KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 42. BEGINIKAH RASANYA


__ADS_3

Nyonya Jeny cemas akan masa depannya. Saat ini Ia butuh teman untuk mendengarkan curahan hatinya. Ronald tak dapat diandalkan. Selain akhir-akhir ini jarang menjenguknya, Ronald juga susah dihubungi


Akhirnya Nyonya Jeny menganggap Monica lah orang yang tepat untuk mendengarkan curahan hatinya, sekaligus meminta bantuannya untuk mencarikan pekerjaan. Ia harus bekerja lagi seperti waktu dulu.


Nyonya Jeny sudah terbiasa hidup mewah. Ia tidak dapat membayangkan akan seperti apa dirinya hidup tanpa kemewahan. Ia akan malu dihadapan teman-temannya.


Setelah tiba di mall, Nyonya Jeny segara memasuki mall yang masih ramai oleh pengunjung yang akan menonton bioskop. Sedangkan restoran-restoran sudah mulai banyak yang akan tutup.


Nyonya Jeny segera mempercepat langkahnya. Iapun naik eskalator menuju lantai dua. Setelah berada dilantai dua, dia berjalan menuju butik Monica.


"Tante?" Monica melihat Nyonya Jeny menghampirinya. Monica akan mengunci butiknya.


"Sudah tutup Monica?" tanya Nyonya Jeny. Mereka kemudian berpelukan dan cium pipi kanan kiri.


'"Iya Tante. Sudah jam 9 lebih. Tante kok ke sini malam-malam?"


"Tante ingin ada teman ngobrol. Tante sedang galau,"


"Ha ha ha ... Tante kayak ABG aja! Okelah, kita bicara di mobil saja. Kita akan ke rumah kontrakan saja, biar bisa lebih leluasa," kata Monica.


Merekapun berjalan ke tempat parkir mobil yang ada di basemen mall. Nyonya Jeny sudah tidak sabar untuk menceritakan kegundahannya.


"Monica. Tante akan dicerai oleh suami Tante. Sekarang saja semua kartu kredit Tante sudah diblokir.," kata Nyonya Jeny.


"Hah?! Serius Tante? Itu masalah yang sangat gawat!" kata Monica


Mendapat respon yang diharapkan, Nyonya Jeny semakin bersemangat untuk menyampaikan keluh kesahnya.


"Tante khawatir, Ronald juga akan di depak dari perusahaan. Jadi Tante harus mencari pekerjaan. Tante tidak mungkin mengandalkan sesuatu yang tidak pasti. Nasib Ronald juga terancam susah."


"Kok bisa gitu sih Tante? Memangnya kenapa?" Monica terus merespon Nyonya Jeny sambil menyalakan mobilnya ketika mereka sudah duduk di dalam mobilnya.


"Ceritanya panjang. Yang jelas, Tante harus bekerja kembali. Dulu Tante juga pernah bekerja cukup lama di divisi keuangan. Kamu bisa bantu Tante tidak? Barangkali ada kenalanmu yang punya perusahaan, tolong carikan posisi buat Tante."


"Tante kan punya teman banyak. Banyak teman-teman Tante yang istrinya CEO perusahaan kan? Kenapa tidak mencoba minta bantuan mereka saja? Maaf lho Tante. Maksudnya agak susah untuk memasukkan Tante ke perusahaan. Usia Tante kan sudah bukan usia untuk mencari kerja lagi. Saingannya banyak yang usia muda," jawab Monica.


"Justru itu, Tante minta bantuan kamu Monica. Karena Tante tidak mau minta bantuan ke teman-teman Tante. Tante malu."


"Ya sudah. Nanti saya telepon teman saya dulu ya Tante," kata Monica. Monica menghentikan mobilnya. Kemudian berbicara dengan seseorang di ponsel.


Setelah selesai menelepon, Monica menatap Nyonya Jeny.


"Tante, Tante harus diinterview sekarang. Mumpung Bos besarnya lagi ada di Indonesia.," kata Monica.


"Sekarang? Malam ini?" tanya Nyonya Jeny heran.


"Iya. Bos besar yang akan menginterview langsung," jawab Monica.


