KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 21. TAK SESUAI HARAPAN


__ADS_3

Ronald pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Niatnya tercapai untuk menjamah Mila seutuhnya. Walau di dalam lubuk hatinya yang paling dalam Ia merasa kasihan pada Mila, tapi perasaan itu ditepisnya.


Ambisinya pada harta warisan Kakeknya, membuatnya mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Mila dianggap telah merebut kasih sayang dan harta Kakek Edwin.


Ronald menghentikan anak buahnya untuk memata-matai Mila. Mila sudah menandatangani surat pengalihan harta. Dan itu sudah tercapai. Jadi setelah ini ia tidak perduli nasib Mila selanjutnya. Tentang sidang perceraiannya pun, Ronald merasa tak perlu menghadirkan Mila. Biar saja pengadilan agama memutuskan perceraian secara verstek (tanpa kehadiran tergugat).


Setelah urusan di kantornya dapat diselesaikan, Ronald menikmati waktunya yang tidak terlalu sibuk. Hanya kegiatan-kegiatan rutin yang tidak menguras tenaga dan pikirannya. Ronald pun pergi ke kantor pengacara Kakeknya yang bernama Trihandoyo.


Dengan langkah penuh percaya diri, Ronald menemui Trihandoyo.


"Selamat datang, Tuan Ronald. Senang sekali kantor saya dikunjungi anda," kata Trihandoyo.


Setelah dipersilahkan duduk, Ronaldpun membuka percakapan.


"Begini, Tuan Handoyo. Kedatangan saya kemari untuk menyerahkan ini," kata Ronald sambil menyerahkan kertas di meja.


"Apa ini?"


Pengacara itupun membaca surat yang dibawa Ronald.


"Mila, istri pertama saya, menyerahkan harta dari Kakek untuk saya. Karena kami dalam proses cerai. Dia mungkin merasa sadar diri, karena dia bukan ahli waris yang sesungguhnya," kata Ronald.


Trihandoyo tersenyum. Kemudian ia menggeserkan kertas itu lagi ke hadapan Ronald.


"Maaf. Saya tidak dapat mempercayai isi surat ini. Bisa saja kan anda menekan Mila, menyuruh Mila menandatangani surat ini dibawah ancaman? Jadi, surat pernyataan ini sama sekali tidak berarti. Kalau anda bisa menghadirkan Mila untuk menandatangani surat pengalihan harta di hadapan saya, barulah saya percaya dan memproses pengalihan harta itu," kata Trihandoyo.


Ronald berdecak.


"Anda itu jangan mempersulit saya! Anda jelas-jelas sudah tahu, saya ini cucunya Tuan Edwin! Dan siapa itu Mila? Dia hanya orang lain yang kebetulan di kasihani Kakek!"


"Ya. Tapi dia mendapat wasiat sebagai penerima warisan Kakek anda. Lagipula Papa anda juga tidak keberatan atas keputusan Tuan Edwin,"


"Anda tidak tahu! Papa saya marah sekali pada Mila. Karena Mila menerima bagian yang sama dengan Papa! Itu sangat tidak adil! Papa adalah anak kandung, sedangkan Mila itu bukan siapa-siapa. Hanya dianggap anak saja oleh Kakek!"


"Itulah masalahnya Tuan Ronald! Mila dianggap sebagai anak oleh Tuan Edwin. Secara aturan agama Islam, anak angkat memang mempunyai bagian yang tidak sama dengan anak kandung. Tapi Tuan Edwin sudah membuat surat wasiat. Dan itu cukup bagi saya untuk menindaklanjuti surat wasiat itu."


"Lagipula anda cuma punya bagian dari Papa anda. Saya rasa anda sudah mengetahui alasannya," ucap Trihandoyo.


"Alasan apa? Saya tidak tahu!"


"Tanyakan saja pada Papa anda. Papa anda yang lebih berhak menjelaskannya," kata Trihandoyo.


"Anda ini pengacara yang tidak kompeten! Anda tidak melihat fakta-fakta yang ada! Anda memutuskan sesuatu hanya berdasarkan naluri saja!"


"Cukup sampai disini pertemuan kita hari ini, Tuan. Kalau anda dapat memenuhi seperti yang saya minta, anda boleh kemari. Saya banyak urusan. Klien saya yang lain sudah menunggu. Harap anda mengerti," kata Trihandoyo sambil membukakan pintu. ia mencoba bersikap tenang dan tidak tersulut emosi.


