KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 102 KEHAMILAN TIKA


__ADS_3

Setelah pemakaman Tuan Aji, Reyhan, Erika, dan Gilang yang masih ada di dekat makam Tuan Aji, tampak sedang berdo'a. Orang-orang sudah meninggalkan areal pemakaman.


Merekapun kemudian kembali ke rumah Tuan Aji. Gilang tampak sedang mengambil tas besarnya. Ia sepertinya sudah menyiapkannya jauh-jauh hari.


"Kak Reyhan," panggil Gilang


"Tugasku sudah selesai. Setelah ini aku akan mencari Ayah kandungku. Menurut kabar yang kudengar, Ayahku sekarang tinggal di Korea. Aku akan bekerja di Korea sambil mencarinya di sana," kata Gilang.


"Lalu bagaimana dengan harta Ayah di sini?" kata Reyhan.


"Itu menjadi hakmu. Rumah beserta isinya menjadi milikmu. Hanya itu yang tersisa dari Ayah. Ayah tak punya apa-apa lagi," jawab Gilang. Reyhan menitikkan air mata


"Tidak, rumah ini untukmu. Kamu yang telah merawat Ayah dengan baik. Terimakasih telah menjaga Ayah selama ini," kata Reyhan.


"Tidak. Ini hakmu sebagai anaknya. Aku sudah cukup berterimakasih telah mendapat kasih sayangnya dari sejak bayi sampai sebesar ini. Aku juga sudah menikmati harta Ayah dari aku kecil. Maafkan aku telah mengambil hakmu. Seharusnya Kak Reyhan yang mendapat kasih sayang dan mendapat dukungan keuangan untuk hidup dan sekolah. Aku juga berterimakasih, Ayah Kak Reyhan telah menjadi Ayahku selama ini. Tidak ada orang yang sebaik Ayah Kak Reyhan, menyayangi aku walau aku bukan anaknya. Maafkan aku telah mengambil hakmu," kata Gilang sambil terisak.


Reyhan dan Gilang saling berpelukan dan bertangisan. Erika ikut menitikkan airmata melihat mereka.


"Sebenarnya, aku ingin kamu tetap di sini. Kamu bisa bekerja di kantorku. Tapi kalau kau ingin mencari Ayahmu, aku tidak bisa melarang. Kamu berhak bahagia dengan keluargamu," kata Reyhan.


"Terimakasih Kak Reyhan atas perhatianmu. Aku harus pergi. Aku ingin bersama Ayahku. Kasihan Ayah atas sikap Ibu dulu padanya," kata Gilang.


"Aku pergi. Semoga kita bisa berjumpa lagi. Jaga diri baik-baik. Kakak ipar, aku titip Kak Reyhan. Jaga dia baik-baik." kata Gilang. Erika dan Reyhan mengangguk.


"Jaga diri baik-baik. Selamat jalan. Semoga berhasil!" kata Reyhan.


Gilang mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian pergi meninggalkan rumah itu sambil menenteng tas besarnya. Setelah agak jauh, Gilang menoleh dan melambaikan tangan. Gr*b telah menunggunya untuk membawanya ke bandara. Reyhan dan Erika menatap kepergian Gilang sambil melambaikan tangan.


"Selamat jalan .... semoga kamu bahagia ....," gumam Reyhan.


🌼🌼🌼🌼🌼


Sementara itu pasangan beda generasi hampir setiap malam olahraga ranjang. Bahkan kadang-kadang siang hari pun mereka berpeluh ria melakukan olahraga ranjang.


Stamina Ronald yang masih terjaga membuat keinginan Tika yang menggebu masih bisa diimbangi Ronald. Jatuh cinta lagi membuat Ronald serasa lebih muda 10 tahun. Semangatnya membara lagi. Ronald masih bisa melakukannya hingga tiga ronde.


Tubuh Tika seakan menjadi candu baginya. Ronald jadi dibuat ketagihan dengan permainan Tika yang sedikit nakal. Pengalaman Tika dimasa lalu yang tragis dalam berumah tangga membuatnya ingin memberikan servis yang terbaik pada rumah tangganya kali ini agar suaminya tidak berpaling pada wanita lain.


"Yang, udah belum? Abang udah enggak tahan," lirih Ronald menahan rasa geli campur nikmat.


Sudah menjadi favorit Tika mengulum benda itu dimulutnya.


"Sebentar lagi, Yang. Aku gemes," jawab Tika. Tika semakin mencengkeram benda itu sambil menghisapnya dengan kuat.


"Oooh Yang ....hmmmm ....," Ronald menggeram nikmat hingga merem melek.


Hingga tak tertahan lagi, benda itu memuntahkan laharnya. Tika tersenyum senang. Ia segera mengelapnya. Ronald tampak lega dan puas.


"Sekarang giliran dirimu yang akan ku buat melayang," kata Ronald.


