
Silvi menelepon Geri untuk datang ke rumah sakit. Ia harus kembali ke kantor karena banyak pekerjaan menantinya. Setidaknya Geri membawa orang yang akan menunggui Ronald. Karena Ronald tidak punya keluarga yang lain yang akan menungguinya. Mamanya Roinald tidak mungkin karena sakit Stroke.
"Cepatlah kemari bawa orang, aku harus kali ke kantor. Pak Ronald tidak ada yang menunggui," kata Silvi, sekretaris Ronald.
"Ya, sudah, aku akan ke sana! Kamu jangan pergi dulu sebelum aku datang."
"Iya, bawel! Aku nunggu di luar ruangan Pak Ronald," kata Silvi.
Setelah menunggu setengah jam, Geri akhirnya datang juga. Silvi langsung mengaitkan tas pada bahunya.
"Ya sudah, aku kembali ke kantor ya," kata Silvi.
"Gak makan siang dulu? Nih aku bawa nasi Padang," kata Geri sambil mengangkat box sterofoam.
"Enggak mau! Gak nafsu makan di sini," jawab Silvi sambill mencibir. Ia segera meninggalkan Geri.
"Untung enggak mau. Aku belinya juga cuma dua. Satunya buat Pak Manto, security kantor yang akan jagain Pak Ronald di sini," kata Geri enteng.
Spontan saja Silvi berbalik dan melototkan matanya dengan galak. Pak Manto muncul di sana. Geri pun tertawa terbahak-bahak, mengerjai Silvi.
"Sorry ya jangan ge-er!" teriak Geri. Ia dulu memang mengejar Silvi. Tapi berhubung Silvi jual mahal terus, Geri memilih mundur dan mencari gadis lain.
Silvi mengerucutkan bibirnya kesal. Ia mengacungkan kepalan tangannya ke arah Geri, seperti mengancam. Tapi Geri malah tertawa keras.
"Bung, jangan tertawa keras-keras! Mengganggu pasien dan yang lainnya tahu!" hardik seseorang dari kamar perawatan sebelah.
"Ups! Sorry, Pak!" Geri langsung menutup mulutnya. Ia dan Pak Manto lalu masuk ke ruang perawatan Ronald.
Sore harinya, Ketika jadwal kunjungan dokter, Geri dan Pak Manto masih di rumah sakit. Pak Manto dan Geri memilih ke luar ruangan karena merasa tidak enak kalau masih di sana. Apalagi tatapan tajam Ronald yang seperti akan menelan mereka hidup-hidup kalau mereka sampai mentertawakan Bos mereka.
Setelah dokter melakukan pemeriksaan, Ronald yang sudah siuman dari tadi siang, merasa penasaran dan bertanya pada dokter. Untung perawat yang mendampingi dokter adalah perawat laki-laki. Jadi Ronald tidak begitu malu.
"Dok, bagaimana kondisi saya?" tanya Ronald malu-malu.
"Bapak harus dirawat disini beberapa hari. Semoga lukanya cepat kering. Selain harus minum obat secara rutin, bapak juga harus rajin mengoles salep," jawab dokter.
"Maksudnya keadaan secara spesifik Pak. Apa 'dia' masih berfungsi?" bisik Ronald.
Dokter menghela nafas.
"Bapak yang sabar ya. Bapak akan mengalami disfungsi er*ksi, dan itu akan menyebabkan infertilitas. Tapi Bapak jangan putus asa. Dengan pengobatan rutin, masih ada harapan untuk sembuh," jawab dokter.
Seketika lemaslah Ronald mendengar penuturan dokter.
"Jadi, saya akan mandul, dokter? Saya tidak bisa punya anak?" Ronald ingin memastikan sekali lagi.
__ADS_1
"Bapak harus optimis untuk sembuh. Karena bapak masih punya harapan untuk normal kembali," jawab dokter.
Meskipun jawaban dokter sedikit menghiburnya, tetap saja Ronald merasa khawatir ia tidak bisa sembuh.
"Yang terpenting, Bapak jangan banyak pikiran, terus berusaha menjalani pengobatan, Insha Allah sembuh," dokter memberinya semangat.
Sepeninggal dokter, Ronald termenung. Teringatlah ia kelakuannya selama ini.
