KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 28. ANUGRAH DAN BENCANA


__ADS_3

Mila membuka matanya perlahan. Seketika ia merasakan perih dan panas di wajah dan lengan dekat pangkal lengannya.


"Panas ...., panas ...!" rintihnya. Iapun meraba wajahnya. Ia terkejut. Wajahnya terasa kasar dan agak lengket oleh luka. Terasa perih tak terkira.


'Apa yang terjadi dengan diriku? Kenapa bentuk mukaku serasa aneh?'


Mila melihat ke sekeliling. Ternyata ia berada di ruangan perawatan rumah sakit. Ia mencari-cari cermin


Nova masuk ke ruangan Mila.


"Kamu sudah siuman?"


Mila menoleh.


"Dokter? Saya ada dimana? Apa ini mimpi? Apa ini di alam kematian?" Mila masih belum percaya keadaan dirinya.


"Kamu ada di sebuah rumah sakit di London. Kamu masih hidup. Kamu selamat dari kebakaran itu," jawab Nova seraya mendekat.


"Kenalkan, nama saya Nova. Kamu dari Indonesia? Saya juga berasal dari Indonesia. Cuma, sudah lama kami menetap di London," kata Nova sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.


Mila diam saja tak membalas uluran tangan Nova.


"Sa-saya Mila," jawab Mila akhirnya.


"Kamu tidak perlu takut. Kamu aman di sini. Ini rumah sakit milik kakak iparku. Keberadaanmu, kami rahasiakan," kata Nova lagi.


"Saya lihat berita. Rumah tua yang terbakar itu ternyata markas sebuah gangster. Bagaimana kamu bisa berada di sekitar rumah itu? Saya dan suami saya menemukanmu tidak jauh dari rumah terbakar itu," Nova ingin mengorek keterangan dari Mila.


"Saya dijual oleh pihak perusahaan penyalur TKI. Karena saya selama beberapa hari tidak kembali bekerja di tempat yang mereka tempatkan," begitu Mila menceritakan awal mula ia bisa berada di sana. Lalu mengalirlah cerita Mila tentang kejadian yang menimpanya selama ia berada di London.


"Terimakasih, dokter telah menolong saya. Kalau tidak ada dokter, saya mungkin sudah pergi dari dunia ini," kata Mila tulus.


Mila kemudian teringat sesuatu. Iapun memegang perutnya sambil dilihatnya.


"Bayiku! Kemana bayiku?!"


"Tenanglah! Bayimu ada di inkubator. Bayimu lahir prematur. Tapi ia sehat dan tidak kenapa-napa. Kami mengoperasimu waktu itu," Nova mengambil kursi, lalu duduk di dekat ranjang Mila.


"Aku ingin melihat bayiku! Aku ingin menyusuinya!"


"Sabarlah! Nanti suster akan membawanya ke sini,"


"Aku ingin lihat wajahku. Aku butuh cermin,"


"Nanti ya. Wajahmu masih dalam pengobatan," kata Nova beralasan.


Nova mengetik sesuatu di ponselnya. Tak berapa lama, seorang perawat membawa seorang bayi.


"Nah, ini bayimu. Bayimu perempuan," kata Nova.


Perawat itu memberikan bayi itu pada Mila. Mila menerima bayi itu. Matanya basah. Mila terharu telah menjadi seorang ibu.


"Bayimu cantik. Persis dirimu," kata Nova.


Mila menimang bayi itu. Tiba-tiba bayi itu menangis dan menggerakkan kepalanya seperti mencari sesuatu.


"Bayimu haus! Susuilah!" kata Nova.


Sambil menyusui bayinya, Mila bergumam dalam hati.


'Selamat datang ke dunia, nak! Engkau adalah anugrah bagi Mama. Mama tidak sendirian lagi di dunia ini. Kita akan mengarungi kehidupan ini bersama-sama. Jangan pernah tanyakan Papamu! Mama akan menjadi Mama sekaligus Papa. Mama akan berusaha untuk membuatmu menjadi orang yang sukses. Yang akan mengangkat derajat kita, agar tidak ditindas oleh orang lain. Kamu adalah matahari Mama. Yang akan menerangi hidup Mama. Yang akan membuat Mama mampu berdiri tegak menghadapi apapun. Terimakasih Nak, telah hadir dalam hidup Mama,'


Bayi itu menghisap ASI Mila dengan pintar. Mila tersenyum bahagia. Air matanya mengalir deras. Nova dan perawat itu melihat mereka dengan tersenyum.


Setelah kenyang, bayi itu tertidur kembali. Mila ingin mencium bayi itu. Tapi ia sadar, kulit wajahnya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Perawat mengambil kembali bayi Mila karena harus masuk inkubator lagi.

