
Kondisi Tuan Brian yang belum juga pulih, membuat Richard terpaksa harus pulang ke Indonesia setelah di telepon oleh Ronald.
Walau setengah hati melakukan kepulangan itu, tapi demi orangtua yang tinggal satu-satunya itu, Richard pulang.
Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Richard pulang ke rumah dengan di jemput Pak Dani, supir Tuan Brian sekarang . Tiba di rumah, Richard disambut seluruh pelayan. Walau semua pelayan di rumah itu baru semua, karena pelayan yang dulu waktu Richard kecil sudah tidak bekerja di rumah itu lagi, tapi karena seluruh pelayan mendapat arahan dari kepala pelayan bahwa putra Tuan Richard yang selama ini tinggal di luar negeri akan pulang ke rumah, mereka mempersiapkan penyambutan itu dengan spesial.
Pelayan yang bertugas di dapur telah memasak masakan spesial. Kamar tidur untuk Richardpun ditata kembali setelah sekian lama hanya jadi kamar kosong yang tak pernah ditempati oleh siapapun lagi. Kamar itu hanya dibersihkan dan dirapikan setiap hari oleh pelayan yang bertugas membereskan dan membersihkan kamar-kamar di rumah itu.
Ketika Richard memasuki rumah, seluruh pelayan yang sudah berbaris berbanjar menyambutnya dengan membungkukkan badan. Supir Tuan Brian membawakan koper Ricnard hingga ke kamar Richard di lantai dua. Setelah tiba di depan pintu kamar. Supir Tuan Brian pamit untuk turun.
Setelah pintu dibuka, Richard mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kamar.
"Hmmm ..... sudah banyak yang berubah," gumam Richard.
Richard menyibakkan gorden jendela kamarnya, Kemudian membuka pintu menuju balkon kamarnya. Ingatannya lalu melayang ke masa silam ketika Richard masih kecil.
Dari atas balkon itu, Richard kecil melihat Mamanya diseret oleh Papanya karena ingin menemui Richard.
"Pergilah kau! Kamu itu telah mencelakai Jeny! Akibat perbuatanmu, Jeny harus dirawat di rumah sakit! Kau hampir saja membunuhnya!" bentak Papanya.
"No! Bukan aku yang menabrak Jeny! Sungguh! Mereka telah membohongiku dengan meminjam mobilku! Mereka yang melakukannya!" teriak Nancy, Mamanya Richard.
"Richard! Richard!" Mamanya memanggil manggilnya.
Richard kecil turun tangga dengan berlari menuju keluar rumah dimana Mamanya berada. Tuan Brian menghalang-halangi. Sayangnya Kakeknya sedang berada diluar kota sehingga tidak bisa membantu Richard.
"Ma ....! Mamaaa .....!" teriak Richard kecil menangis.
"Richard Masuk ke rumah! Kamu tidak boleh menemui Mamamu! Ayo cepat sana masuk!" hardik Papanya.
Lalu Papanya menyuruh satpam di rumahnya untuk membawa Ricahrd ke dalam rumah dengan mengangkatnya secara paksa.
Richard di tengah isak tangisnya melihat Papanya mendorong Mamanya keluar pagar hingga Mamanya terjatuh.
"Dasar wanita gila! Jangan sekali-kali lagi ke sini untuk menemui anakmu! Dia sudah ada Mama baru yang akan mengurusnya! Pergi sana!"
Sebulir airmata menetes dipipinya mengingat kenangan buruk itu lagi. Itu adalah terakhir kalinya Richard melihat Mamanya. Dua hari setelah itu ia dapat kabar kalau Mamanya di bawa pulang ke Inggris oleh Pamannya. Dua minggu setelahnya ia mendapat kabar lagi kalau Mamanya telah meninggal dunia.
Dari atas balkon itu, Richard juga teringat kenangan yang menyakitkannya. Richard kecil melihat keluarga baru Papanya yang sedang bercengkrama di taman depan rumah. Ronald kecil sedang bermain lempar tangkap bola dengan Papanya dan Mama tirinya. Mereka tampak tertawa dan bahagia. Sedangkan Richard sedang dihukum tidak boleh keluar kamar, karena telah membuat Ronald kecil terjatuh hingga giginya berdarah. Padahal itu bukan kesalahan Richard. Ronald jatuh sendiri karena tergelincir ketika sedang berlari-larian.
