KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 79. BUKTI CINTA ERIKA


__ADS_3

Flashback Andra


"Yang, aku tuh kos di sini merasa kurang nyaman. Udah berisik, panas, airnya sering gak nyala lagi. Makanya, aku suka ikut mandi di kosan teman. Di kosan temanku itu fasilitasnya lengkap, bagus lagi," kata Andra suatu hari.


"Dih malu-maluin numpang mandi segala. Emangnya seperti itu ya kosanmu? Sorry aku gak tahu soalnya gak pernah masuk. Soalnya malu kosan cowok. Kamu juga gak mau kan kalau aku digodain?" kata Erika.


"Iya. Nanti mereka godain yayang aku kalau kamu masuk ke kosanku. Lagipula aku sekamar berdua sama teman. Reseh banget deh orangnya, jadi suka terganggu. Begini aja, aku mau pindah kosan ke kosan temanku itu. Kamu ada uang enggak buat bayar DP? Aku mau pinjam. Soalnya aku belum gajian," Andra mulai banyak maunya sejak jadian sama Erika.


"Ada. Kenapa enggak sekalian bayar aja?"


"Enggak ah, takut merepotkanmu," tolak Andra.


"Ya, enggaklah namanya juga sama pacar, harus bantu dong. Nanti aku bayarin deh sekalian setahun ya. Kamu boleh kapan aja kok bayarnya, kalau kamu udah punya uang buat bayar. Nyicil juga enggak apa-apa,"


"Kamu memang pacarku yang the best deh!" puji Andra.


"Lho memang ada pacarmu yang lain ya yang enggak the best?!" Erika menatap tajam.


"Eh eng-enggak! Enggak ada lah! Maksudku, kamu itu The best dibandingkan wanita lain. Orang lain enggak ada yang punya pacar kayak kamu..Aku beruntung banget!"


Andra menggandeng Erika melihat kosan baru. Di sana kosannya memang nyaman. Bentuknya paviliun. Konsep kosan di sana itu perpaduan seperti kamar hotel dan apartemen. Di dalam kamar itu, ada kamar mandi, ada ruang tamu dan ada juga pantry, walau serba minimalis. Jadi penghuni kosan disana terjaga privasinya. Karena memang harganya juga fantasis. Tapi lebih murah dibandingkan harga sewa apartemen. Andra langsung merasa girang ketika Erika menepati janjinya membayarkan kosan Andra untuk 1 tahun ke depan. Ia merasa jadi seperti tinggal di apartemen.


Andra menatap kosan barunya dari luar. Bangunan kos-kosan itu ada dua lantai. Satu lantainya ada 10 kamar. Suasananya sepi dan tenang. Karena masing-masing penghuninya lebih suka berada di dalam kamar masing-masing karena nyaman.


"Aku boleh sering mampir ke sini dong nanti?" tanya Erika.


"Jelas dong sayang! Eh nanti kita menata kamar sama-sama ya!" kata Andra.


"Oke, besok kan hari Minggu. Aku bantuin kamu pindah ya!"


"Eh enggak usah sayang! Nanti kamu tunggu disini aja. Aku hari ini sudah packing kok semua barang aku di kosan yang lama. Tinggal pindah ke sini saja!" Andra memberi alasan. Sebenarnya ia tidak mau ketahuan kalau alasannya pindah kosan hanya mengada-ada. Ia cuma ingin kos di tempat yang elit. Dengan orang-orang elit. Biar dianggap berkelas.


Untuk alasan ia mau dibantu Erika menata kamar kosan pun ternyata itu modus. Ketika menata kamar kos, Erika merasa kasihan Andra tidak punya hiburan selain tape deck dan HP saja. Jadi Erika membelikan televisi 21 in untuk Andra. Toh Erika juga nanti sering mampir dan menghabiskan waktu berdua, pikir Erika. Erika ingin menunjukkan bukti cintanya pada Andra. Tentu saja supaya Andra semakin cinta pada Erika.


Tapi benarkah Andra semakin cinta Erika?


Flashback off


"Kosan Kak Andra nyaman banget! Jadi pengen ikut tinggal di sini!" pekik Iren takjub.


Bagaimana tidak. Kosan Andra bisa dibilang mewah untuk ukuran karyawan sekelas Andra yang hanya karyawan biasa.


