
Walau mata masih susah untuk terbuka, tapi kedua pengantin baru itu harus menjalankan kewajibannya beribadah kepada sang Khalik. Setelah mandi wajib, mereka shalat shubuh. Setelah itu Tika menyajikan kopi untuk Ronald. Pihak hotel sudah menyediakan beberapa bungkus kopi, krimer, teh instan dan gula pasir serta air panas pada teko listrik.
"Ini kopinya, Bang," kata Tika.
"Terimakasih, sayang," jawab Ronald yang segera menerima cangkir dari Tika. Ia segera menyesap kopi hitamnya. Sedangkan Tika menikmati kopi plus krimer. Mereka perlu energi agar tidak merasa lemas dan letih.
"Kalau sarapan, masih terlalu pagi. Enaknya kita sekarang ngapain ya?" tanya Ronald.
"Terserah Abang, mau apa," jawab Tika.
Ronald merasa gemas dengan jawaban Tika.
"Abang sepertinya mau minum s*su," kata Ronald menyeringai.
Tikapun pasrah ketika Ronald menyandarkan Tika di sandaran ranjang. Ronald dengan terampil melepaskan pakaian Tika dan segera menerkamnya. Tika *******-***** rambut Ronald karena menahan rasa geli, sakit, campur nikmat. Ronald seperti bayi yang kehausan. Setelah puas, Ronald menggendong Tika kekamar mandi. Tika didudukkannya di meja keramik wastafel dimana didepannya ada cermin besar.
Dilucutinya kain segitiga Tika. Sehingga tubuh Tika polos sekarang. Ronald segera membuka kedua paha Tika yang masih duduk diujung meja wastafel. Setelah melepaskan celananya, Ronald segera menghujamkan miliknya pada milik Tika. ******* dan eranganpun bersahutan. Nafas mereka memburu. Tika menumpu kedua tangannya ke belakang untuk menahan goncangan dan hentakan dari Ronald. Ronald melakukannya sambil melihat pada cermin. Olahraga pagipun sukses mereka lakukan dengan berakhir lemas.
🌼🌼🌼🌼🌼
Pernikahan Ronald dan Tika membuat geger di lingkungan tempat tinggal Ronald. Bapak-bapak di sana merasa iri melihat Ronald dapat daun muda yang cantik dan terlihat hot. Sedangkan Ibu-ibu apalagi janda-janda di sekitar tempat tinggal Ronald merasa iri juga pada Tika karena Tika telah menghempaskan harapan mereka untuk mendekati Ronald.
"Mbak Tika, kok mau sih sama Pak Ronald? Kan sudah tua. Coba kalau sama saya, Mbak Tika pasti puas," kata salah seorang pemuda yang berada di warung ketika Tika sedang membeli bumbu dapur diwarung tetangganya.
"Pak Ronald biar sudah tua tapi staminanya kuat lho, jangan salah! Yang muda juga kalah sama beliau!" jawab Tika.
Pemuda yang tadinya mengincar Tikapun patah hati karena Tika kini telah bersuami.
Ada lagi seorang ibu-ibu yang julid berkata pada Tika pada suatu kesempatan.
"Mbak Tika jadi kayak sugar baby sama Pak Ronald. Pak Ronald lebih pantasnya sama yang dewasa. Kalau yang muda kayak Mbak Tika emosinya suka meledak-ledak, belum stabil. Pak Ronald pastinya akan kewalahan memenuhi keinginan wanita yang usianya muda banget seperti Mbak Tika,"
"Ah, siapa bilang? Bang Ronald fine-fine aja, happy-hapy aja kok. Beliau dapat mengimbangi saya. Saya enggak menyesal nikah sama beliau. Urusan ranjang dan lainnya, dia suamiku yang terthe best lah dibandingkan suami-suami saya yang dulu," jawab Tika telak, "Saya permisi ya ibu-ibu," kata Tika sambil berlalu.
Jawaban Tika membuat ibu-ibu itu bungkam. Mereka berbisik-bisik tidak senang dengan kebahagiaan Tika.
