
Seorang laki-laki berhelm turun dari motornya tepat didepan warung bakso.
"Fathir!" pekik Mila.
Laki-laki berhelm itu melepaskan helmnya. Membuka maskernya. Barulah wajahnya terlihat jelas.
"Arga?" Mila baru menyadari bahwa Fathir sudah tidak ada. Mila berfikir mungkin ia sudah gila masih mengharapkan Fathir masih hidup. Mila mengharapkan kejadian yang telah terjadi hanyalah mimpi. Dari sejak kejadian itu setiap Mila bangun tidur, ia berharap semua itu hanya mimpi, dan akan bertemu Fathir lagi. Tapi ternyata itu bukanlah mimpi. Ini nyata. Fathir telah pergi untuk selamanya.
"Apa kabar, Mila?" Arga meletakkan helmnya di motor, kemudian menghampiri Mila.
"Aku .... buruk!" jawab Mila. Ia mengusap air mata yang tadi belum sempat dihapus. Penampilan Mila kacau saat ini. Mata Mila masih sembab karena setiap saat menangis bila teringat Fathir.
"Aku mendengar berita tentang kejadian tabrak lari. Kukira korban yang bernama Fathir itu orang lain. Tapi ternyata Fathir temanmu," Arga duduk di depan Mila, menghalangi pandangan Mila pada kampus Mila.
"Kamu sedang apa di sini?" Tapi Arga kemudian menoleh ke belakang, melihat pada kampus Mila.
"Kamu sedang mengenang Fathir?" tanya Arga lagi.
Mila diam saja.
"Bakso, Arga. Kamu mau pesan?" Mila mengalihkan topik pembicaraan. Mila memakan bakso yang sudah dingin.
"Tidak. Aku mau jus Alpukat saja. Pak, pesan jus Alpukat ya," kata Arga pada tukang warung.
Tak lama jus Alpukatpun disajikan oleh tukang warung itu. Mila masih asyik menikmati bakso. Sejak pagi perut Mila memang belum diisi. Arga menyesap jusnya.
"Apa rencanamu sekarang? Kamu tidur dimana dari kemarin?"
"Aku mungkin mau pulang kampung saja. Aku tidur di hotel melati,"
"Apa kamu tahu, Tuan Ronald marah besar dengan kaburnya kamu dari rumahnya? Dia menginterogasi saya. Saya jawab tidak tahu. Karena memang kita sudah lama tidak bertemu, kan?"
"Aku rasa ...., kematian Fathir, dia dalangnya," kata Mila pelan.
"Sttt ....! Kamu tidak boleh bicara sembarangan! Takut ada yang mendengarkan!" Arga bicara pelan sambil tengak tengok melihat sekitar.
"Kamu sebaiknya cepat pergi dari Jakarta. Saya khawatir Tuan Ronald menemukanmu. Saya takut Tuan Ronald akan melakukan sesuatu padamu," Arga menatap Mila.
"Sekarang sudah sore, sebaiknya kamu istirahat dulu. Besok saya antar kamu ke terminal. Ingat, kamu harus hati-hati. Tutupi wajah kamu dengan masker. Jangan sampai anak buah Tuan Ronald menemukanmu," Arga memperingatkan.
"Kalau sudah selesai makan baksonya, ayo aku antar kamu kembali ke hotel," kata Arga.
Arga membayar bakso yang Mila makan dan Jus yang ia minum. Kemudian, Mila memakai maskernya. Begitupun Arga. Arga memberikan helm untuk Mila pakai dari bagasi joknya. Kemudian Iapun memakai helm.
Lagi-lagi, Mila teringat saat bersama Fathir naik motor.
"Hei, jangan melamun! Ayo naik! Jangan sampai kita terendus anak buah Tuan Ronald!" Arga membuyarkan lamunan Mila.
Tanpa mereka sadari, seseorang telah mengawasi mereka dan mengikuti mereka.
Merekapun kemudian melaju menuju hotel melati tempat Mila menginap.
"Kunci pintu. Jangan buka bila ada yang mengetuk malam-malam," kata Arga.
Mila mengangguk. Arga pamit pulang.
Esok harinya pagi-pagi Arga sudah bersiap untuk menjemput Mila. Ketika Arga berada dijalan yang sepi, tiba-tiba, ada mobil yang menyalipnya, kemudian menghadang Arga. Ada dua orang laki-laki yang keluar dari mobil AVP. Arga sudah bersiap-siap akan menghadapi dua orang tak dikenal itu. Tapi tak disangka, dari belakang Arga, ada seseorang yang membekapnya. Orang itu membius Arga, sehingga Arga lemas tak sadarkan diri.
Dua orang itu membawa Arga masuk ke dalam mobil. Sedangkan motor Arga, dibawa oleh orang yang membius Arga.