"Ya jelaslah! Ini kosan mahal banget tahu!" kata Andra sombong.


"Lalu aku gimana?" Irene merajuk.


"Kamu kos di kosan yang tadi aja. Yang beberapa rumah dari sini. Toh kamu bisa main ke sini kapan saja," kata Andra.


"Nginep boleh gak?" tanya Iren mengerling nakal.


"Boleh. Tapi ada syaratnya!" bisik Andra.

__ADS_1


"Apa tuh?" Iren mencibir.


"Kamu ngerti sendiri aja!" kata Andra tergelak.


"Huh, mesum!" Iren melempar bantal pada Andra. Andra langsung menangkap bantal yang di lempar Iren. Pandangan mata mereka beradu.


Dengan pelan tapi pasti, Andra mendekat pada Iren. Setelah jarak mereka semakin dekat, Andra menarik tubuh Iren. Tidak tahu siapa yang memulai, keduanya berpag*tan. Mereka saling menyesap bibir, bertukar saliva, saling membelit lidah. Setelah cukup lama dan nafas mereka hampir habis, mereka pun mengurai pelukan.


"Kamu cinta pertamaku, Iren. Aku masih ingat ci*man pertama kita. Aku selalu mengingatnya," kata Andra.


"Kak Andra nakal waktu itu! Padahal aku baru kelas 6 SD!" kata Iren.


"Yang penting kan d*d* kamu udah jadi," Andra tersenyum nakal.


"Ih ...., Kak Andra! Jadi malu!" Iren mencubit lengan Andra. Andra menghindar. Jadilah mereka kejar-kejaran. Ketika ponsel Iren berbunyi, barulah mereka berhenti.


"Ya, hallo? Mama!" kata Iren sambil menunjuk ponsel pada Andra.


"Kamu udah dapat kosan belum? Udah daftar kuliah?" tanya Mamanya Iren di telepon.


"Udah, Ma, dibantu Kak Andra. Kalau daftar kuliah, besok. Kak Andra juga yang akan mengantar," jawab Iren.


"Coba Mama mau bicara sama Andra," kata Mama Iren.


"Kak, Mama mau bicara. Nih!" Iren memberikan ponselnya pada Andra.


"Selamat siang, Tante," sapa Andra.


"Jadi? Tante tahu hubungan kami?" Andra terbelalak.


"Ya tahu dong! Tante juga kan pernah muda. Dari gerak gerik kalian aja udah terlihat, kalau kalian saling cinta."


Andra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia jadi kehabisan kata-kata karena ketahuan menjalin hubungan diam-diam dengan Iren.


"Enggak apa-apa, Andra. Tante setuju kok kalau kalian bersama lagi. Dan semoga kali ini hubungan kalian lebih serius. Bimbing Iren ya supaya jadi anak baik, anak nurut dan bertanggungjawab," pesan Mama Iren.


"Ya, Tante. Saya akan berusaha bimbing Iren semampu saya," jawab Andra.


"Nah gitu dong! Tante senang kalau kamu jadi menantu Tante," kata Mama Iren. Andra tersipu mendapat pujian dari Mamanya Iren.


"Ya sudah. Selamat ya! Kalian jadi dekat lagi. Bilangin ke Iren, jaga kesehatan, jangan telat makan,"


"Ya, Tante,"


"Udah ya. Kapan - kapan Tante telepon lagi, bye,"


"Bye, Tante," Andrapun menutup telepon dengan Mama Iren.


"Bimbing apaan? Yang ada bimbing pacaran!" ujar Iren.


"Eh ... nih anak! Ngomong sembarangan ya!" Andra menggelitik Iren. Mereka tertawa bersama. Mereka bahagia bisa dekat lagi setelah sekian lama hubungan mereka terputus karena Andra kuliah hingga kerja ke luar kota. Kini Mereka berada dalam satu kota yang sama. Cinta lama mereka bersemi kembali.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Erika sedang bete. Hari Minggu yang biasanya dijadikan momen jalan dengan Astin ataupun Andra, kini hari minggunya sendiri.