"Tuh lihat Pak Ronald! Semakin gagah saja! Setiap hari mandi basah. Kalau Tika sepertinya pakai hair dryer deh! Dia rambutnya kering kalau pagi," begitu kasak kusuk dikalangan ibu-ibu yang sedang membeli sayuran di tukang sayur keliling.
Atau kadang-kadang ada bapak-bapak tetangga Pak Ronald yang menyapa Ronald pagi-pagi ketika lewat di depan rumah Tika. Setelah menikah, Ronald memilih tidur di rumah Tika agar aktivitas malamnya tidak mengganggu Erika.
"Makin segar aja Pak Ronald!" sapa seorang tetangganya.
"Ya seperti yang bapak lihat," jawab Ronald.
__ADS_1
"Pak Ronald sangat beruntung, dapat daun muda. Jadi kepengen."
Tiba-tiba dari belakang laki-laki itu seorang wanita menerobos dan menjewer telinga laki-laki itu.
"Eeh .... apa Bapak bilang? Kepengen?! Anak sudah lima masih pengen daun muda! Mau diberi makan apa? Kami saja masih kekurangan!" bentak wanita itu yang ternyata istri laki-laki itu.
"Aduh, Bu! Cuma bercanda!" kata laki-laki tetangga Ronald itu sambil meringis.
Dilain waktu, Tika yang sedang melayani pembeli bolunya ada juga pembelinya yang nyeletuk.
"Mbak Tika, emang suka ya sama laki-laki yang jauh usianya dari Mbak?"
"Ya ... namanya juga sudah jodoh! Biar sudah tua, yang penting kan goyangannya mantap!" jawab Tika jahil.
Pembeli itu yang seorang ibu-ibu hanya memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Tika, ada juga ibu-ibu yang tersenyum mendengar jawaban Tika. Sepertinya tetangga-tetangga satu RT di dekat rumah Tika dan Ronald sangat penasaran dengan pernikahan mereka.
Ronald dan Tika yang sedang bucin-bucinnya, tak jarang menampakkan kemesraan mereka di depan umum. Membuat Ibu-ibu di sana bertambah iri dengan perlakuan manis Ronald pada Tika. Bapak-bapak di lingkungan itu apalagi, mereka penasaran dengan aktivitas ranjang Ronald.
"Pak Ronald sukses ya urusan ranjangnya walau dapat daun muda?" tanya bapak-bapak pada suatu hari ketika Ronald sedang memanaskan mobilnya di depan rumah.
"Ooh, sukses dong! Kalau tidak, mana mungkin istri saya wajahnya berseri-seri setiap hari," jawab Ronald.
"Pak Ronald sungguh beruntung," kata mereka.
'Aku juga pernah mengalami penyesalan yang panjang setelah kehilangan orang yang aku cintai. Orang itu pergi dengan dendam, disaat aku mulai mencintainya,' gumam Ronald dalam hati.
Malam-malam panjang pengantin baru itu mereka habiskan dengan aktivitas panas. Walau mereka hanya melakukannya di rumah, tapi tak membuat semangat mereka mengendur. Ronald menolak tawaran honeymoon ke Bali dari Erika. Ronald ingin pergi ke Bali dari hasil jerih payahnya sendiri, mengumpulkan uang dari hasil bengkelnya.
Tak bosan-bosan Ronald setiap ada waktu membuat Tika mend*sah. Di d*da Tika sudah penuh dengan kisssmark. Semangat Tika dapat diimbangi oleh Ronald. Mereka merasa mendapat pasangan yang sepadan. Dua-duanya aktif saling memuaskan.
Suatu siang, Tika mengantarkan makan siang untuk Ronald ke bengkel. Andri dan Heri, dua karyawan Ronald menatap Tika.
"Wah mbak Tika bawa makanan ya buat Pak Ronald? Sekali-kali bawakan kami juga dong!" kata Andri. Sudah lama ia menaruh hati pada Tika. Tapi ternyata Tika tak pernah meliriknya. Kini malah dirinya sudah keduluan Ronald mempersunting Tika.
"Iya. Nanti besok ya," jawab Tika
"Asyiiik!" pekik kedua karyawan Ronald senang.
