
Ronald merasa kesal. Pasalnya Papanya memanggil dirinya terkait dengan beberapa perusahaan yang akan diambil alih oleh Richard. Selama ini Ia sudah merasa bekerja keras membangun perusahaan yang dipercayakan padanya. Papanya tidak bisa melihat keberhasilannya dalam membangun perusahaan yang dipimpinnya selama ini. Papanya hanya merasa bersalah pada Richard sehingga tidak melihat usaha yang Ronald lakukan pada perusahaan
Untuk itu Ronald berinisiatif mengadakan syukuran perusahaan. Nanti dalam layar akan ditampilkan video keberhasilan-keberhasilan yang sudah dicapai perusahaan selama dalam kurun waktu kepemimpinannya.
Persiapan demi persiapan telah dilaksanakan. Akhirnya hari yang dinantikanpun tiba. Para petinggi perusahaan dan aeluruh karyawan serta staf berbagai divisi dari beberapa perusahaannya diliburkan untuk mengikuti acara itu. Ia juga mengundang kolega bisnisnya.
Acara itu diselenggarakan di sebuah ballroom hotel berbintang. Ada banyak makanan yang disediakan untuk menjamu para tamu undangan. Selain itu ada grup musik yang menghibur para tamu. Semua gembira menikmati acara itu.
Tuan Brian tidak dapat hadir dalam acara itu karena alasan kesehatan yang masih belum pulih. Richard, dan Susy pun ada di sana. Susy memaksa ikut hadir karena ia merasa sebagai bagian dari acara tersebut. Seorang istri CEO harus mendampingi suami dalam acara sepenting itu. Ronald walau tidak suka, tapi demi pencitraan, akhirnya membiarkan Susy mendampinginya menyambut para tamu dan berbincang dengan mereka.
Monica pun hadir atas undangan Ronald. Ketika Monica datang, Monica memilih menjauh dari Ronald. Ronald melihatnya. Ia pun menghampiri Monica.
"Monica, dampingilah aku! Kau jangan menjauh. Kamu adalah orang penting bagiku," kata Ronald.
"Tidak, Ronald. Biarkan aku duduk di sini saja. Ini acaramu. Temanilah istrimu. Apa kata orang kalau sampai melihatmu tidak rukun dengan istrimu," jawab Monica.
Ronald merasa salut dengan sikap Monica yang mengalah karena memikirkan citranya di mata masyarakat. Dengan terpaksa, Ronald membiarkan Monica duduk sendiri di sudut ruangan.
"Baiklah, ini hanya sebentar. Setelah ini, aku akan mengurus perceraian dengan Susy. Supaya aku bisa segera menikahi Monica," gumam Ronald.
Richard yang melihat Monica di dekati beberapa laki-laki, menghampiri Monica agar laki-laki yang mengganggu Monica pergi.
"Oh sorry, ini wanitamu?" tanya mereka.
"Ya," jawab Richard.
Para laki-laki yang mengelilingi Monicapun pergi.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku dari para lelaki itu," ucap Monica.
"Gadis secantik dan semanis kamu harus ada yang menjaga. Bagaimana bisa Ronald membiarkanmu sendirian."
"Itu permintaanku. Aku tidak ingin merusak acara. Biarkan saja mereka menikmati kebersamaan yang sebentar lagi menjadi kenangan yang tak terlupakan," jawab Monica.
Richard mengerutkan dahinya merasa tak paham. Tapi ia memilih membicarakan hal lain. Ia ingin menyelidiki Monica.
Tibalah pada acara inti yaitu sambutan dari Ronald. Dengan lantang, ia berpidato untuk menceritakan kesuksesannya dalam membangun beberapa perusahaan hingga bisa maju seperti sekarang.
"Teruntuk Papaku, semoga lekas sembuh dan dapat melihat acara ini di rumah,. Juga untuk Mama, semoga beliau juga lekas sembuh. Dan yanga tak kalah penting, untuk seseorang yang kucintai yang sangat berarti dihidupku."
Susy tersipu sambil tersenyum mendengar hal itu. Semua mata hadirin menatap pada Susy. Padahal sebenarnya kata-kata itu ditujukan untuk Monica. Hadirin bertepuk tangan riuh menanggapi sambutan Ronald. Setelah berbicara panjang lebar, Ronald menutup pidatonya dengan mengajak hadirin untuk menyaksikan video pencapaiannya selama membangun perusahaan yang dipimpinnya.
"Hadirin semuanya, marilah kita saksikan perjalanan perusahaan dari mulai dipimpin oleh saya hingga maju seperti sekarang."
