
Acara arisan kalangan atas diadakan di sebuah cafe mewah dihadiri oleh wanita-wanita pebisnis, istri-istri pejabat, istri-istri CEO, dan para kaum sosialita lainnya.
Nyonya Jeny tampil memukau dengan gaun dari butik Monica. Sebuah kalung bermata berlian melingkar indah di lehernya.
Nyonya Jeny termasuk peserta arisan senior karena sudah lama bergabung di klub Nyonya-nyonya kalangan atas. Dia sudah cukup dikenal karena supel dan royal pada teman-temannya. Tentu saja ia banyak mendapat pujian dari teman-temannya karena ia sering mentraktir teman-temannya atau memberikan hadiah-hadiah mewah pada teman-temannya.
Penampilannya cukup mencolok karena terlihat sangat glamour. Ia selalu ingin menjadi yang terkaya diantara yang lainnya. Teman-teman dekatnya tahu hal itu. Oleh sebab itu mereka memanfaatkan Nyonya Jeny untuk memenuhi keinginan mereka.
"Eh, Jeny, aku lihat postingan di toko tas XYZ ada tas branded terbaru lho! Itu tas impor lho! Beliin dong, Jeny ...., kita samaan tapi beda warna aja. Kan seru!" kata salah seorang teman dekatnya.
"Iya, Jen! Nanti kita pakai di acara ulangtahun si Kekey minggu depan!" bujuk temannya yang lain.
"Kalian tuh! Suami kalian kan CEO, ngapain sih minta sama aku? Malu-maluin aja! Kayak orang susah aja!" Nyonya Jeny sedikit mempermainkan teman-teman dekatnya yang berjumlah tiga orang.
"Kamu kan tahu, aku harus membiayai berondongku! Permintaan mereka cukup menguras kartu kreditku. Aku takut ketahuan suamiku karena sudah cukup banyak uang yang dikeluarkan untuk kesayanganku!" kata salah seorang dari mereka.
"Jangan pelit dong, Jen! Kan hanya kamu yang tidak punya berondong, jadi kartu kreditmu aman," timpal yang lain.
"Siapa bilang? Aku harus mengirim uang tutup mulut kekasih lamaku yang selalu menggangguku. Ia kini kembali lagi ke Indonesia," jawab Nyonya Jeny.
"Ayolah Jen! Sekali ini aja! Belikan kami tas impor itu!" mereka serempak membujuk Nyonya Jeny.
"Oke! Karena kalian teman-teman baikku, aku akan bayarin beli tas buat kalian!"
"Tuh gitu dong! Kamu memang teman kami yang the best lah!" puji salah seorang dari mereka.
"Terimakasih ya Jen. Pelukan yuuk!" tiga orang temannya memeluk Nyonya Jeny.
"Sudah, sudah! Tuh dilihatin orang-orang! Kalian jangan khawatir, nanti pulang dari sini, kita ke toko tas itu!" kata Nyonya Jeny
"Siplah"
"Wokeh deh!"
"Asyiiik!"
Mereka semua tertawa bahagia.
Setelah mereka mengikuti acara arisan sampai selesai, mereka berempat pun pergi ke toko tas XYZ. Mereka memilih tas incaran mereka. Setelah mendapatkan tas yang mereka inginkan, Nyonya Jeny pergi ke kasir. Nyonya Jeny pun memberikan kartu kreditnya pada kasir.
Kasir itupun menerima kartu kredit Nyonya Jeny. Kasir itu tampak mengernyit. Kemudian mencoba menggesek lagi. Hingga tiga kali gagal, barulah kasir itu berkata pada Nyonya Jeny.
"Maaf Nyonya. Kartunya tidak dapat dipakai." kata kasir itu.
"Masa sih? Mungkin kamu salah. Coba ulangi lagi!" kata Nyonya Jeny kesal.
Dengan sedikit kesal, kasir itu mencoba menggesek kartu kredit Nyonya Jeny lagi. Tapi tetap tidak bisa.
"Nih kan, tetap tidak bisa Nyonya!"
Nyonya Jeny berdecak..Kemudian memberikan kartu - kartu yang lain. Tapi tetap saja semua kartu yang ia punya tidak dapat digunakan setelah ia menekan PIN dan kasir menggesek kartunya.
"Gimana nih Jen?"
__ADS_1
"Aduh Jen, gimana sih kok enggak bisa?"
"Kok bisa sih kamu bawa kartu kredit kosong?!
Tiga temannya kelihatan kesal.
"Bagaimana Nyonya? Apa akan bayar cash aja?" tanya kasir.
Nyonya Jeny yang pusing menjadi marah.