'Aku memang sering berhubungan sebelum menikah. Tapi aku hanya melakukannya dengan Susy. Tapi kenapa hanya aku yang dihukum oleh Tuhan? Sedangkan si p*lac*r itu tidak kenapa-napa, berhubungan dengan banyak lelaki?! Ini tidak adil!' rutuk Ronald dalam hati.
'Apa ini hukuman karena aku pernah memperkosa Mila? Mila ...., kudengar kau pernah terlihat hamil. Apa itu anakku? Kalau memang benar Mila hamil anakku, aku senang karena aku punya anak. Aku harus mencari tahu Mila dan anakku. Aku akan menikahi Mila lagi,' Ronald kemudian memanggil Geri, asistennya. Ada sesuatu yang harus dilakukan oleh Geri.
"Apa Bos?! Saya harus mencari Nyonya Mila kemana Bos?!" Geri merasa gusar diberi tugas yang sangat berat.
"Itulah yang harus kamu lakukan! Kamu harus mencari tahu!"
"Tapi Bos, bagaimana dengan Nona Monica? Bukankah dia pacar Bos?"
"Pokoknya kamu cari Mila! Urusan Monica, biar aku yang menangani. Lagipula sejak kedatangannya lagi, dia aneh. Jadi cuek dan dingin padaku, seperti yang tidak kenal saja," kata Ronald.
"Ngomong-ngomong, Bos, Bos mau menikahi Mila lagi, apakah itunya Bos bisa berfungsi lagi? Kalau tidak berfungsi ....,"
Pletak!
"Aw! Sakit, Bos!" teriak Geri.
"Kamu menguping pembicaraanku dengan dokter ya?! Sialan!"
"Ampun, Bos! Habisnya penasaran he he he ....!" jawab Geri sambil nyengir.
"Awas, kamu, kalau bilang-bilang pada orang lain!" Ronald mengarahkan tangannya didepan lehernya. Kemudian membuat gerakan seperti menggorok leher. Geri ketakutan.
"Ampun, Bos! Rahasia aman Bos! Saya janji enggak akan bilang ke siapa-siapa!" kata Geri gemetar. Ronald tersenyum smirk. Gertakannya berhasil membuat nyali Geri ciut
Tengah malam, ketika Pak Manto yang menunggui Ronald sedang tertidur pulas, Ronald terjaga dari tidurnya. Pengaruh obat membuatnya tertidur sejak petang ketika ia telah makan dan minum obat.
Ronald merenungi nasibnya. Dilihatnya foto Papa Brian dan Kakek Edwin diponselnya. Tak terasa air matanya menetes.
"Papa, kenapa aku harus tahu kalau aku bukan anakmu? Aku lebih bahagia ketika tidak mengetahui hal itu. Aku hanya ingin menjadi anakmu saja, tidak mau Papa yang lain,"
"Kakek, maafkan aku yang tidak patuh padamu. Kakek benar, Kakek sudah berpengalaman makan asam garam kehidupan. Kakek tahu yang terbaik untukku. Tapi sayangnya aku keras kepala. Aku telah dibutakan cinta. Cintaku berlabuh di orang yang salah. Setiaku malah membuatku seperti pecundang. Aku tertipu! Aku naif!" Ronald terisak sedih.
"Aku tidak tahu, apakah masih ada kesempatan untukku memperbaiki semua? Mila tak juga ditemukan......,"
"Apakah aku harus melupakan Mila, dan meraih cinta yang baru? Monica? Berada didekatnya membuatku merasa berada di dekat Mila. Tapi kondisiku ....," Ronald melihat pada barang pusakanya yang masih melepuh, belum sepenuhnya kering. Masih perih dan sakit.
__ADS_1
"Apa aku bisa sembuh? Ya Tuhan .....! Gara-gara wanita br*ngsek itu, aku begini! Wanita yang dulu sangat kucintai melebihi apapun! Sekarang aku membencinya! Sangat membencinya! Rasanya tak cukup aku telah menghancurkan wajahnya! Dia harus membayar mahal semua yang telah dilakukannya padaku! Awas kau Susy!" geram Ronald.
💮💮💮💮💮
Susy berjalan disepanjang rel kereta. Malam sudah sangat larut. Rok pendek dan baju you can see nya membuatnya menggigil. Tapi semua itu ditahannya. Sebuah topeng karet terpasang pada wajahnya. Ya, ia harus melakukan itu. Ia kini menjajakan tubuhnya di pinggir jalan sepanjang rel kereta api. Tempat itu memang biasa untuk mangkal wanita-wanita dan waria-waria pemuas pria hidung belang. Susy memakai topeng, karena ia tidak mungkin menampakkan wajahnya pada pelanggannya. Alasan pada pelanggannya, ia menyembunyikan identitas dirinya supaya tidak diketahui orang lain. Dan alasan itu diterima para pengguna jasanya.