__ADS_1


Setelah perawat pergi Nova mengajak Mila bicara lagi.


"Kamu sudah menyiapkan nama untuk bayimu?"


"Ya. Namanya Erika Pramudita. Artinya kuat dan pandai. Aku mau dia menjadi anak yang kuat dan pandai. Kuat dalam menghadapi hidup ini dan pandai dalam mengatasi permasalahan hidup," kata Mila.


"Apakah ayahnya tidak mencarinya?" tanya Nova.


Mila menatap tajam pada Nova. Nova mengerti.


"Maaf," ucap Nova.


"Aku tidak akan memberitahunya! Anakku adalah milikku. Kelak dia akan menangis memohon-mohon anaknya," kata Mila tajam. Sebulir cairan bening menetes di pipinya.


"Maaf kalau pertanyaanku membuatmu sedih. Kamu beruntung bisa punya anak. Aku sudah sepuluh tahun pernikahan, belum dikaruniai anak," kata Nova.


"Kalau aku ...., aku menjadi istri yang tak dianggap. Bahkan dia tidak tahu kalau aku hamil anaknya. Kami sudah bercerai," kata Mila.


"Anda boleh menganggap anakku seperti anak anda, dokter," ucap Mila kemudian.


"Benarkah?" mata Nova berbinar


"Ya," jawab Mila tersenyum.


Tiba-tiba ponsel Nova berbunyi.


"Sebentar, saya angkat telepon dulu," ucap Nova


Mila yang melihat ada kesempatan, segera turun dari ranjang sambil menenteng botol dan selang infus. Mila dengan perlahan dan sedikit kesakitan, Mila masuk ke toilet. Disana ada cermin di atas wastafel. Ia segera melihat dirinya di cermin.


Dan .....


"Tidaaaaak .....!"


Teriakan Mila membuat Nova yang sedang menelepon di luar, segera berlari masuk ke ruangan Mila. Melihat Mila tak ada di ranjang, Nova segera mencari ke toilet.


"Mila .....?"


"Wajahku hancur! Wajahku hancur!" Mila merasa putus asa. Dilihatnya wajah yang tak dikenalinya di cermin.


"Wajahku buruk! Wajahku buruk!" teriak Mila sambil tersedu.


Luka bakar di wajahnya memang sangat serius. Wajahnya penuh luka dan tak dapat dikenali. Mila hampir saja terjatuh karena lemas. Nova segera menopang tubuh Mila. Nova menuntun Mila untuk kembali ke ranjangnya.


"Kuatkan hatimu! Tabahkan hatimu!" kata Nova mencoba menenangkan.


"Aku hancur! Wajahku mengerikan! Hiks hiks hiks ...!" Mila meratapi wajahnya.


"Tenanglah! Kita cari solusinya bersama-sama," Nova masih berusaha menenangkan.


"Dokter! Anda tidak tahu, hidupku selama ini direndahkan, dihina, diperlakukan tidak manusiawi, bahkan oleh suamiku sendiri! Lalu, aku harus mengalami bencana ini! Aku harus tenang?! AKU TIDAK BISA TENANG!" kata Mila histeris.


Nova memijit bel, untuk memanggil perawat.


"AKU TIDAK SANGGUP HIDUP SEPERTI INI! LEBIH BAIK AKU MATI!" Mila akan mencabut infusnya. Tapi di cegah Nova.


"Kau harus tetap hidup! Demi anakmu! Anakmu membutuhkan dirimu!" bentak Nova. Bersamaan dengan itu dua orang perawat datang dengan tergopoh-gopoh.


"Pergilah kalian! Pergi ....! Aku tak mau hidup lagi!" Mila masih histeris.


Dua orang perawat memegang tangan Mila. Nova menyuntikkan obat penenang pada Mila. Tak lama, Mila pun tertidur.


Dua orang perawat itu membetulkan posisi tidur Mila. Nova menghela nafas panjang. Hatinya juga sebenarnya trenyuh. Wanita mana yang mau menerima kenyataan kalau aset berharganya rusak. Wajahnya tak dikenali lagi. Bahkan oleh dirinya sendiri!


Nova merasa iba. Nova memikirkan lagi idenya. Nova menelepon ke karyawan bagian ruang jenazah.

__ADS_1


"Apakah Dokter Clark kemarin telah mengirim jenazah ke kamar jenazah?" tanya Nova.


"Iya, Bu. Jenazah yang dibawa Pak Clark sudah ada di kamar jenazah," jawab karyawan itu.


"Baiklah, terimakasih," kata Nova mengakhiri teleponnya.


Nova pun lalu pergi menemui Clark di ruangannya. Mereka terlibat pembicaraan yang sangat serius.


