
Erika dan Reyhan berangkat ke London untuk memperkenalkan Reyhan pada keluarga Mamanya Erika. Juga sekalian melaksanakan tugas kantor untuk melakukan pertemuan-pertemuan bisnis. Dan Erika mengatakan pada Ronald bahwa Erika akan satu minggu berada di Inggris.
Suatu siang setelah keberangkatan Erika, Ronald tampak sedang duduk termangu di teras rumah. Baru beberapa jam saja ditinggalkan Erika, Ronald merasa kesepian. Padahal kalaupun Erika ada bersamanya, di jam-jam kantor seperti ini Erika berada di kantor dan pulangnya sore. Tapi entah mengapa, kini serasa lain. Ronald merasa sepi. Ronald jadi berpikir, apalagi nanti kalau Erika berumahtangga, tentu ia akan merasa lebih kesepian lagi dan sendirian.
Lamunannya buyar ketika Tika menghampirinya dan mengagetkannya.
"Pak, Pak! bisa minta tolong enggak Pak?"
"Ya, ya, ada apa?" Ronald tergagap karena tadi Ronald sedang melamun.
"Bapak melamun ya?" Tika tersenyum
"Ah. Enggak.," Ronald tersenyum malu.
"Sepi ya Pak, Erika pergi," kata Tika. Tika duduk di kursi di sisi Ronald.
"Ya, begitulah. Tadi kamu tanya apa?" Ronald mengalihkan topik pembicaraan.
"Bisa minta tolong enggak Pak?" tanya Tika.
"Minta tolong apa?"
"Aku mau belanja bahan-bahan bikin bolu. Tapi kuotaku habis, jadi enggak bisa pesan *jol. Bapak bisa antar aku enggak ke toko yang menjual bahan-bahan bolu di kelurahan sebelah?"
"Bisa. Kebetulan Bapak juga sedang enggak ada kegiatan," jawab Ronald. Ronaldpun masuk ke rumah untuk mengambil kunci motornya.
Setelah Ronald mengunci pintu rumah, Ronaldpun mengajak Tika naik motornya. Kebetulan tadi motor Ronald sudah ada di halaman rumah. Tadinya Ronald berniat jalan-jalan untuk menghilangkan rasa suntuknya karena kepergian Erika.
Ketika motor melaju dengan perlahan, Tika melingkarkan tangannya di perut Ronald. Ronald melihat ke tangan Tika yang melingkar di perutnya. Ronald tidak bisa berkata apa-apa. Ingin melarang, takut Tika tersinggung. Kalau dibiarkan, nanti orang-orang yang melihatnya akan berpikir macam-macam. Akhirnya Ronald memilih membiarkan saja.
Sepanjang perjalanan mereka berbincang-bincang ringan. Apa saja menjadi topik pembicaraan bagi Tika. Tika memang pandai mencari topik pembicaraan sehingga lawan bicaranya tidak kehabisan pembicaraan.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit, merekapun sampai. Tikapun berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkannya untuk membuat bolu. Toko terlihat ramai oleh pembeli. Ronald menunggu dengan sabar Tika yang sedang belanja.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkannya, Tikapun mengajak pulang Ronald.
"Wah, kok tiba-tiba mendung. Mau hujan nih! Mana enggak bawa jas hujan," kata Ronald.
Angin pun bertiup kencang. Titik-titik air hujan mulai turun. Padahal perjalanan masih sekitar 15 menit lagi. Makin lama hujan makin besar. Akhirnya terpaksa Ronald harus menepikan motornya untuk mencari tempat berteduh yang sedikit nyaman. Untung ada sebuah gubuk. Sepertinya warung yang tidak gunakan lagi. Mungkin karena sepi pembeli, gubuk itu ditinggalkan begitu saja.
Setelah mengunci stang motornya di teras gubuk itu, Ronald mengajak Tika masuk ke dalam gubuk itu. Hujan yang semakin besar membuat pakaian mereka sedikit basah. Tika menyeka kedua tangannya yang basah terkena air hujan.
