
Sebelum cerita berlanjut, supaya Othor gak lupa mau tanya diawal bab aja deh. Minta pendapat para Readersku, Udah dari kemarin-kemarin santer yang berpendapat supaya Mila akan kembali dengan Ronald. Coba yang setuju tunjukkan komentarmu dan alasannya apa? Yang setuju supaya Mila tetap dengan Richard juga komentar dan alasannya apa ya? Atau mungkin ada yang setuju supaya Mila dengan John? Komentar juga dan alasannya apa? Pendapat terbanyak akan Othor pertimbangkan untuk menentukan arah cerita selanjutnya. Soalnya Othor jadi galau. Tapi supaya tidak mengecewakan Readers, minta pendapatnya dulu deh! Terimakasih!
🌹🌹🌹🌹🌹
Sejak pertemuan di cafe itu hubungan Erika dan Andra semakin dekat. Andrapun sepertinya memiliki perasaan yang sama. Mereka sering janjian untuk bertemu. Sehingga lama kelamaan, merekapun jadian. Mereka meresmikan mereka pacaran. Astin mulai menjaga jarak. Ia biarkan dirinya tidak terlibat dalam pertemuan-pertemuan mereka. Tugasnya dirasa sudah selesai membuat mereka menjadi sepasang kekasih. Kini ia fokus bekerja lagi disamping mencari pacar untuk dirinya sendiri.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di London, Mila menatap wajah suaminya yang terbaring lemah di ranjang pasien. Bulan lalu, dokter melakukan serangkaian pemeriksaan seperti anamnesa, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang seperti EKG atau disebut juga dengan rekam jantung, echocardiography (USG jantung) serta treadmill teat. Hasilnya, Richard didiagnosis terkena penyakit jantung. Setelah dirawat selama satu minggu, Richardpun terlihat sehat dan diperbolehkan pulang.
Setelah satu bulan lalu masuk rumah sakit, kali ini Richard masuk rumah sakit lagi.
Mila bergantian dengan Axcel, anak laki-lakinya dari pernikahan dengan Richard. Axcel berusia 16 tahun. Ia bersekolah di Mossbourne Community Academy - Lower Clapton, salah satu Sekolah Menengah Atas terbaik di London. Sedangkan adik Axcel, bernama Sheryl berusia 13 tahun, duduk di Sekolah Menengah atau Secondary Education.
Richard didiagnosis terkena penyakit jantung. Terlebih Richard juga terkena komplikasi penyakit lainnya.
"Dok, kenapa suami saya drop lagi dok? Padahal satu bulan lalu sudah terlihat sehat," tanya Mila pada waktu dokter yang menangani Richard melakukan visit.
"Suami Nyonya terkena penyakit Arteri Perifer, yaitu terganggunya sirkulasi darah pada pembuluh darah arteri yang menyempit bisa mengurangi aliran darah ke anggota tubuh. Biasanya kondisi ini menyebabkan kram, mati rasa, atau nyeri di pada paha, betis, hingga pinggul.
Beberapa di antaranya juga mengalami rambut rontok, tungkai kaki terasa dingin, dan disfungsi ereksi pada pria," jawab dokter panjang lebar.
"Apa kondisi suami saya bisa membaik, Dok?"
"Gejala yang suami Nyonya alami dapat membaik dengan rajin melakukan olahraga yang aman untuk penyakit jantung, berhenti merokok, dan mengonsumsi makanan yang sehat untuk jantung."
"Baiklah dok. Terimakasih atas penjelasannya. Kalau suami saya nanti sudah diperbolehkan pulang ke rumah, saya akan mendampingi suami saya supaya menjalankan saran dari Dokter," kata Mila.
"Good! Itu yang harus Nyonya lakukan agar suami Anda cepat sembuh," ucap Dokter.
Ketika dokter dan perawat pergi dari ruangan perawatan itu, ternyata ada seseorang yang sejak tadi berdiri di dekat pintu ruangan. Ia menunggu sampai dokter dan perawat itu keluar. Ia kemudian masuk ketika dokter dan perawat itu pergi.
"Selamat siang, Mila," terdengar suara laki-laki yang familiar di telinga Mila. Mila pun menoleh.
"John?!"
__ADS_1
"Aku turut prihatin atas yang dialami Richard," John mendekat sambil membawa satu keranjang parcel buah-buahan. Diletakkannya parcel itu di meja. Ia kemudian berjalan lebih dekat lagi ke ranjang dimana Richard terbaring.
"Cepatlah sembuh, bro! Kalau tidak, aku yang akan menjaga istrimu," ujar John.
"Jhon!" Mila berteriak tertahan.
"Maaf. Cuma bercanda," kata Jhon sambil tersenyum.
"Anda tahu dari mana suamiku dirawat di sini?" tanya Mila.
"Sangat mudah. Aku menghubungi sekretaris Richard untuk membuat janji bertemu tentang kelanjutan kerjasama perusahaanku dan perusahaan Richard yang belum sempat dibahas dua bulan yang lalu. Tapi sekretaris Richard mengatakan Richard sedang sakit. Dan segala urusan kantor diambil alih oleh wakil CEO, yaitu Nyonya Karmila. Jadi aku datang. kesini untuk menengok Richard sekaligus menanyakan kapan kita akan membahas kerjasama itu?"
