KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 82. MAAFKAN PAPA, NAK!


__ADS_3

Ketika Andra dan Iren sampai di jalan raya, Iren menghentikan langkahnya.


"Aku menyesal! Kak Andra ternyata tak punya apa-apa! Semua yang Kak Andra banggakan kemarin-kemarin itu ternyata milik Kak Erika?! Huh, tahu gini, males aku balikan sama Kak Andra!" kata Iren menghentakkan kakinya


"Apa kamu bilang? Menyesal? Memangnya aku juga tidak menyesal? Gara-gara kamu, hubunganku dengan Erika hancur! Padahal kalau aku masih bersama dia, aku bisa hidup nyaman. Gara-gara kamu, impianku hancur!" teriak Andra.


"Ooh ..., jadi kakak nyalahin aku?! Aku yang rugi! Aku sudah menyerahkan mahkota berhargaku padamu waktu dulu! Bahkan kemarin-kemarin Kakak memakaiku setiap hari! Tapi apa yang kudapat? Hanya lelaki kere!" maki Iren.


"Tutup mulut kotormu! Kau memang cewek murahan! Kamu pantas mendapatkannya karena kamu memang murahan, mau saja diajak enak-enakan. Paling juga sama lelaki yang lain juga kamu sering melakukannya!"


Plak!


Iren menampar Andra karena sudah berkata keterlaluan tentang dirinya. Mata Iren berkaca-kaca.


"Teganya Kakak bicara begitu! Setelah kau puas menghisap maduku, Kakak merendahkan aku! Kenapa pada Kak Erika Kak Andra berbeda?!"


"Kalau Erika beda! Dia gadis terhormat! Dia gadis baik-baik! Makanya aku tak pernah berbuat macam-macam padanya. Dia sudah memberiku kemewahan yang aku inginkan, sudah cukup membuatku puas!" jawab Andra seperti meledek Iren.


"Dasar cowok matre! Enggak punya harga diri! Pantas saja ditendang!" maki Iren.


"Lalu kau apa kalau bukan matre?! Kau sendiri matre! Aku sudah mengorbankan hubunganku dengan Erika, tapi kau malah tidak menghargainya!"


"Aaah .... sudahlah! Aku capek berdebat dengan Kakak! Aku mau pulang saja ke kosan!" Iren melangkahkan kakinya menuju ke kosannya.


"Hei tunggu! Kamu harus tanggung jawab! Aku ikut ke kosanmu!" ujar Andra.


"Heh! Aku enggak mau ya terbebani cowok kere macam Kak Andra! Mulai hari ini jauh-jauh dari hidupku! Aku mau cari cowok kaya raya! Aku gak mau terbawa susah gara-gara sama Kak Andra!" Iren menghentikan langkahnya.


"Lancang sekali mulutmu! Kembalikan motorku! Aku sudah membayarkan kosanmu dengan menjual motorku!" teriak Andra, "Atau biarkan aku tinggal di sana!"


"Bodo amat! Aku gak perduli! Itu sudah jadi kosanku! Sana aja kalau berani! Disana kosan cewek semua! Kalau aku bilang pada mereka kamu cowok br*ngs*k, bisa-bisa kamu dikeroyok mereka!" ancam Iren.


Andra tak ada pilihan lain selain membiarkan Iren pergi. Tinggallah Andra kebingungan akan pergi kemana. Untuk kembali ke kosan lamanya, ia merasa malu. Akhirnya terpaksa ia mencari kosan baru yang harga sewanya murah dengan uang tersisa yang ia punya. Untuk biaya hidupnya sehari-hari, ia akan minta kas bon pada kantornya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Erika pulang dengan diantar Astin. Astin yang menyetir mobil Erika, sedangkan mobil Ricky mengikutinya dari belakang. Astin khawatir kalau Erika yang menyetir sendiri akan berakibat celaka. Karena kondisi hati Erika sedang tidak baik. Walau tegar dihadapan Andra tadi, tapi sebenarnya hati Erika hancur berkeping-keping melihat perselingkuhan Andra dengan mata kepala sendiri.


Tika hanya bisa menenangkan Erika sambil mengusap-usap bahu Erika. Erika yang menangis sesenggukan di sepanjang perjalanan, membuat Astin dan Tika harus berulang kali memberi nasehat pada Erika agar bersabar dan mengikhlaskan kejadian ini.


