
Sebuah mobil Fortuner warna hitam berhenti di pinggir jalan tepat di depan bengkel Ronald. Seorang wanita tampak turun kemudian berjalan menuju bengkel.
"Permisi, apa Pak Ronaldnya ada?" tanyanya.
Orang -orang yang berada di bengkel menghentikan aktivitasnya, menoleh pada pemilik suara menarik itu.
"Ada. Anda siapa ya?" salah seorang dari karyawan bertanya. Ia sedang membetulkan motor.
"Katakan saja, ada Ibu Mila datang," jawab wanita itu yang ternyata Mila.
"Sebentar, saya panggil dulu Pak Ronaldnya," kata karyawan itu.
Orang itu masuk ke dalam. Tak lama ia keluar bersama Ronald. Mila terkejut melihat perubahan Ronald. Ronald kini terlihat berumur. Penampilannya lebih santai, tidak klimis seperti dulu sewaktu masih menjadi CEO. Ronald tertegun melihat Mila. Mila masih terlihat cantik diusianya yang sudah tidak.muda lagi. Mila terlihat lebih dewasa dan elegan. Penampilannya mencerminkan ia sudah menjadi wanita kalangan atas. Walau tidak glamour, tetap terlihat berkharisma.
"Mi-Mila? Apa kabar?" sapa Ronald. Dengan canggung Ronald mengajak bersalaman. Mila pun membalas jabatan tangan Ronald.
"Baik," jawab Mila pendek.
"Mana Erika?" Ronald melihat ke arah mobil.
"Dia ada di mobil. Aku ingin bicara dulu denganmu," kata Mila. Orang-orang yang ada di bengkel menatap mereka penuh rasa ingin tahu. Ada urusan apa Ronald menerima tamu orang kaya, pikir mereka.
"Baiklah, silahkan masuk. Maaf di sini kotor dan berantakan," kata Ronald sambil mempersilahkan Mila masuk ke dalam bengkel. Didalam sana ada ruang tamu dan sebuah kamar untuk beristirahat.
"Rumahku tak jauh dari sini. Nanti Erika lebih baik langsung ke rumah saja," kata Ronald lalu mempersilahkan Mila duduk.
"Sudah lama sekali, aku menunggu kabar Erika. Kenapa kamu tidak segera meneleponku, padahal aku sudah meninggalkan nomor telepon ke satpam rumah lamamu," Ronald mencurahkan unek-uneknya.
"Maaf. Aku dan Richard baru memberitahukan perihal kamu pada Erika sewaktu ia baru lulus S1. Kurasa sekarang ia sudah cukup dewasa memandang persoalan kita di masa lalu," jawab Mila.
"Kamu tahu tidak? Aku merasa takut kalau ajal menjemputku sebelum aku bertemu Erika lagi. Kenapa kamu tega, Mila, membiarkanku menunggu dalam ketidakpastian hingga bertahun-tahun lamanya? Aku tahu, kamu masih marah padaku atau mungkin masih menyimpan dendam. Aku minta maaf. Tolong, biarkan aku merasakan menjadi seorang Papa. Jangan pisahkan kami. Biarkan Erika tinggal bersamaku. Aku ingin menebus waktu yang terbuang," Ronald memalingkan wajahnya. Ia berusaha menyembunyikan airmatanya yang akan jatuh.
Sebenarnya Mila merasa trenyuh melihat Ronald sekarang. Tapi ia masih belum percaya pada laki-laki itu.
"Maaf. Rasanya sulit untuk mempercayaimu. Apa kamu bisa menjamin keselamatan Erika? Apa kamu tidak akan berbuat macam-macam pada Erika?"
"Harimau saja yang binatang buas tidak akan memakan anaknya sendiri. Apa kamu pikir aku seorang Papa yang br*ngsek, yang akan berbuat macam-macam pada anakku sendiri? Anak yang sudah lama kurindukan kehadirannya. Lalu aku akan menghancurkan hubungan orangtua dan anak?!" suara Ronald meninggi.
"Aku memang tidak menikah lagi setelah bercerai dari Susy hingga keluar dari penjara. Tapi otakku masih waras. Aku hanya ingin menghukum diriku, karena aku dulu telah menyia-nyiakan dan sering menyakiti seorang istri yang baik. Aku ingin kamu tahu, aku sudah bertobat," kata Ronald menatap Mila sendu.
