KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 54 ADA YANG CEMBURU


__ADS_3

Mila berkunjung ke perusahaan Arga. Ia ingin berdiskusi dengan Arga tentang langkah apa selanjutnya untuk membalas Ronald dan Susy. Mila berterimakasih pada Arga, karena tanpa bantuannya, ia tidak akan dapat membalaskan dendamnya. Pengaruh Ronald cukup kuat. Dibutuhkan orang yang kuat dan berkuasa untuk menghadapi Ronald. Dan atas bantuan Arga, semua rencana dapat diwujudkan. Kedatangan Mila juga untuk membujuk Arga agar Arga berhenti dari dunia hitam. Arga harus mulai membangun masa depan yaitu berkeluarga.


"Kini Susy dan Ronald sudah saling menyerang, saling membalas. Kita tinggal menonton saja. Kita bermain cantik. Kita hanya memberi informasi pada mereka berupa pesan dari nomor ponsel tak bernama, selanjutnya mereka yang mengerjakan. Kita tak perlu mengotori tangan kita untuk membalas mereka," kata Arga.


"Tempo hari Ronald masuk rumah sakit karena di siram Susy. Kemudian Ronald membalas dengan menyiksa Susy. Susy lapor polisi dengan melampirkan visum dokter yang membuktikan kekerasan yang dilakukan anak buah Ronald atas perintah Ronald. Ini semakin seru. Kalau polisi dapat mengungkap kasus penyiraman itu ditambah kasus penyiksaan ini, Ronald akan masuk penjara," kata Arga.


"Jadi, kita menonton saja Kak?" tanya Mila..


"Aku diam-diam akan membantu polisi dengan mencari bukti-bukti bahwa Ronaldlah pelakunya. Aku sedang mencari rekaman CCTV ataupun hal lainnya yang dapat dijadikan bukti keterlibatan Ronald."


"Terimakasih, Kak. Kamu sudah banyak membantuku," Mila menyentuh lengan Arga


"Permisi," tiba-tiba pintu di buka dari luar ruangan Arga. Seorang wanita cantik muncul dari balik pintu


Wanita itu tertegun. Ia melihat Arga sedang bersama wanita lain. Apalagi tangan wanita itu sedang menyentuh lengan Arga.


"Maaf, aku mengganggu kalian," pintu ditutup kembali dengan tergesa. Wanita itu tidak jadi masuk.


"Gisel!" teriak Arga.


"Siapa dia Kak?" tanya Mila.


"Gawat! Dia salah paham! Aku akan mengejarnya! Kamu tunggu dulu di sini!" jawab Arga.


Arga segera berlari mengejar Gisel yang juga berlari keluar gedung menuju mobilnya. Ketika Gisel berhasil masuk ke mobilnya, Arga pun dapat masuk ke mobil dan duduk disebelah Gisel.


"Pergilah! Tidak usah hiraukan aku! Kamu sedang bersama dia!" usir Gisel masam.


"Gisel, kamu salah paham. Dia adik angkatku. Dia .....,"


"Oh, adik ketemu gede ya?! potong Gisel.


"Sayang ...., dengarkan aku dulu. Kamu jangan salah paham begini," Arga mencoba menyentuh tangan Gisel, tapi ditepis oleh Gisel.


"Cepat turun dari mobilku! Aku mau pergi!"


"Dengarkan aku dulu, please!"


"Baik! Apa yang mau kamu jelaskan?!" Gisel menatap Arga dengan tajam.


"Dia itu mantan majikanku dulu. Dia mantan istri pertama Ronald. Awal dia tinggal di rumah Tuan Edwin, dia tak kenal siapapun selain keluarga Tuan Edwin dan Aku. Aku supir Tuan Edwin yang ditugaskan mengantar Mila kemanapun ia mau pergi. Terutama antar jemput ke kampus," Arga menghela nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan ceritanya.


"Dia gadis yatim piatu waktu itu. Kasihan dia. Dia dijodohkan dengan. Ronald oleh Tuan Edwin. Dan sejak pernikahan itu, Mila mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari Ronald,"


Lalu mengalirlah cerita tentang kehidupan Mila setelah menjalani pernikahan dengan Ronald. Hingga nasib tragis yang menimpa Mila.


