KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 88 MENGAJAKMU KEMBALI


__ADS_3

Andra POV


Aku benar-benar shock mendengar Erika itu ternyata seorang CEO. Selama ini aku benar-benar tidak tahu. Aku telah dibohongi. Mengapa dia melakukan itu. Dia menyembunyikan jati dirinya. Bukankah suatu hubungan dibangun dengan dasar saling jujur dan terbuka? Juga rasa saling percaya. Tapi ya sudahlah. Mungkin dia tidak percaya padaku.


Memang sih aku akui, aku memanfaatkan cintanya untuk meminta dia memenuhi segala kebutuhanku. Dia baik dan terlihat bucin padaku. Ditambah lagi dia anak orang berada. Jadi kumanfaatkan dia. Aku ingin bertanya langsung pada dia kenapa dia tidak jujur dari awal. Andaikan dia jujur, tentu aku akan berperilaku baik padanya. Aku tidak akan main-main. Aku akan serius dengannya.


Aku tidak percaya kalau dia sudah move on dariku. Aku akan mencoba memohon padanya. Akan ku rayu dia supaya kembali padaku. Ibaratnya sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan untuk mengajaknya kembali bersama.


Pagi-pagi sengaja aku kirim buket bunga dari toko bunga. Kukirim bunga kesukaan dia seraya menyelipkan surat cinta dengan kata-kata mesra dan romantis. Tak lupa aku meminta maaf atas tindakanku yang khilaf telah menduakan dia. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Lagipula Iren itu hanya anak bau kencur, ABG labil, yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Erika. Kutunggu chat darinya. Tapi tak kunjung ada chat masuk. Mungkinkah nomor teleponku sudah diblokir?


Sorenya aku menunggunya keluar dari kantornya. Ketika ia baru saja keluar dari.gedung perusahaannya itu, aku sudah menghadangnya. Tak lupa aku menyodorkan seikat mawar merah seperti yang biasa aku lakukan untuk membuatnya meleleh dan bertekuk lutut.


"Erika, kupersembahkan mawar cantik ini untuk wanita cantik seperti dirimu. Maafkan atas segala yang telah terjadi. Aku akan berubah. Mari kita buka lagi lembaran baru," Andra tersenyum manis.


Erika tertegun. Entah apa yang dipikirkannya. Astin, sekretaris Erika, tampak berbicara pada security sambil menunjuk-nunjuk padaku.


"Hei, ngapain kamu kesini?! Usir laki-laki tidak tahu diri itu, Pak!" Astin terlihat sangat marah.


"Kamu tidak berhak mengusirku! Erika saja tidak mengusirku!" jawabku.


Erika segera meraih seikat mawar merah yang disodorkan olehku. Aku tersenyum menang seolah mengejek pada Astin. Tapi tanpa diduga olehku, mawar merah itu dilempar Erika, kemudian diinjaknya. Aku terbelalak.


"Erika ....,"


"Bukankah aku pernah mengatakan padamu, jangan pernah menemuiku ataupun menghubungiku lagi! Cerita kita telah usai. Aku sudah melupakanmu! Aku mencintai Mas Reyhan, sekarang. Kamu itu sudah tidak ada artinya lagi dihatiku! Pak, usir dia, Pak!" kata Erika tegas.


Dua orang security memegang tangan kanan dan kiriku. Lalu kedua security itu menyeretku agar menjauh dari Erika.


"Erika! Erika sayang! Beri aku kesempatan sekali lagi untuk merajut cinta kita! Aku mencintaimu! Tak ada wanita lain yang lebih baik darimu dihatiku!" Aku berteriak-teriak, membuat karyawan yang akan pulang berhenti. Aku menjadi tontonan seluruh karyawan yang akan pulang.


"Tak ada kesempatan kedua bagimu! Buang mimpimu jauh-jauh!" Erika segera berjalan menuju mobil yang telah datang menjemputnya. Erikapun masuk dan segera menutup pintu mobil. Mobil pun segera melaju.


