KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 83. BERTEMU COWOK MENYEBALKAN ITU LAGI


__ADS_3

Hari ini ada meeting dengan kolega Erika untuk membicarakan kerjasama perusahaan. Sebisa mungkin Erika harus profesional. Ia kesampingkan dulu masalah pribadinya. Walau hatinya sedang tidak baik, ia harus melupakannya sejenak. Walau itu berat, tapi harus ia jalani. Ia harus tetap tersenyum pada orang-orang walau hatinya sedang bersedih.


"Hhh .....kamu harus bisa Erika! Kamu pasti bisa!" gumam Erika memotivasi dirinya sendiri. Erika berdiri di teras rumah menunggu supirnya datang untuk menjemputnya.


"Nak, ini roti panggang untuk sarapanmu di jalan. Kamu harus sarapan, agar kamu bisa konsentrasi dan tenagamu cukup untuk menghadapi hari yang berat," kata Ronald sambil menyerahkan kotak makan pada Erika. Ronald yang membuatkan sarapan untuk Erika. Ia ingin hubungannya dengan Erika membaik lagi seperti dulu.


"Terimakasih, Pa. Maafkan sikap Erika kemarin. Erika hanya terbawa suasana," Erika memeluk Papanya. Ronald merasa senang, Erika-nya telah kembali hangat padanya.


"Bagaimana perasaanmu hari ini, sudah lebih baik?" tanya Ronald.


"Alhamdulillah Pa. Sudah lebih baik. Banyaknya kesibukan, membuatku lupa pada masalah itu. Tapi kadang kalau sedang sendiri, suka teringat lagi," jawab Erika.


"Laki-laki itu tidak menghubungimu lagi kan? Kalau sampai dia berani menampakkan hidungnya dihadapanmu, Papa akan hajar dia!"


"Tidak Pa! Semoga saja dia masih punya malu."


"Nanti malam, Papa akan mengajak kamu makan malam di luar. Kamu ada waktu kan? Rasanya Papa ingin kita bisa ngobrol-ngobrol santai bersamamu dan menghabiskan waktu bersama," kata Ronald


"Sepertinya tidak ada agenda nanti malam, Pa. Oke, kita akan kemana Pa?"


"Kita akan makan di restoran seafood, bagaimana?"


"Boleh!"


Ronald dan Erika saling senyum. Ronald mengelus puncak kepala Erika dengan sayang. Supir kantor yang menjemput Erika datang.


"Aku berangkat dulu ya Pa!" pamit Erika sambil mencium tangan Ronald. Didikan Mila pada Erika akan tata krama Indonesia selalu diterapkan Mila walau Erika tumbuh besar di Inggris.


"Hati-hati di jalan, nak!" pesan Ronald.


Erika melambaikan tangan ketika mobil akan pergi meninggalkan halaman rumah Papanya. Ronald membalas lambaian tangan putri kesayangannya.


Setelah mobil yang dinaiki Erika pergi, tampak Tika sedang menyapu teras rumahnya. Pandangan mata mereka bertemu. Tika menundukan kepalanya dengan sopan sambil tersenyum. Ronald juga menundukkan kepalanya sambil tersenyum pula. Ronald merasa makin hari janda kembang di depan rumahnya itu makin terlihat cantik dan bohay. Tapi pikiran konyol itu buru-buru ditepisnya. Ronald menggelengkan kepala sambil masuk ke rumahnya.


'"Tidak, tidak! Aku sudah tua. Aku harus fokus mengurus anakku dan bengkel saja!" gumamnya.


Di ruang meeting di kantornya, Erika menunggu kedatangan koleganya. Astin sudah siap di sebelahnya. dengan laptop dan berkas-berkas yang diperlukan. Layar infocus sudah siap digunakan.


"Bos, Pak Gery sudah tiba di lantai dasar. Sekarang sedang naik lift menuju ke sini," kata Astin pada Erika.


"Oke. Bersiaplah," kata Erika.


Tak berapa lama, orang yang ditunggu pun datang. Ia membawa dua orang laki-laki bersamanya.

__ADS_1


"Nona Erika?" sapa Gery, CEO SUMBER RAYA Tbk sambil berjabat tangan.


"Ya, saya, Pak Gery," jawab Erika.


"Senang berjumpa dengan anda. Putri dari teman lamaku, Ronald Ricardo," kata Gery.


