KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 91 DIGIGIT SERANGGA


__ADS_3

Kepulangan Erika membuat Ronald dan Tika menghentikan pertemuan mereka. Tika tidak punya alasan lagi untuk mengirim makanan pada Ronald. Mereka juga menahan diri untuk menunjukkan hubungan mereka. Karena Ronald akan melihat dulu apakah Erika kira-kira akan setuju atau tidak.


Malam ini sudah pukul 9 malam. Ronald tidak dapat tidur. Ia selalu teringat Tika. Ia rindu sekali pada Tika.


Tika, usah tidur belum?


Ronald mengirim chat pada Tika


Belum Bang


Abang ke sana ya. Abang kangen. Bukakan pintu belakang.


Jangan Bang. Sudah malam.


Please, Tika. Sebentar saja. Abang enggak bisa tidur kalau belum ketemu Tika.


Baiklah Bang.


Ronaldpun keluar dari rumah. Ia tengak-tengok melihat situasi sekitar rumahnya. Sepi. Aman. Ronaldpun berjalan ke belakang rumah Tika.


"Tika, Tika!" panggil Ronald pelan.


Pintupun dibuka. Terlihatlah wajah Tika yang cantik tersenyum manis padanya.


"Masuk Bang," kata Tika.


Ronaldpun masuk. Tika mengunci pintu kembali. Belum sempat Tika berbalik badan, Ronald sudah menggendongnya ala bridal style. Tika memekik kaget. Tapi kemudian ia segera mengalungkan tangannya pada leher Ronald agar tidak jatuh.


Ronald membaringkan tubuh Tika pada sofa panjang di ruang tengah. TV menyala sedang menampilkan acara musik. Ronald segera mendaratkan bibirnya pada bibir Tika. Mel*mat bibir Tika dengan rakus. Suara TV yang keras membuat suara-suara mereka tak terdengar keluar.


Ronald tangannya sibuk *******-***** benda kenyal milik Tika. D*d*nya yang besar membuat Ronald kecanduan untuk menyentuhnya dan berbuat lebih.


C*iman Ronald beralih pada leher Tika. Ia menggigit kecil-kecil leher Tika, membuat Tika m*ndesah merasakan sakit sekaligus nikmat. Apalagi saat bibir Ronald menyusuri bukit kembarnya. Dengan tak sabar Ronald menyingkap kaos yang dikenakan Tika. Dikeluarkannya bukit kembar dari pembungkusnya. Tampaklah pemandangan indah itu.


Ronald segera meraup benda kenyal yang cukup besar itu. Tangan satunya meremas bukit yang satunya, sedangkan bukit satunya dikulum puncaknya, dihisap, dan digigit pelan. Tika meremas rambut Ronald karena menahan rasa nikmat yang menjalar ditubuhnya. D*d*nya dibusungkan untuk memberi akses lebih banyak lagi agar mulut Ronald dapat menjangkau semuanya. Kepala Tika mendongkak menikmati setiap hisapan dan gigitan Ronald yang terasa geli-geli nikmat.


"Ohhh Bang ...," Tika reflek mend*sah karena nikmatnya. Sejak Ronald menjamah benda kenyal miliknya itu, Tika merasa kecanduan selalu ingin dijamah Ronald. Jadi ia biarkan saja Ronald berbuat semaunya terhadap d*d*nya itu.


Begitu ada kesempatan, Tikapun menggigit kecil leher Ronald. Posisi Ronald yang duduk di pinggir sofa, dengan tubuh mengungkung tubuh Tika, membuat Tika pasrah. Ronaldpun menggeram ketika tangan Tika dengan berani mengelus milik Ronald di bawah sana yang masih terbungkus celana.


"Jangan, Tika," larang Ronald.


"Punya Abang sudah tegang dan keras. Abang sudah sembuh," kata Tika.


Ronald menyingkirkan tangan Tika yang nakal agar Ronald tidak terpancing melakukan lebih. Tapi dasar Tika, Tika sangat penasaran dengan sesuatu yang tersembunyi di balik celana Ronald. Ia malah menggenggam dengan erat benda panjang dan besar di balik celana itu.


"Tika .... belum waktunya," sekuat tenaga Ronald menahan hasrat yang ditimbulkan oleh genggaman Tika. Ronald bangun dan duduk di sofa dengan nafas yang memburu dan kepala yang pening akibat ga*rah yang memuncak yang tidak tersalurkan.


Tikapun bangkit dari rebahannya. Lalu beringsut turun dan duduk dipangkuan Ronald. Tika memeluk tubuh Ronald. Bajunya yang tersingkap dengan br* yang berantakan dibiarkannya. Malah benda kenyal itu menempel pada tubuh Ronald.