"Kalian lihat apa?! Bubar! Bubar!" bentak Astin. Para karyawan yang berkerumunpun bubar, karena takut bentakan Astin sang sekretaris Bos Erika.


Aku dihempaskan dengan kasar ke jalan raya oleh security. Aku terhuyung. Hampir saja aku jatuh.


"Jangan coba-coba datang dan mengganggu Bos kami lagi! Awas kalau kamu masih nekat!" ancam salah seorang security. Mereka lalu pergi untuk kembali ke kantor Erika.


Aku berjalan gontai. Apakah aku harus menyerah? Tidak! Masih ada hari esok! Aku akan berusaha berjuang meraih cintaku lagi. Aku tidak mau kehilangan berlianku! Erika wanita yang sempurna. Selain cantik, baik, dan ramah, ia juga keturunan orang kaya. Edkatama group adalah perusahaan yang asetnya banyak. Cabangnya ada di mana-mana. Aku ingin memperbaiki nasibku dan keluargaku. Kalau aku menikah dengan Erika, tentunya aku tidak akan jadi karyawan biasa. Aku pasti akan diangkat menjadi CEO di salah satu cabang perusahaanya.


Sungguh suatu pencapaian yang kuidam-idamkan dan entah kapan terwujud kalau aku menempuh proses jenjang karier sesuai prosedur.


Aku akan mencoba untuk mendekati Papanya yang membuka usaha bengkel. Aku akan mencoba meraih simpatinya.


Siang itu aku mampir ke bengkel Papanya Erika. Kesempatanku mumpung aku sedang di luar kantor. Setelah menjalankan tugas kantor ke klien, aku tidak langsung kembali ke kantor. Aku ingin ke rumah Papanya Erika.


Setelah tiba di depan bengkel Papanya Erika, aku turun dari mobil pinjaman dari Karin. Lumayanlah. Walau misi kita tidak berhasil, tapi Karin belum menarik fasilitas yang diberikannya.


"Selamat siang. Apa saya bisa bertemu dengan Papanya Erika?" Aku memberanikan diri bertanya pada orang yang sedang memperbaiki motor.

__ADS_1


"Siang. Ada di dalam. Anda siapa? Mau ada perlu apa?" tanya orang itu.


"Saya Andra. Saya ada keperluan pribadi dengan Papanya Erika," jawabku.


"Tunggu sebentar. Akan saya panggilkan," jawab orang itu. Sepertinya itu karyawan Papanya Erika.


Tak berapa lama muncullah Papanya Erika. Dibelakangnya karyawan yang tadi memanggilnya.


"Kamu Andra, mantan pacarnya Erika?" tanya Papanya Erika.


"Iya, Om," jawabku.


"Kamu punya nyali ya datang ke sini?! Mau apa?! Apa kamu mau saya bikin mampus?!" Papanya Erika kelihatan marah sekali.


"Maaf, Om. Saya mencintai anak Om. Saya ingin Om membujuk anak Om agar kembali pada saya. Saya janji, akan membahagiakan anak Om," kataku sambil menunduk.


"Membahagiakan katamu?! Maksudnya dengan berselingkuh? Dengan morotin harta anak saya, kamu membahagiakan anakku? Cih, laki-laki tak tahu diri!" bentak Papanya Erika. Aku terpana. Ternyata ia sudah banyak tahu tentang diriku. Tugasku mengajaknya membujuk Erika semakin berat.


"Ampun Om! Saya khilaf! Saya janji, tak akan mengulangi lagi! Saya sangat mencintai Erika, anak Om!" aku bersimpuh di kakinya supaya ia merasa iba.


"Makan tuh cinta! Memangnya kamu bisa kasih makan anak saya dengan cintamu?! Kerjamu saja karyawan biasa! Selama ini hidupmu juga ditopang oleh pemberian dari Erika kan?" Papanya Erika mengibaskan kakinya. Membuatku jatuh terpelanting. Tak cukup sampai disitu, Papanya Erika mendekatiku lalu mencengkeram kerah kemejaku.