"Saya dapat memenuhi apapun keinginan anda, kalau anda mau bekerjasama dengan saya. Anda akan hidup makmur. Berapapun yang anda minta," bujuk Ronald.


"Saya tidak memerlukan apapun dari anda. Penghasilan saya sebagai pengacara sudah lebih dari cukup. Silahkan anda pergi. Sekarang giliran klien saya yang lain yang akan berkonsultasi dengan saya," jawab Trihandoyo.


Dengan kesal, Ronald keluar dari ruangan pengacara itu. Ia berjalan sambil mengepalkan tangannya.


"Jalan, Pak Soleh!" perintah Ronald, setelah berada dalam mobilnya. Ronald kemudian menghubungi anak buahnya.


"Dragon! Cari Mila sampai dapat! Ya, wanita yang kau dapatkan di bis waktu dulu! Urusanku terhambat gara-gara dia! Aku memerlukan kehadirannya untuk memuluskan urusanku!" perintah Ronald.


Ronald menghembuskan nafas dengan kasar. Ia sangat kecewa atas hasil pertemuannya dengan pengacara yang bernama Trihandoyo itu. Dia itu tipe orang yang teguh, tidak tergiur dengan apapun.


Ada kata-kata Tuan Trihandoyo yang membuatnya penasaran. Ronald disuruh menanyakan tentang harta warisan Ronald yang hanya diperoleh dari Papanya saja. Ronald tidak mengerti. Ia harus menanyakan pada Papanya, mengapa bisa begitu.


Pertemuannya dengan Tuan Trihandoyo yang tak sesuai harapannya, membuat Ronald kehilangan mood. Ia memilih pulang ke rumahnya daripada melanjutkan aktivitasnya di kantor.


Di rumah, kedatangan Ronald disambut oleh Susy dengan manja. Ronald hanya mengelus perut Susy yang sudah membuncit.


"Sayang, ada apa? Kok mukamu ditekuk begitu?" tanya Susy.


"Aku sedang kesal!" jawab Ronald. Mereka kemudian duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


"Besok sidang perceraianmu. Kamu harus hadir. Supaya prosesnya bisa cepat. Kita akan bahagia setelah ini. Kamu sudah bebas dari si udik itu, kita juga bergelimangan harta," kata Susy tersenyum senang.


"Sayangnya tidak semudah itu. Pengacara sialan itu menolak surat pernyataan yang kusodorkan. Aku harus menghadirkan Mila! Tuan Trihandoyo hanya mau Mila hadir dan menandatangani surat pengalihan harta itu dihadapannya," kata Ronald.


Seketika raut wajah Susy berubah.


"Jadi kamu tidak berhasil, Mas? Kok kamu tidak mencoba membujuknya?!" suara Susy meninggi.


"Aku sudah mencoba! Dia malah mengusirku! Dia termasuk pengacara yang susah diajak kompromi. Dia pengacara jujur. Pantas saja Kakek memilih dia! Dia termasuk pengacara terbaik yang dikenal karena keberanian dan keteguhannya!"


Susy berdiri.


"Saya ada acara dengan teman-teman! Saya mau menghibur diri karena kegagalanmu! Pikirkan langkah apa yang akan Mas ambil. Aku tidak mau tahu. Mas harus berhasil! Demi masa depan kita!" pungkas Susy.


Susypun memanggil salah satu ARTnya untuk mengambilkan tasnya. Setelah tas diambilkan dari kamar Susy, lalu diserahkan, Susy pamit pergi pada Ronald.


"Kamu itu sedang hamil! Jangan terlalu larut malam pulangnya! Lagipula apa sih yang akan kamu lakukan? Suami ada di rumah, kamu malah pergi," sungut Ronald.


"Ck. Kamu jangan bawel! Ibu hamil itu harus bahagia. Kegagalanmu membuat moodku buruk! Jadi aku akan pergi bersenang-senang dengan teman-teman," jawab Susy.


"Kamu kira moodku baik? Moodku juga buruk! Kamu seharusnya menemaniku di rumah!"


"Sudah! Hibur saja dirimu sendiri! Terserah bagaimana caranya. Aku mau pergi!" Susy pergi tanpa cium tangan ataupun cium pipi pada Ronald.


Lalu terdengar suara mobil yang dinyalakan dan pergi meninggalkan rumah itu. Ronald memukul sofa dengan kesal.


