KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 92. KISAH MASA LALU TIKA


__ADS_3

Tika yang masih berusia 18 tahun waktu itu dipaksa oleh orangtuanya untuk menikah dengan duda berusia 41 tahun yang mempunyai anak 4. Istri laki-laki itu meninggal ketika melahirkan anak ke 4. Jarak antara anak ke 1 dan yang lainnya hanya berjarak 3 tahun. Anak-anak itu masih kecil-kecil. Anak pertama berusia 11 tahun, anak yang kedua berusia 8 tahun, anak ketiga berusia 5 tahun dan anak yang paling kecil berusia 2 tahun.


Duda yang bernama Gani itu memang tuan tanah di sebuah desa di Jawa Timur. Sawah dan kebunnya banyak. Sehingga kedua orangtua Tika silau oleh kekayaan Gani sewaktu Gani melamar Tika yang baru lulus SMA.


Tika yang masih polos, belum pernah pacaran, apalagi dekat laki-laki, harus menjadi ibu rumah tangga dengan mengurus 4 anak suaminya.


Setiap hari ia harus memandikan, menyuapi dan mengurus anak ke 3 dan ke 4 yang masih balita. Sedangkan 2 anak lainnya yang agak besar, dibantu oleh Tika dalam mengerjakan PR atau hal lainnya.


Belum lagi malamnya ia harus 'mengurusi' laki-laki matang itu. N*fsu laki-laki itu yang besar, membuat Tika kelelahan karena kurang istirahat. Tapi ada satu hal yang membuatnya suka menangis malam-malam. Gani sering menyuruhnya untuk tubektomi atau dikenal dengan ligasi tuba, yaitu metode sterilisasi yang dilakukan pada wanita. Tentu saja Tika menolak. Ia masih sangat muda. Ia juga belum pernah punya anak. Tapi Gani mengatakan bahwa anak Gani adalah anak Tika juga. Gani sudah merasa cukup punya anak empat. Gani tidak ingin menambah anak lagi.


Dua bulan pernikahannya membuatnya dilema. Selama dua bulan itu, Gani juga memaksanya untuk minum pil KB. Tika masih mentolerir perintah Gani. Tapi kalau untuk tubektomi, Tika merasa sakit hati. Menurutnya, Gani adalah laki-laki egois yang hanya memikirkan diri sendiri dan anak-anaknya saja. Sedangkan perasaan dan keinginan Tika tidak pernah diindahkan.


"Cepatlah bersiap, hari ini aku ada waktu untuk mengantarmu ke dokter. Aku sudah membuat janji dengan dokter Benny di rumah sakit X untuk mengoperasi kamu," kata Gani.


"Operasi? Operasi apa?" Tika masih belum mengerti.


"Operasi steril pada rahim kamu," kata Gani.


Tika terkesiap. Ia benar-benar tak menyangka kalau suaminya akan tetap memaksanya. Untuk mendebatnya lagi juga percuma. Gani adalah orang yang keras kepala dan tak suka dibantah.


Walau hidup bergelimang harta, Tika merasa tidak bahagia. Ia bagai terkurung dalam sangkar emas. Ia juga kelelahan mengurus anak Gani. Karena tiga orang ART di rumah itu hanya untuk mengurus rumah, memasak dan mencuci pakaian sekeluarga itu serta memasak untuk para pekerja di sawah dan di kebun.


"Sebentar, aku mau ganti baju dulu," kata Tika. 2 anak Gani sedang bersekolah, sedangkan 2 anaknya yang masih balita sudah dititipkan Gani, satu ke ibunya Gani dan yang satunya lagi dititpkan ke ibu mendiang istrinya atau mantan mertuanya.


"Ya sudah. Aku juga mau mengontrol para pekerja dulu sebentar ke kebun," kata Gani. Gani pun pergi ke salah satu kebunnya.


Tika dengan tergesa-gesa memasukkan pakaian seperlunya ke dalam tas. Segala uang dan perhiasan pemberian Gani dibiarkan saja di lemari tanpa ingin mengambilnya. Ia hanya mengambil yang seperlunya untuk ongkos kabur dari rumah itu.