"Anda mengenal Papa saya?" Erika mengernyit heran.


"Tentu saja. Saya dulunya bekerja sebagai Asisten Pak Ronald dari Pak Ronald memegang Edkatama group hingga perusahaannya yang terakhir yang bangkrut itu," kata Gery. Laki-laki paruh baya itu tersenyum hangat, tidak ada nada mengejek ataupun melecehkan dari bibirnya. Perkataannya murni hanya untuk menjelaskan siapa dirinya.


"Oh. Senang sekali dapat berkenalan dengan orang kepercayaan Papa dulu," Erika menundukkan kepalanya tanda menghormat pada Gery.


"Tak heran, anda menjadi orang sukses sekarang. Karena pengalaman anda yang tentunya sangat banyak," Erika memuji Gery dengan tulus.


"Ah ... itu semua karena Papamu. Saya belajar banyak darinya. Sekarang Papamu dimana?"


"Beliau buka usaha bengkel sekarang. Hanya bengkel kecil-kecilan.," jawab Erika merendah.


"Oh, baguslah. Semoga usahanya semakin maju. Kapan-kapan aku ingin bertemu dengan Papamu."


"Papa tentu akan sangat senang bila bertemu dengan anda," Jawab Erika.


"Oh, iya, jadi lupa. kenalkan, ini sekretaris saya, Ervan, dan ini anakku, Reyhan," kata Gery.


Mereka semua saling berjabat tangan. Ketika Erika tiba pada anak Gery ....


Deg!


Kenapa harus bertemu dengan cowok menyebalkan ini lagi?


Erika masih mengingat jelas wajah seorang cowok yang sangat dibencinya dulu. sewaktu jaman ia masih SMA di London.


Flashback


"Erika, kau tahu tidak, cowok yang pakai baju biru itu kan dari Indonesia. Dia Mahasiswa jurusan bisnis di Imperial Colllage London," kata Merry, teman sebangku Erika. Erika menoleh ingin melihat cowok yang ditunjukkan Merry.


'Ganteng sih. Tinggi, atletis, berkulit putih bersih, berambut lurus, beralis tebal, bibirnya merah. Ups! Ngapain sih lihat fisik dia terus. Otak dan akhlaknya belum tentu sebagus penampilannya,' kata batin Erika.


Acara ulangtahun Jenifer, teman satu sekolah Erika, yang diadakan di sebuah cafe, dihadiri oleh teman-teman sekolah dan teman-teman kenalan Jenifer. Ternyata Jenifer gadis yang supel. Buktinya temannya banyak yang dari kalangan mahasiswa beberapa universitas di London dan para aktivis sosial. Jenifer memang aktivis sosial yang banyak berkiprah di luar sekolah.


"Perhatian! Acara segera dimulai! Mendekatlah kemari!" MC memanggil para undangan untuk mendekat.


"Sebelum acara tiup lilin, kita hiburan dulu ya!" MC kemudian membacakan aturan permainan. Setelah para undangan mengerti, permainanpun dimulai. Empat orang harus maju kena giliran. Empat orang itu disuruh berjoget, dan ketika musik berhenti, orang yang terlambat berhenti berjoget, maka akan disuruh memutar alat yang seperti jarum jam. Sebuah alat seperti jarum jam besar pun diputarkan di tengah-tengah meja. Di alat itu ada nomor-nomor untuk untuk peserta yang akan menerima hukuman. Ketika jarum jam diputar lalu berhenti diangka berapa, maka peserta itu akan mengambil kartu hukuman sesuai nomor yang ditunjukkan alat itu.

__ADS_1


Gelak tawa mewarnai sesi permainan itu. Karena kadang ada hal-hal konyol yang harus dipatuhi terkait hukuman dari kartu hukuman itu.


Kini giliran Erika dan tiga teman lainnya yang disuruh maju berjoget. Musikpun mengalun. Dan sialnya, Erika terlambat berhenti ketika musik mendadak berhenti. Sehingga Erika harus memutar jarum jam itu. Ketika jarum itu berhenti di angka 6, Erika mengambil kartu hukuman nomor 6. MC mendekatkan microfon agar Erika membacakan hukuman untuknya. Erika membelalakkan matanya ketika tahu hukuman apa yang harus dilakukannya.


"Ayo cepat bacakan, honey," kata MC.