"Tika ...., jangan memancing kesabaran Abang.," kata Ronald.


"Habisnya Abang yang memulai," Tika menc*um pipi Ronald. Lalu bibir Tika beralih ke bibir Ronald. Merekapun saling menyes*p dan *******. Tangan Tika memegang tengkuk Ronald agar ia tidak jatuh.


Tika mengarahkan tangan Ronald agar meremas d*d*nya. Tika dengan agresif menyodorkan satu bukitnya didepan mulut Ronald. Tika meleng*h ketika mulut Ronald menggigit daging kecil di puncak bukitnya.


"Cukup, Tika. Abang tidak ingin kebablasan!" Ronald mengakhiri aktivitasnya. Ia mengangkat tubuh Tika dan mendudukannya di sofa. Miliknya benar-benar sudah berdiri tegak. Ronald sadar akan hal itu. Dia telah normal. Ronald telah sembuh. Tika cemberut karena aktivitasnya dihentikan. Ia sudah sangat berg*irah. Ia sudah pasrah andai Ronald berbuat apa saja padanya.


"Kita melakukannya nanti kalau sudah menikah. Besok malam, kita akan ajak Erika makan malam di luar. Abang mau bicara tentang hubungan kita. Abang ingin kita menikah secepatnya. Abang takut kita terus-terusan berbuat dosa," kata Ronald.


"Iya, Bang," jawab Tika sambil membereskan bajunya. Walau hatinya kecewa karena Ronald tak meneruskan c*mbuannya, tapi Tika sadar, maksudnya untuk kebaikan Tika.


"Abang pulang ya. Kangennya sudah terobati. Sampai jumpa besok malam. Dandan yang cantik," kata Ronald sambil mengecup kening Tika.


Ronaldpun pulang dari pintu belakang lagi. Tika mengantar Ronald sampai pintu belakang. Ia memandangnya sambil tersenyum. Tika masih belum percaya dengan yang telah dialaminya. Dia kini bisa memeluk dan menc*um orang yang sangat dicintainya. Sebelumnya Tika hanya bisa memendam perasaannya dalam hati.


Paginya, Ketika Erika sarapan nasi goreng buatan Papanya, Papanya duduk di hadapannya sambil menyantap nasi goreng juga.


"Gimana, tadi malam kita belum sempat ngobrol banyak. Apa kata Mama dan Papa Richard?" tanya Ronald.


"Erika dan Mas Reyhan suruh tunangan dulu, Pa. Bulan depan. Baru tiga bulan ke depannya kita bisa menikah. Karena menunggu proyek yang di Karawang selesai," jawab Erika.

__ADS_1


"Ya sudah, Papa setuju saja kalau itu memang sudah jadi kesepakatan kalian dan keluarga Mamamu," kata Ronald.


"Pa, leher Papa kenapa?" Erika melihat pada leher Ronald yang tertutup kerah kemeja. Tapi tetap terlihat sedikit ada seperti luka yang merah-merah di leher Ronald.


"Ini .... digigit serangga. Kemarin Papa beres-beres di bengkel. Musim hujan gini banyak serangga yang bersembunyi di tempat-tempat yang jarang dibersihkan. Ternyata banyak sekali serangganya waktu Papa bersihkan. Sampai Papa mandi lagi karena gatal," jawab Ronald.


"Oh. Makanya harus rutin dibersihkan Pa. Nyuruh aja karyawan Papa untuk membersihkannya setiap hari," kata Erika.


"Iya. Nanti Papa suruh," jawab Ronald.


"Oh iya Erika, ajak Tika untuk dinner nanti malam ya," kata Ronald. Walau Erika merasa heran mengapa mengajak Tika, tapi Erika mengangguk.


Ketika akan berangkat ke kantor, Erika sempatkan ke rumah Tika. Erika akan memberikan oleh-oleh dari London untuk Tika.


"Masuk, Erika. Mau berangkat kerja lagi ya?" kata Tika sambil mempersilahkan Erika duduk di ruang tamu.


"Iya. Ini, aku mau ngasih oleh-oleh buat Mbak Tika," kata Erika sambil menyodorkan sekotak coklat dari London.


"Wah ... coklat mahal ini. Pasti enak. Terimakasih ya," kata Tika sambil menerima sekotak coklat dari Erika.


"Eh, Mbak, leher Mbak kenapa?" tanya Erika sambil menunjuk ke arah leher Tika.


Menyadari ia kelupaan menutupi lehernya yang terbuka, Tikapun beralasan.