Richard juga ingat, bagaimana ia dipukul dengan menggunakan rotan oleh Papanya. Untung kakek datang dan menolongnya. Hanya kakeknya yang peduli padanya di rumah itu. Kakek memarahi Papanya habis-habisan. Tapi hal itu tidak membuat sikap papanya berubah. Papany sering dihasut oleh Mama tirinya sehingga selalu menimpakan kesalahan pada Richard bila terjadi sesuatu pada Ronald.
Semakin lama kebencian Richard pada Papanya, Nyonya Jeny sang Mama tiri, dan Ronald, adik tirinya, semakin menjadi. Bahkan Richard sampai pindah sekolah karena tidak ingin satu sekolah dengan Ronald. Karena Richard selalu bolos sekolah dan melakukan kenakalan di sekitar rumahnya, Papanya pun memindahkannya di sekolah lain.
__ADS_1
Richard disekolahkan di SD-SMP-SMA Islam Terpadu agar tidak menjadi anak yang nakal, begitu pikir Papanya. Dan hal itu behasil. Richard menjadi anak yang pendiam dan tidak banyak tingkah lagi. Sampai akhirnya ia lulus kuliah, Richard menginginkan tinggal dengan pamannya, saudara dari Mamanya di St Ives, Inggris.
Dan sejak saat itu Richard tidak pernah pulang ke Indonesia lagi. Apalagi setelah ia dapat pekerjaan di kota London. Dan baru kali inilah ia menginjakkan kaki di rumah masa kecilnya dulu yang penuh kenangan.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamarnya ada yang mengetuk.
Richard segera membukakan pintu.
"Tuan, setelah Tuan makan siang, Tuan disuruh Tuan besar ke rumah sakit," kata salah seorang pelayan memberitahunya.
"'Oke, nanti saya ke sana," jawab Richard.
Richard segera membersihkan badan di kamar mandi. Setelah berpakaian, iapun makan siang. Menunya Opor ayam dengan emping, juga ada tempe bacem dan sambal tomat. Masakan kesukaanya dulu.
Ingatannyapun kembali ke masa silam. Begitu banyak kenangan di rumah itu yang membuatnya semakin ingin memperlihatkan pemberontakkannya. ia ingin menunjukkan kemampuanny sekarang. Ia bukan lagi Richard kecil yang dapat diperlakukan tidak adil oleh Papanya.
Richard menyelesaikan makan siangnya dengan cepat. ternyata Pak Dani, Sopir Papanya telah siap. Richard masuk ke mobil dengan hati dingin.
Sepanjang perjalanan Richard hanya diam memandang pemandangan di luar. Pak Danipun tidak berani membuka percakapan. Ia masih belum tahu sifat anak majikannya itu.
DIihatnya Papanya sedang diperiksa tensinya oleh perawat.
"Richard!" pekik Tuan Brian senang.
Dua orang perawat wanita itu menoleh, melihat siapa yang datang. Mereka terkesima melihat wajah tampan blasteran yang sedang berjalan mendekat ke ranjang Tuan Brian.
Dua perawat itu telah selesai melakukan pengecekan tensi Tuan Brian.
"Pah! Apa kabar Pah? Papa cepat sehat ya Pah!" kata Richard sambil memeluk Papanya. Dua orang perawat masih di sana menyaksikan interaksi ayah dan anak
"Papa merasa sudah sehat lihat kamu datang. Gimana dengan kamu?"
"Baik, Pah."
"Ini anaknya ya Pak? Saya boleh dong Pak jadi menantu," kata salah seorang perawat itu, yang langsung disikut oleh temannya sambil melotot. Tuan Brian dan Richard hanya tersenyum
"Maaf, Pak. Kami permisi dulu," kata temannya yang satu lagi. Mereka pun meninggalkan ruangan itu sambil berbisik-bisik.