Ronaldpun memberikan servis pada istrinya hingga Tika mende*sah. Jari Ronald bermain di inti tubuh Tika. Membuat pusaran-pusaran ken*matan pada daging kecil yang menonjol di inti Tika. Setelah puas dengan jarinya, Ronald menggunakan lidahnya untuk membuat Tika melayang ke awan. Kepala Tika tampak gelisah dengan kaki yang kejang dan kaku menahan ken*kmatan yang Ronald beri.


"Bang ...., uh ..., ah ...., hmmm ....," erang Tika.


"Kenapa sayang? Enak?"


Tika dengan pandangan sayu karena sudah dipenuhi kabut g*irah, hanya mengangguk.


"Baaaang .....!" pekik Tika sambil meremas sprei menandai gelombang puncak n*kmat yang menyergapnya. Tubuhnya terangkat, matanya terpejam merasakan pelepasannya.


Ronald tersenyum melihat Tika terkulai. Ia segera memberi Tika minum. Kemudian iapun minum, dan beristirahat sejenak.

__ADS_1


"Lanjut, sayang?" Tikapun mengangguk.


Mereka kemudian memulai lagi untuk memadu cinta. Tika dibuat kecanduan dengan g*nj*tan Ronald yang bertenaga. Sangat keras dan membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ini lebih h*t dari dua suaminya terdahulu. Ronald bisa melakukanya dengan durasi yang lama pula. Begitulah yang dilakukan Ronald dan Tika setiap malam hingga menjelang pagi.


Hingga suatu pagi Tika muntah-muntah. Kepalanya juga terasa pusing. Ronald menuntun Tika kembali ke ranjang . Tika dibaringkan ke kasur.


"Aku pasti masuk angin. Abang bikin aku begadang," kata Tika.


"Hmmmm .... maafkan Abang, sayang. Tapi semoga saja ini bukan masuk angin. Tapi ada junior yang hadir di sini," kata Ronald sambil menyentuh perut Tika.


"Benarkah Bang? Apa mungkin?! Aku dulu dibilang mandul karena tak juga hamil," kata Tika.


"Jangan percaya sesuatu yang belum pasti. Kita pergi ke dokter obgyn saja ya sayang? Aku ingin memastikan, supaya nanti kamu mulai menjaga makanan dan aktivitas kita," kata Ronald.


"Apa tidak sebaiknya periksa dulu dengan menggunakan test pack? Aku takut Abang kecewa kalau kita langsung ke dokter," pinta Tika.


"Kenapa harus kecewa. Kita masih banyak waktu untuk membuat junior," jawab Ronald sambil mengedipkan sebelah matanya. Tika tersipu sambil memukul manja dada Ronald.


"Tapi enggak apa-apa. Enggak ada salahnya di coba dulu pakai test pack. Nanti Abang beli ke apotik," kata Ronald kemudian.


Ketika mengecek urin Tika dengan menggunakan test pack, Tika dibuat tertegun karena muncul garis dua merah pada test pack itu.


"Bang, Tika mimpi atau bukan ya? Hasil test pack ini ....," Tika masih tertegun.


"Kamu hamil, Sayang! Kita akan punya anak!" kata Ronald antusias. Ia mencium pipi Tika dan memeluk erat tubuh Tika.


"Alhamdulillah ...., Bang, akhirnya Tika bisa hamil!" lirih Tika meneteskan air mata haru.


"Iya, sayang! Sekarang kita ke dokter Obgyn ya," ajak Ronald. Tika mengangguk.


Setelah mandi dan berpakaian, mereka sarapan terlebih dahulu. Tika hanya sarapan selembar roti dan teh manis hangat karena masih mual. Sedangkan Ronald sarapan nasi goreng.


"Erika, kamu akan ke kantor?" tanya Ronald.


"Iya, Pa. Supir belum datang. Papa dan Mahmud mau kemana?" Tika berdiri dekat pintu kemudi.


"Mahmud? Papa mau pergi sama Mamamu. Bukan sama Si Mahmud," jawab Ronald.


"Ha ha ha ....! Maksud Erika, Mahmud itu ya Mama. Mahmud itu Mamah muda, bukan orang yang bernama Mahmud. Papa, Papa ...., ada-ada aja," kata Erika. Tikapun ikut mentertawakan suaminya.


"Kamu itu pake disingkat-singkat segala! Panggil Mama aja! Papa enggak suka kamu panggil Mahmud ke Mama kamu! Nanti dikira apaan sama orang," kata Ronald.


"Ya ampuuuun ..... itu kan panggilan kesayangan dari Erika," jawab Erika.


"Pokoknya enggak boleh! Panggil Mama aja, jangan macam-macam!"


"Siap, Bos! OMG yang lagi bucin sampe segitunya," gerutu Erika.


"Biarin aja sih Bang," kata Tika.


"Enggak! Pokoknya enggak boleh! Nanti orang-orang pada ngikutin lagi. Nanti dikira namamu ganti jadi Mahmud," Ronald tetap bersikeras.