__ADS_1
Layar besarpun menyala. Operator menyalakan film di laptopnya yang terhubung pada layar besar. Ronald tersenyum bangga. Tapi itu tidak berlangsung lama, entah mengapa, bukan video tentang pencapaian perusahaan yang ditayangkan di layar besar. Tapi sebuah video yang menampakkan Susy sedang masuk ke sebuah kamar hotel. Susy masuk ke kamar hotel bersama dua orang laki-laki yang wajahnya di blurkan. Adegan selanjutnya dapat di tebak, Susy melakukan adegan dewasa bersama kedua laki-laki itu. tubuh mereka disensor dan hanya menampakkan wajah Susy dengan ekspresi gairahnya.
Semua hadirin ternganga melihatnya. Apalagi Ronald dan Susy. Mereka sangat shock melihat video yang tak sangka-sangka itu. Selanjutnya layar itu juga menampilkan foto-foto Susy sedang bersama beberapa laki-laki lain yang berbeda. Dari mulai jalan-jalan di luar negeri, memeriksa kandungan di luar negeri, hingga adegan demi adegan bersama.laki-laki yang berganti-ganti.
"Hentikan! Hentikan kataku! Hentikan!" Susy menangis histeris sambil berlari menaiki tangga dimana operator film berada.
Para tamu mencibir Susy dan membentuk seperti paduan suara.
"Huuuu .....!"
Selanjutnya orang-orang menjadi riuh dengan berbagai komentar. Mereka mencemooh Susy dan Ronald.
"Wah, wanita perkasa! Bisa melayani dua pria sekaligus!"
"Ha ha ha .... Istrinya Pak Ronald di obral! Obral, obral, obral!"
"Wah iklan yang luar biasa! Kalau mau BO istrinya, tinggal nelpon Pak Ronald!"
Dan banyak lagi komentar-komentar menyakitkan lainnya. Ronald meradang. Matanya merah karena murka. Ronald sangat marah pada Susy dan para tamu yang mencibirnya. Ronald sangat malu. Malu seumur hidup. Ronald akan mengingat hal memalukan ini seumur hidupnya. Tidak ada lagi yang tersisa dari harga dirinya. Citranya di mata masyarakat sangat jatuh akibat ulah istrinya. Apalagi acara itu disiarkan secara live oleh televisi swasta.
"Pergi kalian! Bubar! Bubaaaaar ...!!!!" teriak Ronald sambil mengamuk. Ia mendorong orang-orang agar pergi. Ronald juga membanting dan melempar kursi pada orang-orang.
Suasana di ruangan itu menjadi kacau. Semua orang berlarian takut terkena amukan Ronald. Ronald kemudian naik ke ruang operator. Tayangan film itu sudah berhenti. Operator tampak ketakutan melihat Ronald masuk. Susy sedang menangis di sudut ruangan.
"Katakan mengapa bisa begini? Siapa yang melakukannya?!" bentak Ronald sambil mencengkram kerah orang itu. Orang itu kemudian ditamparnya.
"Apa ada orang masuk selain kamu ke ruangan ini sebelum acara dimulai?!"
Operator itu tampak mengingat-ingat.
"Ada seorang pelayan hotel yang mengantarkan makanan dan minuman untuk saya, sesaat ketika Pak Ronald mengakhiri sambutan," laki-laki itu berbicara dengan gemetar.
Braak!
Ronald menggebrak meja. Ronald membanting benda-benda yang ada di ruangan itu. Ketika ia melihat Susy, amarahnya semakin menjadi.
Dijambaknya rambut Susy. Ditamparnya wajah Susy berkali-kali. Kemudian dicekiknya leher Susy hingga Susy berusaha berteriak meminta tolong. Operator itupun membantu Susy agar lepas dari Ronald
"Wanita j*l*ng! P*l*c*r! Selama ini aku memanjakanmu. Memenuhi segala permintaanmu! Bahkan aku mencampakkan Mila karenamu! Bangs*t! Kamu harus mati!"
"Tuan! Tuan! Ingat, Tuan! Anda bisa membunuh istri anda! Toloooong ....!" teriak operator itu.
Beberapa orang pun naik ke ruang operator itu. Mereka menarik Ronald dan Susy agar terlepas. Susy terbatuk-batuk hampir kehabisan nafas.
__ADS_1
"Lepaskan aku! Lepaskan! Biarkan aku membunuh wanita j*l*ng itu! Dia harus mati!"
Beberapa orang membawa Susy pergi dari ruangan itu. Beberapa orang lagi menahan Ronald agar tidak bisa mengejar Susy.
"Akan kubuat hidupmu hancur, p*l*c*r! Kamu telah menghancurkan reputasiku! Akan kukejar kamu sampai ujung dunia sekalipun! Kamu pantas mati!" Ronald masih berteriak-teriak.