"Aku bukannya menghina profesimu. Tapi laki-laki miskin tak tahu diri sepertimu harus dibuat sadar! Kau sudah menyia-nyiakan anakku! Selama ini anakku menyembunyikan tentangmu karena dia tak mau aku marah ataupun tak setuju dengan hubungan kalian! Hasilnya apa? Ternyata kamu laki-laki br*ngsek yang bisanya menyakiti hati anakku!" Papanya Erika mendorong tubuhku hingga aku jatuh terlentang.


"Dia akan menikah dengan Reyhan, laki-laki yang lebih segalanya darimu! Pergilah dari hadapanku dan dari kehidupan Erika! Kamu sudah tidak ada kesempatan lagi! Kalau kamu coba-coba mengganggu mereka, jangan salahkan saya kalau kamu akan celaka!" ancamnya.


Bugh!


Papanya Erika dengan marah memukul wajahku. Sepertinya kesabarannya habis. Tubuhnya ditahan oleh karyawannya ketika akan memukulku lagi.


"Sabar Pak, sabar!" kata dua orang karyawannya.


"Cepat pergi! Sebelum aku menghabisimu!" hardik Papanya Erika.


"Cepat pergi mas! Jangan keras kepala!" kata salah satu karyawan Papanya Erika.


Aku dengan wajah yang bengkak karena pukulan Papanya Erika terpaksa beranjak pergi meninggalkan Papanya Erika dengan tanpa hasil.


Hatiku sakit luar biasa atas perlakuan Papanya Erika. Tapi mau bagaimana lagi, aku sedang berusaha berjuang mendapatkan cintaku lagi. Aku tidak akan menyerah! Besok, aku akan menemui Erika lagi.


🌺🌺🌺🌺🌺


Erika sejak putus denganku, tak pernah makan di restoran yang biasa kami kunjungi sewaktu jam istirahat. Aku tak pernah melihatnya lagi. Jadi, aku cari tahu, restoran mana yang ia kunjungi untuk makan siangnya. Setelah aku buntuti mobilnya, ternyata ia akan makan siang di sebuah rumah makan sederhana. Entah kenapa ia memilih tempat itu. Eksekutif sekelas dirinya biasanya memilih tempat yang mewah dan mahal. Tapi dia memilih tempat-tempat kalangan menengah ke bawah untuk tempat makan siangnya. Hal itu pula yang membuatku terkecoh dulu. Aku tak mengira kalau ia seorang CEO. Ia juga hanya pergi berdua dengan Astin, tanpa supir yang mengantarnya kalau akan makan siang.


Setelah memarkirkan mobil, tampak Erika dan Astin berjalan memasuki rumah makan itu. Ternyata makan di sana, dengan sistem parasmanan, dimana pengunjung mengambil sendiri menu makan siangnya di tempat yang telah disediakan untuk memilih menu.


Makanannya pun ternyata masakan rumahan. Ada sayur asem, ikan asin, tempa bacem dan lain-lain yang menggugah selera. Ada juga semur daging, olahan daging, dan beberapa macam pilihan masakan dari daging ayam. Beberapa macam masakan ikanpun ada. Tak salah Erika memilih tempat ini untuk makan siangnya. Ternyata ia lebih memilih cita rasa dan suasana seperti di rumah daripada brand restoran terkenal dan mahal.


Setelah aku memilih makananku dan membayar makanan yang aku pilih, aku memilih tempat duduk yang agak jauh darinya dan terpencil agar tidak ketahuan oleh mereka kalau aku mengikuti mereka. Akupun menyelesaikan makanku dengan lahap. Kulihat Erika juga sudah selesai makan, aku menghampirinya. Aku sengaja menunggu Erika selesai makan, karena tidak ingin mengganggu makan siangnya.

__ADS_1


"Selamat siang Erika, Astin," Erika dan Astin mendongkak karena mereka sedang melihat ponsel


"Kamu?!" Erika tampak terkejut.