"Duduk di sini, Tika. Di sini lumayan jauh dari cipratan air hujan," kata Ronald.
Kebetulan ada tikar usang yang dapat dijadikan alas untuk mereka duduk. Tika pun duduk di samping Ronald. Makin lama hujan angin pun bertambah besar. Suara Guntur pun menggelegar. Tak sengaja Tika memeluk bahu Ronald karena terkejut suara guntur.
"Maaf," Tika menunduk karena malu ketika Ronald menatapnya. Ia beringsut menggeser tubuhnya untuk menjaga jarak. Angin yang kencang yang menembus bilik bambu gubuk itu membuat Tika menggigil kedinginan.
Ronald yang tidak tega melihat Tika menggigil, menarik tubuh Tika agar mendekat padanya. Sebenarnya iapun kedinginan. Mereka tidak membawa jaket atau apapun yang dapat menghangatkan tubuh mereka.
"Sini mendekatlah, biar tubuhmu hangat," kata Ronald. Tika tampak ragu-ragu.
__ADS_1
"Sini, tidak apa-apa. Kamu kedinginan. Aku akan menghangatkanmu," kata Ronald sekali lagi.
Karena Tika sudah tak tahan dinginnya udara di dalam gubuk itu, Tikapun mendekat pada Ronald. Ronald membawa Tika duduk didepan, membelakangi Ronald. Kemudian Ronald memeluk tubuh Tika dari belakang. Seketika Tika merasa tubuhnya hangat. Tapi dekapan Ronald membuatnya sedikit kikuk. Apalagi hembusan nafas Ronald yang terasa di lehernya, membuat bulu romanya meremang.
Sentuhan kulit dan tubuh mereka yang menempel membuat ada sesuatu yang bergejolak dari dalam diri mereka. Ronald mengeratkan pelukannya. Tika menyandarkan kepalanya sehingga pipi mereka saling beradu. Hal itu membuat Tika menoleh, Ronaldpun melihat ke wajah Tika. Kedekatan mereka membuat mereka tanpa disadari telah membangkitkan g*irah diantara mereka. Perlahan, Ronald m*magut bibir merona Tika. Tika menyambutnya dengan sukacita. Cukup lama keduanya larut dalam c*uman yang memabukkan.
Tika memekik tertahan ketika tangan Ronald merayap meremas bukit kembarnya. Tika menjadi semakin berg*irah.
"Pak ...," lirih Tika.
"Panggil aku Abang ....," kata Ronald di telinga Tika sambil menggigit pelan telinga Tika.
"Mmmh ... Abang ...," desah Tika.
"Sekarang hangat kan Tika?" bisik Ronald.
"I-iya," Tika hanya bisa menjawab singkat karena bibir Ronald sudah ******* lagi bibir Tika.
Setelah nafas keduanya terasa tersengal-sengal, dan hujan di luarpun sudah reda, Ronald melonggarkan pelukannya. Ronald bersandar pada dinding bilik. Tika pun bangkit dan duduk di sebelah Ronald lagi dengan perasaan salah tingkah.
"Hujannya sudah reda. Ayo kita pulang," ajak Ronald
Tika melihat Ronald dengan perasaan kecewa. Ronald sama sekali tak membahas apa yang telah mereka lakukan. Ronald seolah-olah bicara seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Dengan muka cemberut, Tika bangkit dan berjalan keluar gubuk tanpa menghiraukan Ronald. Ketika Ronald akan membantu membawakan belanjaan Tika pun, Tika menolak. Perubahan sikap Tika membuat Ronald mengerti. Rupanya Tika marah.
"Tika, kamu kenapa? Kamu marah?" Ronald pura-pura tak mengerti.
"Abang salah apa?"
"Abang tidak salah! Aku yang salah! Terlalu berharap sama Abang!" ketus Tika.