"Sekarang kami sedang membalaskan dendam pada orang-orang yang telah berbuat jahat padaku dan Mila. Kamu harus tahu, kami hanya menganggap kakak dan adik. Kami sama-sama sudah tidak memiliki keluarga. Kami sama-sama telah didholimi Ronald, hingga kami masuk penjara. Itulah mengapa kami jadi merasa senasib dan dekat. Sungguh, tidak ada hubungan lain selain hubungan seperti kakak adik. Yang saling mendukung dan membantu," jelas Arga.


Gisel terlihat tenang sekarang. Arga menggenggam tangan Gisel.


"Kamu percaya padaku?"


Gisel mengangguk.


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di pipi Gisel. Gisel terkejut.


"Terimakasih kamu mau mendengar penjelasanku. Terimakasih sudah percaya padaku," kata Arga menatap Gisel dengan penuh cinta.


"Aku cuma trauma dibohongi dan dikhianati oleh orang terdekatku," kata Gisel.


"Ya, aku mengerti. Itu tak akan terjadi lagi. Kau adalah orang yang sangat spesial bagiku. Aku tidak mungkin menyakiti hatimu. Aku janji, akan membuatmu bahagia," dengan tiba-tiba, Arga mendaratkan bibirnya pada bibir Gisel. Gisel terlonjak kaget. Tapi tangan Arga memegang tengkuk Gisel hingga Gisel tidak bisa menghindar.


Arga ******* bibir Gisel yang ranum. Gisel terbuai dengan ci*man dari Arga. Gisel menikmatinya. Hingga ketika nafas mereka hampir habis, mereka baru melepaskan diri untuk mengatur nafas mereka kembali.

__ADS_1


"Maaf," hanya itu yang dapat Arga ucapkan karena kelancangannya pada Gisel.


"Tidak apa-apa," jawab Gisel malu-malu.


Arga tersenyum senang.


"Kita masuk yuk. Aku akan mengenalkan mu pada Mila, Dia dari tadi menunggu," kata Arga. Gisel mengangguk.


Arga dan Gisel masuk ke ruangan Arga sambil berpegangan tangan. Mila tersenyum melihat kemesraan mereka.


"Duh sweet banget! Selamat ya Kak, Kak Arga dapat calon istri yang cantik!" kata Mila. Arga dan Gisel tersenyum.


"Kenalan dulu nih sama calon kakak ipar!" kata Arga.


Mila menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Tapi Gisel malah memeluk tubuh Mila.


"Maafkan aku ya! Aku telah salah paham," kata Gisel. Setelah melepaskan pelukannya, Gisel mengambil tangan Mila untuk berjabat tangan.


"Kak Arga ge - er dicemburui," kata Mila. Arga dan Gisel hanya tersenyum.


"Aku Gisel,"


"Mila,"


"Gitu dong. Kalau calon kakak ipar dan adik akrab kan indah dunia," kata Arga. Gisel dan Mila tertawa mendengar ocehan Arga.


Tiba-tiba terdengar nada dering ponsel Mila. Mila pun mengangkatnya.


"Hallo? Masuk aja ke ruangan Kak Arga! Aku akan mengenalkan seseorang," kata Mila.


Arga bertanya 'siapa?' dengan tanpa suara. Mila menjawab 'Richard' dengan tanpa suara juga. Setelah beberapa saat kemudian pintu diketuk. Mila yang membukakan pintu.


"Hallo, sayang, sudah lama di sini?" tanya Richard pada Mila. Richard mengusap pipi Mila.


"Lumayan lama," jawab Mila. Mila menggandeng tangan Richard, kemudian membawa Richard menghampiri Gisel dan Arga. Arga dan Gisel yang sedang duduk, langsung berdiri.


"Baik. kamu juga kan?" Richard berjabat tangan dengan Arga.


"Aku juga baik," jawab Arga.


"Kenalkan, ini Gisel. Calon istriku," kata Arga, yang langsung disikut oleh Gisel pura-pura kesal.


"Oh ...., kenalkan, saya Richard, calon suami Mila," yang langsung disambut tertawa oleh Arga. Mila mencubit pinggang Richard dengan manja. Tapi ikut tertawa juga.


"Sorry bro, aku sedang ada urusan. Jadi tidak bisa lama-lama di sini. Aku hanya menjemput Mila. Takut dia lecet dijalan kalau tidak ada yang menjaga," kata Richard.


"Duh, gombal banget!" ujar Mila. Mereka semua tertawa kembali.


"Oke," jawab Arga.


"Kami pergi dulu ya Kak Gisel dan Kak Arga," kata Mila.


Arga dan Gisel mengangguk.


"Kalian hati-hati di jalan ya," kata Gisel.