"Istri macam apa?! Suami pulang ke rumah, dia malah pergi!" gerutu Ronald. Iapun teringat Mila. Dalam hati kecilnya ia mengakui, Mila istri yang baik. Cuma ia terlalu keras dan kasar pada Mila. Timbul rasa penyesalan dalam hatinya. Tapi ia terlalu angkuh dan gengsi untuk mengakuinya.


Dengan mood yang buruk tapi ia penasaran karena perkataan Tuan Trihandoyo, Ronald pergi ke kantor Papanya. Papanya sedang sibuk dengan laptopnya ketika Ronald masuk ke ruangan Papanya.


"Pah, ada yang ingin kutanyakan. Apa Papa bisa meluangkan waktu sejenak?" tanya Ronald sambil duduk dihadapan Papanya di seberang meja kerja Papanya.


"Baik. Ada apa?" Tuan Brian melepas kacamatanya, lalu menghentikan aktivitasnya. Menatap Ronald dengan penuh tanda tanya.


"Aku habis dari kantor Pengacara, Tuan Trihandoyo. Dia bilang, aku sendiri yang harus menanyakannya pada Papa. Mengapa aku hanya mendapat warisan dari Papa? Kak Richard diberi warisan seperempat bagian dari Kakek. Sedangkan aku tidak. Aku hanya dapat dari bagian Papa saja. Kenapa Pah, kenapa bisa begitu? Dan kenapa Papa diam saja, tidak protes pada pengacara itu?"


"Itu sudah menjadi keputusan Kakekmu. Kita tidak bisa apa-apa," jawab Tuan Brian.


"Tidak! Itu tidak adil! Aku juga cucu Kakek! Kenapa aku diperlakukan seperti bukan cucunya saja?! Mila yang orang lain saja mendapat bagian sama seperti Papa! Apa yang terjadi? Ada apa Pah?!"


"Suatu hari nanti kamu akan mengerti, Nak! Papa tidak bisa menjelaskannya sekarang. Papa tidak sanggup. Mengenai Mila, dia anak angkat Kakekmu. Ada surat pengesahannya dari pengadilan. Kakekmu tidak memberitahukannya pada Papa. Papa juga baru tahu waktu menemui Tuan Trihandoyo."


"Itulah sebabnya Kakekmu bersikukuh menikahkanmu dengan Mila. Beliau menginginkan kamu dan Mila bersama-sama mengelola harta Kakek. Tapi kamu tidak menurut pada keinginan Kakekmu kan. Kamu hilang segalanya," kata Tuan Brian.


Brak!


Ronald menggebrak meja dengan marah.


"Ronald! Sopanlah pada orangtua!" hardik Tuan Brian.


"Tuan Trihandoyo menyulitkanku! Surat pernyataan dari Mila tidak cukup meyakinkan pengacara s*alan itu! Aku harus membawanya ke hadapan dia!" Ronald menyandarkan punggungnya dengan kasar pada kursi.


"Kamu kerahkan saja anak buahmu untuk mencari Mila. Beres kan?"


"Itulah masalahnya! Aku terlalu senang hingga membiarkan dia selama beberapa hari. Aku sudah menarik anak buahku yang memata-matai dia! Sekarang dia mungkin sudah pergi jauh entah kemana!"


"Kau ini bodoh! Selama proses perceraianmu belum selesai, jangan kau biarkan dia berkeliaran kemana-mana! Itulah akibatnya kalau kamu teledor!" hardik Tuan Brian.


"Kupikir, urusan kami sudah selesai, tidak ada kendala. Hakim bisa memutuskan sidang perceraian dengan Verstek. Ternyata masalah yang lainnya tak terpikirkan sama sekali!"


"Dipikiranmu hanya ada Susy, Susy, saja! Papa saja muak lihat kebucinan kalian! Apa kamu sudah menyelidiki Susy selama ini, Ronald? Kemana dan dengan siapa dia bergaul?" tanya Papanya.


"Kenapa Papa menanyakan begitu? Aku percaya Susy!"


"Papa hanya tidak ingin kamu nanti kecewa dan terluka bila tidak sesuai dengan ekspetasimu. Jangan terlalu percaya pada wanita! Kamu harus tetap mengawasinya!"


Jangan seperti Papamu. Papa salah. Papa terlalu percaya pada Mamamu. Papa pecundang! Papa dikhianati bertahun-tahun, tapi baru sadar sekarang!

__ADS_1


"Kenapa Papa bicara begitu?"


"Tidak apa-apa! Papa cuma mengingatkanmu," jawab Papanya menutupi yang terjadi pada dirinya.