Setibanya di rumah Ronald, Ronald yang baru saja kembali dari bengkel karena ada sesuatu yang harus diambil, merasa heran melihat Erika bersama teman-temannya.


"Ada apa ini?" tanya Ronald mengurungkan niatnya untuk kembali ke bengkel.


"Nanti kita jelaskan Om, di dalam," jawab Astin.

__ADS_1


Astin membawa Erika masuk ke kamarnya. Sedangkan Ricky dan Tika duduk di ruang tamu. Ronald melihat Ricky dengan pandangan tidak suka. Ronald duduk di kursi menunggu Astin keluar kamar.


"Erika begitu bukan karena ulahmu, kan Ricky?!" tanya Ronald tajam.


"Bukan, Om! Saya hanya mengantar Astin," jawab Ricky.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Ronald bertanya lagi.


"Pacar Erika selingkuh, Pak," jawab Tika.


"Pacar? Erika punya pacar?" Ronald terkejut.


"Ya, Om. Pacarnya dipergoki Erika sedang bersama mantan pacarnya di kamar kosan. Mantan pacarnya Andra menginap semalam di kosannya Andra," jawab Astin sambil keluar dari kamar. Ia lalu duduk di ruang tamu.


"Pacarnya namanya Andra? Siapa dia? Apa pekerjaannya?" Ronald sudah merasa geram.


"Dia bekerja sebagai Marketing di Cahaya Plaza. Sudah sekitar 8 bulan mereka berpacaran. dan Andra adalah cowok matre. Erika bahkan sudah membayarkan kosan setahun untuk Andra di kosan mewah di Jalan ABCD. Tapi Andra dengan tidak tahu malunya membawa mantan pacarnya menginap," terang Astin.


"B*jingan! Dimana sekarang dia tinggal? Papa harus menghajarnya!" Ronald yang emosi berdiri dengan mata memerah.


"Tenang, Om! Andra sudah diusir Erika dari kosan itu. Sekarang tidak tahu ngekos dimana," jawab Ricky


Ronald menoleh pada Ricky. Ricky yang melihat raut wajah Ronald yang menatapnya dengan penuh kebencian, menjadi tertunduk, menghindari tatapan mata Ronald.


"Lalu kamu, siapanya Erika?!" tanya Ronald


"Ricky pacar saya. Dia jadi teman Erika karena Ricky pacar saya," jawab Astin. Astin tahu kalau Papanya Erika seperti membenci Ricky.


"Oh," jawab Ronald singkat. Ronald tadinya menyangka kalau Ricky berpacaran dengan Erika. Tentu saja Ronald tidak suka kalau itu sampai terjadi. Karena Ricky adalah anak Susy, mantan istrinya yang sangat dibencinya.


"Pak Ronald, saya permisi dulu. Mungkin Erika butuh waktu untuk sendiri. Tapi tolong kalau Erika sudah tenang, ajak bicara. Saya tahu sakitnya dikhianati. Semoga Erika dapat berfikir jernih, dan tidak frustasi," kata Tika.


"Baiklah, Tika. Terimakasih telah menemani Erika," kata Ronald.


"Kami juga permisi, Om. Titip salam untuk Erika," kata Astin.


"Terimakasih ya Astin, sudah menjaga Erika," kata Ronald.


Mereka berjabat tangan dengan Ronald. Ricky agak ragu-ragu untuk mengajak berjabat tangan. Tapi Ronald menepis keraguan Ricky. Ronald membalas jabatan tangan Ricky.


"Om harap, kamu ikut menjaga Erika," kata Ronald.


"Ya, Om. Erika sudah saya anggap seperti adik saya sendiri," jawab Ricky. Ada perasaan bersalah pada Ronald karena telah membenci Ricky. Padahal Ricky tidak tahu apa-apa permasalahan Mamanya dengan Papa Erika di masa lalu.


"Lain kali mungkin kita bisa bicara. Ada yang ingin Om sampaikan," kata Ronald.