"Tolong jaga Mila ya. Anak buah Ronald sedang mencari Monica. Tapi tenang, anak buahku juga akan menjaga Monica dari jauh," kata Arga.


Setelah pamit, Mila dan Arga pun pergi dari ruangan itu. Tinggallah Gisel dan Arga di ruangan CEO itu.


Arga menarik Gisel untuk duduk dipangkuan Arga. Gisel yang tidak siap, reflek mengalungkan tangannya pada leher Arga karena takut jatuh.


"Gimana? Percaya kan kalau aku enggak bohong? Itu Richard, kakak tiri Ronald. Mereka sepasang kekasih."


"Ya. Aku kan sudah percaya dari tadi juga," kata Gisel mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Arga yang merasa gemas melihat bibir Gisel, langsung mem*gut lagi bibir merah jambu itu.


Gisel meronta. Tapi karena lagi-lagi tengkuk Gisel di pegang Arga, Gisel tidak bisa berkutik. Gisel pasrah bibirnya dises*p Arga.


"Aku harus segara menikahimu. Aku takut tidak bisa Menahan diri kalau berada di dekatmu," bisik Arga. Arga semakin larut dalam bibir Gisel. Malah ciuman Arga turun ke leher putih mulus Gisel.


"Stop Arga! Stop!" sergah Gisel. Arga segera menarik wajahnya dari leher Gisel. Nafasnya masih memburu.


"Kamu tidak boleh begini terus!" kata Gisel kesal.


"Oke! Masa iddahmu sudah habis kan minggu kemarin? Ayo kita nikah minggu depan!" ajak Arga.


"Hah?!" Gisel ternganga. Arga melamarnya dengan tidak romantis sama sekali.


Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Sorry, tidak romantis! Tapi sebagai gantinya, nanti malam aku mengajakmu makan malam. Mau ya?"


"Oke!" jawab Gisel sambil mengecup bibir Arga sekilas.


"Eeh .... malah mancing-mancing lagi!" Arga akan meraih tubuh Gisel. Tapi Gisel keburu berdiri dan menjauh dari Arga sambil tertawa mengejek.


Arga merasa ditantang Gisel. Argapun mengejar Gisel. Jadilah mereka seperti di film-film India yang kejar-kejaran tapi hanya di dalam diruangan itu. Ketika Gisel tertangkap, Arga menggelitik Gisel dengan gemas.


Jatuh cinta lagi memang membuat orang yang mengalaminya serasa remaja lagi!


❤️❤️❤️❤️❤️


Sementara itu Richard yang akan mengantar Mila pulang ke apartemen mampir ke butik terlebih dahulu. Demi keamanan Mila kini tinggal di apartemen, tidak di rumah kontrakan lagi. Anak buah Ronald masih mencari-cari keberadaan Monica. Dan Monica sudah bertemu Ronald di perusahaan Arga waktu itu. Tidak menutup kemungkinan karena mengetahui Monica telah kembali, Ronald akan mengejar-ngejar Monica.


"Kok berhenti di sini?" tanya Mila.


"Kamu harus memilih gaun untuk nanti malam," jawab Richard.


"Gaun? Ada acara apa?" tanya Mila lagi.


"Dinner romantis untuk kita," jawab Richard., "Ayo cepat turun, sayang."


Richard menggenggam tangan Mila. Mereka berpegangan tangan berjalan menuju ke butik.


"Bagaimana menurutmu?"


"Apanya?"


"Tentang dinner,"


"Boleh."


"Nanti dandan yang cantik ya," kata Richard.


"Oke,"


"Hanya untukku," kata Richard lagi.


"Tentu saja, sayang!" Mila mencubit gemas pipi Richard.


Setelah sampai di dalam butik, Mila disambut oleh pelayan butik. Mila diperlihatkan koleksi gaun di butik mereka. Mila menjatuhkan pilihan pada gaun panjang berwarna hitam berlengan pendek yang terlihat indah dan elegan


"Bagaimana menurutmu?" tanya Mila sambil merperlihatkan gaun yang sedang dicobanya pada Ricard.


"Bagus. Terlihat cantik dan elegan. Aku setuju," kata Richard.


Akhirnya gaun itupun diambil dan dibayar ke kasir. Richard langsung mengajak pulang Mila karena khawatir anak buah Ronald mengikuti mereka.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


Jangan lupa beri vote, like, dan komentarmu ya. Klik Favorit juga pada novel ini. Thankyou!


__ADS_2