
Mila meletakkan buket bunga di pusara Tuan Edwin. Mila khusuk memanjatkan do'a untuk Tuan Edwin.
"Kakek Edwin, aku datang. Maaf baru bisa ke sini lagi. Bukannya aku melupakan Kakek Edwin. Aku selalu berdo'a untuk Kakek Edwin setiap habis shalat. Semoga Kakek Edwin bahagia di sana ya. Jangan khawatirkan Mila. Mila bisa menghadapi semuanya dengan tegar. Mila janji, akan menjadi Mila yang tangguh dan kuat." Mila mengusap air matanya yang jatuh. Mila juga mengusap batu nisan Tuan Edwin.
Setelah berkata demikian, Mila memakai kacamata hitamnya lagi. Masker pun dipasang lagi menutup hidung dan mulutnya.
Mila berjalan ke luar areal pemakaman. Disana taksi telah menunggunya. Setelah masuk kedalam taksi, Mila pun menyuruh supir taksi untuk melajukan mobilnya. Taksi yang ditumpangi Mila melaju menuju areal pemakaman yang berada di daerah lain dimana pusara Fathir berada.
Setelah sampai, Milapun turun dan berjalan memasuki pemakaman itu. Mila agak bingung karena sudah banyak yang berubah di pemakaman itu. Tapi akhirnya ketemu juga pusara Fathir.
Milapun meletakkan buket bunga di pusara Fathir. Kemudian Mila berjongkok. Milapun memanjatkan do'a untuk Fathir. Setelah selesai berdo'a, Mila memandang pusara Fathir.
"Fathir, telah banyak yang terjadi sepeninggal kamu. Kalau kamu masih ada, tentu kamu akan ikut repot. Tapi Tuhan menyayangi kamu. Kamu orang baik. Kamu oleh Tuhan disuruh beristirahat dengan tenang. Semoga kamu mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Semoga kelak kita akan bertemu di surga-Nya. Aku merindukanmu, sahabatku," kata Mila.
Mila mengusap batu nisan Fathir. Memori Mila melayang lagi teringat saat Fathir tertabrak mobil pick up. Mila terisak ingat hal itu lagi. Dengan tekad yang kuat, Mila bangun. ingin mengungkap siapa dalang penabrakan itu. Mila yakin penabrakan itu direncanakan oleh seseorang. Bukan kejadian yang tak disengaja. Itu kejadian yang disengaja. Mila yakin itu.
"Aku akan membuat perhitungan, aku yakin dengan orang itu. Awas saja! Tunggu pembalasanku!" gumam Mila.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Mila menikmati makan siangnya di sebuah restoran dekat kantor Ronald. Ia memang sengaja makan siang di sana, berharap bertemu Ronald.
Dan benar saja! Ronald masuk ke restoran itu dengan asistennya yang bernama Geri, dan sekretarisnya yang bernama Silvi. Setahu Mila, Sekretarisnya dulu bukan yang itu. Ronald rupanya telah mengganti sekretarisnya yang bernama Ria. Ronald itu sangat tegas dalam menerapkan aturan kantor. Sepertinya Ria telah membuat kesalahan
Mereka kemudian tampak memesan makanan dan minuman. Tak lama makanan dan minuman pun datang yang dibawa oleh pelayan restoran. Mereka makan sambil membicarakan sesuatu. Hingga mereka telah selesai makan, pembicaraan masih berlanjut. Sepertinya Mereka sedang sibuk sekali sehingga waktu makan siang pun tetap berdiskusi.
Ketika Ronald bangkit untuk cuci tangan di wastafel, Mila mencari kesempatan agar dapat berinteraksi dengan Ronald. Milapun pergi ke wastafel. Dan di wastafel itu, Mila dan Ronald berbarengan menyentuh kran air.
"Oh, maaf, silahkan anda terlebih dahulu," kata Mila.
"Ah tidak. Silahkan anda yang terlebih dahulu," jawab Ronald.
Milapun tersenyum.
"Terimakasih," kata Mila. Kemudian Mila mencuci tangannya. Ronald menunggunya dibelakangnya.
"Sudah. Silahkan sekarang giliran anda," kata Mila.
Ronald mengangguk sambil tersenyum. Mila kembali ke mejanya. Ia melihat-lihat ponselnya sambil menyeruput soft drink.
Ronald tampak berbicara dengan asisten dan sekretarisnya. Setelah kedua orangtua itu cuci tangan, mereka pergi. Ronald tinggal sendiri. Ia menghampiri Mila alias Monica.
"Maaf? Boleh saya ikut gabung di sini?" tanya Ronald.
Mila mendongkak melihat Ronald.
