
Tika meletakkan ponselnya dengan sedih. Berita duka yang diterimanya beberapa hari menjelang pernikahannya membuatnya terpukul. Satu-satunya keluarganya, Azka, anak Pakdhenya yang rencananya akan menjadi wali nikahnya, dikabarkan oleh pihak kantor Azka, telah menghembuskan nafas terakhir karena sakit paru-paru yang sudah parah.
Kini tak ada lagi yang tersisa dari keluarganya. Ia hidup sebatang kara. Berita duka ini dikabarkannya pada Ronald melalui chat.
Bang, Mas Azka tidak akan bisa menjadi wali nikahku. Dia telah meninggal dunia karena sakit. Aku sendirian, Bang. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Tak lama, Ronald membalas chat Tika.
Sabarlah, sayang. Abang ikut berduka cita. Semoga Mas Azka Husnul khotimah. Semoga diterima amal ibadahnya oleh Yang Maha Kuasa, dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Apa sekarang perlu Abang temani, biar enggak sedih?
Tikapun membalas chat dari Ronald.
Bukannya kita lagi dipingit Bang? Kita enggak boleh ketemu.
Ronald tak menjawab chat Tika. Tapi Ronald berniat akan keluar rumah untuk langsung datang ke rumah Tika.
"Mau kemana, Pa?" Erika tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Papa mau cari udara segar sebentar," jawab Ronald.
"Tidak boleh, Pa! Papa itu calon pengantin. Tidak boleh keluar, apalagi malam-malam. Papa kan lagi dipingit," kata Erika.
"Kamu itu lama-lama sudah kayak satpam. Ya udah Papa tidur saja," Ronald dengan hati sedikit kesal akhirnya kembali ke kamarnya.
"Itu lebih baik, Pa!"
Erika diam-diam tertawa cekikikan. Erika merasa lucu dengan tingkah Papanya. Jatuh cinta lagi diusia Papanya yang sudah tidak muda lagi membuat tingkahnya seperti ABG saja. Ia tahu modus Papanya supaya bisa bertemu Tika.
Dan hari bahagia itupun datang. Tika dengan memakai kebaya modern dan disanggul pengantin kekinian, terlihat sangat cantik. Ronald yang memakai Jas warna biru dongker dan memakai peci hitam, terlihat gagah dan berkharisma.
Tika dan Ronald saling berpandangan ketika mereka bertemu di kantor KUA. Mereka berangkat memang dengan mobil terpisah, karena belum halal. Itu kata Erika. Sebenarnya Erika hanya mengerjai mereka berdua supaya merasa surprise bertemu di kantor KUA.
Masing-masing saling mengagumi. Tika menyunggingkan senyuman manis kala Ronald tak lepas memandangnya. Mereka telah duduk berdampingan menghadap meja penghulu. Penghulu belum masuk ke ruangan.
"Udah, Pa. Jangan dipandangi terus! Nanti juga sebentar lagi, Mbak Tika, eh Mama Tika milik Papa seutuhnya!" Erika berbisik pada Ronald yang juga didengar Tika. Tika tersipu. Sedangkan Ronald mendengus karena Erika selalu menjahilinya. Erika jadi sering meledeknya gara-gara akan menikah lagi.
Ijab Kabul pernikahanpun berjalan lancar. Ronald mengucapkannya dengan sekali tarikan nafas. Karena tidak ada keluarga yang dapat menjadi wali nikahnya, Tika menunjuk petugas KUA itu yang menjadi wali hakimnya.
__ADS_1
Semua yang mengantar kedua mempelai itu mengucapkan Alhamdulillah setelah para saksi pernikahan menyatakan sah. Juru foto mengabadikan momen sakral itu.
Tikapun mencium punggung tangan Ronald. Ronald mengecup kening Tika dan membaca do'a di ubun-ubun Tika. Setelah itu Penghulu membacakan do'a pernikahan. Setelah selesai, mereka foto-foto.
Setelah mendapat surat nikah, kedua mempelai itu masuk kedalam mobil pemberian Erika. Erika menghadiahi Papanya sebuah mobil APV sebagai kado pernikahan Papanya. Erika merasa kasihan pada Papanya karena tidak punya mobil. Kini, karena Papanya akan mempunyai keluarga baru, Erika ingin Papanya dapat menggunakan mobil untuk aktivitas Papanya bila akan bepergian. Apalagi Papanya ingin punya anak. Jenis mobil itu yang dirasa cocok untuk keluarga baru Papanya.
Senyum tak lepas dari bibir Ronald sepanjang perjalanan menuju ke rumah. Di rumah, sudah disiapkan makanan untuk para tetangga dan teman yang datang untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai itu. Ronald juga mengundang para bapak-bapak tetangga rumahnya sekitar pemukiman di daerah itu untuk mengikuti selamatan.
Erika tak lupa video call dengan Mama dan Papa sambungnya di London. Erika ingin keluarga Mamanya juga berbahagia dengan melihat pernikahan Papanya.
"Selamat menempuh hidup baru, Ronald. Semoga berbahagia," kata Richard dalam video call.
"Terimakasih, Richard. Aku senang kamu telah sembuh. Semoga kalian juga berbahagia," jawab Ronald.
"Selamat berbahagia. Perkenalkan, saya Mamanya Erika," kata Mila pada Tika.
"Iya, Mbak.Terimakasih. Mohon ijin untuk menjadi ibu sambung Erika," kata Tika.
"Ya. Saya titip Erika ya. Jangan segan - segan marahi dia kalau dia keluyuran enggak jelas," kata Mila.
"Ah Mama ...., Erika enggak pernah keluyuran kok," Erika merengut. Mila dan Tika tertawa.