Sementara itu Mila yang sudah siap untuk pergi, mendapat ketukan pintu di kamarnya. Mila pikir itu Arga yang akan menjemputnya. Tapi alangkah terkejutnya Mila karena yang datang adalah dua orang yang tak dikenal. Mereka menerobos masuk dan langsung membius Mila. Mila pun tak sadarkan diri.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Arga dan Mila terkejut karena sudah banyak orang dan dari beberapa orang awak media. Terlebih keadaan mereka yang setengah telanjang. Mila tidak memakai baju, sedangkan Arga bertelanjang dada.
Mila menarik selimut, menutupi dadanya. Ia benar-benar bingung dengan situasi tersebut. Mereka berdua benar-benar dipermalukan.
Mila melihat pada Arga dengan tatapan bingung.
"Demi Tuhan, saya tidak tahu kenapa jadi begini. Tiba-tiba saya di jalan ada yang membius. Dan sekarang saya tiba-tiba berada berdua di kamar sama kamu. Saya tidak melakukan apa-apa. Saya dijebak! Saya difitnah!" kata Arga.
"Sudah kamu! Berikan keteranganmu di kantor polisi!" seseorang berpakaian preman menghardik Arga.
"Saya juga ada yang membius, Pak! Ada dua orang mendatangi saya. Tolong Pak, jangan tahan saya," Mila memohon pada Polisi itu.
"Nanti semuanya dijelaskan di kantor Polisi!" kata polisi berpakaian preman itu tegas
Mila dibantu seorang polwan ke kamar mandi untuk berpakaian. Airmata Mila tak henti menetes. Mengapa ia harus mengalami peristiwa yang mempermalukan dirinya.
Arga dan Mila digiring masuk mobil polisi. Mereka kemudian dimintai keterangan di kantor polisi. Walaupun mereka bersikukuh tidak melakukan apa-apa dan merasa direkayasa, dan dijebak, tapi entah mengapa saksi-saksi yang berada di hotel menyudutkan mereka. Padahal semua terjadi tidak seperti yang mereka katakan. Semuanya seperti sudah diatur dan dikendalikan.
Berita tentang kejadian asusila kerabat keluarga Tuan Edwin pun menyebar. Apalagi video tentang penggerebekan hotel tempat Mila menginap menjadi viral. Anehnya berita itu hanya menyampaikan bahwa Mila adalah kerabat Keluarga Edwin. Tidak ada yang menelisik hubungan pernikahan Ronald dan Mila. Kejadian itu jelas direkayasa hanya untuk menjatuhkan Mila dan Arga. Sedangkan Ronald tetap aman.
Mila dan Arga dijerat dengan pasal perzinahan. Sayangnya di hotel itu tidak ada CCTV untuk memperkuat bukti. Polisi hanya dapat mengumpulkan bukti kesaksian orang-orang yang berada di hotel itu. Dan semuanya menyudutkan Mila dan Arga.
__ADS_1
Arga dan Mila pun ditahan sampai menunggu sidang di pengadilan. Setelah satu bulan, kasus mereka mulai disidangkan. Setelah mendengarkan keterangan para saksi dan bukti video keberadaan Mila dan Arga dalam satu kamar dengan kondisi yang memalukan, merekapun dijatuhi hukuman penjara selama 9 bulan.
Setelah Mila menjalani hukuman 4 bulan .....
"Saudari Karmila! Ada yang membebaskan Anda dengan jaminan. Silahkan temui orang itu," kata Polisi penjaga tahanan.
Walau Mila kebingungan siapa yang membebaskannya, ia keluar dari sel tahanan itu.
Mila melihat seorang berpakaian rapi dan formal tersenyum padanya dan mengajak berjabat tangan.
"Nona Mila, saya pengacara anda.dan akan membebaskan Anda dengan jaminan," kata Orang itu.
"Be-benarkah Pak? Saya bebas?" Mila merasa tak percaya.
"Ya. Anda bisa bebas,"
"Terimakasih, Pak."
Pengacara itu mengangguk..Kemudian iapun melengkapi berkas-berkas yang harus ditandatangani dihadapan petugas kepolisian.
Setelah selesai, Pengacara dan Milapun keluar dari kantor Polisi.
Belum sampai ke mobil Pengacara itu, Pengacara itu mendapat telepon.
"Oh, baik, Pak. Terimakasih atas kepercayaan anda pada saya," kata Pengacara itu menutup pembicaraan.
"Nona, silahkan anda ikut dengan orang yang sedang berjalan kemari. Anda akan diantar pulang,"
Tak lama ada seorang laki-laki yang menghampiri Mila.
"Nona, silahkan ikut saya," kata orang itu.