"Kalau Abang ada salah, Abang minta maaf," kata Ronald sambil berusaha memegang tangan Tika. Tapi Tika menepisnya.
"Sudahlah, cepat kita pulang! Takut hujan lagi!" kata Tika.
Ronaldpun menyelah motornya, kemudian setelah Tika naik dibelakangnya, motorpun melaju. Jok motor yang basah tak dihiraukan mereka. Mereka khawatir bila hujan besar datang lagi. Mereka ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
Tidak ada pembicaraan selama perjalanan pulang. Tika masih marah, sedangkan Ronald merasa bersalah karena telah berbuat diluar kendalinya. Ia tadi begitu terhanyut oleh suasana yang sepi dan dingin. Sungguh, Ronald tak ada niatan untuk mencumbu Tika. Tapi kehangatan yang mereka ciptakan membuat naluri kelaki-lakiannya bangkit.
Ketika telah sampai didepan rumah kontrakan Tika, Tika turun tanpa menoleh atupun mengucapkan terimakasih. Hal itu membuat Ronald tambah merasa tidak enak.
"Tika ...! Tika ....!" panggil Ronald.
Tika terus saja berjalan tanpa menghiraukan panggilan Ronald. Ketika pintu rumah sudah dibukanya, Tika segera masuk dan menutup pintu serta langsung menguncinya.
Ronald mengejarnya. Tapi pintu sudah dikunci. Ronald mengetuk-ngetuk pintu rumah Tika sambil memanggil-manggil Tika. Tapi Tika diam saja di dalam. Membiarkan Ronald capek sendiri dan pergi.
Malamnya sehabis isya, Ronald datang lagi ke rumah Tika. Ronald akan berusaha membujuk Tika lagi untuk membukakan pintu. Ia ingin bicara. Karena Tika tak mau membuat tetangga yang lain terganggu, akhirnya Tika menyerah.
Pintupun dibuka dengan wajah cemberut dan langsung meninggalkan Ronald. Tika langsung pergi ke dapur, karena sedang memasak bolu. Ronald menutup pintu dan ikut masuk ke dapur. Di sana ia melihat Tika sedang duduk menunggu bolunya yang sedang di oven. Perasaannya yang sedang kesal membuat ia hanya membuat dua buah bolu saja. Lebih baik dilanjut besok, pikirnya.
__ADS_1
"Tika ....," Ronald menghampiri Tika.
"Jangan diam saja. Abang enggak tahan kalau kamu diam saja. Tolong jangan marah," Ronald memegang kedua bahu Tika dari belakang.
"Lepaskan! Aku bukan wanita murahan. Yang mau diicumbu-cumbu terus Abang abaikan!" kata Tika ketus sambil menepis tangan Ronald yang menyentuh bahunya.
"Tidak begitu. Abang bukannya tidak menganggapmu. Abang hanya merasa bersalah, telah terbawa suasana. Maafkan Abang. Abang telah berbuat tidak pantas padamu," kata Ronald.
Tika diam saja. Membuat Ronald meneruskan kata-katanya.
"Kamu masih muda. Abang takut membuatmu kecewa. Abang ada perasaan padamu. Tapi Abang sudah tua. Tidak pantas untukmu, karena kamu seumuran Erika, anakku. Perbedaan usia kita sangat jauh," Tika berdiri mendengar perkataan Ronald. Kemudian Tika balik badan dan memeluk Ronald.
"Aku tidak perduli! Aku juga cinta pada Abang! Bagiku, Abang tetap gagah di mataku! Aku tidak malu mencintai Abang!" kata Tika menyandarkan wajahnya pada dada bidang Ronald. Dipeluknya erat tubuh Ronald.
"Abang juga tidak percaya diri kalau menikahimu. Karena dulu Abang sakit. Itunya Abang dulu harus berobat jalan untuk menormalkannya. Tapi sejak Abang dipenjara, Abang tidak meneruskan pengobatan itu. Lagi pula, Abang itu mantan napi, apa kamu mau sama mantan napi?" Ronald ingin jujur dari awal.
