KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 38. SIASAT MONICA


__ADS_3

Tiba di rumah, Susy langsung masuk ke rumah tanpa mengajak Monica. Ronald menahan tangan Monica ketika akan keluar dari mobil.


"Sebentar, Monica."


"Ya?"


"Aku minta maaf, telah bohong padamu. Aku sudah beristri dan punya anak. Tapi kurasa, aku sudah tidak cocok dengan Susy. Aku salah memilih istri," kata Ronald.


'Huh, baru sekarang kamu bilang begitu! Dulu, kamu memuji-muji dia dan menghinaku!' kata batin Mila.


"Bukannya dia seorang wanita yang sempurna?" pancing Monica alias Mila.


Deg!


Ronald teringat ucapannya dulu pada Mila.


'Susy wanita berkelas,


wanita yang sempurna,


wanita yang cantik,


wanita yang lebih segalanya dari Mila ......'


Itu kata-kata yang sering dilontarkan Ronald sambil menghina Mila yang dibilang kampungan, jelek, dekil, hitam, dan tidak sepadan dengan Susy.


"Kok diam saja? Apa ada wanita lain yang lebih baik dari Susy di hidupmu?" pancing Monica lagi.


"Ada. Sudahlah! Saat ini hanya kamu yang terbaik!" jawab Ronald.


'Kamu belum mau jujur tentang Mila!' batin Monica berbicara.


"Kamu kira, aku mau jadi kekasih pria beristri?" Monica bersidekap, "Kebohonganmu menghancurkan hatiku!"


"Monica! Kumohon! Aku butuh kamu! Kamulah wanita yang tepat menurutku! Walau kita belum lama kenal. Tapi aku tahu kamu bukan orang yang egois seperti Susy. Hatimu baik dan penuh cinta," kata Ronald memohon.


"Lalu maumu apa?"


"Kita jalani seperti ini dulu. Nanti Susy akan kuceraikan!"


"Oh ya? Apa aku harus percaya padamu?"


"Percayalah padaku!" janji Ronald.


Monica percaya saja. Lebih tepatnya pura-pura percaya.


Lalu merekapun turun dari mobil. Pelayan yang membukakan pintu merasa heran ada wanita yang mau menginap di rumah majikannya malam-malam. Tapi ia tidak berani bertanya.


Ronald mengantar Monica ke kamar tamu yang berada di lantai 1. Tak jauh dari kamar Susy sekarang. Ronald mempersilahkan Monica masuk ke kamar itu.


"Ini kamar untukmu. Di sini ada pakaian wanita. Kamu pilihlah yang kamu suka. Nanti setelah kamu membersihkan badan, aku tunggu di ruang makan," kata Ronald.


"Terimakasih," kata Monica sambil mencium pipi Ronald sekilas.


Ronald membulatkan netranya. Ronald kemudian malah menarik pinggang Monica. Dip*g*tnya bibir Monica yang terlihat menggoda.


Susy mengintip dari balik pintu kamarnya dengan geram. Posisinya di rumah itu kini terancam. Setelah melihat Ronald pergi dari kamar Monica. Susy menghampiri Monica.


Belum sempat Monica menutup pintu kamar, Susy menerobos masuk sehingga Monica hampir jatuh terjengkang.


"Hei, pelakor! Tidak tahu malu! Kamu sudah tidak laku ya? Kamu mau merebut suamiku?!" Susy dengan beringas menjambak rambut Monica sehingga Monica menjerit kesakitan.


"Bagaimana dengan dirimu? Bukannya kamu juga dulu merebut suami orang?!"


"Apa kau bilang!?" Susy tidak terima.

__ADS_1


Plak!


Plak!


Susy menampar Monica hingga sudut bibir Monica berdarah.


"Susy! Apa yang kau lakukan?!" Ronald tiba-tiba kembali lagi ke kamar Monica karena mendengar suara gaduh.


"Ti-tidak ada! Aku .... aku .... cuma ....," Susy merasa cemas.


Plak!


Plak!


Plak!


Plak!


Ronald menampar Susy lebih banyak lagi dari yang Susy lakukan pada Monica.


"Kenapa kamu menamparku, Mas?! Aku cuma tidak suka ada wanita lain di rumah ini!" Susy menangis histeris.


Ronald memeluk Monica. Diusapnya sudut bibir Monica yang berdarah. Kemudian Ronald menghampiri Susy. Susy baru kali ini merasa takut melihat Ronald yang menatapnya tajam seperti akan mencabik-cabiknya.