"Boleh,"
Ronald pun duduk di hadapan Mila.
"Anda sendirian?"
"Ya."
__ADS_1
"Boleh aku berkenalan denganmu?" Ronald menatap wanita yang menarik perhatiannya. Suara wanita itu mengingatkannya pada suara seseorang. Wanita itu berwajah Indonesia tapi matanya berwarna biru dan berambut coklat. Penampilannya kebule-bulean. Wanita yang menarik!
"Boleh saja, asal tidak ada yang marah di rumah," jawab Mila.
"Ha ha ha ha! Anda bisa saja! Kenalkan, nama saya Ronald," Ronald menjulurkan tangannya mengajak berjabat tangan
Mila membalas jabatan tangan Ronald.
"Monica," jawab Mila.
"Hmmm ...., Anda tampaknya orang baru di sini. Saya belum pernah lihat anda sebelumnya."
"Ya. Karena saya baru beberapa hari yang lalu baru tiba dari London."
"Oh, London! Saya suka London!" ujar Ronald.
"Ya. Sekarang saya buka usaha butik di sini. Ingin mengembangkan usaha keluarga," Mila menjelaskan.
"Oh. Kalau boleh saya tahu, apa nama butiknya?"
"Queen. Khusus dalam bidang pakaian dan tas untuk wanita dewasa. Tokonya masih dalam tahap renovasi di mall dekat sini."
"Anda mungkin kapan-kapan dapat mengajak istri anda untuk berbelanja di butik saya. Saya akan berikan harga spesial untuk anda. Karena anda adalah orang pertama yang saya kenal di Jakarta selain teman saya," kata Mila.
"Oh, benarkah? Bagaimana kalau saya belum punya istri?" pancing Ronald.
"Orang seperti anda bagaimana mungkin belum punya istri? Masih menjadi calon istri mungkin?" Mila sebenarnya merasa muak harus berbincang-bincang dengan Ronald dan berpura-pura untuk menjadi wanita penggoda.
Ronald tertawa. Entah mengapa ia begitu tertarik melihat wanita ini pada pandangan pertama. Biasanya ia bersikap dingin dan arogan pada orang yang baru dikenal.
"Baru calon. Belum jadi istri," jawab Ronald. berdusta.
'Dasar b*j*ngan! Ngaku-ngaku belum menikah! Kamu sudah menikah dua kali! Sudah punya anak lagi! Anakmu mau dikemanakan?! Dasar buaya darat!' maki Mila dalam hati.
"Ya sudah, nanti ajak calon istri anda ya."
"Tidak akan. Karena nanti dia cemburu, karena pemilik butiknya sangat cantik!" Ronald mengeluarkan jurus rayuannya.
"Maaf, sudah siang. Saya harus pergi ke suatu tempat. Ada urusan yang harus saya selesaikan," kata Mila sambil berdiri dan melihat jam tangannya. Ia sudah cukup jengah mendengar gombalan Ronald.
"Baiklah. Saya tidak bisa mengantar anda sekarang, Monica. Karena saya juga ada urusan setelah ini. Mungkin lain waktu kita bisa berbincang lagi. Bolehkan aku minta nomor ponselmu?" pinta Ronald.
"Maaf. Saya tidak bisa memberikan nomor saya ke sembarang orang," jawab Mila pura-pura jual mahal. Ia tahu, Ronald nanti akan semakin penasaran.
"Hei, masa kamu menganggap saya orang yang tak dikenal? Kita kan sudah berkenalan? Ayolah!"
"Mbak! Ini uangnya ya!" kata Mila memanggil pelayan. Mila meletakkan uang di meja untuk membayar yang telah ia makan dan minum.
"Nanti saya saja yang bayar!" kata Ronald. Tapi Mila tak menghiraukan Ronald.
"Selamat siang, Pak Ronald. Saya permisi dulu," Mila melangkah meninggalkan Ronald.
"Tunggu, Monica! Monica ....! Arrgh!" Ronald gagal mengejar Monica yang sudah berlari kemudian langsung masuk taxi. Taxi langsung melaju meninggalkan restoran itu.
__ADS_1
"Ck. Dia wanita yang sulit ditaklukan! Aku penasaran!" gumam Ronald, "Aku nanti harus ke butiknya!"
π»π»π»π»π»
Mila mendapat kabar dari Arga, kalau malam ini Ronald ada meeting di sebuah Lounge. Lounge adalah tempat minum untuk kalangan pekerja atau pebisnis sambil mengadakan meeting yang berada di hotel bintang lima.
