
Ronald teringat pada sepasang suami istri yang dulu mengantar kepindahan Tika di rumah kontrakan yang ada di depan rumah Ronald.
Ya! Tika pasti ke rumah sepasang suami istri itu. Rumah yang bersebelahan dengan rumah kontrakan lama Tika. Mereka itu sudah Tika anggap seperti orangtuanya.
Ronaldpun melajukan mobilnya ke alamat rumah kontrakan Tika yang lama. Untung Ronald tahu daerah itu.
Ketika sudah sampai, Ronald dan Erika segera menghampiri rumah - rumah kontrakan sangat sederhana itu. Tapi Ronald bingung rumah yang mana tempat tinggal sepasang suami istri itu. Akhirnya Ronaldpun bertanya pada salah seorang penghuni yang sedang duduk bersantai di teras rumah.
"Permisi, Pak. Saya ...," belum sempat Ronald bertanya pada seorang bapak yang sedang bersantai di teras, Tika keluar dari rumah di samping rumah seorang bapak itu.
"Tika!" panggil Ronald.
Tika tampak terkejut. Tika yang baru melangkah beberapa langkah dari pintu, segera berlari masuk rumah kembali.
"Tika, tunggu!" panggil Ronald lagi sambil mengejar Tika. Tapi sayang, Tika sudah masuk ke dalam rumah.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum!" Ronald dan Erika mengucap salam.
Tak lama keluarlah seorang wanita paruh baya. Wanita itu tertegun.
"Waalaikumsalam. Pak Ronald?"
"Iya, Bu."
"Nak Erika? Ayo silahkan masuk!" kata wanita itu. Mereka bersalaman.
Ronald dan Erikapun masuk ke ruang tamu. Wanita itu mempersilahkan Ronald dan Tika untuk duduk.
"Saya ingin bertemu Tika, Bu," kata Ronald.
"Sebentar. Ibu panggilkan," jawab wanita itu. Iapun masuk ke sebuah kamar. Setelah beberapa saat, wanita itu keluar.
"Maaf, Pak Ronald. Tika saat ini tidak mau bertemu. Ia masih susah untuk diajak bicara," kata wanita itu.
"Apa boleh saya masuk menemui Mama Tika?" tanya Erika. Wanita itu menggeleng.
"Ia tidak mau bertemu siapapun. Maaf. Mungkin Tika ingin menyendiri dulu. Kalau sudah tenang, pasti ia mau menemui kalian," kata wanita itu.
Ronald menghela nafas panjang.
"Nanti saya akan menasehati Tika. Sepelik apapun masalah dalam rumah tangga kalian, harus dibicarakan secara baik-baik. Jangan menghindari masalah," kata wanita itu. Ronald mengangguk.
"Baiklah. Nanti saya akan ke sini lagi," kata Ronald sambil berdiri. Ronald dan Erikapun pamit untuk pulang.
Diperjalanan pulang, Erika diam-diam menatap Papanya. Erika khawatir keadaan Papanya.
"Erika saja yang menyetir ya, Pa," kata Erika.
Dengan lesu, Ronald mengangguk. Ronaldpun turun dan keluar dari mobil. Ronald berjalan ke depan mobil untuk pindah posisi duduk. Erika bergeser duduk di balik kemudi. Tapi tiba-tiba seseorang yang memakai topeng membuka pintu mobil dan menarik Erika keluar. Jalanan memang sedang lengang.
"Akhhh ....!" pekik Erika kaget.
"Hei! Siapa kamu?!" Ronald pun reflek berbalik.
Sebilah pisau berkilau terkena sinar matahari. Sebelum orang itu berhasil menusuk Erika, Ronald berusaha merebut pisau itu. Tarik menarik pun terjadi. Ronald berusaha merampas pisau itu.
__ADS_1
Erika terjatuh terkena tendangan orang jahat itu. Ronald dan orang jahat itu saling dorong dan berusaha saling menjatuhkan. Kini pisau itu malah mengarah pada Ronald.
Pisau itupun menancap di bawah bahu Ronald. Darah segarpun mengalir.
"Arrghh ....!"
"Papa!"
Laki-laki bertopeng itu segera melarikan diri. Ronald tersungkur kesakitan. Erika berteriak minta tolong. orang-orangpun berdatangan menolong Ronald.
"Nona sebaiknya Nona yang memegang Papa Nona. Biar saya yang menyetir mobil," kata salah seorang yang menolong Ronald.
""Iya, Pak. Ini kuncinya," kata Erika.
Erika memapah Ronald dengan dibantu beberapa orang untuk masuk ke mobil. Dua orang bapak-bapak duduk didepan. Salah satunya yang menyetir mobil Erika. Setelah itu mobilpun segera melaju dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
"Pa, Papa bertahan ya. Papa pasti kuat," kata Erika sambil memegang tangan Papanya. Ronald mengangguk lemah, mencoba kuat agar Erika tidak khawatir
Mobil langsung berhenti di gedung UGD rumah sakit. Salah satu dari orang yang naik mobil Erika segera memberi tahu petugas medis rumah sakit.