"Oh, anu ...., tadi di dapur banyak serangga. Mungkin karena ada bekas adonan bolu yang tercecer. Mba jadi digigit serangga. Leher jadi gatal dan digaruk-garuk. Jadinya begini deh bekas garukan kuku Mbak," jawab Tika sekenanya.


"Ooh ..., kasih salep atau betadin Mbak. Biar enggak perih," saran Erika.


"Iya. Nanti Mbak kasih salep," jawab Tika.


"Ngomong-ngomong, nanti malam sekitar jam setengah delapan, Mbak Tika diajak makan malam sama aku dan Papa," kata Erika.


"Oh, iya. Nanti malam Mbak akan bersiap," jawab Tika.


"Ya, udah. Aku mau berangkat kerja dulu ya," kata Erika.


"Iya. Hati-hati di jalan," kata Tika.


Malamnya Ronald, Erika dan Tika bersiap makan malam ke sebuah restoran. Ketika Tika memghampiri Erika dan Ronald untuk masuk ke mobil, Ronald menatap Tika tanpa berkedip. Dimata Ronald, malam itu Tika tampil cantik sekali. Tahu dirinya sedang ditatap, Tika hanya menundukkan wajah. Tika dan Erika duduk di belakang. Ronald yang mengemudi mobil Erika.


"Gimana perjalanan di London, menyenangkan ya Erika?" tanya Tika. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


"Menyenangkan, Mbak. Apalagi perginya kan sama orang terkasih. Pulangnya sih sendiri, Mbak. Karena saya masih harus di London Lima hari, sedangkan Mas Reyhan harus segera kembali masuk kantor," jawab Erika.


"Tika sudah pernah berpergian ke mana saja naik pesawat?" tanya Ronald.


Dengan malu Tika menjawab sambil mencuri-curi pandang ke kaca spion. Ronaldpun melihat Tika dari kaca spion.


"Belum pernah, Bang. Jangankan ke luar negeri, naik pesawat di dalam negeri saja belum pernah. Katro ya?" Tika mentertawakan dirinya sendiri


'Bang? Abang? Tika memanggil Papa dengan sebutan Abang? Apa aku tidak salah dengar?'


Erika merasa aneh dengan sikap Tika dan Papanya. Tapi Erika diam saja.


"Nanti kapan-kapan Tika akan diajak ke Bali, mau?" tanya Ronald.


*Mau, Mau, Bang!" jawab Tika.


'Bang, lagi?' bathin Erika bertambah heran.


"Sejak kapan Mbak Tika manggil ke Papa, Abang?Perasaan dulu manggilnya Pak," Erika tidak dapat menyembunyikan keheranannya lagi.


Tika dan Ronald terdiam. Mereka baru menyadari ucapan Tika.


"Mungkin Tika manggil ke Papa, Abang, biar Papa enggak merasa tua, iya kan Tika?" Ronald mencoba menyelamatkan Tika.


"I-iya. He he he ..., biar Papanya Erika merasa muda terus," sahut Tika.


Erika tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar jawaban Tika.


Tak terasa mereka telah sampai di restoran yang mereka tuju. Setelah memarkirkan mobil, mereka masuk ke dalam restoran dan mengambil tempat duduk di tengah ruangan dengan meja untuk empat orang.

__ADS_1


Setelah memesan makanan yang terdaftar di buku menu, merekapun berbincang ringan. Setelah berapa lama menunggu, makanan pun datang. Mereka menyantap makan malam mereka dengan nikmat.


Ketika mereka tengah menyantap makanan mereka, tiba-tiba Ronald menghentikan Tika yang sedang menyantap rolade asam manis.


"Sebentar, Tika. Ada saus di pipimu. Kamu belepotan sih makannya," kata Ronald sambil mengelap pipi Tika dengan Tisu. Tika tersipu malu. Erika bertambah heran. Sikap Papanya dan Tika benar-benar ganjil menurut Erika.


Setalah menyelesaikan makan malam mereka. Sambil menikmati dessert, mereka berbincang. Ronald menghentikan suapan puding karena akan mengatakan sesuatu pada Erika.


"Erika. Ada yang akan Papa bicarakan."


"Bicara aja, Pa. Memangnya tentang apa?" tanya Erika.


"Ini tentang Papa," jawab Ronald. Tika menahan nafas, merasa tegang.


"Apa itu Pa?" tanya Erika penasaran


"Papa mau menikah," jawab Ronald singkat.


"Menikah?! Menikah dengan siapa?!" Erika merasa kaget. Tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba Papanya ingin menikah.


"Dengan Tika," jawab Ronald lagi.


