KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 55. WILL YOU MARRY ME?


__ADS_3

Richard menjemput Mila tepat jam setengah delapan malam. Richard tampak tampan dengan balutan tuxedo hitamnya, dan Mila terlihat cantik dengan balutan gaun panjang warna hitam. Rambutnya di cepol dengan gaya Messy bun, membuatnya terlihat mempesona.


Richard membawa Mila ke rooftop sebuah hotel di Jakarta. Tempat itu rupanya sudah dibooking Richard karena hanya ada mereka berdua.


Mila merasa takjub melihat kejutan dari Richard. Lampu di rooftop dibuat remang-remang dan cahaya lilin bertebaran dimana-mana yang mendominasi penerangan di rooftop itu.


Richard mengajak Mila untuk duduk didepan meja makan yang telah siapkan. Pelayan datang membawakan hidangan untuk mereka berdua. Mereka pun menikmati hidangan dengan tenang.


Setelah selesai, mereka bersulang minum syrup. Lalu datanglah beberapa orang yang memainkan alat musik. Mereka memainkan musik lagu cinta. Mila tampak menikmati alunan musik dari mereka. Richard merasa senang Mila menyukainya. Setelah dirasa cukup, Richard menjentikkan jarinya. Para pemain musik itu mengerti. Mereka segera mengakhiri permainan musiknya dan pergi meninggalkan pasangan itu.


"Mila ada yang akan ku katakan padamu."


"Ya. Katakan saja," Mila merasa deg-degan.


"Aku bujang lapuk. Umurku sudah 40 tahun. Sudah lama aku tak merasakan jatuh cinta. Tapi sejak bertemu dan mengenalmu di London, aku merasa ada yang aneh di hatiku. Aku merasa kehilanganmu ketika kamu menghilang. Aku terlambat mengatakannya padamu waktu itu, bahwa Aku mencintaimu. Tidak perduli kamu sedang hamil anak siapa saat itu. Aku juga menyayangi anakmu,"


"Aku hanyalah laki-laki aneh yang punya trauma masa lalu yang buruk tentang keluargaku. Tapi aku tidak ingin seperti Papaku. Aku ingin mencintai satu wanita saja seumur hidupku. Aku ingin kita dapat membina rumah tangga selamanya sampai maut memisahkan. Mila, Will you marry me? Apakah kamu bersedia aku menjadi imammu?"


Mila terbelalak mendengar penuturan Richard. Tanpa berpikir lama, Mila mengangguk. Richard mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari sakunya. Sebuah cincin berlian Richard sematkan pada jadi manis Mila. Lalu tangan Mila diciumnya.


"Maukah kamu menerima segala kekuranganku?"


"Ya. Richard! Apakah kau juga mau menerima segala kekuranganku dan semua masa laluku?" Mila balik bertanya.


"Ya. Aku mencintai Mila yang dulu dan yang sekarang."


Mila tersenyum. Richard juga tersenyum. Tangan mereka saling menggenggam.


Sementara itu di tempat lain, di rooftop sebuah restoran, sepasang kekasih juga sedang menikmati dinner yang romantis. Suasana di rooftop itupun tak kalah romantis. Gisel memakai gaun warna peach, sedangkan Arga memakai jas warna coklat. Ada banyak lampion warna warni yang digantung di sana. Setelah selesai menikmati hidangan, Arga membawa Gisel ke pinggir pagar rooftop. Mereka melihat pemandangan kota Jakarta dari atas.


"Gisel. Aku sudah pernah berumah tangga. Kamu juga sudah pernah berumah tangga. Aku dan kamu sama-sama ditinggalkan oleh orang terkasih. Istriku meninggal, dan suamimu menyia-nyiakanmu. Aku harap, kita dapat move on dari masa lalu kita masing-masing. Sekarang kita menatap ke depan. Masa depan kita. Kita bina rumah tangga yang bahagia."


"So, Will you marry me?" Arga berlutut didepan Gisel sambil menyodorkan sebuah kotak cincin.


Gisel gak dapat menahan haru dan rasa bahagianya. Gisel mengangguk dengan malu-malu. Walaupun baru mengenal beberapa bulan, Gisel merasa yakin, Arga lelaki yang bertanggungjawab dan mencintai serta menyayanginya dengan tulus, juga pada Ricky.


Argapun .menyematkan cincin emas bermata berlian itu pada jari manis Gisel. Setelah itu Arga menegakkan tubuhnya. Diraihnya tubuh Gisel hingga tubuh Gisel dipeluk Arga dari belakang.