Astin kini sudah punya pacar. Pacarnya bernama Ricky. Anaknya Pak Arga, pengusaha kaya raya itu. Entah mengapa sewaktu Ricky datang dengan Astin ke rumah Erika, Papanya Erika terlihat kurang suka pada Ricky. Padahal Ricky orangnya baik. Kapan-kapan Erika akan menanyakan hal itu pada Papanya. Apa alasan Papanya tidak suka pada Ricky. Padahal Ricky cuma mau berteman dengan Erika, karena Erika adalah bisa dibilang sahabatnya Astin, pacar Ricky.


Astin jadi jarang pergi atau hang out bareng Erika sejak berpacaran dengan Ricky. Andrapun terlibat sibuk. Setelah mengantar pulang Erika, Andra langsung pulang. Katanya banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan di rumah.


Hari Minggu seperti sekarangpun Andra tidak bisa dihubungi. Teleponnya sibuk terus. Tidak bisa tersambung. Akhirnya daripada bete, Erika main ke rumah Tika, tetangga baru itu.


"Assalamualaikum!" Erika berdiri didepan pintu yang terbuka


"Waalaikumsalam!" jawab Tika.


"Eh ... Erika! Sini masuk!" kata Tika. Tika tampak sedang sibuk membuat bolu.


"Ngeganggu enggak nih Mbak? Aku lagi bete! Gak ada teman!" kata Erika sambil berjalan menghampiri Tika yang berada di ruang tengah. Posisi Tika yang menghadap pintu depan rumah membuat ia terlihat dari luar.


"Enggak ganggu kok! Malah senang ada yang mau nemenin. Sekalian bantuin kali, ha ha ha ...!" seloroh Tika.


"Wah, boleh tuh! Sekalian aku belajar bikin bolu. Ilmunya dapat gratis, makan bolunya juga gratis!" balas Erika terbahak.


"Ya sudah, sini! Bantuin saya masukin terigu ya, Erika. Saya yang ngemixer adonan," kata Tika.


"Oke! Kenapa enggak beli mixer yang besar aja sih mbak? Pesanan kue dan bolunya kan banyak. Pegal dong kalau harus pake mixer kecil gini. Harus bikin adonan berkali-kali," kata Erika.


"Ya, nanti. Uangnya belum cukup untuk beli yang besar. Sementara pakai yang ada aja dulu," jawab Tika.


Merekapun membuat bolu sambil mengobrol ke sana kemari membicarakan banyak hal. Mereka langsung merasa klop walau Erika jarang bertandang. ke rumah Tika karena kesibukan kantor. Hingga tak terasa hari sudah sore. Bolu yang sudah jadi sudah banyak yang diambil oleh orang yang pesan. Erika yang akan pulang karena sudah sore, mendapat satu loyang bolu ketan dari Tika.


"Wah mbak, kalau sering-sering ngasih satu loyang nanti Mbak bisa bangkrut," tolak Erika.


"Saya enggak akan ngasih sering-sering kok! Ha ha ha ...., becanda! Ini sebagai upah kamu udah bantuin saya kok! Buat Papanya Erika juga. Katanya saya dengar suka bolu ketan," kata Tika.


"Oh Mbak kok tahu ya? Saya aja yang anaknya enggak tahu," kata Erika.


"Ya, Pak Ronald pernah bilang waktu nanyain tentang kegiatan saya yang suka bikin bolu," jawab Tika.


"Oh begitu ya?" Erika mengangguk-angguk.


"Terimakasih ya bolunya!" ucap Erika.


"Sama-sama! Sering-sering main ke sini ya Erika! Tapi bukan suruh bantuin lho! Cuma pengen ngobrol aja. Kalau bikin kue sambil ngobrol, jadi enggak terasa lama," kata Tika.


"Oke, Mbak! Nanti kalau aku ada waktu senggang ya!" jawab Erika.


Kedekatan mereka sebagai tetangga dan teman sebaya dimulai pada hari itu. Erika dan Tika sama-sama butuh teman sebaya di lingkungan yang baru bagi mereka.


Sementara itu hubungan Erika dan Andra bertambah lama bukannya bertambah membaik ataupun bertambah dekat, malah semakin jauh.


Astin yang belum juga melapor penyelidikannya, membuat Erika akan menyelidiki sendiri tentang Andra. Erika sudah menyusun rencana penyelidikannya.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2