Dengan meggunakan kerudung sebagai penutup wajahnya, Tika.mengendap-endap keluar dari rumah Gani. Pukul 8 pagi memang suasana di kampungnya sepi. Hampir seluruh warga desa melakukan aktivitas di sawah ataupun kebun di jam-jam pagi.


Tika pun mencari ojeg. Untungnya ada kerabatya yang bernama Lani, sedang lewat naik motor entah akan kemana. Tika pun memanggil dan memberhentikan Lani.

__ADS_1


"Lani, antar mbak ke terminal bus ya," kata Tika.


"Terminal bus? Mbak mau kemana?" tanya Lani


"Udah pokoknya antar mbak ke terminal! Ini genting? Kalau ibu dan bapak nyari, bilang saja Mbak Tika mau daftar jadi TKW!" kata Tika.


Lani membelalakkan matanya. Ia terkejut mendengar perkataan Tika.


"Udah, cepetan bawa mbak! Nanti kamu Mbak kasih upah!" kata Tika sambil duduk di jok belakang Lani


"Beneran, Mbak? Nanti kalau suamimu nanya juga gimana?" Lani masih belum menyalakan motornya.


"Jawab aja sama yang kata tadi! Ayo cepat! Takut keburu ketahuan!"


Lanipun melajukan motornya dengan kencang. Tapi hatinya masih bertanya-tanya kenapa Tika sampai mau kabur dari suaminya.


"Memangnya kenapa sih Mbak, kok mau kabur? Bukannya Mbak bahagia menikah sama orang kaya?" tanya Lani.


"Halah kamu tahu apa?! Yang terlihat itu tidak sama dengan yang dirasakan!" jawab Tika.


"Jangan banyak nanya deh! Ntar takut nabrak! Pokoknya Mbak enggak tahan tinggal sama laki-laki itu!" jawab Tika lagi.


Motorpun sampai di terminal bus. Setalah turun dari motor, Tika menyelipkan uang seratus ribu rupiah pada tangan Lani. Lani tertawa senang ketika melihat lembaran merah ada ditangannya. Anak 15 tahun seperti dirinya jarang-jarang mendapat uang sebesar itu. Ia saja kalau ikut kuli bangunan di desanya mendapat upah 50 rebu sehari. Itupun kerja sampai sore dan bawa makan sendiri.


"Hati-hati di jalan, Mbak!" teriak Lani. Tika hanya mengangguk sambil berjalan tergopoh-gopoh menuju bus tujuannya.


Lani mencium uang seratus ribuan itu dengan senang. Lalu ia segara melajukan motornya untuk ke tujuannya semula.


Setelah membeli tiket, bus dengan tujuan Cirebon pun segera meninggalkan terminal. Penumpang tampak penuh. Tika mendapat tempat duduk agak dibelakang. Hatinya masih was-was takut Gani, suaminya menangkapnya. Sepanjang jalan Tika tampak tegang. Ia masih belum tenang kalau bus belum keluar dari kota Surabaya.


Tika tahu ini berdosa, meningglkan rumah tanpa izin dari suami. Tapi Allah Maha pengampun, semoga keputusannya meninggalkan rumah suaminya itu karena untuk menyelamatkan diri dapat diampuni. Ia tidak mau hanya jadi pengasuh anak-anak suaminya dan pemuas n*fsu suaminya saja. Ia juga manusia, ingin diperlakukan secara baik, ingin dihargai dan didengarkan keinginannya.

__ADS_1


Untuk mengadu pada ibu bapaknya pun tak mungkin. Karena pasti kedua orangtuanya itu akan menyuruhnya pulang kembali pada suaminya. Mereka telah dibutakan oleh harta, karena kedua orangtuanya telah diberi sawah oleh Gani sebagai mahar.


Ketika Tika terkantuk-kantuk, teriakan kondektur membuatnya terbangun. Ternyata Tika sudah sampai terminal Cirebon. Hari sudah gelap. Jam di dalam bus menunjukkan pukul 20.50. Perjalanan selama 11 jam 50 menit cukup membuatnya lelah dan lapar. Walupun ia selama di dalam bus memakan makanan dari pedagang keliling ataupun dari rumah makan tempat pemberhentian bus untuk istirahat supir, tapi perutnya masih terasa keroncongan.