Arga menempatkan dagunya dipinggir leher Gisel. Arga menghirup aroma wangi mawar yang menyeruak. Tangan Gisel dikunci tangan Arga hingga Gisel tidak dapat bergerak.


"Kamu selalu membuatku tak dapat jauh-jauh darimu. Aku selalu merindukanmu. Kita harus mengurus secepatnya berkas persyaratan pernikahan," kata Arga.


"Katanya minggu depan," protes Gisel.


"Aku sudah tidak tahan sayang," jawab Arga sambil menc*umi leher jenjang Gisel. Gisel merasa bulu romanya meremang.


Tak dapat dipungkiri, setelah beberapa bulan lamanya tak pernah disentuh lelaki, sentuhan Arga membuatnya bagai tersengat aliran listrik.


"Emh ..., Arga .....," lirihnya saat tangan nakal Arga meremas bukit kembarnya. Giselpun merasakan sesuatu yang menonjol dibelakangnya menusuk-nusuk b*kongnya.


"Arga, kendalikan dirimu!" Gisel mencoba melepaskan pelukan Arga.


Arga tersentak dan secepatnya melepaskan pelukannya.


"Maaf, maaf. aku bisa gila karenamu," Arga menjauh dari tubuh Gisel. Ia lalu menyalakan rokoknya. Cara itu efektif untuk meredam gairahnya yang sudah memuncak.


"Maaf. Bukannya aku tidak mau. Tapi kita belum boleh. Kamu bersabar ya sayang. Kita urus berkas pernikahan secepatnya," kata Gisel.


Arga mengangguk. Ia masih menyesap rokoknya sambil melihat pemandangan dibawah.

__ADS_1


Datanglah serombongan orang memainkan alat musik. Gisel dan Arga pun menikmati alunan indah suara biola dan alat musik lainnya.


"Mau berdansa?" tawar Arga.


"Boleh," jawab Gisel


Arga membuang puntung rokok. Kemudian diinjaknya. Iapun segara meraih tangan Gisel. Kemudian mereka berdansa diiringi musik yang romantis.


🌹🌹🌹🌹🌹


Suatu hari Gisel mendapat kiriman buket bunga yang banyak dan hampir memenuhi ruangan di Agencynya. Gisel yang baru datang, tersenyum melihatnya. Belum sempat ia menanyakan pada sekretarisnya, seseorang muncul di pintu yang masih terbuka lebar


"Apa kabar, sayang," kata seseorang itu sambil masuk ke ruangan.


Gisel membalikkan tubuhnya. Suara itu rasanya begitu familiar. Alangkah terkejutnya ketika melihat yang datang ternyata Jimy.


"Jimy, mau apa kamu ke sini!" bentak Gisel.


"Gimana buket bunganya? Suka?" tanya Jimy tanpa menghiraukan pertanyaan Gisel.


Dengan. langkah penuh percaya diri, Jimy menghampiri Gisel. Gisel mundur.


"Kamu semakin cantik saja.! Aku tidak dapat melupakanmu. Aku sadar, ternyata hanya kamu yang aku cintai. Tolong maafkan kekhilafanku dahulu. Kita rujuk ya sayang," kata Jimy sambil terus mendekat.


"Stop disitu! Jangan mendekat! Pergilah dari ruanganku, sebelum aku panggil security!" teriak Gisel.


Jimy tidak memperdulikan ucapan Gisel. Ia meraih tubuh Gisel. Jimy berniat mencium Gisel. Tapi ternyata ada sepasang tangan yang menarik dan menghajar wajahnya sebelum Jimy melaksanakan niatnya. Jimy jatuh terjerembab.


"Pergilah b*jangan! Jangan coba-coba menyentuh calon istriku!" kata suara itu marah.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya orang itu sambil memeluk Gisel. Ya orang itu adalah Arga. Untung Arga datang.


Jimy bangkit kemudian bertepuk tangan.


"Baru juga beberapa bulan bercerai, kamu sudah punya calon suami, Gisel!" Jimy tertawa sinis.


"Apa urusannya dengnmu! Urusan kita sudah selesai! Aku mau bagaimana bukan urusanmu lagi. Kita jalani hidup kita masing-masing!" bentak Gisel.


"Aku tak akan membiarkanmu menikah dengan laki-laki ini! Kau tak akan menikah dengan siapapun kecuali menikah lagi denganku!" kata Jimy yakin.


"Oh ya? Kamu telah mengkhianatinya. Kamu telah membuatnya terluka. Sekarang kamu akan menghalangi kebahagiaannya? Laki-laki macam apa kamu?! Hanya memberinya luka!" bentak Arga.


