
Pagi-pagi Monica yang sudah rapi bersiap untuk pulang, diajak Ronald untuk sarapan terlebih dahulu. Merekapun sarapan nasi goreng buatan juru masak di rumah itu.
Monica melihat beberapa pelayan di rumah itu sudah berganti. Termasuk kepala pelayan. Banyak kenangan buruk yang Mila/Monica ingat di rumah itu. Tak terasa setetes air mata jatuh di pipinya. Monica segera menghapus air matanya sebelum Ronald melihatnya.
Selamat tinggal Mila yang lemah dan tak berdaya
Selamat datang Monica yang kuat dan kejam
Tak terasa Monica menyunggingkan senyum smirk. Perannya saat ini adalah gadis lembut dan manis tapi hatinya penuh dengan balas dendam.
Tuhan ...
Biarkan aku membalas sakit hati ini
Aku hanya manusia biasa
yang punya rasa sakit
dikhianati, diabaikan, dianiaya
diremehkan, direndahkan, dihina, dicaci maki,
difitnah, diperkosa, dan diperlakukan bak tawanan
Aku hanya gadis biasa
yang ingin hidup bahagia,
dicintai, disayangi, dihormati
dan dihargai
Aku hanya ingin keadilan
Aku hanya ingin menghukum mereka
Aku hanya ingin membalas mereka
Supaya mereka tahu bagaimana sakitnya
diriku dulu
Aku bukanlah malaikat
Tapi aku juga bukan iblis
Aku hanya ingin keadilan
Dengan caraku sendiri
"Nanti siang, aku jemput kamu ya. Aku mengajakmu menjenguk Papaku. Aku ingin mengenalkan kamu pada Papaku. Setelah itu aku akan mengenalkan Mamaku, sekalian kamu lihat apartemenku. Mamaku tinggal sana sekarang," kata Ronald.
"Mamamu tidak bersama Papamu?" Monica bertanya.
"Mereka berdua sedang ada masalah. Biasalah, namanya juga rumah tangga. Kadang-kadang sepasang suami istri bertengkar dan marahan, itu biasa bukan? Nanti juga baikan lagi," jawab Ronald menutupi yang sebenarnya terjadi.
Monica hanya mengangguk mendengar penjelasan Ronald. Mereka segera mempercepat sarapan mereka. Karena Ronald hari ini banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan agar ia dapat pergi bersama Monica untuk menjenguk Papanya dan mengunjungi Mamanya.
💮💮💮💮💮
Siang hari setelah jam istirahat tiba, Ronald berniat menjemput Monica. Hari ini Ronald tidak akan kembali ke kantor karena hari ini ia khususkan untuk menjenguk Papanya dan mengunjungi Mamanya, sekaligus memperkenalkan Monica pada mereka.
Ronaldpun tiba di butik Monica. Butik cukup ramai oleh pengunjung. Beberapa karyawan Monica sedang melayani pembeli. Monica tampak sedang melayani seorang laki-laki muda yang sedang memilih pakaian wanita. Mungkin untuk kekasihnya. Tapi bukan itu yang membuat Ronald gusar. Mereka tampak akrab dan sekali-kali mereka tertawa.
Laki-laki itu malah mengepaskan sebuah gaun pada tubuh Monica. Laki-laki itu bahkan memuji kecantikan Monica yang dibalas dengan senyuman manis Monica.
Ronald cemburu. Ronald dengan cepat masuk ke butik dan langsung merengkuh bahu Monica.
"Sayang ...., jadi tidak kita pergi?" tanya Ronald mesra.
Monica terkejut. Laki-laki itupun terkejut.
"Mas Ronald! Bikin kaget saja!"
"Ya sudah Mbak, saya ambil yang ini sama yang itu ya," Laki-laki itu sepertinya merasa tidak enak dan ingin segera pergi.
"Beneran? Wah .... pasti Mama Mas Irfan akan senang sekali!" kata Monica.
"Dinda! Tolong bungkus pakaian pilihan Mas Irfan ya. Silahkan Mas Irfan ke kasir. Saya tinggal dulu ya Mas," kata Monica ramah pada pembelinya.
Monica mengajak Ronald ke ruangannya untuk mengambil tas Monica.
__ADS_1
"Apa sih Mas, malu tahu didepan pembeli, begitu," kata Monica.
"Biar orang tahu kalau kamu itu sudah ada yang punya," jawab Ronald.
"Hmmm ......," Monica hanya mencebik. Ronald tersenyum.
Setelah Monica mengambil tasnya dan memberi arahan pada karyawannya, Monicapun pergi bersama Ronald ke rumah sakit.
Setelah tiba di rumah sakit, Monica diajak Ronald untuk ke ruangan perawatan Papanya. Di sana ada sekretaris Tuan Brian. Mereka sedang berbincang serius.
"Pah, sudah sehat?" tanya Ronald sambil memeluk Papanya. Pada sekretaris Papanya, Ronald berjabat tangan.