"Kamu itu pasti kasir enggak benar! Kamu mau nipu saya hah? Suamiku itu seorang CEO perusahaan besar! Mana mungkin kartu kredit darinya tidak dapat digunakan?!" Nyonya Jeny merasa geram.
"Nyonya lihat saja sendiri, mesin EDC (Electronic Data Capture) ini tidak bereaksi. Anda juga kan sudah menekan PIN. Mesin ini juga tidak error. Anda beralasan saja tidak mampu bayar," kata kasir itu kesal.
"Apa kau bilang?!"
Plak!
Nyonya Jeny menampar kasir itu. Kasir itu memekik kaget dan kesakitan. Keributan itu membuat security menghampiri Mereka.
Pemilik toko juga menghampiri mereka.
"Saya akan tuntut toko ini karena sudah menghina saya!" teriak Nyonya Jeny lantang.
"Tenang Bu. Sabar. Coba jelaskan apa yang terjadi?"
Lalu Nyonya Jeny menceritakan tentang kartunya yang tidak dapat melakukan transaksi. Kasir juga menceritakan bahwa ia sudah melakukan langkah yang benar.
"Mungkin kartu anda sudah diblokir Bu. Coba ibu telepon pada suami anda," saran pemilik toko dengan sabar.
Nyonya Jeny mencoba menelepon suaminya. Tapi tidak diangkat. Mana mungkin bisa tersambung karena nomor Nyonya Jeny telah diblokir Tuan Brian.
Nyonya Jeny kemudian menelepon Ronald. Ronald juga tidak mengangkat teleponnya walau sudah berulangkali Nyonya Jeny melakukan panggilan.
"Bagaimana Nyonya? Saya menyarankan, kalung berlian anda untuk membayar tas-tas ini," kata pemilik toko.
"Apa?! Tidak mungkin! Ini kalung pemberian suami saya! Saya tidak mau! Lebih baik tas-tas ini tidak jadi dibeli. Lagi pula tas-tas ini kalian kan yang mau? Kalian bayar sendiri-sendiri saja!" kata Nyonya Jeny kesal.
"Gimana sih Jen? Kamu kan sudah janji akan membayar tas yang kami pilih? Ya kamu yang harus bertanggungjawab membayarnya!" kata salah satu teman Nyonya Jeny. Dua teman lainnya ikut membenarkan
"Barang yang sudah dipilih tidak dapat dibatalkan! Tas ini sudah lecet kena tangan kalian!" si kasir ikut berkomentar.
Akhirnya setelah didesak berbagai pihak, karena demi gengsinya, Nyonya Jeny terpaksa merelakan kalungnya untuk bayar tas-tas mahal itu.
"Anda tahu saja kalau kalung itu berlian asli! Sial*n!" maki Nyonya Jeny pada pemilik toko. Nyonya Jeny masih merasa tidak rela kalung berliannya berpindah tangan.
Teman-teman Nyonya Jeny tertawa senang menerima tas pilihan mereka masing-masing, dan mencium pipi Nyonya Jeny lalu langsung pergi tanpa mengindahkan Nyonya Jeny yang masih termangu di toko itu.
"Nyonya? Apa anda masih ingin di sini?" security menegur Nyonya Jeny.
"Oh, sa-saya akan pulang!" Nyonya Jeny melangkah keluar dari toko itu sambil membawa paperbag berisi tas barunya.
"Sial! Aku tidak bawa uang cash lagi! Ya sudah bayar taksinya nanti di rumah!" gumamnya. "Dasar penjilat semuanya! Mereka hanya ingin uangku, setelah itu aku ditinggalkan dalam keadaan kesusahan gini. Tidak ada empati kalian sedikitpun, aku sudah kehilangan kalung berlianku! Awas kalian! Aku tidak mau berteman lagi dengan kalian!" Nyonya Jeny masih menggerutu dengan sikap teman-temannya
__ADS_1
Tiba dipinggir jalan raya, Nyonya Jeny menunggu taksi. Taksi tak kunjung ada yang lewat. Tiba-tiba sebuah motor dengan pengendara motor berboncengan yang memakai helm gelap, memepet Nyonya Jeny. Pengendara motor itu menjambret ponsel dan paper bag yang dipegang Nyonya Jeny. Tas lamanya juga ada dalam paper bag itu, sehingga semuanya dibawa kabur penjambret itu.
Nyonya Jeny berteriak-teriak minta tolong. Tapi orang-orang datang terlambat sehingga penjambret itu telah hilang di kegelapan malam.
Nyonya Jeny menangis meratapi nasibnya yang sial malam itu. Orang-orang menyarankan Nyonya Jeny untuk lapor polisi. Merekapun mengantar Nyonya Jeny untuk lapor ke kantor polisi.