Ronald pulang ke rumah sore hari setelah ia ke kantornya. Karena ada beberapa berkas yang harus ditandatanganinya. Entah mengapa badannya terasa tidak enak. Udara yang menerpa wajahnya terasa dingin. Walau memakai jas, tapi terasa dingin menembus tubuhnya juga. Keringat pun yang terasa keringat dingin yang membasahi punggungnya.


"Tuan kenapa, Tuan?" tanya Pak Soleh, supirnya.


"Aku sepertinya demam, Pak! Percepat pulang ke rumah, Pak!" perintah Ronald.


"Saya panggilkan Dokter Ferry Tuan?"


"Ya, panggil saja."


Setelah sampai, Ronald segera menuju ke kamarnya. Ia juga meminta salah satu ARTnya agar membawakan air hangat untuknya minum.


Ketika Dokter Ferry datang setelah satu jam Ronald tertidur, Dokter Ferry memeriksa kondisi Ronald. Ronald memang terkena gejala flu. Badan Ronald panas. Dokter Ferry memberinya obat untuk di minum.


Ronaldpun meminum obat setelah Dokter Ferry pergi. Ronald melanjutkan tidurnya. Kepalanya terasa pusing.


ARTnya membangunkannya karena waktu makan malam telah tiba, tapi Ronald tidak juga turun ke ruang makan. Ronald meminta pada ARTnya agar membawa makan malamnya ke kamar saja.


Ketika Ronald tengah menikmati makan malamnya, Susy baru datang. Susy heran mengapa Ronald makan malam di kamar tidur.


"Kamu itu dari mana saja?!" tanya Ronald.


"Hei, Mas kenapa? Kok makan malamnya di kamar?"


"Aku sakit! Kamu susah sekali ditelepon!" gerutu Ronald.


"Jangan manja. Panggil saja ART. ART mu kan banyak. Aku sengaja mematikan ponsel. Karena aku setelah ngobrol-ngobrol dengan teman-temanku, perawatan ke Spa. Badan jadi terasa segar!" jawab Susy tanpa merasa bersalah.


"Aku mau minum obat. Tolong ambilkan obatku di nakas!"


Susy dengan malas mengambil dan memberikan obat pada Ronald. Ronald meminum obatnya.


"Aku mau ganti baju. Setelah itu aku akan tidur. Aku sudah makan malam tadi dengan teman-teman. Tolong jangan ganggu aku nanti. Aku lelah!" kata Susy. Kemudian ia segera ganti baju dan bersiap tidur.


"Susy. Dahiku mau dikompres," pinta Ronald.


"Kompres saja sendiri. Sudah kubilang jangan manja! Aku capek! Mau tidur!" Susy langsung memiringkan badannya menghadap ke tembok.


Ronald tercengang. Ternyata begini sifat asli Susy. Menjadi orang yang tidak peduli setelah tahu Ronald mempunyai harta cuma sedikit.


Dengan sedih, Ronald membaringkan tubuhnya. Iapun memiringkan tubuhnya memunggungi Susy.


Ronald teringat Mila. Ketika dulu Ronald sakit, Mila dengan telaten mengurusnya. Semuanya dilakukan Mila dengan ikhlas, walaupun ia sering marah-marah pada Mila.


Apa aku salah menceraikan Mila? Aku orang yang bodoh!


Dia tulus mencintaiku. Dia juga punya warisan yang banyak dari Kakek. Aku tidak boleh menceraikannya! Aku harus membatalkan perceraian itu!


Ronald bangkit dari ranjang, kemudian ia menelepon seseorang. Ternyata Mila belum ditemukan!


Dengan gusar, Ronald menelepon pengacaranya. Ia mengatakan akan membatalkan perceraian itu.


"Tuan itu bagaimana? Proses sedang berjalan. Besok sidang lagi. Pikirkan baik-baik. Anda tadinya menggebu-gebu ingin cerai. Tapi mengapa sekarang berubah pikiran? Ada apa?" tanya pengacaranya di telepon.


"Saya ... saya ....," Ronald tergagap.


"Coba anda pikirkan lagi! Pikiran anda sepertinya sedang kacau. Kita bertemu besok pagi di pengadilan! Saya ingin mendengarkan keputusan anda besok pagi sebelum sidang." kata pengacaranya menutup pembicaraan.


Mila .... Mila ....


Huffft! pikiranku memang kacau!


TO BE CONTINUED

__ADS_1


Selamat membaca!


__ADS_2