Ronaldpun jatuh terduduk. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia sudah tidak perduli dengan citranya sebagai seorang CEO. Perasaannya sangat hancur saat ini.
"Aku salah, tidak menendangnya dari dulu! Kakek benar! Dia wanita ular! Aku dipecundangi selama bertahun-tahun. Mataku buta, tidak dapat membedakan wanita murahan dengan wanita baik!"
"Bahkan saat dia ketahuan bersama laki-laki lain, aku tidak langsung melemparnya ke luar. Aku masih menampungnya di rumah! Br*ngs*k! Aku bodoh! Bodoh!" rutuknya menyesali kebodohannya.
Dan berita tentang kekacauan acara syukuran perusahaan Ronald menjadi viral di masyarakat. Dan yang lebih memalukan adalah berita tentang free s*x yang dilakukan istri CEO, menantu Tuan Brian, istri dari cucu dari Tuan Edwin.
Hal itu merupakan tamparan keras bagi Tuan Brian. Nama Tuan Edwin terbawa jelek akibat ulah menantunya. Tuan Brian pun kesehatannya menurun kembali. Tuan Brian masuk ke rumah sakit lagi.
Sedangkan Susy menghilang entah kemana. Ia menyembunyikan diri dari masyarakat dan juga dari kejaran Ronald. Ia khawatir Ronald akan membunuhnya. Susy dan kedua orang tua Susy bersembunyi di suatu daerah. Keselamatan mereka terancam. Ronald tak segan-segan membunuh mereka dengan mengerahkan anak buahnya.
Ronaldpun mengerahkan anak buahnya untuk menyelidiki siapa saja laki-laki yang telah berhubungan dengan Susy. Terutama laki-laki yang bersama Susy pergi ke dokter kandungan. Ronaldpun menjadi sangsi kalau Ricky anaknya. Ronaldpun melakukan tes DNA. Ia sudah tidak sabar untuk menghajar ayah biologis Ricky.
"Selamat Tuan Ronald! Bagaimana filmnya? Bagus?! Seperti itulah rasanya dipermalukan! Kamu ingat? Kamu melakukannya pada seorang wanita dan pria baik-baik. Kau hancurkan mereka tanpa ampun! Selamat menikmati karenamu! Selamat menikmati kehancuranmu! Ini belum seberapa! Masih ada lagi pertunjukan - pertunjukan selanjutnya!" sebuah telepon dari nomor tak dikenal menelepon Ronald.
"Siapa kau, b*j*ng*n?! Tunjukkan dirimu kalau berani!" teriak Ronald.
"Belum waktunya. Nanti kau juga akan tahu!"
Klik!
Telepon dimatikan secara sepihak. Ronald mendengus kesal. Ia lagi-lagi membanting benda - benda yang ada di dekatnya.
"Siapa dia?! Apa mungkin orang suruhan Mila?! Dimana Mila? Aku ingin minta maaf padamu. Aku menyesal. Aku banyak salah padamu. Aku memang laki-laki br"ngs*k!" mengingat semua hal yang telah dilakukannya pada Mila, Ronald menangis menyesalinya.
"Andai aku mendengarkan saran Kakek ....," Ronald menerawang mengingat kebersamaanya dengan Mila. Mila yang perhatian, yang lugu, yang cantik alami.
"Aargh ....! Kenapa aku bisa jadi laki-laki bodoh? Susy, wanita yang dulu aku cintai dan kubangga-banggakan, ternyata sangat menjijikan!"
"Awas kau Susy! Kamu telah memisahkan aku dan Mila! Kamu selalu menghasutku untuk menyakiti Mila. Kamu harus hancur, Susy! Sehancur-hancurnya! Bahkan kematianpun tidak cukup untukmu!" tekad Ronald.
"Monica? Kemana dia? Kenapa dia tidak menghubungiku?" Ronald baru teringat Monica. Sudah beberapa hari Monica tidak mengirim chat ataupun meneleponnya.
Ronald mencoba menelpon Monica. Tapi teleponnya tidak aktif. Dicobanya beberapa kali. Tapi tetap tidak bisa dihubungi.
"Mengapa kamu tidak memberiku dukungan disaat aku terpuruk, Monica? Kamu malah menghilang," Ronald merasa sendirian di dunia ini. Tidak ada yang dapat mendengarkan keluh kesahnya. Mamanya masih dirawat di rumah sakit jiwa. Ronald merasa hidupnya sangat miris sekali.
__ADS_1
TO BE CONTINUED
Gimana readers, puas? Hah belum? Ya nanti akan ada lagi karma bagi Ronald dan Susy. Maaf kalau telat up. Soalnya saya masih sibuk urusan dunia nyata. Saya akan usahakan up, walau lelah. Tetap semangat dan dukung terus novel ini ya? Terimakasih!