Setelah selesai melapor pada petugas kepolisian, Nyonya Jeny diantar pulang oleh seorang polisi hingga sampai di apartemwn Rinald. Setelah polisi itu pergi, Nyonya Jeny langsung naik lift menuju ke apartemen Ronald. Nyonya Jeny menekan password lalu setelah pintu terbuka, ia masuk kemudian menutup kembali pintu apartemen. Ia melihat ada sebuah amplop panjang tergeletak di lantai, dibawah pintu.
"Hah? Surat panggilan sidang perceraian?!" Nyonya Jeny sangat terkejut.
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku harus ke rumah Brian! Aku akan merayunya lagi agar memaafkanku dan membatalkan perceraian ini!"
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Walau perutnya mulai terasa lapar, tapi tak dihiraukannya. Ia segera mengambil dompet lain dan mengisi uang. Kemudian ia segera bergegas keluar dari apartemen dan berjalan ke pinggir jalan raya untuk mencari taksi.
Setelah tiba di rumah Tuan Brian, Nyonya Jeny berteriak-teriak karena satpam rumah itu tidak mau membukakan pintu gerbang.
"Paaah ...! Papah .....!" panggil Nyonya Jeny.
Tuan Brian yang sudah pulang dari rumah sakit, merasa terganggu dengan teriakan Nyonya Jeny. Ia keluar dari kamarnya menuju balkon. Richard pun keluar dari kamarnya dan pergi ke balkon kamarnya.
"Pah! Maafkan Mama, Pah!" teriak Nyonya Jeny dari balik pintu gerbang.
Tuan Brian memberi kode pada satpam yang bertugas dekat gerbang, agar membukakan pintu gerbang. Nyonya Jenypun masuk tapi hanya beberapa langkah. Tuan Brian menyuruhnya berhenti.
"Stop! Hanya sampai situ. Cepat katakan ada urusan apa kamu kemari?!" kata Tuan Brian dingin.
"Maafkan Mama, Pah! Aku rindu Papah! Aku tidak bisa hidup tanpa Papah!" Nyonya Jeny menangis tersedu-sedu.
"Kamu pasti tidak bisa hidup tanpa kartu kredit dariku! Memang aku telah memblokir kartu kreditmu! Aku juga sudah mengajukan cerai. Tiga hari lagi kita akan sidang cerai!" kata Tuan Brian.
"Pah! Mama masih cinta sama Papah! Tolong, maafkan Mama. Mama janji akan berubah. Si Br*ngsek itu yang selalu menggoda Mama! Mama khilaf. Mama tidak akan mengulangi lagi!" kata Nyonya Jeny di tengah Isak tangisnya.
"Cukup sandiwaramu! Kamu kira aku tidak tahu? Kamu sudah membohongiku berpuluh tahun! Pergi sana pada kekasihmu! Aku sudah muak melihat wajahmu!" hardik Tuan Brian.
"Richard, kamu datang nak?! Bujuk Papamu agar kembali pada Mama!" kata Nyonya Jeny sambil melihat Richard
"Kamu bukan Mamaku! Kamu pelakor! Untuk apa aku membujuk Papa?! Sudah seharusnya kamu disingkirkan, bahkan seharusnya dari dulu!" Richard pergi masuk ke kamarnya lagi. Malas rasanya bertemu dengan wanita yang ia benci dari dahulu.
"Toto! Bawa keluar wanita itu! Jangan beri kesempatan lagi dia untuk masuk ke sini!" perintah Tuan Brian pada satpamnya.
Satpam yang bernama Toto itu mengangguk patuh, kemudian segera memaksa Nyonya Jeny untuk keluar dari halaman rumah Tuan Brian. Nyonya Jeny berteriak-teriak dan memberontak. Tuan Brian masuk ke kamarnya kembali.
Setelah Nyonya Jeny didorong keluar pagar, Satpampun mengunci pintu gerbang. Nyonya Jeny tertunduk lesu. Musnah sudah harapannya. Terbayang sudah hari-hari yang akan dilaluinya. Pasti tidak akan sama seperti Nyony Jeny yang dulu lagi.
Tapi masih ada Ronald, anaknya. Ia yang akan menanggung hidupnya. Tapi ... apakah Ronald juga akan diperlakukan seperti dirinya? Diusir dan dicabut semua fasilitas, serta didepak dari perusahaan? Richard sudah datang ke Indonesia bersiap menggantikan Ronald.
Teringat hal ini, Nyonya Jeny jadi semakin cemas akan kehidupannya. Iapun akan pergi ke butik Monica. Ia akan meminta Monica untuk membantu masalahnya.
"Masih ada waktu. Butiknya pasti belum tutup!" gumam Nyonya Jeny penuh pengharapan.
TO BE CONTINUED
Selamat membaca! Jangan lupa tinggalkan jejak!
__ADS_1