Ronaldpun bercerita tentang masa lalunya. Juga tentang penyebab ia dipenjara. Semua Ronald ceritakan agar tidak timbul penyesalan di hati Tika dikemudian hari.
Tapi diluar dugaan, Tika justru menerima semua masa lalu Ronald. Tika bertambah erat memeluk tubuh Ronald.
"Abang bukan orang kaya seperti dulu lagi Tika. Bukan seorang CEO seperti dulu. Cuma punya usaha bengkel kecil untuk mata pencaharian Abang."
"Tika suka Abang yang sekarang. Tika tidak perduli masa lalu Abang. Yang terpenting Abang sayang pada Tika dan bertanggungjawab terhadap keluarga, Tika mau jadi istri Abang," kata Tika.
Ronald merasa senang mendengar penuturan Tika. Tika benar-benar tulus mencintainya. Lagipula Tika itu baik dan sudah akrab dengan Erika. Itu sudah cukup memantapkan niat Ronald untuk memperistri Tika. Ronald ingin membuka lembaran baru hidupnya. Ia tidak mungkin terus mengharapkan Mila. Mila sudah bahagia dengan Richard. Melihat Mila bahagia, membuat dirinya juga ikut bahagia. Dan kini saatnya ia ingin bahagia.
Ronald mengangkat dagu Tika agar mendongkak. Lalu perlahan, Ronald mem*gut bibir Tika. Makin lama c*uman mereka makin panas. Bibir Ronald turun ke leher Tika. Dan ketika Ronald sudah berhasil membuka dua buah kancing baju Tika, dari dalam oven sudah mengeluarkan bau khas bolu tanda bolu telah matang. Tika menghentikan aktivitas Ronald. Dengan sangat terpaksa, Ronald menghentikan aktivitasnya.
Tika mengeluarkan bolu dari dalam loyang. Lalu mematikan kompor. Tika berbalik menatap Ronald.
"Sudah malam. pulanglah!" kata Tika.
Ronald merasa enggan untuk pulang. Ia malah duduk di kursi makan. Tika tersenyum melihat ulah Ronald.
"Sayang ..., pulanglah! Mulai besok, Abang tidak perlu masak. Tika yang akan mengirim makanan untuk Abang makan," kata Tika sambil menyentuh bahu Ronald.
"Tidak usah, Tika. Abang bisa masak sendiri. Dari dulu Abang hidup sendiri sebelum ada Erikapun Abang biasa masak sendiri," jawab Ronald.
"Enggak! Tika akan masakin buat Abang,"
"Nanti kamu repot, Tika. Ya sudah, Tika masakin buat Abang untuk makan malam saja ya. Sekalian antarkan ke rumah," kata Ronald.
"Siap, Bang!"
Begitulah, akhirnya Tika setiap sore mengantarkan makanan untuk makan malam Ronald. Saat itu adalah saat yang ditunggu-tunggu Ronald. Karena begitu Tika masuk ke dapurnya, memasukkan makanan ke dalam tudung saji meja makan, Ronald langsung menarik Tika. Mengungkungnya ke dinding. Mel*mat bibir merekah Tika sampai puas hingga terdengar adzan Maghrib, barulah Tika pulang. Bahkan kadang-kadang, Ronald berhasil mengh*sap bukit kembar Tika seperti bayi.
Tika dan Ronald sudah merasa saling membutuhkan satu sama lain. Mereka juga sudah merasa nyaman. Tapi hubungan mereka masih dirahasiakan dari orang-orang. Hingga satu minggu sudah berlalu. Erikapun kembali dari Inggris. Otomatis, Tika tidak mengirim makanan untuk Ronald lagi. Mereka menahan diri untuk tidak bertemu. Ronald akan mengatakan pada Erika tentang hubungan Ronald dan Tika di waktu yang tepat.
TO BE CONTINUED
Jangan lupa, tinggalkan jejakmu ya Readers!
__ADS_1