"Baiklah. Saya akan ke kantor lagi. Selamat menikmati kebebasan anda, Nona Mila," kata Pengacara itu.
Milapun mengikuti orang laki-laki itu menuju ke mobil *lph**d berwarna hitam. Mila dipersilahkan duduk dibelakang. Alangkah terkejutnya Mila ketika laki-laki itu membukakan pintu belakang. Disana ada Ronald yang tersenyum menyeringai pada Mila.
Mila tampak ragu-ragu. Tapi laki-laki itu menatapnya dengan tajam, menyuruh Mila masuk. Mila pun masuk dengan perasaan takut.
Setelah pintu mobil ditutup. Mobilpun melaju.
"Bagaimana? Kamu senang, saya bebaskan?"
"Apa maumu?!"
"Saya tidak berzina! Saya dan Arga dijebak!" teriak Mila
Ronald tertawa keras.
"Siapa yang percaya? Semua bukti dan saksi sudah memberatkan kalian. Dan hasilnya, kalian ditahan kan?"
"Pasti kamu yang melakukannya! Pasti kamu yang merekayasa semuanya!"
"Kamu jangan menuduh sembarangan. Mana buktinya coba?" Ronald mengejek.
"Kamu penjahat! Kamu juga yang menyuruh membunuh terhadap Fathir kan?!" tanya Mila berani.
Ronald tertawa lagi.
"Malang sekali nasibmu! Pacar-pacarmu ikut bernasib tragis!"
"Mereka bukan pacarku!" hardik Mila
Mobilpun berhenti.
"Aku sedang mengajukan cerai. Kamu tandatangani ini," kata Ronald sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.
"Apa ini?!"
"Itu berkas perceraian. Dan yang itu pengalihan seluruh aset dari kamu kepadaku. Aset Kakek harus jatuh ke tangan ahli waris yang sesungguhnya. Kamu harus menandatanganinya. Aku sudah keluar banyak uang untuk membebaskanmu. Kamu harus berterimakasih padaku. Daripada kamu harus mendekam dalam sel selama 9 bulan," kata Ronald. Ia menatap tajam. Solah-olah akan menelan Mila hidup-hidup.
"Setelah ini lepaskan aku! Aku tidak mau berurusan denganmu lagi!" kata Mila.
"Oke! Deal!" jawab Ronald tersenyum licik.
Milapun menandatangani berkas-berkas itu. Ronald kemudian mengambil berkas itu dengan senang.
"Lanjutkan perjalanan, Jack!" perintah Ronald
Mobilpun melaju kembali. Di depan sebuah rumah kosong, mobil berhenti. Orang yang dipanggil Jack, membukakan pintu. Ronald keluar. Mila bingung.
"Mau apa aku dibawa kesini?" tanya Mila.
"Ayo keluar!" Ronald menarik tangan Mila.
"Tempat apa ini?!"
__ADS_1
"Nanti juga kau akan tahu. Ayo, masuk!" hardik Ronald.
Ronal kemudian mencengkeram lengan Mila dengan keras. Mila tersentak. Ronald menyeret Mila dengan kasar.
Jack membukakan pintu rumah. Ronald membawa paksa Mila untuk masuk, hingga ke sebuah kamar.
Ronald mengunci pintu. Kemudian berbalik menghadap Mila.
"Mau apa kamu?!" Mila ketakutan.
Ronald langsung mencengkeram tangan Mila. Ia membawa Mila ke ranjang. Kedua tangan Mila diikat. Begitu juga kedua kaki Mila. Mila meronta-ronta. Ronald tak perduli. Ia malah melakban mulut Mila.
"Kita akan menikmati surga dunia, sayang! Aku rugi kalau melepaskanmu dengan mudah. Selama kau jadi istriku, aku belum pernah menjebolnu, ha ha ha! Dulu kita hampir saja melakukannya. Tapi kini tidak ada lagi rintangan. Aku datang sayang!" Ronald menyergap tubuh Mila.
Ronald membuka baju Mila dengan tidak sabar. Setelah semuanya terbuka, Ronald langsung melepaskan pakaiannya. Mila masih meronta-ronta.
"Kau tidak akan penasaran setelah menjadi janda," Ronald tertawa.
Iapun kemudian menc*um bibir Mila dengan kasar. Ronald menc*umi tubuh Mila dengan rakus. Mila semakin bertambah meronta-ronta dan berusaha berteriak. Tapi percuma. Kedua tangan dan kakinya yang diikat, menyebabkan Mila tak bisa berbuat apa-apa. Malah kedua tangan dan kakinya jadi sakit kemerahan karena gesekan tali.
"Hmmm .... tubuhmu sangat nikmat," Ronald menghisap daging kecil di puncak bukit kembar Mila.
Mila menangis. Mila tak habis pikir, mengapa Ronald melakukannya disaat mereka akan bercerai. Ronald hanya ingin menyakitinya.