"Nanti aku tanya agendaku dulu pada sekretaris ya Tuan John. Nanti sekretaris akan menghubungi anda," jawab Mila.
"Kenapa kamu bicara formal lag, Mila? Aku lebih suka bicara yang tidak formal. Panggil aku, John saja. Biar terdengar lebih intim," pada kata terakhir John, John bicara sedikit berbisik pada Mila.
"Kamu tahu, aku masih selalu mengharapkanmu. Hingga istriku meninggal, wanita yang kucintai hanya dirimu," bisik John.
"Tuan John. Jaga bicara anda!" Mila merasa tidak suka dengan perkataan John. Mila khawatir Richard mendengarnya dalam tidurnya.
Mila merasa gerah mendengar pernyataan John. Entah apa yang terjadi, mengapa John jadi seberani itu, berbicara di dekat Richard. Ya, walau Richard masih belum siuman.
"Anda salah makan sepertinya Tuan John!" kata Mila.
John terkekeh. John mencondongkan badannya dan mulutnya hampir mengenai telinga Mila.
"Aku tahu,. Tadi dokter bilang, suamimu kini mengalami disfungsi ereksi. Sakitnya Richard sudah dari sebulan lalu. Aku yakin bulan-bulan sebelumnya pun dia sudah ada keluhan sakit. Cuma mungjkin masih bisa diatasi dengan berobat jalan. Aku merasakan yang kamu rasakan, Mila. Karena akupun mengalaminya sewaktu istriku sakit parah hingga meninggal. Kamu kesepian kan? Kamu butuh belaian?" kata John terus terang.
Mila tersentak mendengar perkataan John. Berani-beraninya John mengatakan hal itu padanya. Mila merasa marah. Ia akan menampar John. Tapi tangan Mila ditangkap John. Tangan Mila ditarik John. Sehingga Mila berada dalam dekapan John.
"Jangan munafik! Kau butuh itu kan?" bisik John tepat di telinga Mila. Bibir John sangat dekat hingga hampir mencium pipi Mila.
"Kau sudah gila Jhon!" pekik Mila sambil berusaha memberontak. Milapun menangis.
__ADS_1
Mendengar Mila menangis, John merasa bersalah. Ia melepaskan pelukannya.
"Ma-maaf!" ucap John. Entah mengapa gairahnya tiba-tiba bangkit ketika mendengar penyakit Richard. John telah salah paham pada Mila.
"Kamu pikir aku wanita apa, John?! Suamiku sakit. Tak pernah terbersit di hatiku untuk mengkhianati suamiku. Bukankah kau juga dulu setia mendampingi istrimu yang sedang sakit? Lalu kenapa kamu sekarang seperti ini? Kau bukan John yang kukenal dulu!" kata Mila lirih.
John menunduk. Ia terlihat sangat menyesal.
"Maafkan aku, Mila. Aku salah. Aku khilaf," ucapnya. Lalu tanpa pamit, ia pergi begitu saja dari ruangan itu. Ia benar-benar merasa malu atas ucapan dan tindakannya.
Mila menatap kepergian John dengan perasaan berkecamuk. Antara marah, benci dan bingung dengan sikap John.
Lalu Mila mendekatkan kursi yang ia duduki pada ranjang dimana Richard terbaring. Diraihnya tangan Richard yang satunya yang tidak ada selang infus. Diciuminya tangan Richard.
"Cepatlah sembuh, sayang! Aku membutuhkanmu! Aku merasa rapuh tanpamu bersamaku. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Aku kangen dirimu. Aku kangen candamu, tawamu, dan semua yang ada padamu,"
"Aku akan berusaha untuk setia padamu. Walau apapun yang terjadi padamu. Aku akan selalu mencintaimu!" berlinanglah airmata Mila menatap wajah suaminya yang seperti tertidur pulas.
Tiba-tiba tangan Richard bergerak. Mila merasa gembira bercampur kaget. Ia segera memijit bel untuk memanggil dokter. Dokter dan perawatpun datang untuk memeriksa kondisi Richard.
Axcel dan Sheryl datang dengan masih memakai seragam. Mereka rupanya langsung datang ke rumah sakit sepulang sekolah.
Kedua mata Richardpun terbuka. Ia telah siuman. Mila dan kedua anaknya sangat senang melihat Richard telah sadar.
"Honey! Axcel! Sheryl!" panggil Richard.
Mila, Axcel,dan Sheryl langsung menghampiri Richard. Richard.merentangkan tangannya untuk menyentuh orang-orang yang dicintainya. Mila mengecup kening Richard. Richard terlihat gembira dapat melihat orang-orang terkasihnya lagi. Ia khawatir tidak dapat bangun lagi karena penyakitnya.
"Papa, cepat sembuh ya Pa," kata Axcel dan Sheryl berbarengan.
"Cepatlah sembuh, Bie!" kata Mila.
Richard tersenyum. Dokter dan perawatpun yang melihat mereka ikut tersenyum bahagia melihat keluarga itu.
__ADS_1
TO BE CONTINUED