"Bawa makan siang Abang, ya sayang?" tanya Ronald.
"Iya, Bang. Abang makan dulu ya. Tika mau main dulu di sini," kata Tika.
Ronald hanya mengangguk. Menanggapi Tika dengan biasa saja. Tak mengerti maksud Tika.
__ADS_1
"Sini Tika suapi biar cepat habis makannya," kata Tika.
Ronaldpun menurut. Tetes-tetes air setelah shalat dhuhur, masih tersisa dari sela-sela rambut Ronald. Tika menelan salivanya dengan tidak sabar. Melihat Ronald dengan tetesan air di wajahnya membuat Ronald terlihat segar dan mempesona.
Selesai makan, Ronald segera ditarik Tika.masuk kamar yang ada di bengkel itu. Kedua karyawan Ronald yang merasa penasaran, segera menguping. Sebenarnya mereka ingin mengintip. Tapi kamar itu tidak ada celah sedikitpun. Sehingga mereka hanya menajamkan telinga mereka untuk cari tahu yang sedang Tika dan Ronald lakukan siang-siang begini.
Sedangkan di kamar, Tika dan Ronald yang tidak tahu sedang di didengarkan dua karyawan jomblonya, memulai aksinya.
Tika yang sudah sangat menginginkannya, menghempaskan tubuh Ronald ke kasur. Ia segara naik ke kasur. Dibukanya resleting celana Ronald. Setelah melucutinya, tampaklah alat tempur Ronald yang telah berdiri tegak karena disentuh Tika.
Tika memekik girang melihat benda kesukaannya. Dia langsung melahapnya. Ronald memekik kaget.
"Tika ....," erangnya.
Mulut Tika penuh dengan benda itu. Dengan memegang pangkal benda itu, Tika memaju mundurkan mulutnya sambil menghisap kuat . Sekali-kali dijilatnya seperti makan es krim.
"Tika ....," erang Ronald lagi.
Dan ketika gerakan mulut Tika semakin cepat, Ronald sampai kelojotan menahan rasa geli dan nikmat jadi satu. Sebelum sesuatu tumpah, Ronald menarik Tika. Menghempaskan tubuh Tika ke ranjang.
Segera diarahkannya alat tempurnya. Dan Ronald 'menggempur Tika tanpa ampun. Hingga keduanya mencapai puncak bersamaan.
Tak cukup sekali, setelah beristirahat sejenak, Ronaldpun menarik tubuh Tika supaya berdiri hingga terdesak ke tembok. Mereka berci*man dengan grasa-grusu karena g*irah yang sudah memuncak lagi. Dibalikkannya tubuh Tika menghadap tembok. Ronaldpun menghujamkan miliknya bertubi - tubi dari belakang. Kedua tangannya meremas kedua bukit kembar Tika dari belakang.
Tika merintih dan mendesah. Gelombang ken*kmatan pun datang. Setelah Ronald menghujamnya dengan gerakan semakin cepat, mereka pun menjerit bersamaan.
Tika yang masih mau lagi meminta Ronald untuk berbaring. Tika segera main kuda-kudaan diatas tubuh Ronald. Terdengar suara oh, uh, ah setiap Tika menghentakkan miliknya ke atas dan ke bawah. Tangan Ronald membantu pinggul Tika bergerak.
Andri dan Heri yang menguping aktivitas majikannya, jadi terangs*ng. Nafas mereka memburu.
'Maaak .... aku mau dikawinin maaak!' jeritan hati dua pemuda jomblo itu.
Ketika Ronald keluar kamar untuk mengambil air minum, Ronald merasa heran melihat dua karyawannya sedang duduk termangu di luar. Dua buah motor yang sedang mereka perbaiki dibiarkan saja.
"Kalian kenapa?! Bukannya pada kerja!"
"Pak, tolong carikan kami jodoh, Pak! Kami pengen kawin!" kata Heri.
"Iya, Pak!" timpal Andri.
Ronald mengernyit heran mendengar permintaan dua karyawannya yang tiba-tiba.
TO BE CONTINUED
__ADS_1
Hadeuh, jangan baper ya! Sorry baru bisa up pagi.