Keadaan yang remang-remang di daerah sepanjang rel kereta api, cukup membantunya tidak terlalu mencolok. Ia bisa melayani para pria hidung belang dalam.keadaan gelap-gelapan di semak-semak atau di belakang pohon, sehingga tidak menuntut membuka topengnya.
Biar cuma dibayar murah, yang penting dapat untuk membiayai hidupnya dan kedua orangtuanya. Ia tak mungkin beroperasi di hotel atau tempat elit lainnya. Karena keadaan wajahnya lah yang tidak memungkinkan. Pria-pria sudah kabur duluan bila melihat wajahnya sebelum sempat melakukan apa-apa.
Walau hatinya merasa miris menjalaninya, tapi tidak ada pilihan lain. Ia terpaksa harus berdamai dengan keadaan. Andai saja wajahnya tidak rusak, tentu ia akan dengan mudah mendapatkan pria yang kaya raya di tempat yang elit pula.
Susy ingin sekali operasi face off. Tapi dari penghasilannya yang tak seberapa tidak mungkin ia menabung. Untuk menggaet pria kaya, kini jelas ia tak mungkin melakukannya karena kondisi wajahnya.
"Arghhh ....! Ronald! Ronald! Gara-gara kamu hidupku begini! Awas kamu Ronald! Kalau kamu terbukti yang melakukan penyiraman air keras, aku akan menuntutmu! Aku akan menguras semua hartamu untuk membiayai operasiku dan hidupku! Kamu juga akan membusuk di penjara!" teriak Susy.
Suasana sepi dan gelap membuat Susy bebas meneriakkan kemarahannya ditempat itu. Tiba-tiba ada segerombolan preman yang mendekati Susy. Nalurinya mengatakan mereka akan berbuat jahat padanya. Susy pun berlari. Tapi sayang, jumlah mereka yang sepuluh orang membuat Susy kalah cepat. Mereka berhasil menangkap Susy.
Susy dimasukkan ke mobil dan dibawa ke sebuah gudang yang sudah tak terpakai.
"Lepaskan aku! Kalian mau apa? Tolong kasihanilah aku!" kata Susy memohon sambil memberontak.
"Coba, buka topengnya!" perintah salah satu diantara mereka.
"Jangaaaaan! Lepaskan aku! Aku mohon!" tangis Susy.
"Hei! Bukankah kamu p*l*c*r?! Diam dan nikmati saja!" bentak orang itu.
"Si-siapa yang membayar kalian?!" tanya Susy ditengah ketakutannya.
"Kamu tidak perlu tahu! Yang jelas dia dendam padamu! Kamu telah membuatnya cacat!"
'Ronald?!' gumam Susy dalam hati. Belum sempat berfikir lebih jauh, ia sudah diseret di tengah ruangan terbuka.
Dan ketika topeng Susy dibuka oleh salah satu diantara mereka. Mereka terkejut bukan main. Mereka merasa jijik dan ngeri. Niat awal mengerjai wanita itu, berubah rencana menjadi 'hanya' menyiksa wanita itu.
Disanalah Susy dicambuk tanpa ampun. Mulutnya dilakban sehingga teriakannya tak terdengar. Letak gudang itu jauh dari keramaian dan pemukiman, membuat suaranya tak didengar oleh warga.
Suara cambuk yang menggelegar dan suara teriakan kesakitan melebur jadi satu di ruangan itu. Terdengarlah suara ponsel berbunyi. Salah seorang mengangkat panggilan itu.
"Ya, Bos besar! Kami sudah menangkapnya. Kami sedang mencambuknya. Kami tak jadi mencicipinya karena kami ngeri melihat wajahnya yang jelek dan mengerikan. Ini kalau Bos mau dengar," lalu diperdengarkanlah suara cambukan dan teriakan Susy.
Seulas senyum tersungging di bibir orang yang disebut Bos besar oleh mereka. Iapun menutup teleponnya dengan puas.
"Rasakan kau Susy! Setelah ini, tidak ada yang tersisa darimu! Kamu hanya sampah!" makinya.
__ADS_1
TO BE CONTINUED