Ronaldpun di baringkan di brankar untuk dibawa ke ruang operasi. Kedua orang yang membantu Erika itupun pamit karena tugasnya telah selesai. Erika mengucapkan terimakasih sambil menyelipkan beberapa lembar uang untuk mereka. Tapi mereka menolak. Mereka ikhlas membantu Erika. Erika sangat terharu. Erika mengucapkan terimakasih lagi pada mereka.
Setelah kedua orang itu pergi, sambil menunggu Papanya mendapat tindakan medis, Erika menghubungi Mamanya untuk memberitahukan kejadian yang menimpa Papanya. Pada Tika, Erika mengirim chat memberitahukan kalau Papa Erika masuk rumah sakit karena panggilannya selalu di tolak Tika.
Tak lupa, Erika juga menelepon Reyhan. Reyhanpun segera menyusul Erika ke rumah sakit.
"Kamu gak kenapa-napa kan sayang?" Reyhan memeluk Erika.
"Aku baik-baik saja," jawab Erika
"Kita do'akan semoga Papamu selamat dan cepat pulih," kata Reyhan sambil menggenggam tangan Erika.
Erikapun menceritakan kronologis kejadian itu. Reyhan merekam cerita Erika. Setelah dirasa cukup, Reyhanpun pamit pada Erika untuk pergi ke kantor polisi.
Mila dan Richard yang masih berada di Jakarta, segera berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Ronald. Hubungan mereka semakin membaik dengan Ronald. Mereka sudah memaafkan Ronald dan menutup kisah lama mereka. Baik Ronald maupun Mila sudah bahagia dengan keluarganya masing-masing. Mereka menjalin hubungan keluarga yang baik demi kebahagiaan Erika.
Tika yang sedang berada di kamarnya sambil main ponsel langsung membuka chat dari Erika begitu ada chat masuk. Alangkah terkejutnya Tika mendapat kabar kalau Ronald masuk rumah sakit karena ditusuk seseorang.
Dengan tergesa-gesa Tika ganti baju dan bersiap ke rumah sakit. Iapun ijin pada kedua orangtua angkatnya untuk menjenguk suaminya ke rumah sakit.
"Maaf ya Tika, Ibu sama Bapak tidak bisa menjenguk suamimu sekarang karena harus menyelesaikan pesanan orang, sebentar lagi mau diambil sama orangnya," kata wanita Ibu angkat Tika.
"Iya Bu, enggak apa-apa. Saya pergi dulu, Bu, Pa," Tika cium tangan pada kedua orangtua itu.
Ketika sampai di rumah sakit, Tika melihat di depan ruang operasi sudah ada Erika, Mila dan Richard. Tika bersalaman dengan Richard, kemudian saling berpelukan dengan Mila dan Erika. Tangis Tika pecah menyesali sikapnya pada Ronald hari ini.
"Aku, salah Erika. Tidak seharusnya aku menolak bertemu Papamu. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada Papamu," kata Tika.
"Sudahlah, Ma. Kita. berdo'a saja semoga Papa tidak apa-apa," Erika mencoba menenangkan Tika.
Ketika pintu ruangan operasi terbuka, keluarlah dokter yang menangani Ronald. Erika, Tika, Mila dan Richard menghampiri dokter itu.
"Bagaimana dok kondisi suami saya?" tanya Tika.
"Alhamdulillah. Pasien sudah melewati masa kritisnya. Pendarahannya dapat dihentikan. Pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan untuk dirawat lebih intensif," jawab dokter.
Tak lama, keluarlah Ronald yang berada di brankas, didorong oleh beberapa perawat. Semua mengikuti Ronald ke ruang perawatan.
__ADS_1
"Pasien masih dalam pengaruh obat bius. Jika pasien siuman, mohon jangan banyak diajak bicara dulu. Pasien harus banyak istirahat," kata seorang perawat.
"Baik, suster," jawab Tika.
Semua menatap Ronald yang masih belum siuman di ranjang. Erika dan Tika mengelus tangan Ronald. Tiba-tiba Tika ingin ke toilet, ia ingin buang air kecil.
Setelah ia telah selesai, ketika membuka pintu toilet sedikit, terdengar suara Ronald yang sedang berbicara. Tika mendengarkan dari dalam toilet.
"Aku rela kalau harus kehilangan nyawa demi anakku. Aku ingin menebus kesalahanku dulu padamu, Mila dan pada anakku. Erika tumbuh tanpa diriku. Aku selalu dihantui rasa bersalah," kata Ronald.