"Yakinkan lagi, Papi dan Mami. Supaya semuanya berjalan lancar. Kakak tidak mau setelah semuanya terjadi, timbul masalah," kata Clark.


"Baiklah, Kak, Aku akan membicarakannya lagi dengan Mami dan Papi," pungkas Nova mengakhiri pembicaraannya dengan kakak iparnya.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Tidak! Jangan ambil wajah Monica! Kasihan dia! Dia selama ini menderita! Jangan kau siksa dia dengan memberikan wajahnya pada orang lain yang tidak dikenal!" teriak Mami.


"Mi! Monica telah meninggal. Tidak ada yang tersisa lagi dari Monica! Tubuh dan wajahnya akan hancur! Coba Mami pikir! Dengan mendonorkan wajah Monica, pertama, kita masih bisa melihat wajah Monica. Kedua, kita telah menolong orang yang telah rusak wajahnya, ketiga, kita bisa membalas perbuatan James, keempat, kita akan punya anggota keluarga baru pengganti Monica. Mila dan bayinya akan menjadi keluarga kita!" kata Nova.


"Nova benar, Mi! Kita akan masih bisa melihat wajah Monica walau ditubuh orang lain.," kata Vina, kakak Nova.


"Kalau Papi ... Papi setuju! Monica sebenarnya anak yang baik. Dia jadi frustasi begitu karena ulah James! Papi ingin membalas perbuatan laki-laki br*ngs*k itu! Buat Monica seolah-olah masih hidup! Supaya James mengemis-ngemis pada Monica!" gigi Alfred gemeletuk menahan amarah.


"Baiklah, Mami setuju," akhirnya Mayangpun. setuju. Semua merasa lega.


Nova tinggal menyiapkan surat persetujuan tertulis dari Mami dan Papinya untuk mendonorkan wajah Monica. Selain itu, Nova juga akan membujuk Mila untuk mau menerima donor wajah adiknya yang baru meninggal karena overdosis narkoba.


🌻🌻🌻🌻🌻


"Selamat pagi, Mila. Semoga keadaanmu semakin membaik. Saya bawa kabar baik untukmu," kata Nova ketika jadwal visit pasien pada Mila.


"Aku buruk, dokter. Kabarku sangat buruk! Aku tak mau hidup lagi dokter. Aku menyerahkan anakku padamu, dokter!" Mila ternyata masih depresi.


"Tenanglah, Mila! Hmmm.... kalian boleh meninggalkan kami berdua. Ada yang akan kami bicarakan," kata Nova pada dua orang perawat yang mendampinginya.


Setelah dua orang perawat itu pergi. Nova berdiri lebih dekat lagi pada Mila. Dia seperti akan membicarakan suatu rahasia.


"Ada kabar baik untukmu. Sayang sekali kalau kamu menolaknya. Ada satu keluarga yang mau mendonorkan wajah anaknya untuk kamu," bisik Nova.


"Apa dokter?!" Mila tak mengerti.


"Ada satu keluarga berasal dari Indonesia, mau mendonorkan wajah anaknya yang baru saja meninggal dunia untukmu. Rumah sakit ini bisa melakukan transplantasi wajah untuk kasus sepertimu. Dokter Clark adalah salah satu dokter bedah plastik terbaik di Inggris. Kamu beruntung, kamu dapat kemurahan hati dari keluarga dokter itu dengan memberikan donor wajah secara gratis, operasi gratis dan ditangani oleh dokter ahli," kata Nova.


"Apa itu keluargamu juga?" tanya Mila.


Mila mengangguk sambil tersenyum.


"Apakah operasinya berbahaya dan penuh resiko?" Mila ingin tahu.


"Semua hal ada resikonya. Sejauh ini, aman-aman saja. Dokter Clark sering menangani operasi Face off dan juga pernah menangani operasi tranplantasi wajah. Ada serangkaian test yang harus dilewati sebelum melakukan operasi tranplantasi wajah. Kalau semuanya oke, barulah dapat dilakukan tranplantasi wajah. Bagaimana?"


Mila tampak ragu-ragu.


"Kamu harus meneruskan hidupmu demi anakmu, dan membalas sakit hatimu pada orang-orang yang telah menyakitimu!" bujuk Nova.


"Bagaimana?" desak Nova.


Mila tersenyum.


"Baiklah, dokter. Saya bersedia!" ucap Mila.


Nova terlonjak saking senangnya mendengar keputusan Mila.


TO BE CONTINUED


Selamat membaca! Jangan lupa, berikan Vote, like , hadiah dan komenmu ya! Juga tekan Favorit novel ini. Terimakasih!

__ADS_1


.


__ADS_2