"Aamiin.Terimakasih, Mila, atas do'anya," jawab Ronald.
Erika merasa bahagia kalau kedua keluarganya telah akur. Keluarga Mama dan keluarga baru Papanya semoga membawa kebahagiaan selamanya bagi mereka semua.
Setelah acara ramah tamah dan selamatan selesai, hari sudah menjelang petang. Ronald membawa Tika ke hotel terdekat. Ronald ingin mengajak Tika dengan suasana lain. Selama pernikahannya yang terdahulu, Tika belum pernah diajak ke hotel. Jadi Ronald ingin Tika terkesan dengan malam pertama mereka sebagai suami istri.
Aroma bunga menyeruak begitu pintu kamar hotel dibuka. Kamarpun telah dihias sedemikian rupa. Tika terharu dengan kejutan yang diberikan Ronald untuknya. Tika memeluk tubuh Ronald sebagai ucapan terimakasihnya.
"Cepatlah mandi. Pakai pakaian yang aku siapkan," bisik Ronald. Tika tersipu. Ia segera melepas kebayanya dibantu Ronald. Tika segera berlari ke kamar mandi ketika ia sudah berpakaian minim, hanya menyisakan d*laman. Ronald terkekeh.
Ketika Tika keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe, Ronald menyodorkan pakaian yang membuat mata Tika membulat.
"Nanti, Bang! Kita shalat dan makan dulu. Tika pakai baju yang lain dulu ya Bang?" kata Tika sambil menerima pakaian yang disodorkan Ronald.
"Oke, sayang," Ronald mengacak puncak kepala Tika dan segera masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah mereka shalat Maghrib dan makan malam di kamar, Ronald segera naik ke ranjang. Ronald menepuk kasur disebelah dirinya supaya Tika duduk didekatnya.
"Sebentar, Bang. Tika ganti baju dulu," kata Tika. Ronaldpun mengerti. Ronald mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Kini kamar itu dengan cahaya yang temaram, menambah kesan syahdu malam pengantin Ronald.
Ronald menunggu Tika dengan perasaan yang bercampur aduk. Antara deg-degan, tak sabar dan gelisah.
Tikapun keluar dari walk in closet dengan perlahan. Kepalanya tertunduk malu-malu. Ia menghampiri Ronald yang berbaring di kasur.
Ronald segera bangkit dari rebahannya melihat Tika sudah berada dihadapannya. Ronald melihat Tika tanpa berkedip. Tika memakai lingerie warna emas yang menerawang. Semua aset Tika terlihat jelas, karena tidak memakai d*laman.
Dengan nafas yang memburu, Ronald menarik Tika hingga jatuh ke ranjang. Ronald segera menghimpit tubuh Tika. Ronald menuntaskan hasratnya yang terpendam selama ini bila melihat Tika. Apalagi ia sudah berpuasa selama beberapa tahun. Ronald tak sabar ingin mengecap kenikmatan surga dunia itu lagi.
Tika dibuatnya merintih dan memohon-mohon pada Ronald agar segera menuntaskan permainannya. Ronald seganas Gani di ranjang. Tapi Ronald selalu memberi waktu pada Tika untuk memuaskan Tika. Tika dibuat mabuk kepayang. Walau usia Ronald tidak muda lagi, tapi stamina Ronald tetap terjaga.
Permainan lidah Ronald pada inti tubuhnya, membuat Tika benar-benar puas. Apalagi ular Ronald yang besar dan panjang, membuat Tika ketagihan. Di usia Ronald yang sudah kepala lima, ia bisa menuntaskan hasratnya hingga tiga kali. Sedangkan Tika dibuatnya pelepasan hingga berkali-kali.
Menjelang dini hari, setelah pertempuran mereka, Ronald pergi ke toilet untuk bersih-bersih. Keluar dari toilet, ternyata melihat Tika yang polos karena selimut tersingkap, membuat sesuatu dari balik celananya menegang kembali.
Ronald merasa heran, alat tempurnya berfungsi sangat baik padahal sudah lama tak melakukan pengobatan. Ia benar-benar sembuh!
Ronaldpun menci*umi wajah Tika. Tika menggeliat merasa terganggu dengan aktivitas Ronald.
"Yang, abang mau dimanjain," bisik Ronald. Ronald mengarahkan tangan Tika pada miliknya yang telah menegang.
Tikapun mengerti. Setelah mel*cuti celana Ronald, Tika membantu melepaskan sl*mpak Ronald. Tampaklah sesuatu yang mencuat. Tika segera menggenggamnya dengan erat. Ronald sampai memekik. Tika kemudian memenuhi keinginan Ronald. Tika seperti sedang menikmati permen lollipop. Menjilati, mengulum dan menghisap permen lollipop alami itu.
Ronald sampai merem melek dan menggeram. Ronald juga sekali-kali ingin melihat Tika yang sedang asyik menikmati permennya. Ronald kadang menekan kepala Tika agar lebih dalam lagi menikmati permen lollipop milik Ronald.
Setelah setengah jam kemudian, Ronald memekik puas dengan memuntahkan laharnya yang menciprat pada wajah Tika. Ronald merasa puas luar biasa. Segera dipeluknya tubuh Tika.
"Terimakasih sayang. Apa kamu mau?" tawar Ronald sambil membersihkan wajah Tika dengan tisu.
Tika menggeleng letih.
"Tika mau tidur saja," jawab Tika.
"Tidurlah kalau begitu," kata Ronald sambil mengusap wajah Tika. Tika yang kelelahan, tertidur dengan nyenyak. Ronaldpun tak lama tertidur juga.
__ADS_1
TO BE CONTINUED