"Ciumlah salah satu orang yang ada di sini yang berbeda jenis kelamin," Erika membacakan dengan ragu-ragu dan hati berdebar. Sontak saja para undangan yang hadir riuh merespon hukuman yang akan Erika jalani.


Dengan tanpa pikir panjang, Erika menarik cowok Indonesia yang hanya ada satu-satunya di sana.


"Cium! Cium! Cium!" para undangan memprovokasi agar Erika segera mencium cowok itu.


Muka Erika sudah merah padam antara malu, tegang dan deg-degan. Cowok itupun tampak tegang dan pasrah karena tidak boleh menolak. Dan dengan cepat, Erika berjinjit kemudian mencium pipi si cowok itu sekilas dan cepat. Selesai melakukannya Erika langsung berlari ke sudut ruangan karena malu bukan kepalang. Tepuk tangan dan gelak tawa para undangan memenuhi ruangan itu. Si Cowok pun tampak salah tingkah mendapat hal yang tidak diduganya. Seorang gadis cantik dari Indonesia telah menciumnya.


"Mimpi apa kamu semalam, dicium bidadari cantik," kata teman-teman cowok itu sambil menepuk-nepuk bahunya. Cowok itu melirik cewek yang telah menciumnya yang berada di sudut ruangan sambil minum sirup dengan gugup.


Entah sedang apes terus atau bagaimana, Erika yang sedang berjalan menuju ke arah temannya, tiba-tiba pelayan tersandung di dekatnya dan menyebabkan minuman yang dibawa pelayan itu tumpah semua dan membasahi sebagian besar gaun Erika.


Cowok Indonesia itu bukannya menolong atau bersimpati, malah ikut mentertawakan dengan teman-teman cowok yang lain.


Pelayan itu berulangkali meminta maaf, tapi tak digubris Erika karena Erika telanjur sakit hati ditertawakan cowok-cowok kurang ajar itu.


Erika malu. Teramat malu! Ia berlari keluar dari acara di cafe itu untuk pulang sambil terisak. Cowok itu yang belakangan baru diketahui Erika bernama Rey, berlari mengejar Erika. Setelah mentertawakan gadis itu, ia merasa bersalah. Tapi gadis itu sudah pergi naik taksi. Rey gagal mengejar gadis yang tidak diketahui namanya itu.


Pada kesempatan lain, Erika bertemu cowok itu lagi. Ketika Erika mengantar Deby ngedate, cowok Deby itupun mengajak temannya pula. Dan teman cowoknya Deby itu ternyata Rey. Ketika mereka berjumpa, Rey pura-pura tidak kenal. Dia tersenyum ramah.


"Kenalkan, ini temanku .Namanya Erika," kata Deby memperkenalkan Erika pada cowoknya dan temannya. Tentu saja Deby tidak tahu insiden di acara ulangtahun Jenifer, karena Deby tidak hadir. Waktu itu Deby sedang ada acara dengan keluarganya.


"Hai, senang berkenalan denganmu," kata Rey dengan berlagak baru pertama mengenal Erika. Rey mengulurkan tangan. Dengan ragu-ragu, Erika membalas jabatan tangan Rey. Tapi apa yang Rey lakukan, membuat Erika bertambah benci pada cowok itu. Ketika berjabat tangan, jari telunjuk Rey mengusap-usap atau menoel-noel telapak tangan Erika. Sehingga tangan Erika serasa geli sekaligus merasa jijik atas perlakuan Rey yang kurang ajar menurut Erika.


Erika melepaskan jabatan tangan itu dengan kasar dan pergi begitu saja tanpa memperdulikan Deby yang memanggil-manggilnya.


"Dia pikir aku wanita penggoda, wanita murahan, sehingga dia bertindak kurang ajar begitu!" gerutu Erika di sepanjang perjalanan pulang. Menurutnya, gerakan jari laki-laki yang demikian itu kerap dilakukan laki-laki hidung belang yang sedang memberi kode pada wanita, bahwa laki-laki itu tertarik pada si wanita itu.


Dan setelah itu Erika tidak pernah bertemu cowok itu lagi. Erika bahkan sudah melupakannya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan cowok menyebalkan itu lagi sekarang setelah bertahun-tahun tak bertemu.


Flashback off


"Nona Erika? Apa anda baik-baik saja?" ucapan laki-laki itu membuyarkan lamunan Erika.


'OMG! Aku tidak sedang bermimpi! Ternyata cowok menyebalkan itu putra Pak Gery!'


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2