
Richard dan Mila sudah berada di rumah sakit tempat Nova bekerja. Mereka sudah menelepon Nova untuk memberitahukan maksud kedatangan mereka. Merekapun sudah melakukan pendaftaran ke dokter obgyn itu. Setelah sabar menanti giliran dipanggil, Merekapun akhirnya dipanggil oleh seorang perawat untuk masuk ke ruang praktek dokter Nova.
"Dok ...," sapa Mila.
"Gimana bulan madunya? Sukses?" tanya Nova sambil berpelukan dengan Mila. Kemudian Nova berjabat tangan dengan Richard.
"Makanya kami datang kemari. Karena ingin diperiksa. Mila tadi pagi mual-mual terus. Sikapnya juga aneh," kata Richard.
"Oke, periksa urin dulu ya. Kemudian USG," kata Nova.
Milapun diminta masuk ke toilet untuk menapung urin dalam sebuah wadah. Kemudian tes pack di masukkan dalam urin itu. Setelah ditunggu beberapa saat kemudian, muncullah hasil tes pack itu.
Mila memberikan tes pack pada Nova.
"Wah, dua garis merah! Kemungkinan Mila hamil! Selamat ya Mila, Richard!" kata Nova. Richard dan Mila berpelukan karena gembiranya.
"Sekarang untuk lebih memastikan lagi, kita USG ya," kata Nova.
Mila berbaring di ranjang periksa. Nova mengoleskan gel pada perut Mila. Kemudian transducer disentuhkan.pada kulit perut Mila. Terlihatlah gambar janin di layar monitor yang memperlihatkan bayi mereka.
"Ini janinnya sudah terlihat sebesar kacang. Usianya 6 minggu. Kamu tokcer sekali Richard! Kerja kerasmu selama 6 minggu ini membuahkan hasil!" ucap Nova sambil tersenyum.
"Ha ha ha ...., bukan hanya aku yang bekerja keras. Dia juga," jawab Richard penuh suka cita. Ia mengelus kepala Mila. Netranya tak lepas memandang layar USG dengan takjub.
"Kamu bicara apa sih Bie! Malu tahu!" kata Mila menarik tangan Richard dengan manja.
"Pantesan dia jadi manja sekali. Aku sudah curiga waktu dia mual-mual. Terus mualnya langsung hilang begitu dia mencium-cium aroma. tubuhku," ungkap Richard.
"Beruntungnya kamu, Richard. Orang lain malah ada yang benci aroma tubuh suaminya. Malah katanya bikin mual. Sehingga marahin suaminya kalau dekat-dekat," kata Nova.
"Wah, kalau seperti itu, dia bisa uring-uringan kalau sehari saja enggak peluk aku," Mila mengerling.
"Apa enggak sebaliknya, kamu yang uring-uringan?" balas Richard.
"Sudah! Sudah! Kalian sama-sama bucin! Gak bisa jauh sebentar saja!" kata Nova untuk mengakhiri perdebatan Richard dan Mila.
Pemeriksaan pun selesai. Mila menerima foto USG kandungannya. Mila juga diberi resep vitamin dan juga saran tentang apa saja yang harus dilakukan selama kehamilan trimester pertama dan hal apa saja yang tidak boleh dilakukan.
"Tapi tidak apa-apa kan kalau aku nengok bayiku?" tanya Richard.
__ADS_1
"Boleh, asal pelan-pelan dan tidak boleh sering-sering. Karena kehamilan di trimester pertama rentan keguguran," pungkas Nova.
Richard dan Milapun pamit pada Nova. Tak lupa mereka memberikan oleh-oleh untuk Nova sekeluarga. Karena mereka akan langsung ke rumah Alfred untuk menjemput Erika.
Sepanjang jalan, Richard memandang foto USG itu. Hatinya berbunga-bunga karena sebentar lagi ia akan punya anak.
"Yang dipandang, anakmu saja. Kamu sudah lupa sama mamanya," Mila merajuk.
Richard langsung meletakkan foto USG itu. Ia lalu merangkul dan mencium puncak kepala Mila yang duduk disampingnya.
"Iya, iya. Kamu tuh sama anak sendiri aja cemburu. Aku cinta kalian semua," kata Richard.