"Aku senang kalau kamu sudah bertobat. Tapi simpan saja tobatmu untuk orang lain. Karena situasinya sudah berubah. Cukuplah menjadi orang yang lebih baik lagi dalam berperilaku pada orang lain. Karena kita tak akan mungkin bersama. Aku sudah mencintai Richard," kata Mila.
Ronald menghela nafas.
"Aku tahu," jawab Ronald, "Makanya aku tidak mau mengganggu kebahagiaanmu. Kebahagiaanku sekarang adalah bisa bersama anakku. Izinkan Erika tinggal bersamaku," pinta Ronald.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi kau harus berjanji. Akan menjaga Erika. Jangan biarkan dia tersakiti oleh siapapun. Dia sudah menjadi gadis yang cantik dan menarik. Tentu akan menjadi incaran laki-laki yang menyukainya."
"Dia juga harus belajar menjadi gadis yang pekerja keras dan mandiri. Kamu tahu, kami mendidiknya agar menjadi pribadi yang tangguh. Jadi, kamu tidak boleh terlalu memanjakannya. Dia harus menjadi wanita kuat tapi berhati lembut," kata Mila lagi.
"Oke, aku setuju hal itu."
"Izinkan Erika sewaktu-waktu pulang ke rumah lama. Supaya dia merasa tidak dibuang oleh kami. Dia harus belajar mengelola perusahaan. Dia mengisi kekosongan pimpinan di perusahaan cabang di Jakarta. Aku mau kamu juga membimbingnya. Kamu dulu sudah banyak pengalaman mengelola perusahaan. Kurasa ilmumu akan berguna untuknya," ucap Mila.
"Baik. Akan aku usahakan. Semoga aku masih bisa membimbingnya. Karena itu sudah lama sekali. Bidangku sekarang mengelola bengkel," jawab Ronald.
"Oke, kurasa Erika sudah kesal menunggu," Mila bangkit dari duduknya.
"Kalau begitu, ikuti aku. Aku akan naik motor ke rumahku," Ronald pun berjalan mengambil motornya.
Mila keluar, lalu masuk ke mobil. Mobil Mila mengikuti motor Ronald yang melaju menuju rumahnya, tak jauh dari bengkel.
Setelah sampai, Ronald menghentikan motornya. Setelah memasukkan motornya ke garasi, ia menyambut kedatangan Erika di pintu pagar rumahnya. Rumah Ronald terlihat sederhana tapi asri.
"Papa!" Erika menghambur ke pelukan Ronald.
"Erika, putriku sayang!" Ronald menitikkan airmata bahagia.
Mila dan supir merasa terharu melihat pertemuan antara Papa dan anaknya.
"Papa baik. Papa selalu menunggu kedatanganmu. Papa senang kamu datang. Dulu Papa mencarimu ke rumah mamamu. Tapi satpam bilang kalian tinggal di London. Papa tidak bisa menyusulmu," ada rasa bahagia yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata ketika Erika memanggilnya Papa.
"Ya, Papa! Sekarang aku akan tinggal di Jakarta," kata Erika.
"Kamu boleh tinggal dengan Papamu, Erika," kata Mila.
"Benarkah?!" mata Erika membulat merasa tidak percaya .
"Iya. Kamu tinggal dengan Papa! Kita akan banyak menghabiskan waktu bersama!" sahut Ronald.
"Wah ....! Terimakasih, Papa!" Erika mengeratkan pelukannya. Lalu setelah itu Erika berlari memeluk Mamanya.
"Terimakasih, Mama!" Erika memeluk erat Mamanya.
Setelah itu Mila dan Erika dipersilahkan masuk oleh Ronald. Supir membawakan koper Erika masuk ke dalam rumah.
"Maaf bukannya aku tidak ingin duduk dulu di rumahmu, tapi aku harus menemui klien. Klien ini klien yang sangat penting. Aku harus mewakili Richard yang tidak bisa datang ke Indonesia. Dia harus istirahat total karena penyakitnya," kata Mila dengan sendu.