Senjata Ronald pun menerobos milik Mila. Mila memekik kesakitan. Ronald diam sejenak.
Dia masih virgin!
Aku tak menyangka, dia masih virgin! Aku bodoh, mengapa tidak dari dulu menjamahnya! Dia benar-benar menjaganya. Aku salah, mencurigai dia!
Ronald kemudian menghentak dan meneruskan aktivitasnya. Ronald sangat menikmati milik Mila yang sempit dan hangat. Hingga Ronald mencapai *******. Dengan puas, Ronald berguling ke samping. Ia menelentangkan tubuhnya yang polos.
Ronald mendengar Mila terisak. Iapun menoleh, melihat Mila yang lemas dan bermandi peluh.
"Kamu menikmatinya kan? Kamu jangan munafik! Sudah! Hentikan tangismu!" kata Ronald.
Ronald menindih lagi tubuh Mila.
"Kita lakukan lagi, sayang. Puas-puaskan sebelum kita berpisah, oke?" kata Ronald penuh gairah.
Mila menggeleng. Ia meronta-ronta lagi. Ronald malah tambah bernafsu.
Dan ..... Ronaldpun melakukannya sekali lagi ....
π»π»π»π»π»
Mila segera berpakaian. Tadi Ronald pergi setelah melepaskan ikatan di tangan dan kaki Mila. Ronald melemparkan uang untuk Mila. Seperti dilakukan pada seorang p*l*c*r.
Dengan tertatih, Mila mengambil tasnya. Uang dari Ronald, Ia biarkan berserakan. Mila merasa jijik kalau harus menerima pemberian Ronald. Kebencian Mila semakin menjadi. Perasaan benci dan dendam menguasai pikiran Mila.
Dengan tenaga yang tersisa, Mila pulang ke hotelnya dengan naik taxi. Di kamar mandi hotel, ia menangis tersedu-sedu dibawah guyuran shower.
Mila merasa kotor, telah dinodai oleh laki-laki yang bukan suaminya lagi. Mila terus menggosok badannya hingga lecet dan menggigil kedinginan.
Dengan hati yang hancur lebur, Mila akhirnya menyelesaikan mandinya. Setelah berpakaian, Mila menangis kembali hingga tertidur.
Esok paginya, Mila mengunjungi Arga. Petugas pun memanggil Arga. Arga pun keluar dari sel tahanan menuju ruang kunjungan.
"Mila ...,"
"Arga .....,"
"Kamu tampak kacau sekali, Mila. Bukannya kamu senang, sudah dibebaskan?" tanya Arga.
"Arga ...., Aku ....," Milapun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya setelah dibebaskan dari penjara.
"Sungguh keji perbuatan Tuan Ronald! Lalu apa rencanamu sekarang?"
"Aku akan mencari kerja. Uangku sudah menipis. Setelah uangku cukup, aku ingin merantau ke daerah lain," kata Mila.
"Mila. Aku hanya bisa berdo'a, semoga kamu kuat menjalani semua ini. Kelak aku akan membalas perbuatan orang-orang yang telah jahat padamu," ucap Arga.
"Arga. Aku hanya percaya padamu. Maukah kamu menjadi kakakku? Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Hanya kamu yang perduli padaku."
Arga diam sejenak. Matanya berkaca-kaca.
"Terimakasih, Mila. Tentu saja aku mau jadi Kakakmu. Aku juga sudah tidak punya siapa-siapa. Aku senang kalau kamu menganggapku berarti bagimu,"
"Kak Arga. Kalau aku masih di kota ini, aku akan sering menjengukmu. Bila aku tak menjengukmu, berarti aku telah pergi ke kota lain. Aku akan meneleponmu kalau aku sudah pindah ke kota lain."
Setelah mereka berbincang lagi, petugas menjemput Arga karena waktu berkunjung telah habis. Mila dan Arga berjabat tangan. Arga kemudian kembali ke selnya. Sedangkan Mila mencoba melamar pekerjaan ke toko-toko, barangkali ada yang membutuhkan karyawan sebagai pelayan toko.
TO BE CONTINUED
Hallo Readers! Maaf ya kalau alurnya terlalu cepat. Maaf juga baru bisa up karena saya sedang mudik. Berkumpul dengan keluarga besar di akhir tahun, menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Karena lebaran kemarin tidak dapat berkumpul semua sehubungan aturan PSBB. Kalau kalian bagaimana? Bagi yang tidak kemana-mana, jangan sedih. Nikmati aja kebersamaan keluarga kecil kalian. Bagi yang bisa berkumpul dengan keluarga besar, selamat menikmati kebersamaan dengan keluarga besar kalian. Selamat Tahun Baru!
__ADS_1