"Wah, berarti posisi Tante setingkat manager atau kepala divisi mungkin ya?" Nyonya Jeny merasa senang. Nyonya Jeny percaya, Monica tidak mungkin membohonginya.


"Ya, mungkin. Soalnya yang menginterviewnya Bosnya langsung," Monica semakin membuat Nyonya Jeny bersemangat.


"Bosnya laki-laki apa perempuan? Masih muda atau sudah tua?" Nyonya Jeny jadi penasaran. Tipe wanita penggoda kan ada niatan tebar pesona.


"Laki-laki. Sudah tua sih kata temanku. Tapi .....,"


"Tapi apa?!" Potong Nyonya Jeny tidak sabar.

__ADS_1


"Dia itu orangnya dingin, jarang senyum, dan angkuh. Apa Tante siap menghadapi orang semacam itu?" Monica menyelidik.


"Alah ....! Papanya Ronald aja bisa Tante taklukan. Dia juga pasti bisa ditaklukkan oleh Tante. Biar Si Brian itu menyesal telah membuang Tante!"


"Yakin, Tante?"


"Yakinlah!" jawab Nyonya Jeny optimis.


Ditengah perjalanan, mobil Monica berhenti. Ia seperti mengetik sesuatu di ponselnya. Tak lama, sebuah mobil berhenti didepan Mobil Monica. Dua orang laki-laki menghampiri Mobil Monica. Monica pun keluar dan tampak berbicara dengan kedua orang itu.


"Tante, mereka sudah menjemput Tante. Tante ikut dengan mereka ya untuk interview di kantor Bos mereka," kata Monica menghampiri Nyonya Jeny yang masih duduk di mobil Monica.


"Lho kok enggak sama kamu? Tante kan enggak kenal mereka," Nyonya Jeny merasa janggal.


"Aku sudah mengirim chat pada asisten Bos itu. Kalau Tante akan ke sana bersama orang suruhan mereka," Monica mencoba meyakinkan Nyonya Jeny.


"Kalau kamu pulang, nanti Tante pulangnya gimana? Tante belum kasih tahu Ronald juga. Nanti siapa tahu Ronald cari Tante. Ponsel Tante kan dii jambret," Nyonya Jeny beralasan.


"Ada apa? Apa ada masalah?" salah seorang dari laki-laki itu menghampiri Nyonya Jeny di samping jendela.


"Tidak. Hanya saja ...." belum Nyonya Jeny menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba ia dibekap. Nyonya Jeny pingsan karena menghirup obat bius dari sapu tangan laki-laki itu.


"Cepat bawa! Gerak cepat, supaya tidak ada yang melihat!" perintah Monica.


Dua orang laki-laki itu menggotong Nyonya Jeny ke mobil mereka.


Monica buru-buru tancap gas walau jalan disekitar tempat itu sangat sepi. Dua orang laki-lak itu membawa Nyonya Jeny ke sebuah markas mafia yang berada di dalam hutan. Gedung didalam hutan itu tampak seperti gedung tua tidak berpenghuni. Karena aktivitas kelompok mafia itu lebih banyak dilakukan di dalam basemen.


Monica sebenarnya sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Oleh sebab itu Monica sudah membuat skenario penjebakan Nyonya Jeny. Informasi yang didapat dari Arga, banyak membantunya. Tentu saja karena Arga punya banyak anak buah yang diperintahkan untuk memata-matai keluarga Ronald.


"Ya, serahkan urusan itu padaku. Dia akan merasakan apa yang telah mereka lakukan dulu padamu," jawab Arga tersenyum. Monica juga tersenyum puas


Nyonya Jeny telah dibawa ke markas. Nyonya Jeny dibawa ke sebuah kamar gelap yang minim pencahayaan. Disana hanya ada karpet lusuh. Nyonya Jeny dibaringkan di karpet. Kemudian pintu kamar dikunci dari luar.


Keesokan paginya, Nyonya Jeny terbangun. Ia terkejut mendapati dirinya berada di sebuah kamar pengap dan gelap. Perutnya terasa sangat lapar. Ia meraba-raba dinding untuk mencari pintu. Sebelum ia sampai ke pintu. Tiba-tiba pintu terbuka lebar.