Mila mengajak sekretaris Arga untuk menemaninya pergi ke Lounge. Tak lupa, Arga juga mengirim anak buahnya untuk membuat seolah-olah mereka sedang melakukan meeting di sana. Arga Memang kini sudah menjadi pengusaha. Kedekatannya dengan seorang pemimpin mafia membuatnya menjadi pengusaha sukses dalam waktu satu tahun.
Perkenalannya di penjara dengan pemimpin mafia itu membuat Arga menjadi pengikutnya. Obsesi Arga yang ingin menjadi orang yang berpengaruh agar ia dapat melaksanakan balas dendamnya pada Ronald, menjadikannya berkecimpung di dunia hitam.
Pemimpin mafia itu cuma dipenjara sebentar, karena pengaruhnya di pemerintahan pun sangat kuat. Ia bisa menyuap siapa saja dengan uang haramnya yang melimpah.
Mila yang belum mengetahui pekerjaan Arga, mau saja bekerja sama untuk menghancurkan Ronal.
Informasi dari Arga sangat membantu Mila untuk mencari tahu kegiatan Ronald dan berada di mana. Karena Arga punya anak buah dimana-mana.
Mila membuat pertemuannya dengan Ronald sealami mungkin. Seolah-olah pertemuannya kali ini tak disengaja.
Ronald tak sengaja matanya melihat Monica yang sedang terlibat percakapan serius. Sepertinya Mila juga sedang meeting. Setelah meeting ya selesai, Ronald menghampiri meja Monica
"Hai, kita jumpa lagi. Apa saya mengganggu?" tanya Ronald.
"Hai, anda habis meeting juga? Kebetulan, meeting kami sudah selasai.," jawab Mila.
"Baiklah, Bu Monica, kami pamit. Besok bisa mulai kerjasamanya," kata laki-laki anak buah Arga.
"Oke," mereka pun berjabat tangan. Termasuk kepada Ronald juga.
Tinggallah mereka berdua di meja itu. Mila meneguk minumannya. Tak lama, Mila mengeluh pusing.
"Kamu mungkin minum terlalu banyak. Lebih baik kau cepat pulang. Aku antar kau pulang ke rumah ya," kata Ronald.
Mila mengangguk. Jalannya Mila yang tidak seimbang, membuat Ronald dengan senang hati merengkuh tubuh Monica, wanita yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu. Ronald menuntun Monica.
"Kamu bawa mobil?" tanya Ronald. Monica mengangguk.
"Mobilmu disimpan saja di sini. Besok baru diambil. Kamu naik mobilku saja," kata Ronald. Monica mengangguk lagi.
Ketika sedang berjalan, tiba-tiba Monica akan terjatuh karena lemas, Ronald dengan sigap menahan Monica, tak sengaja, bibir mereka beradu. Monica dan Ronald sama-sama terkejut. Mereka menarik wajah mereka masing-masing agar menjaga jarak. Mereka berjalan lagi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ketika akan membantu Monica masuk ke mobil, bibir Monica menyentuh jas Ronald sehingga ada noda lipstik di sana. Mila pura-pura tidak tahu. Ia masuk ke mobil dengan masih bersandiwara.
Ketika mobil dinyalakan oleh Ronald. Monica KW itu menyandarkan kepalanya pada bahu Ronald. Monica tertidur. Ronald membiarkan hal itu terjadi. Bibirnya malah menyunggingkan senyum.
Ronald membawa Monica ke apartemennya. Itu karena Ronald bingung mau mengantarkan Monica kemana sedangkan Monica tertidur dalam perjalanan itu.
Setelah sampai, Ronald yang tidak ingin membangunkan Monica, menggendong Monica ala bridal style. Setelah sampai di apartemennya, Ronald membaringkan Monica di kasur di kamarnya.
Cukup lama Ronald memandang wajah cantik Monica. Ronald tersenyum-senyum sendiri membayangkan sesuatu. Setelah puas memandang wajah Monica, Ronaldpun membersihkan diri dan berganti pakaian tidur. Ronald memilih tidur di sofa ruang tamu daripada tidur di kamar satunya lagi.
Ronald yang merasa lelah setelah seharian bekerja dan melakukan meeting, akhirnya tertidur dengan lelap. Sementara Mila yang pura-pura tidur, bangun dan berjalan mengendap-endap untuk melihat Ronald.
Melihat Ronald sudah terlelap, Milapun melanjutkan untuk tidur. Mila berharap besok akan ada keributan antara Susy dan Ronald.
__ADS_1
TO BE CONTINUED
Selamat Week end! Jangan lupa, dukung terus novel ini dengan memberi vote, like, komen dan hadiah ya.! Juga klik Favorit pada novel ini agar kamu dapat notifikasi kalau novel ini sudah up.