__ADS_1
Setelah dua orang perawat itu pergi, Tuan Brian menatap Richard. Air matanya mengalir.
"Richard, maafkan Papa. Papa banyak salah padamu, juga pada Mamamu,."
Richard memalingkan wajah ke arah lain tanpa menjawab apa-apa. Terlalu lama Richard ingin mendengar hal itu dari mulut Papanya. Kini hati Richard seakan beku. Berpuluh - puluh tahun Richard merasakan sakit hati dan kecewa dengan sikap Papanya.
"Papa memang seorang ayah yang buruk. Juga suami yang buruk. Papa sadar sekarang. Papa telah ditipu oleh Mama tirimu. Papamu sungguh bodoh baru menyadarinya sekarang."
"Semua itu tidak akan membuat Mama bangkit dari kubur kan Pah? Jadi tidak ada artinya sekarang," jawab Richard dingin.
"Setidaknya izinkan Papa menebus kesalahan Papa. Papa akan menceraikan Mamanya Ronald," kata Tuan Brian.
Richard diam saja. Rasanya usaha yang dilakukan Papanya tidak ada artinya bagi dirinya. Sudah terlalu lama. Sudah basi bagi dirinya.
"Ronald bukan anak Papa! Dia anak kekasih lama Mama tirimu. Dia telah membohongi Papa!"
Deg!
Richard terperanjat. Berita ini suatu kejutan bagi dirinya.
"Dia dulu telah menjebak Papa dan mengatakan kalau anak yang dikandungnya adalah anak Papa. Papa bodoh, percaya saja. Sampai akhirnya setelah kematian Kakek, Papa melihat hasil tes DNA yang disimpan di pengacara Kakekmu. Kakekmu sudah lama tahu, tapi beliau tidak ingin Papa syok dan penyakit Papa kambuh,"
"Lantas, apa yang akan Papa lakukan?" tanya Richard tajam.
"Papa sudah mencabut semua fasilitas yang Papa berikan selama ini padanya. Papa sudah tidak mengizinkan dia pulang ke rumah. Papa juga sedang mengajukan proses cerai," kata Tuan Brian. Ia berharap Richard akan senang mendengarnya. Tapi ternyata Richard hanya bereaksi dingin.
"Bagamana menurutmu?" Tuan Brian ingin tahu karena Richard diam saja.
"Itu belum sebanding dengan trauma dan kepedihan Mama dan aku selama ini. Papa kira itu cukup untukku?" Richard bangkit dan beranjak pergi.
"Richard! Maafkan Papa! Apa yang harus Papa lakukan agar kamu memaafkan Papa?!" teriak Papanya putus asa.
"Bertobatlah pada Tuhan! Kunjungi Makam Mama! Minta maaflah pada keluarga Mama. Itu juga kalau Papa punya nyali. Karena aku yakin Paman tidak akan memaafkan Papa!" kata Richard kemudian pergi begitu saja.
Tuan Brian terisak sedih. Sedalam itukah kebencian Richard pada dirinya, sehingga sikap Richard benar-benar dingin.
Tuan Brian lalu menelepon pengacaranya. Ia berbicara serius dengan pengacaranya. Sedangkan Richard meminta Pak Dani untuk mengantarnya ke kedai kopi yang ada di sekitar Jakarta. Richard ingin menenangkan diri sambil minum kopi.
Di kedai itu untungnya tidak terlalu ramai. Richard memesan kopi kesukaannya pada Barista. Setelah itu ia memilih tempat duduk sambil menunggu pesanannya datang.
Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang wanita tengah menatap dirinya. Richard mengangguk sopan pada wanita itu. Wanita itupun mengangguk sambil tersenyum. Lalu wanita itu bicara pada tiga orang temannya, setelah itu wanita itu pergi dengan tergesa-gesa.
"Hmm ... wanita yang menarik!" gumam Richard.
__ADS_1
TO BE CONTINUED
Sorry baru up sekarang. Selamat membaca! Jangan lupa selalu tinggalkan jejakmu ya!