"Richard sakit?" Ronald terlihat terkejut
"Ma ..., Mama yang sabar ya? Andai aku tidak harus menduduki jabatan di kantor cabang, aku ingin menemani Papa di rumah sakit," Erika memeluk Mila.
__ADS_1
Mila tidak ingin membuat Erika bersedih dan juga membuat Ronald penasaran. Mila segara menghapus air mata disudut matanya.
"Richard sakit apa?" Ronald penasaran.
"Belum tahu. Dia sedang menjalani pemeriksaan kemarin. Tapi berhubung pertemuan dengan klien tidak bisa di undur karena ini juga adalah jadwal yang telah diundur sebelumnya, jadi aku yang harus menemui klien. Lagipula Kekosongan pimpinan di kantor cabang sudah mendesak. Kami khawatir akan ada pihak-pihak yang mengambil kesempatan kalau Erika tidak segera menempati posisi sebagai CEO yang baru," jelas Mila.
"Memangnya kenapa CEO yang lama?" tanya Ronald.
"Tersandung kasus penggelapan dana," jawab Mila.
"Baiklah, Mama pergi ya Erika. Jaga diri baik-baik. Jangan bikin repot Papamu," kata Mila sambil mencium pipi Erika.
"Aku pergi dulu. Titip Erika. Jaga dia baik-baik. Kali ini aku mempercayakan Erika kepadamu. Jangan kecewakan kepercayaanku," kata Mila pada Ronald.
"Kamu tidak usah khawatir. Erika akan kujaga baik-baik melebihi nyawaku sendiri," janji Ronald. Mila mengangguk. Kemudian setelah berjabat tangan dengan Ronald, Mila beranjak dari rumah Ronald.
"Jangan lupa, Erika, besok adalah hari pertamamu ke kantor cabang. Datanglah tepat waktu. Mama akan mengenalkanmu pada kepala-kepala divisi," kata Mila sebelum masuk ke mobil.
"Ya, Mama! Jangan khawatir!" jawab Erika sambil membalas lambaian tangan Mila.
"Mamamu masih energik, Erika!" gumam Ronald.
Erika menoleh. Ia tersenyum jahil.
"Apa Mama masih terlihat cantik, Pa? Papa masih ada rasa?"
"Ah, kau itu! Papa cuma kagum," jawab Ronald sambil masuk ke rumah. Erika segera menyusul Ronald masuk ke rumah, setelah mobil Mamanya sudah pergi menjauh.
"Ini kamarmu, Erika. Walau waktu Mamamu menelepon bahwa kamu tidak akan tinggal disini, tapi Papa sudah menyiapkan kamar untukmu," kata Ronald sambil membukakan pintu kamar untuk Erika.
Erika masuk ke kamar sambil melihat-lihat isi kamar dan membuka tirai jendela kamar.
"Maaf, hanya kamar sederhana. Tidak ada AC. Cuma ada kipas angin," kata Ronald.
"Tak apa, Pa. Erika bukan anak manja. Papa tenang saja," jawab Erika.
Menjelang malam, Ronald memasak untuk makan malam ia dan Erika. Erika terharu melihat Papanya sibuk di dapur. Erikapun membantu Papanya memasak.
"Pa, mengapa Papa tidak menikah lagi?" tanya Erika sambil mengupas bawang merah. Ia merasa trenyuh melihat Papanya melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri.
Ronald yang sedang menghaluskan bumbu, menghentikan aktivitasnya mendengar pertanyaan Erika.
TO BE CONTINUED
Hai Readers! Gimana, lancar kan puasanya? Tetap semangat beraktivitas ya walau sedang berpuasa! Saya akan usahakan update entah itu dua hari sekali. Kalau bisa setiap hari. Soalnya otak haluku tidak bisa diprediksi. Kadang halunya lancar, sinyal tidak mendukung. Atau kadang ada gangguan dari bocil yang mau main hp mulu. Kadang juga ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Jadi pekerjaan di dunia nyata dulu yang didahulukan alias primer. Menulis novel jadi sekunder. Maaf ya karena saya masih penulis recehan. Bukan penulis famous yang sudah bisa menghasilkan cuan yang banyak dari menulis. Tapi walau demikian, saya akan berusaha memberikan karya yang terbaik untuk para Readersku. Salam sehat selalu.
__ADS_1