__ADS_1


"Baik Om. Om tinggal tentukan saja waktunya. Kalau saya bisa, insya Allah saya akan datang. Kalau tidak bisa, mungkin harus dicari waktu yang lain," jawab Ricky. Ronald mengangguk sambil tersenyum kaku. Ronald masih merasa canggung untuk bersikap biasa pada Ricky. Padahal dulu, Ricky sangat disayangi Ronald, ketika belum tahu Ricky anak pria lain.


Setelah semuanya pergi, Ronald mengetuk pintu kamar Erika.


"Erika. Boleh Papa masuk?"


"Masuk aja, Pa. Pintunya tidak dikunci," jawab Erika.


Ronaldpun masuk ke kamar Erika. Erika tampak sedang duduk di tepi ranjang sambil memeluk guling.


"Kau punya pacar, tapi tidak pernah cerita pada Papa, Erika," kata Ronald sambil duduk di kursi yang ada di dekat ranjang.


"Erika merasa belum waktunya cerita dan mengenalkannya pada Papa. Entah firasat atau apa, ternyata dia tidak serius. Dia hanya ingin uang Erika dan barang-barang mewah dari Erika saja" jawab Erika.


"Ternyata rasanya sakit Pa, setelah aku tahu aku mencintainya dengan tulus, tapi dia tidak tulus mencintaiku. Bahkan dia tega berselingkuh di saat aku sedang sayang-sayangnya," ucap Erika sendu.


Ronald menghela nafas panjang. Seperti ada beban berat di dadanya


"Erika. Mungkin ini karma yang telah Papa lakukan dulu. Papa menduakan Mamamu. Sehingga anak Papa harus mengalami dikhianati oleh pasangan. Maafkan Papa nak!" Ronald menggenggam tangan Erika sambil menatap Erika dengan prihatin. Mata Ronald berkaca-kaca.


"Ini belum seberapa dibandingkan sakit hati yang dialami Mama dulu. Mama diduakan, diabaikan, disakiti lahir dan batinnya. Diperlakukan layaknya budak yang tak berharga....," tangis Erika pecah.


"Aku anak yang lahir karena kekejaman Papa!"


"Erika! Maafkan Papa!" Ronald memeluk Erika sambil menangis.


"Erika jadi tahu perasaan Mama, setelah Erika merasakan sendiri sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, dan sakitnya dikhianati," lirih Erika.


Luka itu terasa semakin menganga lebar, setelah Erika membuka kembali kisah Mila. Rasa bersalah Ronald menyergapnya lagi.


"Papa harus melakukan apa nak, agar kalian memaafkan Papa? Papa harus melakukan apa agar Papa tidak dihantui rasa bersalah pada Mamamu?"


"Sudahlah Pa. Mama sudah memaafkan Papa, bukan? Yang terpenting adalah Mama sudah memaafkan Papa," kata Erika. Entah mengapa kini Erika jadi sedikit berubah pandangannya pada Papanya. Ada rasa "sedikit' benci. Setelah tahu ternyata Papanya seorang b*j*ngan pada Mamanya.


'Maafkan Erika, Ma! Erika terlalu cepat memaafkan Papa. Padahal apa yang Papa lakukan pada Mama dulu, menjadi trauma Mama seumur hidup. Untung, Papa Richard suami yang baik dan bisa menghapus trauma Mama,' kata Erika dalam hati.


"Kamu sekarang jadi membenci Papa, Erika?" Ada nada kekhawatiran dari suara Ronald. Hubungannya dengan putrinya yang sudah membaik, kini seakan ke titik nol lagi.


"Erika capek, Pa. Erika mau istirahat," kata Erika sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Istirahatlah! Kalau kamu perlu sesuatu, panggil Papa ya! Papa akan di rumah saja, tidak jadi ke bengkel," kata Ronald. Ia sudah kehilangan semangat untuk pergi ke bengkel. Ia ingin mengambil hati Erika lagi.


'Maafkan Papa yang tidak peka dengan apa yang terjadi padamu, nak. Sehingga kamu sampai Seluka itu dan berimbas pada sikapmu ke Papa,' kata batin Ronald.


'Papa janji akan lebih memperhatikanmu. Walau kau sudah dewasa, kamu masih perlu bimbingan yang lebih. Karena kamu tumbuh tanpa kehadiran Papa dulu,' ucap Ronald dalam hati.

__ADS_1


TO BE CONTINUED


Maaf ya baru bisa up! Happy reading!


__ADS_2