"Baiklah, Pak Brian. Saya akan ke kantor lagi. Jangan khawatir urusan kantor. Bapak yang sehat saja dulu," kata sekretarisnya. Tuan Brian tersenyum sambil mengangguk, kemudian sekretarisnyapun meninggalkan ruangan itu setelah mengangguk penuh hormat pada Tuan Brian, Ronald dan Monica.
"Kata dokter, Papa sudah sehat dan boleh pulang hari ini. Itu siapa Ronald?"
"O,h iya, Pah. Kenalkan, itu Monica. Dia dari London," kata Ronald.
Monica menjabat tangan Tuan Brian dengan sopan.
"Monica ini pebisnis, Pah. Dia punya butik," puji Ronald .
"Ah, Mas Ronald bisa saja. Cuma bisnis kecil-kecilan kok," Monica tersenyum malu.
"Kamu warga negara Indonesia?" tanya Tuan Brian.
"Saya warga negara Inggris, Pak. Mami saya sudah lama menetap di Inggris. Papi saya orang Inggris."
"Oh ....," Tuan Brian mengangguk.
"Maaf, tolong bisa tinggalkan kami sebentar? Saya ingin bicara dengan Ronald," kata Tuan Brian.
"Oh, silahkan. Mas Ronald, aku di luar dulu ya," kata Monica.
"Iya. Tunggu sebentar ya,"
Setelah Monica keluar ruangan, Tuan Brian berdehem. Ia memperbaiki posisi duduknya yang bersandar pada sandaran ranjang.
"Kamu tidak sedang ada hubungan dengan Monica kan Ronald?"
"Kenapa memangnya, Pah? Kami sudah jadian. Aku sedang mempertimbangkan untuk cerai dengan Susy."
"Kenapa memangnya, Ronald? Apa dia sama seperti yang Mamamu lakukan?"
"Kamu tidak tahu apa-apa Ronald! Papa sangat kecewa pada Mamamu. Sudah sejak lama. Setelah kematian Kakekmu. Papa tahu yang sebenarnya. Dan itu sakit rasanya. Papa merasa bersalah pada Mamanya Ricard."
"Jadi, Papa menyalahkan Mama?!"
"Papa juga bersalah. Richard harus secepatnya kembali ke sini. Papa juga tidak tahu harus bersikap bagaimana padamu,"
"Apa maksud Papa?!" Ronald merasa tersinggung.
"Nanti juga kau akan tahu," Tuan Brian masih menutupi kalau ia bukan Papa kandung Ronald.
Tuan Brian merasa tidak sanggup mengatakannya. Selama ini ia begitu menyayangi Ronald. Ia malah kurang memperhatikan Richard yang jelas-jelas anaknya. Perasaan bersalah pada Ricard semakin besar.
'Biarlah nanti kamu tahu setelah kematianku. Maafkan Papa. Sudah cukup Papa mengurusmu dan membesarkanmu. Kamu hidup senang selama ini. Sedangkan Richard anakku yang menderita. Papa hanya akan memberikan sedikit harta Papa untukmu, Ronald. Papa harus menebus kesalahan Papa pada Richard dan Nancy. Nancy ..... maafkan aku," Tuan Brian tiba-tiba menangis. Dan itu membuat kondisinya drop lagi.
"Ronald, Telpon Richard! Papa ingin bertemu!" Pinta Tuan Brian di tengah kesakitannya.
Ronald panik. Ronald memijit bel yang ada di kamar. Beberapa saat kemudian perawat dan Dokter datang. Mereka segera memberi tindakan medis.
Ronald keluar ruangan dengan perasaan cemas.
"Ada apa? Papamu kenapa?" tanya Monica.
"Papa drop lagi!" jawab Ronald.
"Yang sabar ya. Semoga Papamu cepat sembuh," Monica mengusap tangan Ronald.
"Papa anda usahakan jangan banyak pikiran. Jangan membuat Papa anda sedih atau tertekan. Ajaklah bicara yang membuatnya gembira. Emosinya berpengaruh pada penyakitnya. Buatlah Papa anda gembira," pesan dokter ketika telah selesai memberi tindakan medis pada Tuan Brian.
'Aku nanti akan menelepon Kak Richard, kalau memang itu akan membuat Papa bahagia,' kata Ronald dalam hati.
Satu jam kemudian, ketika Tuan Brian dinyatakan stabil oleh dokter, Ronald mengajak Monica ke apartemennya. Papanya sudah ada yang menunggui yaitu Pak Dani, sopir baru Papanya.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, merekapun sampai di Apartemen Ronald. Ketika Ronald datang, Mamanya sedang mondar-mandir di ruang tamu.
"Ronald! Mama ada acara nanti malam. Mama enggak ada baju! Baju-baju Mama masih di rumah Papamu! Ambilkan baju-baju Mama, Ronald! Mama enggak boleh masuk ke rumah itu!"
"Ya, Ma. Nanti," jawab Ronald.