Seorang laki-laki tua berwajah oriental masuk ke kamar itu diiringi beberapa orang di belakangnya.


"Hmm ... kau sudah bangun," kata Laki-laki tua itu.


"Tuan, apakah anda Bos yang akan mempekerjakan saya? Mengapa saya berada di tempat seperti ini? Bukankah saya akan menjadi Manager?" Nyonya Jeny memberondong pertanyaan pada laki-laki tua itu.


Seketika laki-laki tua itu tertawa terbahak-bahak. Anak buahnya yang ada dibelakangnya pun ikut tertawa.


"Wanita sepertimu mau bekerja di perusahaan? Aku yakin, kamu hanya akan mengacaukan perusahaan. Kamu hanya bisa menggoda laki-laki saja, iya kan?" kata laki-laki tua itu meremehkan.


"Saya itu dulunya bekerja sebagai staf keuangan. Kemudian saya menikah dengan seorang CEO. Saya juga membantu pekerjaan suami saya di perusahaan!" kata Nyonya Jeny tidak ingin diremehkan.


"Oh ...., untuk posisi strategis setingkat manager bagi wanita, sayangnya perusahaan membutuhkan wanita yang masih muda dan cantik, selain skill dan pengalaman. Kalau anda ...., seusia anda lebih cocok ditempatkan di bagian OG, ha ha ha ha .....! Saya khawatir kalau klien akan melihat kerutan kulit anda soalnya, ha ha ha ha.....!" laki-laki tua itu kembali menghina Nyonya Jeny.


"Kamu sungguh meremehkan saya, Pak tua! Kamu belum tahu siapa suami dan anak saya! Kalau kamu tahu, kamu akan berlutut dihadapan kami!" bentak Nyonya Jeny.


"Oh ya? Bawa dia ke belakang! Saya ingin tahu apakah setelah ini dia masih sombong?! Wanita seperti dia membuat hidup wanita baik-baik jadi hancur karena perlakuannya! Buat dia menderita!" perintah laki-laki tua itu pada anak buahnya.


Dua orang laki-laki berwajah sangar memegang kedua tangan Nyonya Jeny. Nyonya Jeny diseret keluar dari kamar itu.


Nyonya Jeny berpapasan dengan seseorang yang ia kenal.

__ADS_1


"Arga? Kamu ada disini? Kamu masih ingat saya, mantan majikan kamu?" Nyonya Jeny memberontak agar ia diberi kesempatan berhenti untuk berbicara pada Arga. Arga memberi kode agar kedua orang berwajah sangar itu berhenti.


"Tentu saja saya masih ingat, Nyonya! Saya juga masih selalu mengingat apa yang telah anak anda lakukan pada saya dan Mila!" perkataan Arga membuat Nyonya Jeny bungkam. Tipislah harapannya untuk meminta bantuan pada Arga.


Lalu Nyonya Jeny melihat Arga berjabat tangan dan berpelukan dengan laki-laki tua itu.


"Terimakasih Pah, telah mau membantu saya memberi pelajaran pada wanita sombong itu. Dia harus merasakan apa yang adik saya alami," kata Arga.


"Kamu tenang saja. Kami akan membantu adikmu, Monica. Monica juga akan aman selama dia ada di Indonesia," kata laki-laki tua itu sambil menepuk bahu Arga.


"Apa?! Monica?! Kamu berkomplot dengan Monica?!" Nyonya Jeny yang masih bisa mendengar percakapan mereka berteriak marah.


"Diamlah wanita tua! Kamu menguping pembicaraan Ketua kami! Nih, rasakan akibatnya!" laki-laki berwajah sangar itu menendang bokong Nyonya Jeny hingga Nyonya Jeny jatuh tersungkur.


Arga menghampiri Nyonya Jeny. Lalu dijambaknya rambut Nyonya Jeny ke belakang hingga wajahnya mendongkak.


"Nikmati hidupmu di neraka ini, Nyonya! Ini untuk adikku, Monica alias Mila. Karmila! Mantan menantumu! Ingat?!"


