KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 61. ERIKA ANAKKU!


__ADS_3

Mila mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Ronald. Padahal Ronald baru saja sampai di dekat pintu gerbang sekolah Erika


"Keluar! Aku tahu itu kamu. Ayo cepat, keluar!" hardik Mila pada Ronald.


Ronald keluar dari mobilnya. Dibukanya kacamata hitamnya.


"Mila, apa kabar?" sapa Ronald.


"Tidak perlu berbasa basi! Mau apa kamu selalu menemui Erika?" tanya Mila tajam.


"Aku penasaran dengan anak itu. Aku punya feeling, sepertinya dia itu anakku," jawab Ronald tenang.


Mila tertawa sinis


"Anak? Bukannya kamu punya anak dengan istri jalangmu?! Kenapa kamu tiba-tiba merasa punya anak yang lain?"


"Ck. Kamu masih saja cemburu dengan Susy. Ricky bukan anakku. Dia anak dari laki-laki lain," jawab Ronald.


"Cih! Cemburu? Sudah lama sekali aku lupa yang namanya cemburu padamu. Aku malah jijik padamu! Jauhi Erika! Dia bukan anakmu!" kata Mila.


"Lalu dia anak siapa? Guratan alis dan matanya saja mirip denganku!"


"Dia anak Fathir! Kamu puas?!"


'Tidak mungkin!"


"Itu memang benar anak Fathir! Aku berselingkuh dengan Fathir seperti dugaanmu. Kau kira aku dulu selalu mengharapkanmu? Naif sekali dirimu!"


"Aku tak percaya! Dengar! Aku sedang menyelidiki Erika! Kalau sampai terbukti anak itu anakku ....," Ronald mencondongkan tubuhnya pada Mila


"Kamu mau apa, hah! Langkahi dulu mayatku kalau kau mau mengambil Erika!"


"Jadi benar, Erika itu anakku?!"


"Ti-tidak! Bu-bukan begitu maksudku!" Mila tergagap karena terjebak ucapannya sendiri.


Ronald tersenyum. Ia merasa senang mempermainkan Mila. Mila terlihat sangat cantik dilihat dari dekat. Sudah lama Ronald tidak bisa bicara berdua dengan Mila.


"Oke. Kalau dia bukan anakku, kenapa kamu terlihat khawatir? Aku cuma ingin berteman dengannya. Aku juga Om nya kan?" kata Ronald.


"Aku tidak mengijinkan kau mendekati anakku! Kalau kau macam-macam, aku akan bilang pada suamiku!"


"Aku tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin dia tahu siapa Papa kandungnya," kata Ronald enteng.


Plak!


Mila menampar Ronald. Sebelum Mila menampar untuk yang kedua kali, Ronald menangkap tangan Mila. Ditariknya tangan Mila, mulut Ronald berbisik pada telinga Mila.


"Aku jadi semakin curiga melihat reaksimu. Temui aku nanti malam di restoran XYZ, jam setengah 8! Kita harus bicara! Tentunya bila kamu ingin Erika aman!"


"Tidak akan! Awas kamu kalau berani macam-macam pada Erika!" Mila mendorong tubuh Ronald dengan kasar.


Ronald terkekeh.


"Aku tunggu nanti malam! Kamu harus datang sendirian! Jangan sampai kamu tidak datang!" Ronald segera berlalu dari hadapan Mila. Ia masuk ke dalam mobilnya. Dengan sangat menyebalkan, Ronald memberi kiss bye pada Mila. Mila melotot sambil mengacungkan tinjunya.


Ronald hanya tersenyum, kemudian melajukan mobilnya. Ronald lagi-lagi tersenyum sendiri. Ia sangat senang melihat Mila terpancing emosinya. Ronald jadi semakin yakin. Walau hasil tes DNA belum keluar, ia sudah yakin 90 persen kalau Erika itu anaknya.