__ADS_1
"Ma, kenalkan, ini Monica. Teman dekat Ronald saat ini," kata Ronald memperkenalkan Monica.
"Hallo, Tante. Ternyata Mamanya Ronald masih cantik dan Seksi," kata Monica memuji.
"Hai, cantik! Bisa aja! Tante jadi malu! Sini duduk sama Tante!" Nyonya Jeny mengajak Monica duduk setelah cipika-cipiki.
"Ronald, kamu dapat dari mana, cewek secantik dan se elegan Monica?" Mama Ronald terlihat menyukai Monica.
"Ada aja, Ma!" jawab Ronald sambil ikut duduk, "Dia dari London, Ma!"
"Oh ya?" Tante Jeny membulatkan netranya.
"Tante senang kamu dekat sama anak Tante. Monica kerja dimana?"
"Monica punya butik, Ma," Ronald yang menjawab. Nyonya Jeny makin suka.
"Ah, cuma butik kecil-kecilan kok, Tante."
"Wah ...., jangan suka merendah. Orangtuamu pasti orang yang kaya iyakan?"
"Biasa aja, Tante."
"Hmmm ...., Tante suka gadis yang tidak sombong. Daripada Si Susy! Dia gayanya aja selangit! Padahal kedua orangtuanya bukan orang yang kaya. Dia tuh enggak sopan kalau bicara dengan orangtua," kata Nyonya Jeny.
"Jadi, Mama setuju kalau aku sama Monica, Ma?" Ronald bersemangat kalau hubungannya disetujui Mamanya.
"Setuju, banget! Biar Si Susy kapok! Menantu seperti dia harus di buang jauh-jauh!" Nyonya Jeny memberi dukungan.
"Terimakasih, Tante. Monica senang, kalau Tante mendukung hubungan kami," Monica menyentuh tangan Nyonya Jeny.
"Iya, sayang. Mama pasti dukung kalian," jawab Nyonya Jeny.
"Oh iya, Tante. Tadi Monica dengar, Tante perlu baju ya buat acara Tante nanti malam?" tanya Monica memancing.
"Oh iya, Ronald. Cepat kamu suruh pelayan di rumah Papamu buat ngambil baju Mama," Nyonya Jeny teringat lagi masalahnya.
"Gimana kalau Tante ke butikku saja? Tante bisa memilih baju sesuka Tante di sana?" Monica bersikap manis untuk menarik simpati Nyonya Jeny.
"Ah yang benar, Monica?! Aduh .... Tante enggak tahu harus bilang apa, dapat calon menantu yang baik hati. Udah cantik, baik lagi!"
Monica pura-pura tersipu malu.
"Apa tidak merepotkanmu, Monica? Biar nanti aku bayar baju-baju yang Mama pilih," Ronald merasa tidak enak.
"No! Tidak repot! Saya senang membuat Tante bahagia," ujar Monica.
"Aduuuh ....kamu benar-benar calon menantu idaman Tante, Monica!" Nyonya Jeny memeluk Monica.
"Ya, sudah, kita ke butik sekarang," ajak Monica.
"Ya. Mama ganti baju dulu ya," Nyonya Jeny sangat antusias. Ia lalu beranjak ke kamarnya.
Sedangkan Ronald memandang lekat Monica. Lalu ditariknya Monica hingga berada dipangkuan Ronald.
"Kamu pintar mengambil hati Mamaku! Mama langsung suka padamu!" Ronald mencium pipi Monica.
"Mas .... malu, ada Mamamu!" Monica mengingatkan.
"Aku tidak perduli! Aku ingin menikmati bibirmu yang Seksi!" lalu tanpa dapat dicegah, Ronald sudah mel*mat bibir Monica yang membuatnya kecanduan.
'Gila ini orang! Main sosor aja gak kenal situasi! Huh!' rutuk Monica dalam hati.
"Ronald! Kamu enggak kenal tempat! Ada Mama di sini!" Nyonya Jeny yang melihat pemandangan yang memalukan, langsung menjewer telinga Ronald.
"Aw! Aduh, Ma! Iya, iya! Maaf!" jerit Ronald sambil melepaskan Monica.
Monica dengan malu bangun dan duduk menjauh dari Ronald.
"Ayo, kita berangkat sekarang, sayang?" ajak Nyonya Jeny mengulurkan tangannya untuk berpegangan tangan dengan Monica.
Monica menyambut tangan Nyonya Jeny. Merekapun segera keluar dari apartemen. Sedangkan Ronald ditinggal sendiri.
"Hei, tunggu! Dasar Mama! Aku kok ditinggal?! Maa....! Monica ....! Tunggu!"
TO BE CONTINUED
Maaf baru bisa up. Author habis di vaksin yang ke 3. Doakan semoga sehat selalu ya. Kalian juga, para Readerku! Beri dukungan terus pada novel ini ya.
Baca juga 2 novelku yang udah tamat. Beri vote, like, komen, dan hadiahmu ya! Terimakasih!
__ADS_1