"Sudahlah. Itu semua sudah berlalu. Aku sudah memaafkanmu. Ingatlah, kamu akan punya anak sekarang. Cepatlah sembuh. Kamu harus melihat istrimu melahirkan dan melihat tumbuh kembang anakmu," kata Mila.
"Reyhan tadi menelepon. Polisi sedang melacak pelaku penusukan itu. Untung ada CCTV dijalan didepan sebuah toko lokasi penusukan itu. Aku akan memastikan kalau pelaku penusukan itu harus tertangkap. Sasaran utamanya adalah Erika. Aku akan menyuruh seseorang untuk menyelidiki motif pelaku itu. Sangat berbahaya kalau ia masih berkeliaran," kata Richard.
"Semoga segera tertangkap," jawab Ronald.
"Richard, aku titip Mila. Walau ini terlambat aku ucapkan, tolong kamu bahagiakan dia. Aku berharap, kalian akan selalu bahagia. Karena aku dulu tidak dapat membahagiakannya," Ronald terisak.
"Kamu jangan khawatir. Aku akan membahagiakannya. Tugasmu sekarang adalah membuat keluarga barumu bahagia," Richard mengusap lengan Ronald.
"Kapan-kapan kalau kau ingin ke London, kamu boleh mengunjungi makam Papa," kata Richard lagi.
"Benarkah? Terimakasih, Richard!" Ronald tidak dapat menahan rasa terharunya. Ia berlinang air mata merasakan kebahagiaan yang diberikan Richard.
"Kamu tahu, Richard. Aku tetap menganggap Papa Brian adalah Papaku. Tidak ada yang dapat menggantikan Papa di hatiku. Impianku bertahun-tahun adalah dapat melihat pusara Papa. Terimakasih, Richard," Ronald mengusap airmata yang menetes dipipinya dengan tangan yang satunya yang tidak diinfus.
"Aku akan memberikan tiket untukmu setelah kamu sembuh. Kamu bisa baby moon dengan istrimu ke London," kata Richard, "Biar saingan dengan Erika yang nanti akan honeymoon, ha ha ha ....!" seloroh Richard. Semua tertawa.
"Papa!" Erika merengut pada Richard. Tapi tak lama iapun tertawa.
Tika di dalam toiletpun ikut tersenyum. Tika benar-benar bersyukur, mendapat keluarga yang baik hati. Kecemburuannya pada Mila tidak seharusnya menggerogoti hatinya. Mila dan keluarganya sangat baik pada Ronald. Padahal apa yang sudah dilakukan Ronald di masa lalu sungguh keterlaluan. Mereka menjadi satu keluarga yang rukun sekarang dengan pasangan masing-masing.
"Istirahatlah. Kamu harus banyak istirahat kata Suster. Kami pamit pulang dulu. Semoga cepat sembuh," kata Mila.
Tikapun keluar dari dalam toilet.
"Mbak, maaf ya sudah merepotkan Mbak dan suami Mbak. Dan Terimakasih atas segala kebaikan keluarga Mbak," kata Tika.
Tika dan Mila berpelukan.
"Kita ini keluarga. Sudah seharusnya peduli dan saling membantu," kata Mila.
Richard dan Milapun pamit pulang. Erika mengantar mereka sampai depan rumah sakit.
Sore itu terasa indah. Karena Tika seperti mendapat saudara baru, keluarga baru. Hilanglah segala keraguan dan prasangka pada Ronald, suaminya.
Tika mencium kening Ronald ketika Ronald akan beristirahat.
"Tidurlah, Bang. Supaya Abang cepat sembuh."
"Maafkan Abang, Tika ....," bibir Ronald ditutup jari Tika.
"Sttt ... Tika juga minta maaf karena sudah salah paham ke Abang. Sekarang tidurlah," kata Tika.
Ronaldpun menurut. Ia memejamkan matanya untuk beristirahat.
TO BE CONTINUED
__ADS_1
Hai Readers! Ternyata jadi penulis Novel itu berat. Karena dibutuhkan kemampuan merangkai kata yang panjang. Mood itu sangat berpengaruh pada kecepatan merangkai kata. So, saya sangat apresiasi sekali pada Author yang dapat membuat karya hingga beratus-ratus episode atau bab. Karena kalau saya, gak kuat. Ini karya pertama saya yang bisa lebih dari seratus bab. Penyakit saya adalah selalu ingin cepat mengakhiri cerita, tidak bisa berpanjang-panjang hingga beratus-ratus episode. Karena menurut saya, kalau dipanjangkan ceritanya bisa-bisa keluar jalur dari judulnya. Itu menurut saya lho. So, tinggal satu bab lagi saya punya hutang pada Readers walau saya harus jungkir balik mengatur waktu ditengah kesibukan kerja di dunia nyata. Selamat membaca!