"Apa sih maumu?! Mengganggu Bu Erika terus?!" Astin berdiri seperti ingin menghadang langkahku lebih dekat dengan Erika.


"Minggir, Astin! Aku ingin bicara dengan Erika!" hardikku pada Astin karena menghalangiku.


"Kamu tidak boleh bicara lagi padanya!" sahut Astin.


"Aku mau bicara sebentar saja!" aku memaksa.


"Astin, biarkan saja! Aku ingin tahu dia mau apa," kata Erika. Dengan kesal, Astin duduk kembali ke tempat duduknya semula.


Aku duduk didekat Erika. Kupandang wajah cantiknya yang tak lagi tersenyum manis padaku. Dia sekarang terlihat garang padaku.


"Erika, aku ingin tahu, kenapa kamu dulu tak jujur padaku kalau kamu itu seorang CEO. Kenapa hubungan kita dilandasi ketidakjujuran?" tanyaku.


"Memangnya kamu juga jujur tentang Iren? Tidak kan? Kalau aku jujur padamu kalau aku seorang CEO, kamu akan lebih gila harta! Kamu hanya cinta pada hartaku saja, bukan padaku!" katanya dengan lantang.


"Aku minta maaf. Aku salah. Aku menyesal. Aku masih sangat mencintaimu. Kembalilah padaku. Kita rajut lagi cinta kita yang indah. Aku janji akan setia padamu. Aku juga akan bekerja lebih giat untuk masa depan kita," aku memberanikan diri berlutut dihadapannya. Aku berniat akan mengambil tangannya untuk aku genggam, tapi dia menjauhkan tangannya dari tanganku.


"Sayangnya aku sudah tidak mencintaimu. Aku sudah memilih Mas Reyhan untuk jadi pendamping hidupku. Kamu lihat kan waktu itu, dia sudah melamarku?" kata Erika dingin.


"Bukannya kamu sudah punya kekasih baru, mengapa masih mengejar Bu Erika? Si Karin kurang kaya ya? Kamu kira Si Karin lebih segalanya dari Bu Erika? Seleramu memang perempuan-perempuan sundal, sama seperti si Iren!" kata Astin sinis.


"Diam kamu! Aku tidak ada urusan denganmu!" kataku menghardik Astin. Lalu aku menatap lagi pada Erika dengan tatapan menghiba.


"Kumohon, Erika! Aku tahu kamu masih mencintaiku. Reyhan hanya pelarian kan?"


Erika berdiri dengan tiba-tiba. Lalu dia berjalan melewatiku tanpa menghiraukanku. Aku menoleh mengikuti gerakan langkah kakinya.


Ternyata di sana sudah berdiri Reyhan, CEO SUMBER RAYA Tbk. Erika menghampirimya, lalu bergelayut pada lengan laki-laki itu.


"Aku mencintainya! Kamu jangan kepedean! Kami secepatnya akan menikah! Jadi, carilah wanita lain yang bisa kau gombali!" kata Erika sinis.


"Kita pergi dari sini ya sayang!" kata Erika pada Reyhan. Reyhan membalas senyum Erika.


"Kalau sampai kamu mengganggu kekasihku lagi, kamu akan tanggung akibatnya!" ancam Reyhan dengan wajah dinginnya.


Mereka lalu pergi. Astin segera menyusul mereka sambil tersenyum menyeringai.Tinggallah aku jatuh terduduk dengan lemas. Usahaku tak berhasil! Aku gagal!


Aku memang manusia bodoh! Aku telah menyia-nyiakan kesempatanku dulu. Bila sudah terlepas, tak dapat lagi diraih. Bila sudah tak bersamanya lagi, barulah aku merasa kehilangannya. Ternyata dia sangat berharga dihidupku, baru kusadari sekarang. Aku jatuh cinta padanya disaat sudah tak bersamanya lagi.


Tuhan, ambil saja nyawaku! Aku benar-benar patah hati!


Andra POV Off


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2