Setibanya di rumah Alfred, mereka memberitahukan kabar gembira itu. Meraka memperlihatkan foto USG kandungan Mila. Tentu saja keluarga Alfred merasa gembira mendengarnya. Apalagi Erika. Ia sangat gembira akan menjadi seorang kakak.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, merekapun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Karl. Mila memberikan oleh-oleh untuk Alfred dan Mayang. Tak lupa mereka juga titip oleh-oleh untuk keluarga Clark yang tidak bisa menemui mereka karena kesibukan mereka.
Sepanjang perjalanan ke rumah Karl, Erika antusias membicarakan tentang calon adik yang ada di perut Mamanya. Erika sudah punya rencana-rencana untuk ia dan adiknya nanti kalau sudah lahir. Mila dan Richard menanggapinya dengan gembira karena Erika begitu sayang pada calon adiknya.
Ketika mereka tiba di rumah Karl, mereka mendapati rumah Karl dalam keadaan kosong dan terkunci. Mila menelepon Karl. Tetapi tidak diangkat. Setelah melakukan panggilan berulangkali, barulah ponsel Karl ada yang mengangkat.
"Halo, maaf, saya mengangkat ponsel Tuan Karl. Tuan Karl saat ini dirawat di rumah sakit DDD. Kondisinya buruk setelah istrinya koma kembali," kata suara di ponsel.
Mobil Richardpun membawa mereka ke rumah sakit DDD. Mereka segera menemui Karl. Karl terlihat diinfus. Kondisinya terlihat lemah. Untung sewaktu mereka datang, Karl sedang sadar.
"Karl!" pekik Mila.
Mila menghambur memeluk Karl. Richard dan Erika menghampiri Karl. Richard menyentuh lengan Karl
"Karl, kenapa kamu tidak kasih kabar kalau kondisimu begini? Aku sangat terkejut mendengar kabar kamu masuk rumah sakit," kata Mila.
"Aku tidak mau mengganggu bulan madu kalian," kata Karl.
"Karl. Jika kamu menganggapku anak, kau tidak perlu sungkan untuk memberitahuku. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak perlu melanjutkan rencana bulan maduku. Kami seharusnya tetap menemanimu," kata Mila sendu.
"No, no, no! Kamu tidak bersalah! Aku yang salah, tidak menjaga kesehatan dengan baik. Aku terlalu memikirkan Emma sehingga lupa dengan kesehatanku sendiri."
"Apakah tidak ada keluargamu atau keluarga Emma yang bisa membantu kalian?" tanya Richard. Karl menggeleng lemah.
"Aku dan Emma sama-sama dibesarkan di panti asuhan. Kami sama-sama tidak punya keluarga. Bahkan anakpun yang satu-satunya kami miliki, meninggal dunia karena sakit sewaktu usianya menginjak 15 tahun," Karl menangis terisak mengingat anaknya yang telah tiada.
__ADS_1
Mila merasa trenyuh mendengar lagi kisah itu. Mila memeluk Karl kembali. Mila pernah melihat foto anak Karl dan Emma sewaktu dulu ia tinggal di rumah mereka. Anak Karl dan Emma seorang anak perempuan dengan penyakit jantung bawaan.
"Kamu jangan khawatir, Karl! Anggaplah kami keluargamu. Kami akan merawatmu dan Emma. Kami tidak akan pulang ke tanah air sebelum kalian sembuh, iya kan sayang?" Mila meminta persetujuan Richard. Richard mengangguk.
"Tenang saja, Karl. Kami akan bersamamu," jawab Richard.
"Kakek! Kakek cepat sembuh ya! Biar bisa bermain lagi denganku!" kata Erika.
Karl meraih tangan Erika. Ia merasa sangat terharu dengan perhatian keluarga kecil Mila.
"Iya, Erika! Doakan Kakek dan Nenek supaya cepat sembuh ya! Sehingga kita bisa bermain lagi bersama," jawab Karl tersenyum.
Akhirnya Mila dan Richard bergantian menunggui Karl di rumah sakit. Mereka tidak bisa bersamaan menunggui Karl dan Emma, karena ada Erika. Anak kecil tidak boleh berada lama-lama di rumah sakit. Selama mereka bergantian menunggui Karl, Mila, Richard dan Erika tinggal di rumah Karl.