Malamnya, Ronald sudah menunggu di restoran yang ia sebutkan pada Mila. Benar saja! Mila datang! Persis dugaannya. Mila berjalan sendiri memasuki restoran itu. Setelah sampai dihadapan Ronald, Ronald berdiri dan menarik kursi untuk Mila duduk. Tapi Mila malah menarik kursi lain untuk tempat duduknya. Mila tak Sudi duduk di kursi yang Ronald tawarkan. Ronald mendesah kecewa. Tapi Ia berusaha memaklumi.


"Cepat katakan, apa maumu?!"

__ADS_1


"Tenanglah! Makanlah dulu! Pelayan ....!" Ronald memanggil pelayan restoran.


"Kamu pesan apa." tanya Ronald pada Mila.


Mila diam saja.


"Kamu datang sendiri kan? Atau suamimu ikut?" tanya Ronald.


"Aku tidak sepengecut kau!" hardik Mila.


"Oke, kamu memang wanita pemberani! Makanya aku tidak bisa move on darimu," kata Ronald.


"Dengar! Hentikan omong kosongmu! Aku tidak mau berlama-lama di sini!" kata Mila garang.


"Jangan marah-marah terus! Kasihan nanti wajahmu penuh kerutan! Kau sudah bersusah payah transplantasi wajah. Sayang kan kalau cepat tua?!" kata Ronald sambil sibuk membaca menu di buku menu tanpa melihat pada Mila.


"Kau ....!" Mila sudah kehabisan kata-kata untuk melawan Ronald. Ronald jadi semakin menyebalkan dimatanya.


"Aku mau pesan steak, minumnya Sky blue ice. Kamu pesan apa?"


"Terserah!" jawab Mila malas.


"Berarti sama ya? Seleramu sama, ternyata," kata Ronald. Mata Mila memutar malas.


Pelayan restoran pun segera mencatat pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi Ronald memandang Mila.


"Aku rindu saat-saat dulu kita bersama. Waktu kamu melayaniku makan," kata Ronald.


"Ya, saat aku melayani kalian sekeluarga seperti seorang pelayan. Dan aku terjatuh pun tak ada yang perduli. Malahan aku disalahkan ceroboh," jawab Mila tajam.


Ronald berdecak.


"Bukan itu maksudku. Maksudku waktu kamu melayaniku makan berdua," kata Ronald.


Ronald menghela nafas panjang.


"Maafkan aku. Tapi tidak adakah memori manis yang kau ingat saat bersamaku? Mengapa kau mengingat semua yang buruk-buruk?" Ronald frustasi karena sepertinya tidak ada kesan yang baik tentang dirinya pada ingatan Mila.


"Karena memang kamu memberiku memori buruk semua! Coba saja kau ingat sendiri!" Mila memandang ke arah lain karena kesal.


Ronald menunduk. Pelayan pun datang membawa pesanan mereka.


"Mari makan," ajak Ronald. Ronald menikmati hidangan. Sedangkan Mila hanya diam saja.


"Aku tidak bisa lama-lama. Kalau memang tidak ada yang akan kau sampaikan, aku akan pulang," Mila berdiri sambil menyandang tasnya.


"Tunggu!" Ronald menghentikan Mila yang akan melangkah.


"Kembalilah padaku. Aku akan berubah. Kita besarkan Erika sama-sama!" kata Ronald.


"Kamu mimpi!" hardik Mila sinis.


"Aku akan mengambil Erika darimu! Karena aku yakin dia itu anakku!" kata Ronald.


Mila tertawa sinis.


"Dia bukan anakmu! Mengapa kamu yakin sekali?! Dia anak Fathir. Bukankah kamu yang telah membunuh Fathir?"


"Cukup! Hentikan Kebohonganmu!"


"Kenapa?! Kamu menilai aku wanita baik?.Aku sama seperti Susymu! Aku selingkuh dibelakangmu!"

__ADS_1


Ronald menggebrak meja. Dengan cepat, Ronald mencengkeram rahang Mila


"Cepat katakan, kalau kau berbohong!" bentak Ronald.


Mila tertawa.