Dengan tanpa diduga-duga, Ronald menjambak rambut Susy, lalu diseretnya keluar dari kamar Monica.


"Menyingkir kau dari kamar Monica! Rasakan hukuman dariku karena kamu sudah menyakiti Monica!"


"Aw, sakit Mas! Sakit .....! Ampun Mas! Ampun ....!" Susy berteriak-teriak kesakitan, tapi Ronald tidak perduli.


Monica tersenyum smirk. Sandiwaranya yang terlihat lemah disakiti Susy telah berhasil membuat Ronald marah besar pada Susy.


'Rasakan yang aku rasakan dulu, wanita j*l*ng! Roda dunia akan berputar! Sekarang giliranmu merasakan sakitnya disiksa suamimu!'


Para pelayan di rumah Ronald keluar semua mendengar kegaduhan yang terjadi. Mereka terbelalak melihat majikannya seperti sedang bertengkar hebat.


Semua pelayan mengangguk dengan takut. Termasuk baby sitter Ricky.


"Dan satu lagi, anggap kalian tidak pernah melihat dan mendengar apa-apa bila aku sedang menghukumnya!"


"Baik, Tuan," jawab pelayan sambil menunduk serempak.


"Jauhkan Ricky dari dia, paham?!"


"Paham, Tuan!" jawab para pelayan.


"Kalian boleh kembali ke kamar kalian!"


Pelayan pun segera kembali ke kamar mereka dengan ketakutan. Mereka tidak ingin punya masalah dengan Tuannya. Mereka tidak ingin terkena hukuman.


Susy dihempaskan ke kamarnya dengan kasar. Kemudian dikunci dari luar. Susy berteriak-teriak memaki-maki Monica dan Ronald.


Ronald tidak perduli. Ronald menghampiri Monica.


"Sini, kuobati luka disudut bibirmu," Ronald mengambil kotak obat. Kemudian sudut bibir Monica diobati oleh Ronald. Monica meringis menahan perih.


"Tahanlah, sayang. Kamu harus cepat sembuh, agar bibirmu dapat kul*m*t lagi," kata Ronald sambil menahan tawa. Monica memukul dada Ronald dengan manja. Membuat Ronald terbahak.


"Sebaiknya kamu pindah kamar di lantai 2 saja. Di sini berisik! Nanti tidurmu terganggu. Biarkan saja dia begitu. Nanti juga capek sendiri," kata Ronald sambil menggandeng tangan Monica.


Ronald membawa Monica ke lantai 2. Kamar untuk Monica tak terlalu jauh dari kamar Ronald. Ronald membukakan pintu kamar untuk Monica di lantai 2. Mereka pun masuk ke kamar itu.


"Mandilah! Dandan yang cantik! Di kamar ini juga ada pakaian wanita. Pilihlah yang paling bagus. Aku tunggu makan malam di ruang makan. Maaf telah membuatmu terganggu dengan ulah Susy tadi," bisik Ronald dengan mesra.


Monica mengangguk. Ronaldpun pergi setelah mencium punggung tangan Monica.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


Monica mematut diri di depan cermin. Ia tampak cantik dengan dres pendek warna peach. Bibirnya memakai lipstick warna jingga dengan kesan basah dan seksi.


'Mimpi apa aku semalam. Aku harus berperan sebagai pelakor. Hhhh .... bibir ini jadi korban untuk peranku. Tak apa lah. Biar peranku terlihat meyakinkan. Kau akan menangis tersedu-sedu nanti setelah kau bucin, aku tinggalkan dengan cara yang menyakitkan!' gumam Monica.


Monicapun keluar dari kamar. Ronaldpun keluar dari kamarnya. Mereka saling pandang dan saling melempar senyum.


'Tampan! Tapi sayang, ketampananmu sudah tidak ada artinya bagiku. Aku sudah mati rasa padamu! Yang ada, aku ingin membuat kau merasakan kesakitan seperti yang aku rasakan!' batin Monica


'Cantik! Entah mengapa aku merasa dia seperti Mila. Berada di dekatnya, membuatku seperti berada dalam bayang-bayang Mila. Aku ingin menebus perlakuan burukku dulu pada Mila dengan memberinya cinta dan sayangku melalui Monica. Mila .... dimanakah dirimu?' batin Ronald.


"Sudah siap?" tanya Ronald.