Selama Mila dan Richard bergantian menemani Karl di rumah sakit, kesehatan Karl berangsur-angsur membaik. Sedangkan Emma, belum ada tanda-tanda tersadar dari komanya.
Tepat di hari keempat Mila dan Richard menemani Karl di rumah sakit, dengan tanpa diduga-duga, Karl meninggal dunia. Hal itu membuat Mila dan Richard merasa shock, karena kondisi Karl mereka kira akan sembuh. Rupanya itu hanya membuat Mila dan Richard gembira sesaat melihat perkembangan kesehatan Karl. Itu adalah kenangan yang tak bisa dilupakan Mila. Padahal Mila sudah berencana akan membawa Karl dan Emma ke Indonesia jika mereka sudah sembuh.
Dan ternyata, Emma pun menghembuskan nafas terakhirnya ketika sehari setelah pemakaman Karl. Hal itu yang membuat Mila bersedih. Merekapun mengabarkan kabar sedih itu pada keluarga Alfred. Mereka semua datang sewaktu pemakaman Emma untuk mengucapkan turut berduka cita.
"Bie. Aku ingin cinta kita seperti cinta Karl dan Emma. Sehidup semati dengan campur tangan Allah. Cinta mereka suci dan abadi," kata Mila sambil bersandar pada tubuh Richard. Orang-orang yang menyaksikan pemakaman Emma sudah pergi meninggalkan pemakaman itu satu persatu. Kini hanya tinggal Mila, Richard dan Erika yang masih berada di depan pusara Emma dengan pusara Karl disebelahnya.
"Iya, sayang. Semoga Kita akan tetap bersama hingga maut memisahkan," jawab Richard.
Esok harinya, Mila dan Richard mendapat kunjungan dari seorang pengacara Karl. Segala biaya rumah sakit dan pemakaman sudah selesai Richad urus. Makanya mereka merasa heran ketika mendapat kunjungan dari pengacara itu.
"Kedatangan saya, untuk memberitahukan bahwa Mrs. Karmila mendapat warisan dari Karl dan Emma berupa sebidang tanah dengan bangunan rumah diatasnya, yaitu rumah ini dan juga seluruh isinya, juga mobil dan tabungan Karl sebesar 30.000 Pound Britania ( sama dengan 563.797.296,90 Rupiah )," kata pengacara itu.
Mila sangat terkejut mendengarnya. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat bentuk kasih sayang dari mendiang Emma dan Karl. Mereka rupanya telah menganggap Mila keluarga mereka. Hal itu membuat Mila terharu dan menangis tersedu mengingat kembali masa-masa indah ketika ia dulu tinggal bersama mereka.
"Terimakasih Emma ...., terimakasih Karl. Bukan seberapa banyak yang aku terima yang membuat aku terharu. Tapi dengan perhatian seperti ini aku merasa berharga, aku merasa dicintai. Aku merasa kalian adalah keluargaku," kata Mila di antara isak tangisnya.
Milapun secara resmi menerima serah terima warisan dari Emma dan Karl. Karena Mila dan Richard harus segera kembali ke tanah air, rumah Karl dan Emma rencananya akan disewakan dengan membayar tetangga Karl yang bertanggungjawab untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah dan penyewa rumah agar rumah Karl tetap terawat dengan baik. Sedangkan mobil dijual. Uang dari hasil penjualan mobil itu dan sebagian tabungan dari Karl disumbangkan ke panti asuhan, panti jompo serta panti sosial lainnya. Mila berharap harta Karl dan Emma bermanfaat untuk orang-orang yang kurang beruntung.
Ketika Mila akan pulang ke tanah air, Mila tak henti-hentinya memandang rumah Karl dan Emma yang penuh kenangan itu.
"Ayo, sayang. Kita harus segera ke bandara. Kita do'akan agar Karl dan Emma bahagia di alam sana. Semoga mereka bahagia, punya anak angkat yang berbakti," kata Richard sambil merengkuh Mila untuk masuk ke mobil.
TO BE CONTINUED
__ADS_1