Setelah turun dari bus, ia segera berjalan keluar area terminal. Di seberang terminal kebetulan ada warung nasi. Iapun segera mengisi perutnya di warung nasi itu. Walau ia di goda oleh beberapa laki-laki karena melihat ia hanya sendirian, Tika tak perduli. Tika memasang wajah jutek saja agar tidak diganggu oleh para laki-laki itu.


Setelah merasa kenyang, Tika naik beca menuju jalan raya yang menuju jurusan angkot tempat tujuannya. Setalah membayar ongkos becak, Tika pun menunggu angkot. Tak lama, angkot yang akan mengantarkannya menuju ke tempat Pakdhenya pun lewat dan berhenti di depannya. Tika pun naik angkot itu.


Setelah menempuh perjalanan 15 menit, angkotpun melewati daerah tempat Pakdhenya tinggal. Ketika ia tiba di rumah Pakdhenya, Pakdhe dan Budhenya sangat terkejut. Tika datang ke rumah mereka tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


Tapi walau demikian, mereka merasa senang karena dikunjungi anak dari adik mereka yang sudah lama tidak bertemu karena jarak yang jauh.


Tika disuruh makan, tapi Tika menolak karena baru saja makan di warung nasi. Akhirnya Tikapun disuruh beristirahat di kamar sepupunya yang masih kelas 2 SMA bernama Dena. Tika akan tidur seranjang dengan Dena. Sebelum tidur, Tika membersihkan badannya terlebih dahulu. Setelah itu ia pun pergi tidur.


Keesokan harinya, setelah sarapan pagi, Pakdhe dan Budhenya mengajaknya berbincang-bincang. Dena telah berangkat ke sekolah. sedangkan anak tertua Pakdhe tinggal di Kalimantan karena bekerja sebagai kontraktor di sana.


Pakdhe dan Budhe punya usaha kos-kosan. Ada sekitar 10 kamar kos yang disewakan untuk mahasiswa dan pelajar dari luar Cirebon. Karena daerah Pakdhe memang daerah pendidikan. Ada beberapa SMA dan Universitas ataupun Sekolah Tinggi di daerah itu. Pakdhe adalah pensiunan Kepala Sekolah. Nasib berbeda dengan Bapak Tika yang hanya jadi petani. Pakdhenya salah seorang yang rajin dan ulet dalam belajar. Ia bekerja sambil sekolah agar dapat mencapai cita-citanya. Sehingga Pakdhe berhasil menjadi guru dan setelah mengabdi selama berapa 20 tahun, diangkat sebagai kepala sekolah selama 7 tahun. Dan kini telah pensiun.


"Tika, coba jelaskan kenapa kamu sampai ke sini? Tentunya kamu kesini bukan tanpa tujuan," tanya Pakdhenya.


Tika pun menceritakan kisah pernikahannya dan perintah suaminya yang menyuruhnya tubektomi.


"Sungguh suami yang sangat egois! Padahal kalau saja ia meminta untuk menunda kehamilan karena anaknya masih kecil-kecil, itu dapat dipahami. Tapi kalau menyuruhmu untuk tubektomi, itu suatu perbuatan sewenang-wenang dan dzholim!" kata Pakdhenya.


"Bu, tolong ambilkan ponsel Bapak di kamar! Bapak mau nelpon ke Si Hasan! Biar dia tidak panik mencarimu kemana-mana." Budhe beranjak mengambil ponsel Pakdhenya Tika ke kamar.


"Jangan Pakdhe! Tika takut Bapak marah! Apalagi kalau Mas Gani sampai menyusul ke sini!" kata Tika.


"Sudah, diam! Kalau suamimu menyusul ke sini, Pakdhe mau bicara sama dia supaya dia tidak dzholim padamu!" kata Pakdhe, "Anak orang kok mau dibikin mandul demi kepentingan dia!"


Tika merasa cemas karena Pakdhenya akan menelepon Bapaknya Tika. Tika masih belum punya nyali kalau harus berhadapan langsung dengan Bapak dan juga suaminya nanti kalau sampai menyusul ke rumah Pakdhenya.

__ADS_1


Yang menunggu ML Ronald dan Tika, nanti dulu ya. Harap sabar. Karena mau cerita tentang Tika terlebih dahulu, supaya kenal.


TO BE CONTINUED


__ADS_2