Erika terkejut. Ia terdiam agak lama. Ronaldpun tak berani meneruskan perkataannya. Menunggu reaksi Erika. Sedangkan Tika menunduk sambil meremas ujung bajunya.


Tiba-tiba Erika tertawa. Erika baru menyadari keganjilan-keganjilan yang dilihat dan didengarnya ternyata bukan kebetulan.


Pertama, Papanya mengajak Tika ikut makan malam. Padahal selama ini Tika tak pernah diajak untuk acara keluarga tersebut. Kedua, Erika melihat ada luka merah - merah di leher Papanya dan Tika. Jangan-jangan mereka telah .... (Erika tidak berani membayangkan), Keempat, Tika memanggil Abang pada Papanya, padahal dulu Tika memanggil Papanya dengan panggilan Pak. Kelima Papanya tadi mengelap saus yang menempel di pipi Tika. Kalau tidak ada apa-apa diantara mereka, Papanya tidak mungkin seperhatian itu.


Setelah Erika menghentikan tawanya. Erika menatap Papanya dan Tika.


"Kalian serius mau menikah?" tanya Erika. Ronald dan Tika mengangguk.


"Sejak kapan kalian jadian? Kok aku enggak tahu?" tanya Erika lagi seperti sedang menginterogasi terdakwa.


"Sejak seminggu yang lalu," jawab Tika.


"Sejak aku berangkat ke London?" tebak Erika.


"Ya," jawab Ronald.


"Mbak Tika apa sudah memikirkan masak-masak? Papaku udah tua lho! Juga tidak kaya," kata Erika.


"Aku menerima Abang apa adanya. Aku mencintai Abang sejak pertama kali aku pindah ke sini," jawab Tika jujur.


"Memangnya apa sih yang membuat Mbak Tika jatuh cinta pada Papa?" Erika terus bertanya seperti sedang wawancara melamar pekerjaan saja. Erika ingin tahu kesungguhan Tika, agar Tika tidak menyesal kelak.


"Abang orangnya baik. Perhatian dan sayang keluarga.dan ringan tangan membantu pekerjaan rumah tangga," jawab Tika.


"Hanya itu saja?"


"Abang juga gagah dan berwibawa," Tika menunduk semakin dalam.


"Ha ha ha ha....!" Erika tidak dapat menahan tawanya.


"Erika ...!" Ronald memperingatkan Erika. Karena Tika terlihat malu sekali.


"Maaf, maaf. Soalnya aku enggak nyangka. Ternyata Papaku punya penggemar! Pesona Papa memang luar biasa! Dapat membuat Mbak Tika;yang masih muda bertekuk lutut!" kata Erika.


"Erika ...!" Ronald menatap tajam lagi pada Erika.


"Iya, Pa, Ampun! Sekali - kali melakukan tes wawancara calon Mama sambung Erika kan enggak apa-apa. Erika hanya tidak ingin Mbak Tika menyesal. Papa juga tidak menyesal mengambil keputusan untuk menikah lagi," kata Erika.


"Papa sudah yakin, walau mungkin keputusan Papa terlalu cepat. Papa tidak ingin membuang waktu lagi. Papa ingin membina rumah tangga lagi. Papa siap kalau punya anak lagi. Malah Papa ingin punya anak dari Tika," kata Ronald. Tika merasa tersanjung dan malu.


Akhirnya malam itu menjadi awal hubungan Ronald dan Tika yang sudah direstui Erika. Di hari yang lain Ronald melakukan lamaran yang hanya disaksikan oleh kerabat jauh Tika dari kampung dan sepasang suami istri tetangga kontrakannya dulu yang sudah dianggap seperti orangtuanya Tika karena Kedua orangtua Tika sudah meninggal dunia dan tidak ada saudara yang lain lagi.


Ronald menyiapkan berkas-berkas persyaratan nikah ke kelurahan dan KUA. Minggu depan Ronald dan Tika akan melangsungkan pernikahan sederhana di KUA. Rencananya di rumah Ronald hanya akan selamatan pernikahan dengan mengundang tetangga-tetangga dekat. Erika sudah memesan nasi kotak dari catering untuk acara selamatan itu.


Ronald merasa bahagia akan membuka lembaran baru di hidupnya. Ia berjanji dalam hati akan menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab terhadap istri dan anak-anaknya kelak. Ia juga tidak akan melupakan Erika. Baginya Erika bukan hanya anak, tapi juga seperti sahabat yang mengerti dirinya, tempat bertukar pikiran segala hal. Dan Erika cocok mendapat Mama sambung Tika. Karena Tika orangnya baik dan perhatian, serta dewasa.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2