Monica mengangguk sambil tersenyum manis. Ronald menggenggam tangan Monica. Mereka turun ke lantai 1 sambil saling berpegangan tangan.


Hidangan makan malam telah siap. Ronald menarik kursi untuk Monica. Setelah Monica duduk, Ronald pun duduk dengan berhadapan dibatasi meja.


"Menunya rendah lemak semua. Kau tak perlu takut untuk memakannya," kata Ronald.


"Aku tidak ada pantangan apapun. Aku juga tidak takut gemuk. Tapi entah mengapa badanku ya segini aja. Stabil," kata Monica.


"Syukurlah kalau kamu tidak ada pantangan. Aku suka," kata Ronald.


Lalu mereka hening, sibuk menikmati makan malam yang lezat. Makan malam mereka ditutup dengan dessert puding buah.


Setelah itu Ronald mengajak Monica untuk ke lantai 2. Mengajak Monica menuju balkon kamar Ronald.


"Wah ...., pemandangan dilihat dari sini sangat indah!" pekik Monica.


'Di rumah inilah aku disiksa. Diperlakukan seperti budak atau tawanan,' gumam Monica dalam hati. Pikiran dan mulutnya saling bertolak belakang.


"Kamu suka? Aku juga punya apartemen. Pemandangan dari atas apartemenku juga bagus. Kapan-kapan, aku akan mengajakmu ke sana," ucap Ronald sambil memeluk Monica dari belakang.


Ronald menc*um* pipi dan leher Monica. Seketika bulu romanya meremang. Monica berusaha menahan agar dirinya tidak terhanyut oleh cumbuan Ronald.


Monica melepaskan diri dari pelukan Ronald dengan perlahan.


"Mas, apa Susy masih menghabiskan uangmu dengan kartu-kartu darimu?" tanya Monica. Ronald pernah curhat tentang kekasihnya beberapa hari yang lalu. Tapi Ronald hanya mengatakan kekasih, bukan istri.


"Ya. Dia masih menggunakan kartu-kartu yang kuberikan dulu,"


"Kamu sudah tidak mencintainya. Tapi kamu masih memberinya fasilitas. Itu konyol! Kamu masih mencintainya," Monica tertawa sinis.


"Tidak! Bukan begitu! Aku belum sempat mengurusnya. Percayalah padaku! Kini hanya kamu yang kucintai," Ronald meraih bahu Monica.


Monica menepis tangan Ronald. Monica pura-pura marah dan cemburu.


"Bohong! Buktikan kalau ucapanmu benar! Aku ingin bukti!"


"Oke, baiklah. Aku sekarang memblokir semua kartunya. Dia tidak bisa menggunakan semua kartu itu lagi. Kamu puas?" Ronald memperlihatkan notifikasi diponselnya setelah beberapa saat sistem di bank memproses permintaannya.


"Aku kini percaya padamu, sayang!" Monica mengalungkan tangannya di leher Ronald. Posisi demikian membuat Ronald tergoda untuk mereguk lagi bibir Monica yang sudah seperti candu bagi Ronald.


Merekapun terhanyut dalam c*um*n yang memabukkan. Ronald hampir saja membuka kancing dress Monica. Monica dengan cepat menangkap tangan Ronald.


"Maaf, Mas. Kalau itu, aku tidak akan berikan! Keluargaku memegang teguh prinsip untuk menjaga kesucian. Walau aku dilahirkan dan dibesarkan di luar negeri, tapi kami sekeluarga berkomitmen untuk memberikan kesucian hanya pada suami. Aku dan dua saudara perempuanku sudah berjanji hal itu," kata Monica.


Ronald menghembuskan nafas.


"Maafkan aku! Aku terbawa suasana! Aku senang kalau kau punya prinsip begitu. Aku bertambah kagum padamu. Aku menghormati prinsipmu!" Ronald kemudian menjauhkan badannya dari Monica. Berada lama-lama di dekat Monica, membuat hasrat kelelakiannya bangkit.


'Huffff! Hampir saja! Aku tidak sudi tubuhku dijamah dia!' Jangan sampai aku terbuai! Sandiwaraku jangan sampai gagal! Aku tidak boleh terpengaruh apapun! Aku harus berhasil membuat dia menangis darah nanti,' kata batin Monica.


Susy ... bersiaplah menghadapi hari-hari surammu!

__ADS_1


TO BE CONTINUED


Selamat menikmati double up hari ini! Jangan lupa selalu tinggalkan jejak ya! Itu sangat berarti buat Author lho!


__ADS_2