"Dasar pecundang! Kasihan sekali kamu!"


Ronald dengan kasar mencium Mila. Mila berontak. Tiba-tiba ....


Bugh!


Sebuah pukulan melayang pada punggung Ronald. Mila menyingkir. Ronald terhuyung. Mila mengelap bibirnya dengan jijik karena telah dicium Ronald.


"Berani-beraninya kau kurang ajar pada istriku, br*ngsek!" teriak Richard.


"Kau ...!" Ronald meringis kesakitan.


"Ya! Aku! Kau pikir, aku akan membiarkan istriku sendirian menemui b*jingan sepertimu?! kata Richard.


"Kuperingatkan kau! Jangan coba-coba mengganggu istriku dan Erika! Kalau tidak, kau akan menyesal berurusan denganku! Kau membuka luka itu lagi, aku akan menghancurkan hidupmu lebih parah lagi!"


"Ayo, sayang, kita pulang," Richard menggandeng Mila


Mereka lalu meninggalkan Ronald yang masih terpaku dan memandang mereka dengan perasaan sedih.


🌼🌼🌼🌼🌼


Setelah dua minggu, hasil tes DNA pun keluar. Dengan berdebar-debar, Ronald membuka surat hasil tes DNA itu.


Netranya membulat sempurna, ketika ia membaca hasil tes DNA itu.


"99,99% probabilitas aku adalah ayah biologis Erika!"


Ronald terduduk di tanah saking terkejut dan terharunya. Air matanya menetes membasahi pipinya.


"Mila selalu mengelak Erika bukan anakku. Tapi dari awal aku sudah yakin Erika itu anakku! Tidak mungkin anak Fathir! Dia hanya ingin aku sakit hati dan kecewa," gumam Ronald.


"Mila wanita baik-baik. Sewaktu menjadi istriku pun, dia tidak berhubungan dengan siapapun. Walau kau mencoba membohongiku dengan mengatakan kamu selingkuh, aku tak percaya. Kau hanya ingin aku kecewa. Kau tidak ingin ketahuan kalau Erika itu anakku!" gumam Ronald lagi.


"Terimakasih, Mila! Kau telah memberiku keturunan! Aku bahagia! Maafkan caraku yang salah. Aku menyesal! Aku menyesal mengapa tidak melakukannya sewaktu kita masih jadi suami istri. Aku begitu bodoh! Aku dibutakan cinta Susy!"


Penyesalan memang selalu datangnya belakangan. Andai saja waktu dapat diputar, Ia tentunya akan menerima pernikahan itu. Tentunya ia sudah dari dulu akan hidup bahagia dengan Mila dan anak-anak mereka.


"Kakek, Kakek benar! Kakek sayang padaku, makanya menikahkanku dengan Mila. Tapi sayangnya aku keras kepala. Aku memilih jalan yang salah. Sehingga hidupku begini sekarang," ratap Ronald.


Roland kemudian bangkit.


"Semuanya telah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Kini, aku hanya ingin Erika tahu dan menerimaku sebagai Papanya," gumam Ronald penuh harapan.


"Erika anakku! Papa akan datang, nak!"


Dengan bersemangat, Ronald pergi ke toko boneka. Ia memilih boneka Teddy Bear warna coklat susu yang lucu dan menggemaskan. Ronald harap, Erika akan menyukainya.


Tapi ternyata Ronald kesulitan untuk menemui Erika di sekolahnya. Karena Erika ditunggui supir. Lagipula Satpam tidak mengijinkan Ronald menemui Erika lagi karena permintaan Mila.


Sudah dua Minggu Ronald tidak bertemu Erika. Ronald sangat rindu pada buah hatinya yang cantik, lucu dan pandai itu.


Akhirnya Ronald mengikuti mobil yang membawa Erika pulang. Ronald akan menghentikan mobil itu sebelum sampai ke rumah Richard.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


Jangan lupa berikan vote, like dan komentarmu ya! Berikan aku hadiah juga dong, biar semangat up!


__ADS_2