Erika dan Tika tertawa. Mereka geleng-geleng kepala. Dasar beda generasi ya gitu, beda pemikiran.


"Ngomong-ngomong mau kemana nih pagi-pagi udah mau pergi aja?" tanya Erika setelah puas tertawa.


"Ada deh! Nanti aja kasih tahunya, iya, kan Bang?" Tika tersenyum penuh arti.


"Ya, nanti juga kamu akan tahu," jawab Ronald.


"Mau kemana sih pake rahasia-rahasia segala? Jadi penasaran!" Erika memicingkan matanya.

__ADS_1


"Udah, kamu tunggu aja kabar dari kami. Tuh, supirmu datang! Cepat ke kantor! Nanti takut telat!" kata Ronald.


"Papa pelit! Mama juga pelit! Erika jadi kepikiran, tahu!" gerutu Erika. Walau bibir Erika mengerucut, Ia tetap cium tangan pada Papanya dan Mama sambungnya. Ronald dan Tika melambaikan tangan ketika mobil yang ditumpangi Erika bergerak meninggalkan mereka.


Pulang dari kantor, Erika langsung ke rumah Tika. Ronald yang sedang menonton TV langsung mendapat pelukan manja dari Erika.


"Ayo, Papa punya janji yang belum ditepati!" kata Erika.


"Janji apa?" Ronald pura-pura lupa.


"Tuuuh kan lupa!" gerutu Tika.


Tika datang sambil membawa tiga gelas teh hangat dan Risol yang masih hangat.


"Kebetulan kamu datang. Nih, Mama habis bikin Risol," kata Tika.


"Ma, kasih tahu dong Ma, kalian tadi pagi mau kemana?"


Tika dan Ronald saling berpandangan. Tika mengangguk, memberi kode pada suaminya.


"Kami tadi ke dokter Obgyn," jawab Tika.


"Hah? Serius? Lalu, gimana hasilnya?!" Erika antusias.


"Selamat Erika! Kamu akan punya adik!" kata Ronald tersenyum.


"Wah .... beneran nih?! Alhamdulillah ....! Papa akan punya anak lagi! Gak nyangka!" Erika terkejut campur bahagia. Ia berpelukan dengan Papanya.


"Selamat ya Pa," ucap Erika sambil memeluk erat Papanya, "Selamat ya Ma," Erika juga memeluk Tika.


"Terimakasih, Erika," jawab Ronald dan Tika.


"Sudah berapa minggu?" tanya Erika setelah duduk kembali di tempat semula.


"Sudah jalan delapan minggu," jawab Tika.


Erika kemudian memegang kedua bahu Ronald. Dilihatnya Ronald dari sisi kiri dan kanan.


"Kamu lagi ngapain sih Erika?" Ronald merasa heran.


"Papa! Rambut Papa sudah dua warna. Sudah ada ubannya! Mau punya bayi! Aduh gak kebayang deh! Papa nanti dikira nimang cucu!" kata Erika iseng.


"Kamu iseng banget sih Erika! Kamu ngeledek Papa terus!" ucap Ronald pura-pura marah.


"Ha ha ha ...! Bohong Pa! Rambut Papa masih hitam semua kok! Papa kan awet muda! Apalagi dapat Mama Tika Jadi tambah kelihatan awet mudanya!" puji Erika.


"Kamu bisa aja ngerayu Papa!"


"Tahu aja nih Papa! Ajak Erika makan - makan dong! Syukuran Papa mau kasih Erika adik," bujuk Erika.


"Oke. Kamu cepat mandi. Nanti kita akan makan malam di Restoran," kata Ronald.


"Asyiiik! Sip deh Pa!" Erika meneguk teh hangat kemudian mencomot Risol, lalu pergi ke rumah Papanya sambil memakan risol.


Ronald hanya geleng-geleng kepala sambil menatap putri kesayangannya. Sudah dewasa tapi kadang masih seperti anak-anak. Tika duduk disamping Ronald sambil memegang paha Ronald. Ia ikut menatap Erika sambil tersenyum. Tika mengelus perutnya. Hatinya merasa bahagia punya keluarga kecil yang menyayanginya. Ronald yang melihat Tika sedang mengelus perut, ikut mengelus perut Tika. Kemudian berjongkok didepan Tika. Ronald mencium perut Tika.


"Semoga sehat ya sayang. Dede baik-baik dan cepat tumbuh ya. Papa sayang sama Dede dan Mamamu." Tika dan Ronald tersenyum bahagia.


TO BE CONTINUED


Othor mengucapkan terimakasih yang sudah mengoreksi ataupun mengingatkan usia tokoh-tokoh pada novel ini. Memang ada kesalahan menghitung usia. Jadi Othor sudah memperbaikinya. Ada beberapa episode yang Othor perbaiki yang menceritakan tentang usia. Bila ada kesalahan lagi, mohon koreksinya, demi kelancaran dan masuk akalnya cerita. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2