalau orang-orang pada melihat. Tika percaya deh!" seulas senyum tersungging dari bibir Tika. Ia menyentuh tangan Ronald.


"Bang, terimakasih ya, sudah menjadi suami yang baik untuk Tika. Segala trauma Tika dengan suami-suami Tika yang dulu jadi terhapus karena Abang," Tika berkata dengan lirih.


"Terimakasih juga, karena Tika sudah mau jadi istri Abang. Abang sudah tidak muda lagi. Tapi Tika mau menerima Abang dengan segala masa lalu Abang. Juga mau menerima Erika," Ronald menatap Tika sambil balas menggenggam tangan Tika.


"Pengantinnya serasi banget ya Bang? Andaikan saja dari dulu kita berjumpa, tentu kita akan bersanding dipelaminan seperti Erika dan Reyhan."


"Memangnya Tika mau duduk di pelaminan seperti mereka?"


"Enggak ah Bang! Tika kan cuma bilang seandainya," Tika mencoba meyakinkan Ronald. Tapi Ronald sudah terlanjur merasa kasihan. Sorot mata Tika menyiratkan keinginan yang terpendam. Pernikahan mereka waktu itu memang tidak menggunakan pelaminan karena status mereka yang sudah duda dan janda.


"Ya sudah, ayo kita naik ke pelaminan!" ajak Ronald.


"Ngapain, Bang? Pengantinnya juga sedang ada di bawah dengan para tamu," Tika merasa heran.

__ADS_1


"Ayo, pokoknya kita ke sana!" Ronald menarik pelan tangan Tika agar mengikutinya.


Setalah berada dipelaminan, Ronald mengajak Tika duduk di pelaminan. Tak lupa ia memanggil juru foto untuk memotret mereka. Ronaldpun meraih microfon.


"Maaf, para hadirin semuanya. Istri saya sedang hamil. Saya ingin memenuhi ngidamnya istri saya. Nak Erika dan Reyhan, ijinkan Papa dan Mama bersanding di pelaminan ini supaya Mama kalian senang. Kalian tidak ingin kan adik kalian ileran nanti?"


Perkataan Ronald sontak saja membuat para tamu undangan melihat pada Ronald dan Tika. Mereka tersenyum dan bertepuk tangan riuh.


Sang Juru foto segera mengabadikan momen itu. Juru foto memotret Ronald dan Tika yang duduk di pelaminan.. Mereka juga diarahkan beberapa pose foto.


Keluarga Richard, keluarga Arga dan keluarga Gerypun naik ke pelaminan menghampiri mereka.


"Foto kalian belum lengkap tanpa foto bersama dengan kami," kata Gery.


"Kalian harus tahu kompensasi kalian duduk di situ. Kalian harus foto-foto bersama keluarga besar," Richard ikut berbicara.


"Oke, siapa takut? Ayo kita berfoto!" jawab Ronald tersenyum lebar.


Mereka semua bersiap-siap berpose untuk berfoto bersama.


"Tunggu! Kalian melupakan kami! Padahal pelaminan itu milik kami! Papa harus menyewa pada kami!" teriak Reyhan yang menggandeng lengan Erika.


"Ha ha ha! Ayo, ayo, ke sini nak! Pengantin yang sesungguhnya sampai terlupakan! Cepatlah ke sini nak!" Ronald menyuruh mereka naik ke pelaminan.


Setelah siap, merekapun foto bersama seperti sebuah keluarga besar. Hari itu bukan hanya sekedar foto, tapi di hati mereka timbul kebahagiaan menjadi sebuah keluarga besar. Bukan hanya hubungan sedarah yang hanya bisa membuat saling berkait. Tapi hubungan yang dilandasi kasih sayang diantara mereka membuat hubungan mereka menjadi satu keluarga.


Segala permasalahan mereka di masa lalu sudah melebur berganti dengan kebahagiaan mereka menjadi keluarga besar.


Arga dan Mila yang tidak mempunyai keluarga merasa senang mempunyai saudara yang dapat saling membantu dan menguatkan mereka. Richard yang dari kecil merasa sendiri kini merasa senang ia dapat merasakan punya keluarga yang banyak. Gery yang sudah sejak lama kehilangan kakak kandungnya merasa senang karena kini punya saudara untuk berbagi suka dan duka.


"Cheers untuk keluarga besar kita!" Ronald memberi aba-aba.


"Cheers!" teriak semua.


Cekrek!


Sang juru fotopun memotret keluarga besar yang bahagia itu.


THE END


Terimakasih kepada para Readers setiaku yang sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan selama saya membuat novel ini. Juga para Readers yang harus menunggu lama othor up karena kesibukan Othor yang semakin bertambah.

__ADS_1


Mungkin Othor akan Hiatus dulu karena akan fokus ke pekerjaan Othor yang membutuhkan Othor untuk fokus. Nanti kapan-kapan kalau Othor sudah tidak terlalu sibuk, mungkin akan membuat karya baru. Nanti akan ada pemberitahuan di sini. Semoga kita semua diberi umur yang panjang dan kesehatan sehingga bisa bersilaturahmi lagi di karya baru Othor nanti


Terimakasih kepada platform Noveltoon yang sudah memfasilitasi othor menjadi penulis disini. Saya lebih senang menulis di Noveltoon karena bisa berinteraksi dengan pembaca. Platformnya pun mudah untuk bolak-balik melihat karya saya dan komentar pembaca. Sampai jumpa lagi di masa mendatang! Love you all!


__ADS_2