Plak!


Plak!


Nyonya Jeny menjerit kesakitan.


"Aa-apa mmak-sudmu?! Monica itu Mila?! Tidak mungkin!" Nyonya Jeny merasa tidak percaya.


"Ya. Aku beritahu supaya kamu tidak mati penasaran! Bagaimana? Terkesan kan dengan acting Mila? Tak lama lagi giliran Ronald dan Susy! Ha ha ha ha....! Bawa dia!" kata Arga.


Nyonya Jeny diseret paksa oleh dua orang berwajah sangar itu. Nyonya Jeny didorong hingga jatuh di depan toilet yang berjejer ada 5 buahnya toilet.


"Tugas pertamamu, bersihkan toilet! Itu juga kalau kamu mau makan! Kalau kau mau mati karena tidak dikasih makan, terserah!" kata laki-laki itu.


Salah satu dari orang itu memberikan sikat dan sabun pembersih toilet. Dengan terpaksa dan juga ketakutan, Nyonya Jeny membersihkan toilet satu persatu. Nyonya Jeny sampai muntah-muntah dan terbatuk - batuk karena bau toilet yang telah dipakai berpuluh-puluh anak buah laki-laki tua itu.


Setiap hari, Nyonya Jeny harus membersihkan toilet. Ia juga dibawa ke suatu tempat dengan mata yang ditutup kain. Setelah sampai, ia harus memberi makan buaya-buaya peliharaan Bos mafia itu. Juga memberi makan singa-singa. Hidup Nyonya Jeny penuh ketakutan. Karena sedikit saja ia membuat kesalahan, ia akan dilempar ke kolam buaya dan kandang singa. Begitu anak buah Bos mafia itu mengancam.


Selain itu tugas Nyonya Jeny yaitu membersihkan mobil-mobil komplotan mafia itu yang dipakai untuk beroperasi melakukan kejahatan. Kadang juga disuruh untuk mencuci Sprai bekas tidur anak buah Bos mafia itu.


Nyonya Jeny juga tidak mendapat makanan yang layak. Sering Nyonya Jeny mendapat makanan seperti makanan untuk ternak. Tapi karena lapar, makanan itu dimakan saja oleh Nyonya Jeny.


Tidurpun Nyonya Jeny hanya beralaskan karpet lusuh. Nyonya Jeny hanya diberi pakaian ganti 2 stel pakaian Sehingga badannya bau karena jarang mandi juga.


Tak jarang Nyonya Jeny dipukul, ditendang, dijambak, bila ia dinilai lambat dan malas melakukan tugasnya. Semua itu ia alami hingga dua bulan.


"Ronald! Tolong Mama, nak! Mama sudah tidak tahan! Beginikah rasanya jadi tawanan? Beginikah rasanya dibuat mati pelan-pelan?" tangis Nyonya Jeny ditengah melakukan tugasnya di markas komplotan mafia itu.


Ronald sudah mencari Mamanya kemana-mana. Bahkan Monica juga ikut membantu mencari. Ronald pun sudah melapor pada polisi, dan menyebarkan pamflet orang hilang, serta menyebarkan berita orang hilang di sosial media. Tapi hasilnya nihil. Ronald merasa bersalah tidak menjawab panggilan telepon Mamanya disaat Mamanya sedang membutuhkan dirinya waktu itu karena perusahaannya banyak mendapat masalah. Jadi ia terlalu sibuk untuk menjawab telepon ataupun menjenguk Mamanya.


Sampai akhirnya pada suatu hari, Nyonya Jeny ditemukan dalam keadaan pingsan dibawah pohon di pinggir jalan.


Ronald setelah mendapat berita ditemukannya Nyonya Jeny, langsung ke lokasi penemuan. Ronaldpun membawanya ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan intensif, dokter mendiagnosa kalau Nyonya Jeny mengalami traumatik dan depresi berat. Bahkan Nyonya Jeny dinyatakan terkena stroke.


TO BE CONTINUED


Mata udah sepet nih. Author lagi sibuk berat. Istirahat dulu ah ....


Selamat membaca!

__ADS_1


__ADS_2