Jimy belum tahu siapa Arga. Andaikan ia tahu, ia akan menyesal telah berurusan dengan Arga.


"Aku tahu dia masih mencintaiku. Akulah satu-satunya laki-laki yang dicintainya. Aku tahu itu. Kamu hanya pelarian!" kata Jimy dengan percaya diri.


Tangan Arga mengepal mendengar ocehan laki-laki tak tahu diri itu. Gisel menggenggam tangan Arga.


"Apakah setelah melihat ini, kamu masih menganggap aku masih mencintaimu?" kata Gisel pada Jimy.


Cup!


Dengan tiba-tiba Gisel mengecup bibir Arga. Arga terkejut tapi merasa senang. Sedangkan Jimy merasa terhina. Ia marah.


"Kamu benar-benar sudah jadi wanita gatal!" teriak Jimy.


Mendengar hal itu, Arga langsung menghadiahi bogem mentah pada Jimy. Jimy sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Kamu sudah melewati batas kesabaranku! Kamu sudah bosan hidup ya rupanya!" Arga kembali memukul Jimy.

__ADS_1


Jimy berteriak kesakitan. Gisel mencegah Arga untuk memukul Jimy lagi.


"Cepat pergilah dari sini, sebelum aku membunuhmu! Kau rasakan nanti, aku akan membuat hidupmu tidak tenang kalau sampai kamu mengganggu Gisel lagi!" teriak Arga.


Jimy segera berdiri dan tersenyum mengejek.


"Urusan kita belum selesai!" teriak Jimy, kemudian meninggalkan ruangan itu.


Dengan menahan amarah, Arga segera menelepon seseorang. Setelah selesai menelepon, ia tersenyum smirk.


"Kamu akan melakukan apa?" tanya Gisel.


"Kamu tidak perlu tahu. Tenang saja, dia tidak akan macam-macam lagi padamu setelah ini," kata Arga sambil merengkuh bahu Gisel.


"Intan! Cepat bersihkan ruanganku dari sampah-sampah ini! Lain kali, jangan kau ijinkan apapun pemberian dari Jimy masuk ke ruanganku," kata Gisel menelepon sekretarisnya.


"Baik, Bu," jawab sekretaris Gisel di telepon.


Tak lama, sekretris Gisel datang dengan beberapa orang yang membantunya membersihkan ruangan Bosnya dari buket-buket bunga pemberian Jimy.


Setelah ruangan itu bersih dari buket-buket bunga dan orang-orang itu pergi, Gisel duduk disamping Arga. Kemudian Gisel menyentuh lengan Arga


"Gimana, sudah hilang marahnya?"


"Belum," jawab Arga pura-pura.


"Aku harus melakukan apa, supaya kamu tidak kesal lagi?" tanya Gisel.


Cup!


Arga mengecup bibir Gisel.


"Arga!" pekik Gisel.


"Kamu tadi nakal, menciumiku didepan mantan suamimu dengan tiba-tiba. Jadi aku memberimu hadiah ciuman lagi," kata Arga terkekeh.


Gisel mencebik. Tapi hanya sebentar. Selanjutnya Gisel tersenyum lebar. Merekapun berpelukan.


Ponsel Gisel berdering.


"Kak, Kak Arga tak mengangkat teleponku! Cepatlah kemari, kita fitting pakaian pengantin sama-sama," kata Mila di telepon.


"Apa?" Gisel terkejut, tapi kemudian segera menjawab, "Baiklah, nanti kami menyusul. sherlok ya tempatnya."


"Kamu itu selalu bikin kejutan! Kenapa enggak bilang kalau kamu mau mengajakku fitting pakaian pengantin?!" kata Gisel setelah menutup teleponnya.


"Sengaja. Kan mau bikin kejutan! Tapi ternyata harus berurusan dulu dengan laki-laki tidak penting itu!" jawab Arga.


"Jadi, Mila dan Richard juga akan menikah dalam waktu dekat?"


"Ya. Nanti kita bisa pergi ke tempat bulan madu sama-sama. Apa kamu setuju?! tanya Arga.


"Tidak!" jawab Gisel.


"Kamu tidak mau terganggu ya? Okelah kita akan pergi bulan madu dimana hanya ada kita berdua," kata Arga.


"Cuma kau dan aku! Dunia hanya milik kita berdua. Yang lain ngontrak!"


Gisel tertawa geli mendengar gombalan receh Arga. Tapi hatinya berbunga-bunga.

__ADS_1


Duh uwu-uwu banget sih. Pasangan ini!


TO BE CONTINUED


__ADS_2